Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

Selasa, Juli 05, 2016

MAKALAH: MASYARAKAT DAN MANUSIA SATU DIMENSI


BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang Masalah

Pemikiran Marcuse ini banyak bisa kita temukan kaitannya dengan kehidupan modern saat ini, khususnya Indonesia. Pola konsumtif Indonesia yang begitu tinggi bisa menjadi contoh kongkret dari pemikiran Marcuse tentang desublimasi tadi. Kekuatan ekonomi Indonesia sendiri lebih berat pada konsumsi masyarakat yang tinggi dibandingka dengan tingkat produktifitas dalam negeri. Karena itu juga Indonesia begitu menjanjikan bagi pihak asing sebagai pasar yang menggiurkan. Budaya konsumtif tersebut akan menyulitkan Indonesia untuk bisa berkembang menjadi negara yang bisa melakukan ekspansi ekonomi. Kita akan terus diserang oleh produk-produk luar dan menenggelamkan produk dalam negeri. Kekuatan promosi dan iklan dari produk-produk yang tersebar di pasar dalam negeri begitu kuat. Masyarakat Indonesia begitu berlomba untuk tidak ketinggalan trend.

Herbert Marcuse


Herbert Marcuse dianggap oleh kalangan radikal kiri baru sebagai salah satu tokoh yang berperan bagi pemikiran mereka setelah Marx dan Mao. Marcuse percaya bahwa akan datang sebuah masyarakat yang akan benar-benar membuat revolusi itu bisa benar-benar terjadi. Kritiknya terhadap masyarakat kapitalisme tahap lanjut serta masyarakat teknokratik bisa kita lihat dari buku karangannya yaitu One-Dimensional Man (1964). Buku karangannya itu berusaha menjawab bagaimana masyarakat kapitalis tahap lanjut telah membuat masyarakat menjadi satu dimensi. Meski demikian pada saat bukunya itu ditulis dampak dari perubahan itu belum dirasakan oleh masyarakat Barat karena pada saat itu masyarakat disana sedang berada pada fase dimana mereka merasa pada titik tertinggi. Barulah pada zaman ini kita bisa melihat bukti dari pandangan Marcuse tentang masyarakat berdimensi satu tersebut. Buktinya adalah bahwa pembangunan masyarakat industri maju dalam kurun waktu 20 tahun belakangan justru memberikan dampak ketimpangan sosial yang semakin jauh (Franz Magnis, 2013).
Dalam kehidupan sehari-hari kit selalu dipengaruhi oleh teknologi dan industri, semuanya itu tidak bisa kita hindarkan di dalam masyarakat. Manusia satu dimensi merupakan pernyataan yang disampaikan oleh Herbert Marcuse untuk menjelaskan situasi yang terjadi di dalam masyarakat. Sehingga mau tidak mau keadaan itu harus bisa ditantang, dihadapi, dilakukan bahkan harus dinikmati.
Makalah ini akan menyediakan penjelasan yang maksimal mungki untuk memberikan penjelasan mengenai masyarakat dan manusia satu dimensi dewa ini. Dengan mengahadirka ilustrasi, teoritis dan perbangdingannya dengan masa sekaarang.

1.2.Perumusan Masalah      
            Dari latar belakang di atas maka peneliti membuat rumusan masalah dalam penelitian ini adalah
1.     Apa yang dimaksud dengan masyarakat dan manusia satu dimensi?
2.     Apa saja kenyataan sekarang yang bisa dikatakan sebagai manusia masyarakat dan manusia satu dimensi?
3.     Bagaimana bentuk-bentuk, ilustrasi, dan contoh  masyarakat dan manusia satu dimensi ?

1.3.Tujuan Penulisan

1.     Mengetahui yang dimaksud dengan masyarakat dan manusia satu dimensi
2.     Menjelaskan saja kenyataan sekarang yang bisa dikatakan sebagai manusia masyarakat dan manusia satu dimensi
4.     Menjelaskan Bagaimana bentuk-bentuk, ilustrasi, dan contoh  masyarakat dan manusia satu dimensi.

1.4.Manfaat Penulisan
Sehubungan dengan tujuan yang akan dicapai, maka hasil penelitian yang akan dilakukan diharapkan dapat memberikan manfaat, yaitu:
1.    Bagi penulis dapat mempertajam kemampuan menulis dalam penulisan karya ilmiah, menambah pengetahuan dan menguasai kemampuan berpikir penulis dalam menyikapi dan menganalisis teori besar sosiologi.
2.     luas untuk meningkatkan masyarakat yang paham akan wisata.
3.     Bagi masyarakat diharapkan dapat memberikan inspirasi terkait pemanfaatan teknologi, kapitalisme dan menhindarinya.
4.     Bagi pelaku bisnis dan investor yang mempunyai usaha untuk mengembalika jadi diri masyarakat
5.     Bagi pengembangan ilmu pengetahuan dapat menambah wawasan mengenai masyarakat sekarang ini.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Masyarakat dan Manusia Satu Dimensi
Dalam buku Valentinus Saeng ini dijelaskan bahwa apa yang dimaskud dengan masyarakat satu dimensi dan manusia satu dimensi itu, namun lebih baiknya pada awal ini kita harus memahami dan memasukkan diri ke dalam rasional untuk dapat mengerti apa yag diaksud oleh Herber Marcuse terhadap masyarakat dan manusia satu dimensi.
Pepatah klasik mengatakan: si vis pacem para bellum – bila menginginkan damai persiapkanlah perang. Cocok digunakan untuk masyarakat kapitalis industri maju dewasa ini. Secara kasar mata, msyarakat kapitalis komtemporer memang berada dalam tingkat kemakuran yang sangat dan pantas dibanggakan. Standart hidup individu sangat tinggi, kekayaan negara sangat meningkat, pelayanan kesehatan sangat merata dan dinikmati dengan baik oleh semua penduduk. Segala kebutuhan dasar mudah diperoleh dan harga pun terjangkau oleh kantong penduduk, sehingga yang kelaparan menjadi bencana nasional. Lalu, jam kerja buruh sangat dibatasi dan dilindungi oleh kaum hukum, penghasilan mereka standart minimum kebtuhan hidup, sehingga bisa berlibur bersama keluarga bahkan sampai kepada luar negeri. Jadi kehidupan warga negara menjadi sangat baik sekarang ini, di era teknologi. [1]

Pandangan bahwa manusia berdimensi satu ini dimulai dengan membagi masyarakat kepada dua dimensi. Dimensi yang pertama adalah dimensi afirmatif dimana segala unsur didalamnya sangat afirmatif terhadap apa yang dijalankan oleh pemerintah dan negara. Mereka mendukung kestabilan dari sebuah pemerintahan dan dengan demikian mereka tidak berpikir untuk melakukan kritik atau mendobrak apa yang telah ada sebelumnya. Sedangkan dimensi lainnya adalah dimensi negatif yang didalamnya terdapat unsur-unsur yang menentang struktur yang sudah ada. Penentangan ini bisa berasal dari perlakuan yang tidak adil atau ketimpangan yang mereka rasakan. Dalam pandangan kaum Marxis dimensi negatif ini sangat penting kaitannya untuk perkembangan sebuah masyarakat. Dimensi negatif ini akan menjadi kontrol terhadap pemerintah sekaligus atas apa yang telah dianggap sebagai tatanan masyarakat.

