Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

Sabtu, Maret 05, 2016

Makalah: Sosiologi Lingkungan Sebagai Paradigma Baru

I. PENDAHULUAN


Berbagai bencana alam akhir akhir ini sering terjadi baik di berbagai belahan dunia tanpa terkecuali di negara kita Indonesia. Kita dapat mengetahui beragam bencana yang terjadi ini baik dari berbagai media elektronik maupun media masa setiap harinya. Bencana itu mulai dari banjir, tanah longsor, degradasi tanah, dan lain sebagainya. Dan kesemua bencana ini menjadi persoalan bagi kehidupan manusia karna memberikan dampak yang sangat merugikan. Tidak terkecuali bagi negara indonesia yang memiliki beragam sumberdaya alam, seperti hutan dan sungai. Kelimapahan dan kekayaan alam yang dimiliki Indonesia ini seharusnya Indonesia menikmati beragam keuntungan dan jauh dari bencana alam.



Bencana alam seperti banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di Wasior, Aceh, Medan dan Jawa seharusnya tidak terjadi karena Indonesia memiliki sumberdaya hutan yang luas membentang di sepanjang kawasan Nusantara ini. Namun yang terjadi adalah sebaliknya, untuk keperluan beragam kepentingan hutan ditebang dan kawasannya digunduli serta lingkungan menjadi rusak sehingga mengemukalah banjir dan tanah longsor ( Pahrudin HM, M.A. ).

Sosiologi lingkungan yang merupakan suatu kajian ilmu pengetahuan hubungan manusia dengan lingkungan , dituntut untuk bisa dan mampu menganalisis dan memahami permasalahan yang dihadapi manusia dalam kehidupannya dengan aspek lingkungannya. Perhatian para ilmuan sosial terhadap permasalahan lingkungan dari aspek sosiologi ini dapat dikatakan terlambat dibandingkan dengan lainnya. Karena beberapa pakar menilai bahwa keterlambatan ini disebabkan oleh kungkungan dan kekangan defenisi sosiologi yang dikemukakan oleh para ahli dan dijadikan acuan oleh banyak kalangan dalam melakukan kajian.

Beragam defenisi sosiologi yang dikemukakan oleh beragam ahli selama ini memperlihatkan bahwa ilmu ini ‘hanya’ mengkaji hubungan antar manusia tanpa memasukkan unsur lingkungan. Kenyataan ini dapat dimengerti karena sosiologi hadir dan dirumuskan di saat perspektif antroposentrisme (manusia sebagai pusat atau penentu alam) masih sangat dominan.( Pahrudin HM, M.A. ).

Perkembangan pandangan sosiologi dari antroposentrisme menjadi ekosentrisme (lingkungan atau alam sebagai pusat kajian) baru mengemuka pada tahun 1978 yang dilakukan oleh Riley Dunlap dan William Catton dalam jurnalnya yang berjudul “ Environmental Sosiology : A New Paradigm” dalam buku “The American Sosiologist, 1978, Vol 13 (February) 41-49”.

Dimana praktek sosiologi untuk masa yang akan datang  harus melihat hubungan antara manusia/masyarakat dan lingkungan biofisik, di jurnal ini dibahas anjuran untuk suatu paradigma baru bagi hubungan antara manusia/masyarakat dengan lingkungannya sehingga disiplin ilmu ini tidak lagi mengabaikan hubungan masyarakat dengan lingkungan biofisiknya.


II. SOSIOLOGI LINGKUNGAN

Sosiologi lingkungan (environment sociology) didefenisikan sebagai cabang sosiologi yang memusatkan kajiannya pada adanya keterkaitan antara lingkungan dan perilaku sosial manusia. Menurut Dunlop dan Catton, sebagaimana dikutip Rachmad, sosiologi lingkungan dibangun dari beberapa konsep yang saling berkaitan, yaitu:

