7 Jul 2016

SAPI YANG SUCI DAN BABI YANG MENJIJIKKAN




           Salah satu aplikasi perspektif evolusioner materialitis yang paling terkenal adalah pemeriksaan yang dilakukan Marvin Harris terhadap asal usul larangan agama tertentu bagi umatnya untuk memakan makanan tertentu. Harris telah mencurahkan perhatian khusus untuk mencari penjelasan kenapa agama Hindu di India memandang sapi sebagai binatang suci dan menganggap daging sapi sebagai makanan terlarang. Dia juga melakukan studi yang agak menyeluruh terhadap pantangan makan pada bangsa Israel kuno yang melarang orang memakan daging babi karena mereka menganggap babi sebagai binatang yang kotor. Dia yakin bahwa pantangan makan (tabu) ini dapat dipahami dengan sangat baik sebagai respon apatif terhadap kostelasi kondisi material tertentu yang dihadapi oleh penduduk yang mengikutinya.



            Sudah dikenal scara luas bahwa ajaran sentral ideologi keagamaan Hindu adalah penyucin sapi. Sapi dianggap binatang yang suci, menyembelih dan memakannya adalah tindakan yang tidak dapat diterima. Bagi kebanyakan orang Barat, pantangan makan ini jelas merupakan mismanagemen sumber daya yang irrasional dan merupakan sebab bertahannya kemiskinan dan kesengsaraannya yang meluas di anak benua India. Seluruh kegiatan penyembahan sapi dipandang sebagai contoh klasik memperlihatkan cara di mana praktek keagamaan yang bersifat mistik membawa akibat-akibat yang tidak perlu dan tidak menyenangkan. Tetapi Harris (1974,1997) tidak memandangnya seperti itu, dan dia percaya bahwa kecintaan orang Hindu terhadap sapi adalah respon yang rasional dan memang perlu terhadap keadaan ekologis dan ekonomis di mana mayoritas petani India berada.

Harris menyatakan bahwa sapi memainkan fungsi vital dalam konteks ekologi dan ekonomi orang India, fungsi yang hanya dapat dipertahankan kalau sapi tetap dibiarkan hidup. Kotoran sapi sangat berharga bagi petani India, berfungsi sebagai pupuk, sebagai bahan bakar yang dalam memasak, dan bila dicmpur dengan air untuk merekatkan., dapat dijadikan sebagai bahan lantai rumah mereka. Tetapi peran yang jauh lebih berguna yang dimainkan sapi adalah sebagai binatang penarik dalam membajakladang mereka. Sebagaimana dikatakan Harris secara empatik, petani India yang pada berat tertentu tergoda untuk menyembelih sapi mereka untuk makanan ternyata menyesengsarakan mereka sendiri, karena mereka tidak akan pernah membajak lagi. Karena itu, sapi lebih berguna apabila ia hidup daripada mati bagi rata-rata petani India. Namun, karena godaan untuk menyembelih sapi dalam masa kekeringan atau kelaparan adalah problem yang sering muncul bagi kebanyakan petani India, maka perlu bagi mereka menemukan cara untuk menghilangkan godaan tersebut. Cara ini, kata Harris, dtemukan pada pembuatan tau keagamaan yang menyucikan sapi dan menjadikan tindakan membunuh dan mengkomsumsi sebagai tindakan yang haram dan tidak dapat diterima. Sebagaimana dinyatakan Harris (1997:147).
            Pentabuan daging sapi adalah hasil kumulatif keputusan individual dari beribu-beribu dn berjuta-juta petani, sebagaimana mereka lebih mampu memahami godaan untuk menyembelih sandaran hidup mereka karena mereka sangat yakin bahwa hidupnya sapi adalahs sesuatu yang suci. Mereka yang memegang keyakinan ini lebih mempunyai kemungkinan untuk mempertahakan ladang mereka, dan mewariskannya kepada anak-anak mereka, dan mewarisknnya kepada anak-anak mereka, daripada mereka yang tidak mempercayainya....Sapi harus dilakukan seperti manusia karena manusia yang memakan sapi hampir berarti memakan orang lain. Sampai sekarang, para petani musiman yang tergoda dan menyembelih sapi mereka menanggung akibtnya. Mereka tidak pernah dapat lagi membajak ketiak hujan tidak turun. Mereka harus menjual ladang mereka dan pindah ke kota. Hanya mereka yang menahan lapar dan tidak memakan sapi yang dapat bertahan hidup ketika musim hujan sangat pendek.