Tatkala kita telitik dari keadaan yang dirasakan masyarakat secara umum, di balik kegemerlapan material dan kenyamanan hidup, terdapat persoalan yang sangat besar. Tanpa sadar, atau dibuat dengan cara tida sadar, warga masyarakat kapitalis sedang mempraktekkan pepatah kuno di atas. Kemakmuran yang dirasakan harus dibayar dengan pemiskinan dan perbudakan warga, kelompok dan bangsa lain. Keamanan dan kenyamanan yang dirasaka dilunasi dengan pengekangan dan penindasan. Perdamaiaan antarnegara diterapkan melalui penyiagaan dan penggelaran serdadu dan parade rudal di sepanjang perbatasan. Pelestarian hidup individu dan warga negara diperoleh melalui pembasmian yang berbeda suku, agama, warn kulit dan lain-lain. Masyarakat industri sedang membangun kemajuan dan peradaban dengan perbudakan kejam dan berkelanjutan.[2]

2.2. Masyarakat Satu Dimensi
            Dengan perkembangan teknoogi mutakhir, pola penjajahan, penindasan dan perbudakan mengalami perubahan radikal. Praksis kekuasaan dan penguasaan, perbudakan dan pengisapan dijalankan dengan menghindari ancaman dan tindak kekerasan. Pemakaian teror sudah diangap kuno, mubazir dan kontraproduktif. Kekerasan dan teror menimbulkan kepanikan dan ketakutan sesaat dan secara bersamaan menimbulkan antipati, kebencian dan bahkan perlawanan. Kekerasan dan teror akan membuat penguasa menggali kubur sendiri daripada bertahan abadi memegang tampuk kekuasaan. Karena alasan tersebut, rezim dan penguasa memilih pola penjajahan dan perbudakan secara lebih halus, rasional, dingin, dan tanpa wajah, tetapi mujarab dan mematikan.[3]



2.2.1. Administrasi Total

Dari sejumlah kemajuan yang hebat dan keberhasilan yang besar yang diraih sistem kapitalis yang bertumpu pada keunggulan teknologi ialah kemampuan penguasa kapitalis mengalihkan dominasi ke dalam adminitrasi total. Adapun pengertian adminitrasi total adalah merupakan strategi pengaturan dan pengelolaan yag bertujuan mengharmoniska pemusatan dan penyatuan kekuatan sosial, politik, agama, militer dan budaya ke dalam satu tangan. Sarana yang diciptakan ialah dengan membuat “musuh bersama” nasional guna memaksa semua warga agar memerlukan yang tidak diperlukan dan mengorbankan yang harus dilindungi dan dilestarikan.[4]
Alasannya adalah dengan menyeimbangkan hak dan kewajiba, menjamin kestabilan dan keamanan, memberikan kepastian hukum dan memastikan penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia. Selain itu, keseimbangan antara penawaran dan permintaan perlu dijaga, kelangsungan hidup industri, pasar dalam negeri dan global mesti dipelihara. Di balik gagasan yang begitu luruh, tujuan adminitrasi total adalah mempertahankan kelanggengan kekuasaan, penindasan dan perbudakan demi keuntungan dan keunggulan abadi pihak pengusasa atas semua lawan dan saingan.[5]
Adminitrasi total mengejawantahkan dalam bentuk manajemen ilmiah (lalu dikembangkan menjadi manajemen konflik). Manajemen ilmiah dibuat dengan tujuan strategi pengaturan dengan pengelolaan hubungan kelas pekerja dan kelas majikan dengan memakai aturan hukum yang telah dirumuskan dan diintalasikan ke dalam mesin pintar. Dengan begitu, ketika terjadi perselisihan kedua belah pihak, tidak lagi diperlukan pengacara maupun pertemuan guna memeriksa akar persoalan dan mendapatkan persoalan.
Kedua belah pihak tersebut cukup memasukkan argumentasi ke dalam mesin tersebut, lalu mesin akan langsung menganalisis masing-masing argumen dan membuat keputusan secara objektif mengenai siapa yang benar dan siapa yang salah. Ketidakdilan, salah tafsir, atau tafsir yang sebelah bisa dihindarkn dan pemborosan dapat dicegah, sehingga aktifitas produksi dapat berjalan dengan lancar dan keuntungan tetap bisa diterima sebanyak mungkin. Ini merupakan pendapat F. W. Taylor, namun sangat sayang dia tidak bisa menjelaskan siapa yag telah membuat dan menginstal rumusan huku demikian ke dalam mesin.
Tujuan yang dicapai oleh adminitrasi total adalah kohesi sosial secara stabil dan permanen, sehingga semua aktivitas berjalan secara normal. Dari sudut pandang ekonomi dan teknologi, segala perdebatan dan pembicaraan merupakan hal yang kurang berguna, membuang waktu, tenaga, pikiran, dan dana. Yang terpenting bukan bagaimana individu mengembangkan kemampuan berpikir, menghasilkan sesuatu yang bergunan secara sosial. “janganlah bertanya apa yang diberikan negara kepadamu, tetapi tanyakanlah apa yang kamu berikan kepadamu negara”. Semua mesti selalu berkorban dan jadi korban demi kejayaan peguasa tanpa bertanya siapa mereka, buat apa dan siapa kurban dipersembahkan.[6]

