Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

Sabtu, Maret 05, 2016

Penelitian Kuantitatif, Wajib Tahu Hipotesis!!!



HIPOTESIS
1.     Pengertian Hipotesis
Secara etimologis, hipotesis berasal dari bahasa Yunani, yaitu : hypo dan thesis. Hypo berarti kurang dan thesis adalah teori atau pendapat. Jadi, Hipotesis adalah pernyataan atau dugaan yang bersifat sementara atas suatu masalah penelitian yang kebenarannya masih lemah sehingga harus diuji secara empiris. Dalam sebuah penelitian, hipotesis merupakan pedoman atau petunjuk (guide) karena data yang dikumpulkan adalah data yang berhubungan dengan variabel-variabel yang dinyatakan dalam hipotesis tersebut. Dengan hipotesis, penelitian menjadi jelas arah pengujian data, dengan kata lain hipotesis membimbing peneliti dalam melaksanakan penelitian di lapangan baik sebagai objek pengujian maupun dalam pengumpulan data.

Dalam mendesain dan mengkonstruksikan hipotesis, peneliti membutuhkan sumber-sumber inspirasi yang dapat membantu dan memberi warna hipotesis yang dibangunnya. Dalam penelitian kuantitatif, sumber-sumber hipotesis yang digunakan adalah teori-teori yang digunakan dalam penelitian, teori tersebut diperoleh dari studi kepustakaan. Selain teori-teori sebagai sumber inspirasi hipotesis, peneliti juga dapat menggunakan pengalaman-pengalaman empiris yang dibangun berdasarkan pengamatan-pengamatan yang sistematis melalui penelitian eksploratif atau bahan-bahan eksploratif yang dibuat oleh orang lain sebagai sumber lain hipotesis penelitian.

2.     Ciri-Ciri Hipotesis yang Baik
Suatu hipotesis dianggap baik apabila memenuhi beberapa kriteria atau syarat seperti berikut :
a.     Hipotesis harus menyatakan hubungan, artinya bahwa hipotesis merupakan pernyataan atau dugaan tentang hubungan antarvariabel. Hipotesis mengandung dua atau lebih variabel yang dapat diukur ataupun secara potensial dapat diukur.

b.     Hipotesis dinyatakan dalam bentuk kalimat atau statement yaitu, pernyataan tentang sifat atau keadaan hubungan dua variabel atau lebih yang akan diteliti.
c.     Acuan empiris yang ditentukan secara tegas, artinya hipotesis tidak dapat melepaskan diri dari jangkauan konsep yang telah didefenisikan . Oleh karena itu, dalam perumusan hipotesis peneliti harus dapat menegaskan makna dari kumpulan gejala empiris yang bersangkutan dengan pemantulan kembali makna teori-teori yang dipergunakan dalam konsep penelitian.
d.     Hipotesis harus sesuai dengan ilmu, tumbuh dengan ilmu pengetahuan, ini berarti bahwa hipotesis harus ada hubungannya dengan ilmu pengetahuan dan berada dalam bidang penelitian yang sedang dilakukan.
e.     Hipotesis harus dapat diuji, artinya hipotesis harus dapat dibuktikan baik secara nalar kekuatan dapat memberi alasan ataupun dengan menggunakan alat-alat uji statistik.
f.      Hipotesis harus sederhana dan tidak menggunakan bahasa yang ambigu, artinya harus dinyatakan dalam bentuk spesifik atau khas untuk menghindari terjadinya kesalahpahaman pengertian.
g.     Hipotesis harus dapat menerangkan fakta, artinya hipotesis harus dinyatakan dalam bentuk yang menerangkan hubungan fakta-fakta yang ada dan dapat diukur dengan teknik pengujian yang dapat dikuasai.
3.     Jenis-jenis hipotesis
Dalam peneitian kuantitatif dan dalam ilmu statistik, ada berbagai jenis hipotesis sesuai dengan kriteria-kriteria yang menyertainya. Namun dalam hal ini hanya dibahas jenis hipotesis yang paling sering digunakan dalam penelitian kuantitatif.
Berdasarkan atas uji statistiknya, hipotesis dibedakan menjadi tiga, masing-masing akan dijelaskan sebagai berikut :