            Bagaimana sapi disucikan di India dapat dimengerti secara lebih baik melalui pemahaman persfektif historis. Sebagaimana dinyatakan Harris, dalam sepanjang sejarah India sapi secara teratur dimakan dan tidak ada pandangan yang menyucikan sapi. Dia percaya bahwa baru sejak tahun 700 masehi kecintaan kepada sapi dikembangkan hingga mencapai bentuknya dikenal sekarang. Dengan tidak mempersoalkan kapan sapi mulai disembah di India, kita tahu bahwa pendeta brahmana “selama berabad-abad adalah pengobanan dan pengkomsumsi daging binatang” (Harris, 1997 : 145). Di bawah kondisi bagaimanakah para pendeta ini berubah dari orang yang mengorbankan sapi secara ritual? Harris menyatakan bahwa jawaban pertanyaan ini adalah bertambahnya kepadatan penduduk dan menurutnya standart kehidupan (1997 : 146).

            Ketika kepadatan penduduk meningkat, ladang menjadi semakin sempit dan hanya spesies binatang ternak yang paling penting yang dapat dibiarkan hidup luntuk mendiami tanah yang ada.  Sapi adalah  satu spesies yang tidak boleh dikurangi. Ia adalah binatang penarik bajak, kegiatan yang sangat menentukan seluruh siklus pertanian tadah hujan, sedikitnya 2 ekor sapi jantan harus dipelihara oleh setiap keluarga dan ditambah seekor sapi betina yang akan melahirkan penggantinya ketika sapi jantannya sudah tidak dapat dipakai. Dengan demikian, sapi menjadi fokus utama pantangan agama untuk memakan daging sebagai salah satu binatang sawah yang masih tersisa maka secara potensial sapi adalah satu-satunya sumber daging yang tersisa. Namun, menyembelihnya untuk memakan dagingnya akan melahirka ancaman bagi seluruh pola produksi makanan. Dan karena itulah daging sapi ditabukan.

            Adalah juga umumnya diketahui bahwa bangsa Yahudi modern, melarang dimakan daging babi. Memang, sejak masa bangsa Israel Kuno, bangsa Yahudi secara resmi memandang babi sebagai binatang yang menjijikkan dan tidak pantas dikomsumsi manusia. Tetapi, orang Yahudi hampir tidak seragam dalam penolakan mereka memakan daging babi. Daging babi sudah dinikmati selama berabad-abad di wilayah-wilayah seperti China dan Eropa dan banyak anggota masyarakat suku tidak hanya memakan daging babi, tetapi juga menilai sangat penting daging babi, sehingga secara praktis mereka memperlakukannya sebagai anggota keluarga (Harris, 1974).

            Kalau begitu banyak agama yang lain tidak menunjukkan kekengganan sama sekai mengkomsumsi daging babi, kenapa bangsa Yahudi memperlakukanya sebagai binatang yang jijik? Barangkali jawaban paling umum atas pertanyaan ini adalah karena babi merupakan binatang yang tidak bersih: ia berkubang dalam kotorannya sendiri dan membawa penyakit. Namun, bagaimana ditunjukkn Harris (1974), (1977), penjelasan ini tidak memuaskan. Babi tidak selalu merupakan binatang kotor manakala ia berada dalam habitat yang sesuai. Karena babi tidak dapat berkeringat, mereka beradaptasi secara lebih baik dengan lingkungan di mana temperatur tidak terlalu panas. Tetapi, di lingkungan yang kering dan panas (seperti Timur Tengah), babi sangat kesulitan berada dalam dalam temperatur yang dingin, dan karena itu mereka berkubang dalam kotorannya sendiri untuk mendinginkan badan mereka.  Mengenai kenyataan ini bahwa babi menularkan penyakit tertentu, Harris mengakui bahwa ini benar, tetapi dia juga menyatakan bahwa binatang lain yang dikomsumsi secara luas (sapi), juga membawa penyakit.



           

Tags :

bm

bonarsitumorang

Pengajar Muda

I like to make cool and creative designs. My design stash is always full of refreshing ideas. Feel free to take a look around my Vcard.

  • Bonar Situmorang
  • ????????????
  • Kec.Cilandak,Kota Jakarta Selatan
  • bonarsos@gmail.com
  • +62853-7028-9213