           
2.2.2. Bahasa Fungsionalis
           
Medium utamaa daripada administrasi sosial adalah bahasa, mengingat  subjek utama yang dihadapi, diatur, dikelola oleh manusia. Bahasa merupakan kemampuan mengungkapkan kemampuan berpikir dan proses perwujudan potensi individu. Siapa menguasai bahasa, dia menguasai hidup. Penguasa kapitalis menyadari kedudukan sentral bahasa dan perlu dibuat untuk menjalin secara total pembentukan wacana berpikir, cara berkomunikasi, dan berwicara. Rezim kapitalis ingin mengubah wacana pra-teknologi dan memberikan muatan baru yang lebih sesuai dengan realitas teknologi dengan menciptakan bahasa sendiri: bahasa fungsional.[7]
Pada tahap awal, gaya bahasa fungsional mendominasi dunia perdagangan, dunia yang menganut prinsip waktu adalah uang.[8] Pola wicara yang bertele merupakan hambatan utama dalam tata niaga yang sarat dengan kompetisi sengit di antara para pelaku ekonomi. Penggunaan bahasa fungsional dalam dunia ekonomi dinyatakan terutama dalam bahasa iklan. McClelland, salah satu pengikut teori ini menjelaskan bahwa faktor yang menyebabkan negara Dunia Ketiga mengalami kemiskinan adalah karena masyarakat di negara Dunia Ketiga tidak memiliki semangat berprestasi.[9] McClelland menjelaskan kebutuhan untuk berprestasi dalam mendukung kemajuan individu maupum masyarakat. Pandangan ini kemudian digunakan untuk menjelaskan mengapa negara Dunia Ketiga hidup dalam kondisi kemiskinan.
Menurut McClelland, setiap individu memiliki waktu luang. Hendaknya setiap orang memanfaatkan waktu luangnya tersebut untuk berpikir mengenai bagaimana meningkatkan situasi sekarang ke arah yang lebih baik. Orang yang demikian, memiliki McClelland dikatakan sebagai orang yang memiliki kebutuhan beprestasi yang kuat. Kemudian apabila individu dari Dunia Ketiga memerlukan bantuan investasi, maka negara maju siap untuk menyediakan bantuan modal tersebut. Negara dunia seharusnya mempunyai kelompok wiraswastawan yang memiliki semangat berprestasi dan mampu memanfaatkan bantuan modal asing menjadi investasi yang lebih produktif.
Intensitas hubungan negara Dunia Ketiga dengan negara maju akan mempermudah dan mempercepat negara Dunia Ketiga untuk menyerap ciri-ciri motivasi beprestasi tinggi yang dimiliki negara Barat.
David McClelland mengemukakan bahwa orang-oraang di negara berkembang tidak memiliki apa yang disebutnya sebagai nAch (need for achievement, atau dorongan untuk berhasil).[10] Salah satu penyebab tidak-adanya nAch ini bisa didapatkan pada cerita anak-anak di negara-negara ini kebanyakan bersifat fatalistis, cenderung untuk menyelesaikan persoalan dengan menyerahkannya kepada nasib. Harus ada usaha-usaha yang dilakukan dalam menghindari agar virus ini tidak menjadi penyakit bagi masyarakat.[11]

            Bahasa iklan selalu memberikan dan menyampaikan informasi tentang kehadiran produk baru dan menanamkan nilai dan citra tertentu dari produk tertayang dalm pikiran pemirsa-pendengar-pembaca. Penyampaian informasi dan pembatinan nilai dan citra dilakukan dalam ruang terbatas dan momen yang amat singkat.[12]
            Dalam dunia politik, bahasa fungsional telah menguasai pikiran dan hidup individu secara sangat manjur dan berhasil. Dunia politik merupakan wilayah yang paling banyak menyimpan pertentangan, konspirasi, sarat dengan relasi perkoncoan. Kaum penguasa selalu memberikan dan menemukan cara yang lebih rasional, efektif, manusiawi, mampu menyerap dan menyatukan semua pihak dengan segenap kepentingannya.[13]

            Dominasi bahasa dalam semesta ilmiah dan hidup bermasyarakat dan menunjukkan bahwa penguasa dan penindasan telah menjadi sangat kuat dan menguras abis pikiran dan mentalitas masyarakat individu. Apa yang terjadi kalau dunia politik berpadu asa dengan dunia militer, dunia militer dengan dunia ekonomi, dunia ekonomi dengan dunia sosial, dunia sosial dan budaya dengan dunia politik? Indikasi apa yang berada di balik kata ketika bahasa politik menjadi bahasa iklan dan bahasa iklan menjadi bahasa pemerintahan. Perpaduan dan perubahan pola wicara memperlihatkan bahwa dominasi dan adminitrasi sosial telah berpadu secara intim dan individu hidup di bawah kekuasaaan rezim totalitas dalam peritrahatan yang irrasional.[14]
Sehingga tidak bisa kita hindari terjadinya disintegrasi dalam masyarakat Indonesia. Dari hasil penelitian Poetranto (2003) beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya disintegrasi bangsa adalah  salah satunya
Politik
            Masalah politik merupakan aspek yang paling mudah untuk mengembangkan permasalahan atau ketidak tenangan dalam masyarakat dan sering mengakibatkan konflik antar masyarakat yang berbeda faham apabila tidak ditangani dengan bijaksana menyebabkan konflik dalam masyarakat.Selain itu, ketidaksesuaian kebijakan yang diberikan pemerintah terhadap daerah dan pusat. Realitanya ketika tidak dilaksanakan secara merata, maka kemungkinan yang terjadi adalah disintegrasi daerah terhadap pemerintah.

Idiologi
            Akhir-akhir ini agama sering dijadikan pokok masalah di dalam terjadinya konflik di negara ini, hal ini terjadi karean kurangnya pemahaman terhadap agama yang dianut dan agama lain. Kondisi ini banyak terjadi di Indonesia, dan jika tidak ditagani dengan bijkasana pada akhirnya bisa menyebabkan disintegrasi bangsa, dan perlunya penangan yang khusus dari tokoh agama mengenai pendalaman masalah dan komunikasi tokoh agama dengan pemerintah. Demikian juga dengan masyarkat yang diharapkan jangan membawa aliran-aliran agama dalam membahas segala sesuatu yang terjadi karena dengan menghubungkan ideologi agama masing-masing bisa membuat perbedaan dan harus saling menghormati.