1. Persoalan-persoalan lingkungan dan ketidakmampuan sosiologi konvensional untuk membicarakan persoalan-persoalan tersebut merupakan cabang dari pandangan dunia yang gagal menjawab dasar-dasar biofisik struktur sosial dan kehidupan sosial.
2. Masyarakat modern tidak berkelanjutan (unsustainable) karena mereka hidup pada sumberdaya yang sangat terbatas dan penggunaan di atas pelayanan ekosistem jauh lebih cepat jika dibandingkan kemampuan ekosistem memperbaharui dirinya. Dan dalam tataran global, proses ini diperparah lagi dengan pertumbuhan populasi yang pesat.
3. Masyarakat menuju tingkatan lebih besar atau lebih kurang berhadapan dengan kondisi yang rentan ekologis.
4. Ilmu lingkungan modern telah mendokumentasikan kepelikan persoalan lingkungan tersebut dan menimbulkan kebutuhan akan penyelesaian besar-besaran jika krisis lingkungan ingin dihindari.
5. Pengenalan dimensi-dimensi krisis lingkungan yang menyumbang pada ‘pergeseran paradigma’ dalam masyarakat secara umum, seperti yang terjadi dalam sosiologi berupa penolakan terhadap pandangan dunia Barat yang dominan dan penerimaan sebuah paradigma ekologi baru.
6. Perbaikan dan reformasi lingkungan akan dilahirkan melalui perluasan paradigma ekologi baru di antara publik, massa dan akan dipercepat oleh pergeseran paradigma yang dapat dibandingkan antara ilmuan sosial dan ilmuan alam.

Lebih lanjut, dalam kajian sosiologi lingkungan, beragam perilaku sosial seperti konflik dan integrasi yang berkaitan dengan perubahan kondisi lingkungan, adaptasi terhadap perubahan lingkungan atau adanya pergeseran nilai-nilai sosial yang merupakan efek dari perubahan lingkungan harus dapat dikontrol. Hal ini dilakukan agar kemunculan pengaruh-pengaruh berupa faktor-faktor yang tidak berkaitan dengan kondisi lingkungan (eksogen) dapat terdeteksi atau dikenali dengan jelas. Dengan demikian dapat dipahami bahwa sosiologi lingkungan adalah cabang sosiologi yang mengkaji aspek-aspek lingkungan, seperti pemanfaatan sumberdaya alam serta pencemaran dan kerusakan lingkungan yang dilakukan oleh manusia dengan beragam alasan sebagai dampak ikutannya.

III. INTERAKSI ANTARA MASYARAKAT DAN LINGKUNGAN

Sosiologi lingkungan didefinisikan sebagai studi tentang hubungan antara masyarakat manusia dan lingkungan fisik mereka atau, lebih sederhana,''sosial-lingkungan interaksi'' (Dunlap dan Catton 1979).
Interaksi tersebut termasuk cara-cara di mana manusia mempengaruhi lingkungannya serta cara-cara di mana kondisi lingkungan (sering dimodifikasi oleh tindakan manusia) mempengaruhi urusan manusia, ditambah dengan cara di mana interaksi sosial tersebut ditafsirkan dan ditindaklanjuti.
Relevansi dari interaksi ini untuk sosiologi berasal dari fakta bahwa populasi manusia tergantung pada lingkungan biofisik untuk kelangsungan hidup, dan ini pada gilirannya memerlukan melihat lebih dekat pada fungsi-fungsi yang melayani lingkungan bagi manusia.
Tiga fungsi dasar lingkungan hidup bagi kehidupan manusia , yaitu :

1. Lingkungan menyediakan sumber daya yang diperlukan untuk hidup, mulai dari udara dan air untuk makanan untuk bahan yang dibutuhkan untuk tempat tinggal, transportasi, dan berbagai macam barang ekonomis.

2. Lingkungan berfungsi sebagai penyerap limbah. Untuk repositori limbah ini, baik menyerap atau daur ulang, lingkungan berfungsi  menyerap zat berbahaya zat (seperti ketika pohon menyerap karbon dioksida kemudian  oksigen kembali ke udara).

3. Manusia, seperti spesies lainnya, juga harus memiliki tempat untuk betahan hidup, dan lingkungan menyediakan rumah-di mana manusia dqapat hidup, bekerja, bermain, perjalanan, dan menghabiskan hidup kita.

Jadi, ketiga fungsi lingkungan hidup adalah untuk memberikan kehidupan ruang atau habitat bagi populasi manusia.
Tapi ketika manusia/masyarakat berlebihan dalam memanfaatkan ketiga fungsi lingkungan maka akan terjadi permasalahan. Masalah lingkungan dalam bentuk polusi, kelangkaan sumber daya, dan kepadatan penduduk dan / atau kelebihan penduduk. Dampak dari terganggunya satu fungsi lingkungan berakibat pula pada fungsi lainnya sehingga permasalahan lingkungan inipun bisa semakin kompleks.