ü  Hipotesis Nol (H0). Hipotesis ini sering juga disebut dengan hipotesis statistik. Hipotesis ini memiliki bentuk dasar atau memiliki statement yang menyatakan “tidak ada hubungan antara variabel X dan Y” yang akan diteiti, atau “variabel independen (X) tidak mempengaruhi variabel dependen (Y). Hipotesis nol dibuat dengan kemungkinan besar untuk ditolak, ini berarti apabila terbukti bahwa hipotesis nol tidak benar dalam arti hiotesis itu ditolak, maka disimpulkan bahwa ada hubungan antara variabel X dan variabel Y.
ü  Hipotesis Alternatif (Ha). Hipotesis ini menyatakan “ada hubungan antara variabel X dan Y” atau “variabel independent (X) mempengaruhi variabel dependent (Y). Hipotesis ini disiapkan untuk suatu kecenderungan menerima pernyataan atau statement atau kebenaran dari sebuah hipotesis.
ü  Hipotesis Kerja (Hk) adalah hipotesis spesifik yang dibangun berdasarkan masalah-masalah khusus yang akan diuji. Hipotesis Hk digunakan untuk mempertegas hipotesis Ho atau Ha dalam pernyataan yang lebih spesifik pada indikator (parameter) tertentu dari variabel yang dihipotesiskan. Contoh : pada Ho yang berbunyi ‘Tidak ada hubungan antara mobilitas sosial dengan pandangan politik masyarakat”, maka hipotesis kerja dapat disusun dengan pernyataan seperti berikut “Tidak ada hubungan antara perubahan status pekerjaan dengan pandangan politik seseorang”. Artinya, hipotesis kerja ini lebih menspesifikkan hipotesis yang ada. (Mobilitas sosial diubah menjadi perubahan status pekerjaan, masyarakat diubah menjadi seseorang).

4.     Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis adalah suatu prosedur yang akan menghasilkan suatu keputusan yaitu keputusan dalam menerima atau menolak hipotesis. Dalam pengujian hipotesis, keputusan yang dibuat mengandung ketidakpastian, artinya keputusan bisa benar dan bisa salah. dalam menguji hipotesis ada beberapa langkah yang harus dilkukan yang dikenal dengan prosedur pengujian hipotesis, yaitu sebagai berikut :
a.     Menentukan formulasi hipotesisnya.
ü  Hipotesis nol (Ho) “tidak ada hubungan antara variabel X dan Y”.
ü  Hipotesis alternatif (Ha) “ada hubungan antara variabel X dan Y”.
b.     Menentukan taraf nyata dan nilai tabel.
Taraf nyata adalah batas toleransi dalam menerima kesalahan dari hasil hipotesis terhadap nilai parameter populasinya. Taraf nyata dilambangkan dengan α  (baca : alfa). Besaran yang sering digunakan untuk menentukan taraf nyata (dinyatakan dalam %) adalah 1 %, 5 % dan 10 %. Semakin tinggi taraf nyata yang digunakan, semakin tinggi pula penolakan hipotesis nol (Ho) atau hipotesis yang duji. Besarnya nilai α tergantung pada keberanian pembuat keputusan yang dalam hal ini berapa besarnya kesalahan (yang menyebabkan resiko) yang akan ditolerir.
c.     Menentukan kriteria pengujian, yaitu pembuatan keputusan dalam hal menerima atau menolak hipotesis nol (Ho) dengan cara membandingkan nilai kritis (nilai α   tabel dari distribusinya) dengan nilai uji statistiknya sesuai dengan bentuk bentuk pengujiannya. Yang dimaksud dengan bentuk pengujian adalah sisi atau arah pengujiannya.
ü  Penerimaan Ho terjadi jika nilai uji statistiknya lebih kecil daripada nilai positif dari α tabel atau lebih besar daripada nilai negatif dari α tabel. Atau nilai uji statistik berada di luar niai kritis.
ü  Penolakan Ho terjadi jika nilai uji statistiknya lebi besar daripada nilai positif α tabel atau lebih kecil daripada niai negatif α tabel. Atau nilai uji statistik berada dalam nilai kritis.
d.     Melakukan uji statistik, merupakan rumus-rumus yang berhubungan dengan distribusi tertentu dalam pengujian statistik seperti uji t, uji Z, uji Chi square, dan lain-lain.
e.     Membuat kesimpulan, pembuatan kesimpulan ini merupakan penetapaan keputusan dalam hal penerimaan atau penolakan hipotesis nol sesuai dengan kriteria pengujian. Pembuatan kesimpulan dilakukan setelah membandingkan nilai uji statistik dengan nilai α tabel atau nilai kritis.

5.     Jenis-jenis Pengujian Hipotesis.
Jenis-jenis pengujian hipotesis dapat dibedakan atas beberapa jenis berdasarkan kriteria yang mengikutinya, namun dalam hal ini hanya dibahas 2 (dua) jenis pengujian  hipotesis yang umumnya sering digunakan yaitu : pengujian dengan Chi Square atau Chi kuadrat berdasarkan jenis distribusinya dan pengujian dengan uji hubungan atau korelasi berdasarkan tingkat eksplanasinya, masing-masing akan dijelaskan sebagai berikut :
a.     Pengujian hipotesis dengan Chi square (chi kuadarat) adalah pengujian hipotesis yang menggunakan distribusi chi kuadarat sebagai uji statistik. Tabel pengujiannya disebut dengan tabel chi kuadrat. Hasil uji statistik ini kemudian dibandingkan dengan nilai dalam tabel untuk menerima atau menolak hipotesis (nol) yang dikemukakan. Di dalam teknik ini, terdapat dua kelompok frekuensi yaitu frekuensi hasil pengamatan dan frekuensi yang diharapkan. Frekuensi pengamatan merupakan data yang diperoleh dari objek penelitian, sedangkan frekuensi yang diharapkan adalah frekuensi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Your Ad Spot