2.3. Kebutuhan Palsu
            Penggunaan teknologi secara massal dalam dunia industri telah membawa hasil yang sangat luar biasa. Produksi dapat ditingkatkan sampai kepada titik maksimum tanpa mengenal waktu dan batas tenaga. Peningkatan luar biasa dimungkinkan berkat mesin yang dapat bekerja selam 24 jam secara berkelanjutan. Mesin sudah menggantikan posisi idividu dalam hampir semua bidang kerja. Bagaimanapun kehadirannya, teknologi perlu disambut baik dan disyukuri.[15]
            Penggunaan mesin secara massal memberikan harapan dan peluang bagi hidup yang ebih bebas dan menyenangkan. Kini individu bisa menyimpan energi yang lebih bermanfaat bagi pemenuhan kebutuhan istingual dan merealisir kebutuhan pribadi seturut dengan minat – bakat. Pelepasan individu dari kerja keras merupakan impian manusia dari sejak dahulu kala generasi modern berad di ambang hidup yang manusiawi, menyenangkan dan membahagiakan.
            Harapan akan hidup lebih bebas dan lebih menyenangkan tampak sedang sirna dan meredup. Masyakarakt industri maju kapitalis ternyat bergerak ke ara yang berlawanan menuju ke satu hidup yang lebih menindas dan memperbudak dan totaliter.
            Kapitalisme dan perangkat penguasanya ternyata memaksakan beragam persyaratan politik dan ekonomi untuk mengontrol dan mengendalikan hidup individu. Pemaksaan dan dominasi masa kini meliputi aik waktu kerja maupun waktu senggang dan seluruh kebutuhan hakiki (sepertinya makan-minum, keluarga, dunia, suami-istri, gaya hidup, mode, pakaian moralitas, peralatan teknis sampai kepada seuruh kebutuhan hidup manusia.
            Kebebasan dalam memenuhi kebutuhan, kebebasan berbicara,, berorganisasi sekarang ini, kebebasan memilih dan untuk dipilih. Bila proses pembebabasan dibiarkan. Lambat laun rantai dominasi dan eksploitasi aka melepas. Dalam masyarakat dunia yang makmur, cara menguasai dan mengisap harus dikuasai secara total. Sebuah cerita rakyat misalnya di Kalimantan bisa dipakai untuk melukiss mengapa penguasaaan mesti berubah dari cara yang kejam ke pola yang ramah dan lembut.
            Generasi komteporer semakin menyadari ke-aku-an dan kepemilikan. Ingin disanjung, ingin dipuji, dimnja dan disayangi. Harga diri ingin diangkat setinggi mungkin, kebutuhan harus dipenuhi setinggi mungkin. Manusia sekarang memerlukan pelayan dan ingin menikmati hidup yang lebih enak. [16]
            Di depan mentalitas yan berpusat pda keakuan, strategis penguasaan dan pengakuan dan keburtala fisik pasti segera menarik perlawanan dan pemberontakan. Untuk itu, penguasa harus pandai memperlakukan segenap warga: membelai dan membuat mereka tidur, menjaga, melayani jika mereka terjaga. Dalam alam kebebasan, kekuasaan komtemporer berlaku sebagai pelayan tunggal bagi masyarakat.
            Apa arti kebutuhan palsu?  Kebutuhan palsu merupakan suatu keperluan yang dibebankan oleh aneka kepentingan sosial tertentu kepad semua individu dengan maksud meninidas dan menggrogoti mereka. Sekarang ini bisa kita lihat dengan sangat jelas bahwa masyrakat senantiasa diberikan pelayanan, promisi yang kontinu, itu semuana dilakuka melalui aneka macam promosi, pameran dan iklan, tempat wisata, pust perbelanjaan, mode, apartemen, perumahan, peralatan rumah tangga dan hingga sampai kepada jenis yang lainnya.
            Mungkin banyak yang berpikir di antara kita, bahwa kebenaran dan kepalsuan suatu kebutuhan tergantung dan ditemukan oleh keputusan pribad. Hanya saja, kemampuan memutuskan yang benar dan yang tepat mensyaratkan tingkat kebebasan individu. Saat ini, ruang bagi keputusan yang bebas telah lama disingkirkan dan diganti dengn pilihan tertuntun dan terkondisikan. Pengondisian ini terhadap individu dilakukan dengan indoktrinasi, eksposisi dan promosi, melalui suat kabar, radio, tv, internet, dll.
            Tentang realitas kebutuhan palsu dan kebutuhan hakiki sikap terpenting yang harus dimiliki adalah selalu bertanya tentang apa, mengapa, dan bagaimana aku sampai kepada keputusan membeli suatu produk. Bagaimana kita memilih suatu hal yang bisa dijadikan barang yang sangat berguna bagi manusia itu sendiri.

2.4. Imperium Citra
            Dewasa ini image (citra) menjadi mantra gaib yang menysup ke segala sisi kehidupan individu dan masyarakat, bahkan memainkan peranan besar dalam dunia politik dan kekuasaan. Para pemimpin negara, kandidat yang bersaing guna memperebutkan posisi presiden atupun jabatan yang lainnya di bawah menaruh perhatian besar terhadap citra. Mereka sangat serius merawat citra dirinya sebagai public figure dan kerap berperilaku sebagai artis atau selebriti. [17]
            Lebih parahnya lagi masyarakat cenderung mendaptkan sutu pertimbanga dari apa yang dilihat tergmabar dengn istilah populis dan tidak populis. Populis artinya adaha ketenaran, popularitas yang menjadi ukuran, pedoman, dan tujuan nyata dari kebijakan pembangunan dan keputusan politik.
            Pemikiran an pertimbangan yang bertumpu, pada pengembangan dan beorientasi pada citra diri di antara masyarakat untuk mengikuti peralihan penting dalam cara memahami, realitas sosial, dan memaknai eksistensi manusia, realitas sosial, dan fungsi kekuasaan. Peralihan pola pemahaman, penilaian dan pemaknaan ini terkit erat dengan perubahan konsepsi dan alur pikir dari semua wacana manusia.
            Berpijak dari dominasi citra dalam alam semesta aktivitas manusia modern-kontemporer, tidak berlebihan bila dikatakan bahwa manusia hidup dalam imperium citra. Citra adalah sang kaisar, ukuran mutlak, pedoman tertinggi. Generasi sekarang ini lebih mementingkan bungkusan daripada isi, kesan daripada subtansi dan tampilan daripada intisari, peran daripada jatidiri. Ini semua adalah modus citra diri, sehingga jangan heran bila dalam tata hidup bersama semua diskursus dan atensi berhenti pada sensasi.