Sebagai contoh suata area/daerah yang fungsi lingkungannya dialihkan untuh TPA sapah atau limbah berbahaya, membuat fungsi kawasan lingkungan ini tidak layak huni, karna bahan berbahaya/limbah ini mencemari tanah, air, dan udara. Daerah ini tidak bisa lagi berfungsi sebagai depot pasokan untuk air minum atau untuk produk pertanian tumbuh. Akhirnya, konversi lahan pertanian atau hutan menjadi subdivisi perumahan menciptakan ruang yang lebih hidup untuk manusia, tetapi itu berarti bahwa tanah tidak lagi dapat berfungsi sebagai depot pasokan untuk makanan atau kayu (atau sebagai habitat satwa liar).

Masalah lingkungan baru terus muncul sebagai hasil dari kegiatan manusia. Contoh issue global adalah pemanasan global, hal ini terjadi akibat dari peningkatan pesat karbon dioksida di atmosfer bumi yang dihasilkan oleh berbagai kegiatan manusia-terutama pembakaran bahan bakar fosil (batubara, gas, dan minyak), kayu, dan lahan hutan. Sehingga meningkatkan suhu atmosfer bumi. perubahan fungsi lingkungan ini yang membuat planet bumi  kita kurang cocok sebagai ruang hidup (tidak hanya bagi manusia, tetapi terutama untuk bentuk-bentuk lain dari kehidupan).
Penipisan ozon, misalnya, berasal dari kemampuan terbatas melebihi atmosfer untuk menyerap chlorofluorocarbons (CFC) dan polutan lainnya.  Munculnya masalah seperti penipisan ozon, perubahan iklim, kepunahan spesies, dan perusakan hutan hujan adalah indikasi bahwa masyarakat modern mengubah lingkungan mereka dan cara-cara di mana perubahan tersebut akhirnya menciptakan kondisi bermasalah bagi masyarakat.


IV. HUMAN EXEPTIONALISM PARADIGM (HEP)
Kritikan aliran utama sosiologis :
Kebanyakan semua aliran sosiologis mirip satu sama lain, hanya sedikit memiki perbedaan, persamaannya lebih mengutamakan antroposentrisme (manusia sebagai pusat atau penentu alam).
Aliran ini disebut Human Exeptionalism Paradigm atau yang sering disingkat  HEP
Berbagai perspektif teoritis dalam sosiologi kontemporer bersaing misalnya, fungsionalisme, simbolis dalam interactionism, ethnomenthodology, teori konflik, marxisme, dan sebagainya. Dan semua teori ini cenderung membesar-besarkan perbedaan antara satu dengan yang lain, misalnya  : denisoff, et el, 1974 dan Ritzer, 1975. Tapi mereka juga telah ditafsirkan hanya sebagai bersaing "pra-paradigmatis" perspektif (Friedrichs n 1972).  Teori yang paling fundamental dan mendasari dari semuanya  adalah antroposentrisme (manusia sebagai pusat atau penentu alam) yang merupakan  dasar pandangan dunia sosiologis (Klausner : 1971) yang disebut dengan  Human exceptionalism paradigm  atau yang sering disingkat HEP.

Tetapi penerimaan asumsi HEP di dalam pandangan dunia ilmu sosiologi  telah membuat sebagian besar sosiolog mengalami kesulitan untuk penanganan yang bermakna dengan implikasi sosial dari kendala dan masalah ekologi. Jadi, HEP menghalangi upaya sosiologis untuk memahami pengalaman sosial masa depan.

Ada beberapa asumsi Human Exceptionalism Paradigm  (HEP) diantaranya :
1. Manusia adalah unik di antara makhluk bumi, karena mereka memiliki budaya.
2. Budaya dapat bervariasi hampir tak terbatas dan perubahan jauh lebih cepat dari pada ciri-ciri biologis.
3. Jadi. Banyak perbedaan-perbedaan manusia secara sosial yang disebabkan bukan bawaan, mereka dapat diubah dan sosial dalam perbedaan nyaman dapat dihilangkan.
4. Demikian juga akumulasi budaya berarti kemajuan yang dapat melanjutkan tanpa batas, membuat semua masalah sosial pada akhirnya larut.