2.5. Manusia Kapitalis Satu Dimesni
            Sebelum era teknologi, nalar kritis dan nalar teknologi masih berjalan dengan beriringan dan menemani aktivitas berpikir manusia guna mengenal dan mengenal sesuatu. Sayang sekali kebersamaan ini menghilang dengaan dominasi sepihak nalar teknologis atas dunia semesta.
            Kemampuan hidup dalam dua dimensi, kemampuan dan mempertimbangkan cara berada manusia secara lain dalam realitas dan  kecakapan melampaui kemungkinan dan kemungkinan rillnya) manusia telah menjadi satu dimensi, sebuah realitas tanpa subtansi, atau lebih tepat adalah realitas di mana subtansi direpresentasikan oleh bentuk-bentuk teknis, bentuk yang menjadi muatan dan esensinya.
            Di era modern-komtemporer teknologi beralih status menjelma sebagai prinsip dan roh peradapan. Teknologi kini menjiwai menghidupi manusia dan perdabannya bentuk yang sudah direkayasa dan dicanangkan seluruh realitas dan tatanan diubah menjadi kehidupan yang satu dimensi.

           
2.6. Logos Menjadi Teknologos
            Sejak dari filsafat Yunani klasik, kebudayaan dan peradaban Barat dituntun oleh nalar-akal budi yang mencari jawaban dari berbagai persoalan yang mengitari hidup manusia. Seluruh pencarian dan permenungan filosofis klasik bergulat dengan persoalan mengenai prinsip, penyebab, dan alasn dari segala yang ada. Nalar ingin menemukan sesuatu yang kokoh, tetap, dan absolut di balik semua benda yang selalu berubah. [18]
Dalam masa teknologis, ada benang merah yang mengaitkan dominasi perangkat teknis atas alam raya dan nasib manusia. Alam yang diolah menjadi produk yang akan menguasai, mengontrol, dan menjadi ukuran menilai kegagalan maupun kesuksesan, peran, dan fungsi, martabat dan jati diri individu dalam hidup bersama. Penemuan sebab, prinsip, dan hukum yang mendasari dan mengatur fenomena tidak hanya berhenti sebagai informasi atau materi studi sekolah dan universitas dan bukan pula sekedar pengetahuan yang membeku dalam rumusan teori, buku, dan perpustakaan. Beraneka macam penemuan tentang sebab dan hukum alam terus dipelajari, dikembangkan, diuji coba di laboratorium. Menggerakkan dan mengatur benda alam dipindahkan dan diwujudkan menjadi sebab, prinsip, dan hukum mesin. Era baru telah dimulai dan logos menjadi teknologos.
            Era teknologi merupkan satu keharusan sejarah dan mengungkapkan buah karya dari perkembangan dan perwujudan daya nalar. Selain itu, teknologi merupakan akibat langsung dari kewajiban manusia untuk bertahan hidup di tengah kerapuhan menyesuaikan diri secara langsung dengan alam. Asal usul teknologi dengan bernas dan padat “kebutuhan merupakan ibu dari segala penemuan”. Di mana pun dan sampai kapan pun, manusia senantiasa memerlukan sarana dan prasarana yang dapat mempermudah dan mendukungnya, guna memenuhi semua kebutuhan hidupnya, menjinakkan keliaran dan keganasan alam. Teknologi sudah terukir dalam pikiran manusia sebagai makhluk yang berkebutuhan. Jadi pada hakikatnya perubahan dinamis dari skema ontologos kepada skema logos kepasa skema logos ke technologos

2.7. Otomatisasi dan Mekanisasi
Pemanfaatan teknologi secara gencar di segala bidang kehidupan merupakan realitas harian. Dewasa ini, hampir tidak ada lagi daerah yang terturup atau menutup diri dari pengaruh teknologi. Penduduk yang hidup di belantara Amazon, di tengah rimba Kalimantan dan Papua maupun di padang gurun Sahara dan di pedalaman Afrika ditemani radio dan televisi, telepon biasa dan seluler, mobil dan aneka perangkat teknologi yang lain. Siang dan malam mereka menikmati siaran radio dan televisi yang ada, berkomunikasi dengan telepon seluler dan internet serta mengambil alih nilai yang ditawarkan oleh media komunikasi tanpa banyak tanya. Pikiran teknologi berhasil menyebar luas di seantero dunia.
            Dampak langsung yang timbul dari pikiran teknologi adalah pembentukan realitas teknologi dalam masyarakat. Teknologi menjadi bagian integral dari hidup warga dan berperan sebagai ukuran penilaian dalam menjalin hubungan, pergaulan, dan pekerjaan. Kelengketan dengan teknologi menciptakan sikap tergantung, ketergantungan yang dicuptakan secara sengaja. Ibarat seorang yang mulai mengkomsumsi narkoba, makin lama semakin kecanduan, demikian pemakai dan penikmat teknologi. Tanpa semua perangkat teknis, hidup individu seakan tanpa daya dan makna. Teknologi menguasai manusia secara mutlak dan menyeluruh.[19]
            Persoalan yang hakiki yang muncul adalah ketergantungan atau kecanduan terhadap teknologi itu mengungkapkan apa? Realitas teknologis membawa serta prinsip, hukum, dan ukuran nilai yang berciri teknis. Dari sekian prinsip, hukum, dan ukuran nilai teknologi yang dipaksakan adalah otomatisasi dan mekanisasi.
            Otomatisasi merujuk pada kerja mesin yang bergerak sendiri tanpa campur tangan manusia (otomatis). Otomatisasi merupakan penerapan prinsip kerja mesin yang berlangsung mandiri ke dalam kesadaran manusia supaya menghasilkan tindak-tanduk dan aktivitas yang spontan atau mengalir begitu saja.
            Secara sederhana, mekanisasi mengacu pada hukum gerak dari berbagai elemen yang menyusun benda atau organisasi sebagai keseluruhan (mekanika) ruang dan waktu. Mekanisasi merupakan pengalihan pola gerak yang menghubungkan bagian yang satu dengan bagian yang lain dalam benda atau organisme secara seirama dan serentak ke dalam pikiran individu yang menghasilkan rasa ketergantungan pada sistem sebagai keseluruhan.

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Adapun menjadi kesimpulan dari tulisan ini berdasarkan pembahasan di atas adalah sebagai berikut Dalam buku Valentinus Saeng ini dijelaskan bahwa apa yang dimaskud dengan masyarakat satu dimensi dan manusia satu dimensi itu, namun lebih baiknya pada awal ini kita harus memahami dan memasukkan diri ke dalam rasional untuk dapat mengerti apa yag diaksud oleh Herber Marcuse terhadap masyarakat dan manusia satu dimensi.
Dimensi yang pertama adalah dimensi afirmatif dimana segala unsur didalamnya sangat afirmatif terhadap apa yang dijalankan oleh pemerintah dan negara. Mereka mendukung kestabilan dari sebuah pemerintahan dan dengan demikian mereka tidak berpikir untuk melakukan kritik atau mendobrak apa yang telah ada sebelumnya. Sedangkan dimensi lainnya adalah dimensi negatif yang didalamnya terdapat unsur-unsur yang menentang struktur yang sudah ada. Penentangan ini bisa berasal dari perlakuan yang tidak adil atau ketimpangan yang mereka rasakan. Dalam pandangan kaum Marxis dimensi negatif ini sangat penting kaitannya untuk perkembangan sebuah masyarakat. Dimensi negatif ini akan menjadi kontrol terhadap pemerintah sekaligus atas apa yang telah dianggap sebagai tatanan masyarakat.
Adapun menjadi bentukbentuk dari masyarakatt satu dimensi dan manusia satu dimensi merupakan administrasi total, bahasa fungsional, penghapusan sejarah, kebutuhan palsu, imperium citra, dan manusia kapitalis satu dimensi itu berhubungan dengan alam pikiran yang selalu dipengaruhi oleh kapitalis dan teknologi.

3.2. Saran
Adapun menjadi saran untuk realitas kehidupan sekarang ini adalah agar masyaraka bisa menemukan jati dirinya, sadar akan pentingnya mengerjakan sesuatu itu atas dasar kepemahaman. Sehingga dalam menjalani pengaruh kapitalisme tidak lagi dipengaruhi oleh serba mewah, materilistik dan hal yang lain. Semoga lewat tulisan ini bisa lebih bermafaat dan berguna bagi masyarakat yang ada di sekitar kita.



DAFTAR PUSTAKA
Saeng, Valentins. 2012. Perang Semesta  Melawan Kapitalisme Global. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama.
Suwarno. 2003. Perubahan Sosial dan Pembangunan. Cetakan Kelima.Jakarta. Penerbit Pustaka LP3ES.
Martono, Nanang. 2014. Sosiologi Perubahan Sosial: Perspektif Klasik, Modern,Posmodern, Poskolonial. Edisi Revisi. Jakarta. PT. RajsGrafindo.
Tunner, Bryan. Kamus Sosiologi. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.
Kolip, Usman. 2011. Pengantar Sosiologi Pemahaman Fakta dan Gejala Permasalahan Sosial Teori A[plikasi dan Pemecahannya . Jakarta. Kencana Prenada Media Group.
Martono, Nanang. Sosiologi Perubahan Sosial.  Jakarta. Divisi Buku Perguruan Tinggi PT. Raja Grafindo Persada. 2014. Hal. 139.