Bagaimana HEP membentuk pemikiran sosiologi :

a. Masyarakat kita diturunkan kualitas yang istimewa dari kekayaan alam dimasa lalu, dimana faktor kelimpahan, yang pertama kali ditemukan sebagai kondisi lingkungan dan yang kita kemudian dikonversi oleh perubahan teknologi ke dalam budaya serta kekuatan fisik, namun sosiologi telah mengabaikan pentingnya lingkungan dalam membentuk siapa kita hari ini.

Ex :  Penerimaan sosiologis seperti pandangan optimis tidak diragukan lagi dipupuk oleh prevalensi doktrin kemajuan dalam budaya barat, di mana sosiologi akademik diawali dan dipelihara. Di bawah cabang amerika budaya barat bahwa sosiologi berkembang paling lengkap, dan telah jelas bagi analisis kehidupan asing amerika, dari Tocqueville untuk Laski, bahwa kebanyakan orang Amerika (sampai saat ini) asyiknya percaya bahwa sekarang lebih baik daripada masa lalu dan masa depan akan memperbaiki sekarang. Sociologists dengan mudah bisa berbagi keyakinan bahwa ketika sumber daya alam masih sangat banyak yang membatasi untuk kemajuan tetap terlihat

b. Ilmuan sosial mengabaikan konsep daya dukung, namun dengan mengabaikan konsep ini  telah sama saja  dengan asumsi bahwa daya dukung lingkungan selalu enlargeable dengan yg kita butuhkan, Dengan demikian sosiologist telah menolak kemungkinan kelangkaan. Mengabaikan ketergantungan ekosistem masyarakat manusia telah terbukti dalam literatur sosiologis tentang pembangunan ekonomi (misalnya Horowitz, 1972), yang hanya tidak diakui batas biogeokimia untuk kemajuan materi.
Sehingga kata "lingkungan" mengacu hampir seluruhnya dengan "lingkungan simbolik" suatu masyarakat (sistem budaya) atau "lingkungan sosial" (environing sistem sosial)

Meskipun tidak menyangkal bahwa manusia adalah spesies yang luar biasa, para ilmuan sosiologi lingkungan berpendapat bahwa keterampilan khusus dan kemampuan tetap gagal untuk membebaskan masyarakat dari batasan-batasan lingkungan alam. Akibatnya, para ilmuan ini berpendapat bahwa HEP diganti dengan perspektif yang lebih ramah lingkungan, sebuah New Environmental Paradigm (NEP).


V. NEW ENVIRONMENTAL PARADIGM  (NEP)

Akhir 1970-an adalah era pertumbuhan yang dinamis dari lingkungan sosiologi Amerika.  Masalah lingkungan  mewakili apa yang disebut masalah sosiologi lingkungan. (Dunlap dan Catton 1979). Sebagai ilmuan sosial yang lebih memerhatikan masalah lingkungan, beberapa mulai untuk melihat melampaui perhatian masyarakat terhadap masalah lingkungan ke hubungan yang mendasari antara modern, masyarakat industri dan lingkungan fisik yang mereka tempati. Kepedulian dengan penyebab pencemaran lingkungan adalah dilengkapi dengan fokus pada dampak sosial dari polusi dan keterbatasan sumber daya.

Berbeda dengan Human Exemptionalist Paradigm  (HEP) , Catton dan memajukan Dunlap "New Environmantal Paradigm (NEP) " yang mereka melihat sebagai lensa mental yang bersaing dan dasar untuk pembenahan teori sosial. Asumsi utama dari NEP adalah sebagai berikut :
1. Meskipun manusia memiliki karakteristik yang luar biasa (budaya, teknologi, dll), mereka hanya satu di antara banyak spesies yang saling bergantung yang terlibat dalam ekosistem global.
2. Urusan manusia dipengaruhi tidak hanya oleh faktor sosial dan budaya, tetapi juga oleh hubungan yang rumit sebab, efek, dan umpan balik dalam wadah alam, dengan demikian tindakan manusia purposive memiliki konsekuensi yang tidak diinginkan banyak.

3. Manusia hidup dan tergantung pada lingkungan biofisik terbatas yang memberlakukan pengekangan fisik dan biologis kuat terhadap urusan manusia.
4. Namun banyak cipta manusia atau kekuatan berasal daripadanya mungkin tampak untuk sementara melampaui daya-dukung, hukum ekologi tidak dapat dicabut.
New  Environmantal Paradigm (NEP) alternatif ekologis dari Human Exemptionalist Paradigm.