[1] Analisis terhadap pernyataan ii adalah manusia sekarang ini sudah dimanjakan dengan kehadiran industri dan produk yang tak bisa terhindarkan. Dengan penawaran yang sangat tinggi dan hara yang sesuai dengan keadaan dan sangat situasional, memnugkinkan masyarakat memberikan segala seuatu cara untuk mendapatkan kebebsan dalam berpikir, memilih dan menikmati kualitas hidp yang ada. Contoh dasarnya adalah kehadiran barang produksi yang diciptakan oleh manusia itu sendiri adalah hadirnya PT. Aqua. Kehadiran perusahaan air minum ini sudah menyebar dan menjamur ke seluruh masyarakat yang ada di sekitar kita, manusia dan masyarakat tiak lagi mau membuang waktunya untuk memasak air sebagai bahan komsumsi. Sehingga air minum pu s ekaran ini harus dibeli dan mau tidak amu kemasan boto pun sudah tersedia di mana-mana, masih banyak hal yag bisa kita lihat di sekitar kita.
[2] Dibalik ketersediaan yang diberikan oleh kaum kalpitalis kepada manusia meberikan pengaruh besar terhadap negara besar bahkan bagi negara yang berkembang sekalipun. Keadaan manusia dan masyarakat sekarang telah disatukan oleh suatu bentuk kesepakatan bersam tanpa disadari dan dilakukan untuk menjadi manusia yang serba gampang dan tanpa proses yang jelas. Contohnya adalah; di negara-negara besar sekarang ini memperkuat kualitas negaraya, sederhananya sekarang Korea Utara selalu melakukan peluncuran rudal, tentara Amerka latihan dengan tentara Korea Selatan, konflik Timur Tengah yang sampai tiada habisnya. Hal ini merupakan satu bentuk kesombongan yang langsung nampak, survival of the fittes , siapa kuat itulah yang bertahan. Kapitalis dengan senangnya memproduksi alal-alat militer da memperjual-belikannya bagi masyarakat miskin di negara berkembang, sehingga mereka akn bisa menghasilkan uang sedangkan negara berkembang hanya bisa merasakan perang kapitalimse negara yang tak terelakkkan.
[3] Pemakaian teror saat ini sudah dianggao kuno dan tidak efisien lagi untuk mematikan kesadaran manusia. Sekarah yang terjadi adalah perang dibalik layar, siapa yang bisa menwarkan barangnya, siapa yang bisa mereproduksi, siapa yang mendistribusikan bahkan siapa yang akan mengkomsumsi barang tersebut. Dengan demikian, kepanikan yang diciptakan teror sekarag ini hanya bersifat sementara. Contohnya adalah ketika terjadi pemboman di Jakarta yang dilakukan oleh ISIS, hal ini bukan lagi menjadi permasalahn yang berat. Bahkan disaat kejadian, pengaruh kapitalisme sangat terlihat, bahkan ada masyarakat yang berfoto, berselfie dan itu dibanggakan oleh masyarakat. Akhirnya peran kapitalisme lebih mudah masuk ke dalam sistem kehidupan masyarakat. Tafsiran saya adalah, masyarakat sekarang ini telah diserang produk, kemewahan, dan berlomab untuk mendapatkan keakuan dan kepemilikan suatu barang.
[4] Pada awalnya untuk memahami adminitrasi total ini adalah kehidupan manusia yang selalu dibuat dalam bentuk birokrasi. Dalam hal ini bisa kita lihat langsung adalah pengaruh negara dan kapitalis dalam setiap inidividu, contohnya, di Indonesia setelah lahir beberapa hari manusia harus diwajibkan untuk membuat surat akte kelahiran. Sehingga bisa disebut sebagai manusia yang bermasyarakat. Hal ini ditujukan agar manusia dapat mendapatkan haknya. Hk untuk diakui negara, hak untuk mendapatkan fasilitas negara. Keadaan ini akan menyebabkan masyarakat Indonesia setiap memiliki keturunan harus berbondong-bondong ke kantor desa atau kelurahan untuk membuat surat tersebut. Sebenarya hal ini menurut saya adalah pemaksaan agar semua warga negara memerlukan yang tidak diperlukan. Denga alasan menyeimbangkan hak dan kewajiban.
[5] Keadaan ini diuat agar tidak ada lagi perlawanan yang bisa diciptkan oleh masyarakat bawah. Di balik gagasan yang bisa diciptakan oleh masyarakt yang luas, tetapi untuk menikmatinya akan tidak sangat mungkin. Keadaan itu membuat masyarakat luas, menjadi masyarakat yang diinternalisasikan untuk mendapatkan barang produksi sexepaat mungkin dan tidak ada lagi batasan yang bisa dibuat untuk sebuah pilihan. Contohya hubungan kelas menegah dengan kelas atas, jika para buruh misalkna melawan maka hal yang akan dihadapi pertama adalah penguasa yang sudah membuat suatu aturan atau hukum bersifat harus dijalankan. Demo buruh akan tidak sangat berguna karena penyampaian aspirasi masyarakat sekarang bukan melalui kata-kata, tetapi dengan mesin. Hal ini membuat totalitas mesin dalam kehidupan manusia tidak terlelakkan lagi. Sehingga, semua hal yang sudah dimasukkan ke mesin, tidak akan bisa lagi digannggu gugat. Misalnya adalah saat diadakan Ujian Masuk Bersama ke Perguruan Tinggi, lembaga yang berkuas adalah Lembaga Pendidika Indonesia. Namun, kita harus bisa menerima bahwa lulus tidaknya ke perguruan tinggi, kita hanya meliha dari mesin dan tidak bisa menggugata apakah jawaba saat kita ujian berapa salah dan berapa benar, atau pantaskah kita mask atau tidak. Lembaga, panitia dan masyarakat yang tidak mampu seakanakan sudah dinyatakan dalam bentuk mesin dan tidak bisa dipungkiri lagi keadaa ini adalah salah satu bentuk penenangan masyarakat, menidurkan masyarakat untuk tidak menuntut atau taken for granted.
[6] Sekarang ini bukan lagi perdebatan yang dibutuhkan,karena semua permintaan hanya bisa diterima di atas meja kerja saja. Kalau tidak, masyarakat akan merasa kerugian dari waktu, tenaga dan motivasi yang terbengkalai. Ada kata mengatakan apa yang kau sudah berika kepada negaramu?
[7] Bahasa fungsional menurut penafsiaran saya adalah bahasa yang sudah disepakati secara internasional. Bangsa Indoensia adalah bangsa yang besar, dengan sumpah pemuda dan memiliki jati dirinya. Salah satu intidari sumpah pemuda adalah memiliki bangsa yang satu yaitu bahasa Indonesia. Akan tetapi fakta di lapangan, untuk mencari pekerjaan yang menjadi syaratnya adalah mahir dalam berbahasa Inggris. Semua itu adalah permintaan kapitalis dan menghilangkan jati diri bangsa memiliki bahasa persatuan. Saya bukan melihatnya dari sudut konservatif, namun kehadiran teknologi dan kapitalis membuat masyarakat harus sepakat akan memilii bahasa yang diagung-agungkan oleh kebanyakan orang. Sehingga cara berpikir, cara berkomunikasi kita selalu di bawah negara yang sudah menganut bahasa fungsional tadi. Sehingga kita berloma-lomba untuk berbahasa Inggris (lainnya), untuk mengejar standar yang diberikan oleh kapitalisme.
[8] Waktu adalah uang, pernyataan yang sangat sering kita dengar. Manusia selalu berusaha untuk membagi dan menciptakan waktu mereka, untuk kepuasaan materi dan uang. Mansia selalu disibukkan untuk memenuhi kepuasaan jasmani dan rohaninysa. Karean yang ada sekarang adalah pertempuran yangs sengit untuk memiliki, menikmati dan bisa menciptakan hal sepertinya itu demi uang. Uang adalah akar segala kejahatan, namun tanpa uang manusia tidak akan bisa berbuat apa-apa. Pedoman yang tidak didasarkan atas kesadaran ini, sehingga mencapai tempat kerja, manusia selalu berhadapan dengn jalan raya yang macetm berlomba cepat, memiliki kebebasan ertindak di jalan raya, dan lain sebagainya.masyarakat selalu dipaksa ntuk menuruti kebutuhan tempat kerja, kalau tidak gaji/upah akan dipotong. Sehingga jalan raya sering kita dengar maki-makian, amarah, dan bahkan sampai ke tempat kerja untuk bisa mencapai waktu yang sudah ditentukan.
[9] Martono, Nanang. Sosiologi Perubahan Sosial.  Jakarta. Divisi Buku Perguruan Tinggi PT. Raja Grafindo Persada. 2014. Hal. 139.

[10] Teori n-Ach menyatakan bahwa untuk dapat maju seseorang harus memiliki kebutuhan dan motivasi untuk berprestasi.
[11] Merupakan salah satu pencetus teori dengan pendekatan psikologis depedensi menekankan bahwa pembangunan ekonomi tidak terjadi pada negara-negara berkembang karena belum memiliki karakteristik untuk bisa  bersaing.
Budiman, Arief. Sosiologi Pembangunan dan Keterbelakangan Sosiologi. Cetakan Pertama. Pustaka Pulsar. 1984. Vol. IX.
[12] Iklan identik dengan penawaran dan promosi. Dala dunia iklan tidak ada satupun individu dilarang untuk membeli bahkan memiliki barang produksi, setiap hari kita mendengar, membaca, melihat adanya ikla baik itu di media sosial bahkan di jalan raya, di tv, di kampus, bahkan di mana-manapun. Bahasa fungsional yang diberika iklan ini adalah salah satu bentuk ketidaksadaran manusa dan mayarakat luas. Contohnya adalah, iklan rokok, rokok memang merupakan penghasil pajak yang terbesar di Indonesi dan memberikan sumbangsih bagi negara Indonesia. Namun, bahasa funsional yang bisa secara langsung bisa kita lihat adalah kebebasan untuk mengekspresikan rokok itu bagaimana. Ikaln rokok yang senantiasai menawarkan barang dagangannya dengan menciptakan bahasa :pria punya selera, talk less do more, dll. Namun, rokok adalah produk yang tidak menyehatkan masyarakat, dan dengan jelas dibuat tulisan “merokok membunuhmu” namun manusia tidak sadar akan pernyataan tersebut. Iklan selalu menawarkan aspek kehidupan manusia yang tidak bisa terbantahkan dalam bentuk kenikmatan dan kepuasan pribadi ataupun kelompok.
[13] Selain bidang ekonomi, bidang poitik juga sudah digeroti oleh bahasa fungsional manusia. Ekonomi sudah membuktikan kebebasannya untuk merorongrong keberadaan manusia. Sedangkan, jika kita menilik dalam bidang ekonomi hal yang pertama sekali kita munculkan adalah bentuk bentuk kesadaran sebelum dan sesudah menikmati barang dagangan tersebut. Dalam bidang politik, bahasa yang selalu dipakai adalah bahasa kekuasaa dan popularitas dari si penguasa. Saya dalam hal ini menafsirkan bahwa satu kalimat bisa memuat kepercayaan dalam masyarakat luas. Popularitas dan public figure tidak bisa dihindarkan dalam dunia politik. Contohnya adalah dalam pemilihan presiden Indonesia tahun 2014 yang lalu, slogan yang dipakai oleh Jokowi dalah Indonesia Hebat. Bahasa yang fungsional ini, mau tidak mau menyebar ke alam pemikiran masyarakat dan membuat suatu pengertian bahwa peimpin tersebut merupakan, pemimpin yang bisa membuat bangsa Indonesia hebat. Bahasa fungsional itu telah dipakai pemimpin dan untuk pemimpin itu.
[14] Kehidupan sosial dan keadaan ini tidak bisa terhindarkan. Masyarakat kalau ingin diberika haknya harus melakukan kewajibannya, taat dan menerima apa kebijakan yang dilakukan dan diberikan oleh bangsanya sendiri.
[15] Pengaruh teknologi sekarang ini sudah sangat besar pengaruhnya bagi kehidupan mausia. Seakan manusia adalah robot yang digerakkan oleh teknolgi. Dengan kehadiran teknologi dewsa ini, keberadaan manusia lebih banyak hidup di dunia maya dan tidak bisa dihindarkan. Seakan-akan media sosial yang tersedia membuat keberadaan manusia berada dalam satu wadah. Teknologi juga sangat berpengaruh bagi kehidupan mausia. 
[16] Generasi sekarang ini menjadi generasi yang menganut keakuan dan kepmelikan. Sehingga tidak ada masyarakat yang menganut kepemilikan bersama. Semuany berlomba untuk memiliki barang dan harta benda. Keadaan sekarang adalah manusia selalu dimanjakan dengan kehadiran pelayanan, kepuasaan dan lain-lain sebagainya.
[17] Kata citra dan pencitraan merupakan kata yang tidak bisa kita hindarkan dari telinga kita sendiri. Citra merupakan suatu bentuk alat yang digunakan dalam memahami keberadaan manusia sekarang ini. Keadaan ini membuat kapital ingin memberikan barang daganganyya lewat bungkus, penawaran dengan bahasa yang bisa seakan-akan kita nikmati. Setiap hal ini bisa kita temukan dalam segala aspek dan bidang kehidupan manusia. Yang paling diutamakan adalah bungkus bukan lagi isi, dan itu menjadi pedoman tertinggi untuk meraih tujuan. Biasanya orang yang suka pencitraan adalah orang ingin mendapatkan hubungan timbal balik, ada sistem pertukaran.....padahal realitasnya belu bisa ditentukan, baik itu kualitas dan kuantitas dalam masyarakat. Perubahan alur pemikiran dan perubahan konsepsi masyarakat tidak bisa lagi dihindarkan. Banyak hal yang bisa kita lihat untuk dijadikan sebagai contoh tentang pencitraan.
[18] Contoh dekat perubahan yang sangat signifikansi dijadikan sebagai contoh adalah dunia universitas atau kampus. Di era teknologi, logos adalah pengetahuan dan selalu berkorelasi dengn teknoogi. Tidak ada yang bisa membantah, kamus telah dipenuhi dengan kebutuhan teknologi. Teknologi sudah terukir dalam kehidupan manusia dan pada hakikatnya sudah menjadi kebutuhan mutla. Namun, perubahan pengetahuan menjadi teknologi ini bisa menyebabkan tindakan yang negatif. Dalam menulis tugas, laporan, bahkan jenis lainnya, teknologi yang menyediakan komputerisasi bagi mahasiswa dengaan mudahnya menjadi seorang yang plagiator, copy paste dan bahknan saat ada ujian mahasiswa menyontek dari internet. Inilah contoh yang sangat dekat dengan kita. Pengaruh teknologi yang mencakup seleuruh aspek kehidupan tidak bisa dielakkan dan hany dibutuhkan penyaringan penggunaanya. Jangan sampai ke hal yang negatifny lebih banyak. Teknologi gadged, membuat manusia menjadi serba ingin tahu, menjadi sumber informasi utama, menyebabkan sifat apatis. Semua itu adalah pengaruh teknologi dalam dunia kampus yang menyediaka kemudaha, janji dan aspek lainnya.
[19] Otomatisasi da mekanisai adalah salah satu bentuk konsep yang dibuat oleh Herber Marcuse untuk mejelaskan manusia satu dimensi ketergantungan manusai terhadap teknologi sudah pasti, manusia sekarang sudah kecanduan dengn teknologi. Semua dilakukan berdasarkan teknis dan penikmatana yang didukung dengan penguasaan teknologi. Indonesia adalah negara yang memiliki penduduk tinggi, bayankan jika semua jiwa memiliki baranf elektronik. Berapa banyak keuntungn yang diterima bangsa produksi barang tersebut dan semua itu sudah dipastikan menjadi keberlanjutan. Contoh penggunaan paket internet, kita tidak tahu sampai kapan paket internet akan begitu banyak jenis penawarannya. Internet adalah salah satu produk dari ilmu pengetahuan dan berubah menjadi barang candu. Sehingga, mau tidak mau manusia membelinya daan dengan batas waktu yang sudah ditentukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Your Ad Spot