Bagaimana NEP membentuk pemikiran tentang stratifikasi :
a. Penurunan standar hidup dipahami dalam konteks sosial-lingkungan dialektika.
b. Pertumbuhan ekonomi menyebabkan degradasi ekologis yang merespon hal terburuk polusi dari pelaku ekonomi dengan cara regresif ( yaitu cara pembiayaan  pada pengelolaan kelangkaan untuk kelas bawah dan menengah melalui adanya pajak atau hal-hal lain. )
c. Saat “pie” ekonomi telah tetap, kemiskinan dan ketimpangan pendapatan hanya dapat diatasi melalui redistribusi kekayaan. Kecuali ilmuan sosial mengakui kalau “pie” tidak dapat tumbuh melampaui ukuran tertentu (yakni kesemuanya akan membatasi  pertumbuhan). Teori stratifikasi sosial yang bertujuan untuk memahami konflik masa depan antara lapisan masyarakat akan salahnya informasi.
d. Pengentasan kemiskinan merupakan upaya yang memperhitungkan hubungan antara paparan lingkungan yang berbahaya dan kemiskinan yang yang ditakdirkan untuk gagal.


PERBEDAAN ASUMSI HUMAN EXEPTIONALISM PARADIGM (HEP) DAN NEW ENVIRONMENTAL PARADIGM (NEP)

NO
PERBEDAAN
HEP
NEP
1





2






3





4
Asumsi tentang sifat manusia




Asumsi tentang penyebab sosial





Asumsi tentang konteks masyarakat sosial



Asumsi tentang kendalan masyarakat sosial
manusia memiliki warisan budaya di samping  warisan genetik  dengan demikan manusia berbeda dengan makhluk lainnya.

Faktor sosial dan budaya termasuk teknologi adalah penentu utama urusan manusia




Lingkungan sosial dan budaya merupakan konteks yang penting untuk urusan manusia dan lingkungan biofisik sebagian tidak relevan

Budaya itu kumulatif sehingga perkembangan teknologi dan budaya dapat dilanjutkan tanpa batas dan membuat semua masalah dapat di selesaikan
Meskipun karakteristik manusia itu luar biasa, manusia tetap satu diantara banyak makluk lainnya yang saling bergantung dalam ekosistem dunia

Urusan manusia tidak hanya dipengaruhi oleh faktor sosial dan budaya, tapi juga oleh hubungan yang komplek antara penyebab, dampak dan umpan balik alam

Manusia hidup didalam dan tergantung pada lingkungan biofisik yang terbatas sehingga membebankan dan membatasi urusan manusia

Meskipun manusia cipta mungkin
tampaknya
sementara memperpanjang
daya dukung
batas, ekologi
hukum tidak dapat
dicabut.


VI. KESIMPULAN.

Dikarenakan begitu banyaknya bencana alam yang ditimbukan sebagaimana ulah dari kegiatan manusia untuk itu diperlukan/diharuskannya perubahan pardigama baru bagi masyarakat pada umumnya dan ilmuan sosial khususnya . Untuk keberlagsungan  kehidupan manusia/masyarakat dimasa yang akan datang, yaitu Human Expetionalism Paradigm (HEP) yaitu paradigma yang beraliran antroposentism ( manusia sebagai pusat atau penentu alam ) ke paradigma baru yang lebih mengacu pada lingkungan yaitu New Environmental Paradigm (NEP) tentang hubungan antara manusia dengan lingkungan ekologisnya, dengan demikian diharapakan adanya kestabilan di fungsi lingkungan bagi kehidupan manusia.



VII. REFERENSI

Catoon, W and R Dunlap,
1978a, “ Environmental Sosiology : A New Paradigm” . The American Sosiologist 13 : 41-49
Washington State University


Craig R. Humphrey
2002 . “Environment, Energy, and Society: A New Synthesis, 1st Edition “


Dunlap R, and E Rosa
“environmental Sociology”  ENCYCLOPEDIA OF SOCIOLOGY


Gary Bowden
“From Environmental to Ecological Sociology”. University of New Brunswick-Frederiction

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Your Ad Spot