Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

Senin, Oktober 31, 2016

PESAN BUATKU YANG SERING MENGATAIMU DARI BELAKANG


           

            Setiap hari dia harus mendengar pengakuan dari orang di sekitarnya bahwa dialah yang terdepan dan terhebat. Suatu saat dia mempunyai kesempatan untuk mengikuti kompetisi di salah satu lokasi yang tidak jauh dari tempatnya belajar setiap harinya. Karena dia adalah orang yang punya pengetahuan yang luas, keberanian dan berbicara di depan umum adalah motivasi tersendiri buatnya. Lagaknya bak professor dan pemikiran jempolan. Dengan penuh kepercayaan diri ia menang atas kompetisi yang dia ikuti, menerima sebuah medali di college, dan hal itu hanya menambah egonya saja. Laki-laki tersebut menggunakan bahasa berlebihan memuji dirinya sendiri dengan keyakinan bahwa itu adalah usaha sendiri.
Kepala dan hati si pemuda membuncah oleh peraasaan bangga.
            Malam itu, ketika pulang, dia menceritakan kata- kata pujian yang diterimanya kepada ibunya, Setelah memuji-muji diri sendiri, pemuda itu bertanya kepada ibunya, “Memangnya ada berapa banyak orang besar di dunia sekarang ini?”
Sang ibu, seorang wanita tua yang bijaksana, menatap putranya dengan penuh belas kasihan dan berujar, "Kurang satu dari yang kaukira!!!!!” Sesungguhnya, ego kita dapat membutakan kita dari kebenaran mengenai diri kita.
            Pemuda yang sombong ini juga berkata kepada seorang petani, ”Aku tidak pernah membungkuk di hadapan siapa pun-entah itu Tuhan maupun manusia!” Petani yang bijaksana itu menyahut, "Bisakah engkau melihat ladang gandum itu? Hanya bulir-bulir gandum yang kosong yang berdiri tegak. Bulir-bulir yang penuh terisi akan membungkuk dalam-dalam!”
            Kemudian suatu saat si pemuda memiliki kesempatan untuk mengikuti sebuah seminar dan dia adalah orang yang diundang dalam acara tersebut. Karena kursi sudah diisi oleh orang yang duluan datang, dirinya hanya mendapat tempat duduk di salah satu baris belakang, karena gedung itu sudah penuh. Marah dan merasa terhina, pemuda itu berkata kepada panitia, "Kalian jelas tidak tahu bagaimana menempatkan tamu kalian dengan layak! “Sama sekali tidak, Nyonya,” sahut salah satu dari mereka. "Orang-orang penting tidak keberatan di mana mereka duduk. Tapi orang-orang yang keberatan itulah yang sebenarnya tidak  sungguh-sungguh orang penting. Pisahkan dirimu dari ego. Jika kau tidak membebaskan diri dari identifikasi keliru ini, kau akan terus terikat.

            Bebaskan diri dari kebencian dan keegoaan. Percayakan orang lain untuk mengerjakan tugas yang sudah diamanahkan. Jika engkau menjadi pemimpin di mana pun sekarang atau nanti, janganlah mengeluh dalam segala kondisi. Biasakan untuk tidak mebuka lebar-lebar telinga atas kabar yang kau terima dari luar san pemuda, bekerjalah, jangan bersungut-sungut, jangan menanam angin di media sosial atau di universitas kehidupan ini, agar nantinya jangan engkau tabur badai dari sifatmu.
            Berikan yang terbaik buat dirimu sendiri dulu. Jangan berpikir kamu bisa merubah lingkungan, tanpa merubah sifatmu. Baru setelah merubah diri, ubah keluarga, ubah lingkungan dan baru berpikir tetang bangsa. Jangan berpikir penghuni bangsa ini orang yang bodoh, banyak orang yang memiliki IQ di atas rata-rata. Bangsa ini bukan kurang sumber daya manusia, tapi masalah kita adalah karakter, ego, kesombongan ilmiah dan toleransi yang kurang.
            Tak perlu mengkritisi dunia pendidikan, dunia ekonomi, sosial, kemiskinan, dan segala kebijakan pemerintah. Ubahlah gaya belajarmu, JANGAN MENYONTEK SAAT UJIAN, JANGAN BUKA HP SAAT UJIAN, hargai orang yang menyampaikan pendapat di sekitarmu. Bangsa ini butuh orang sepertimu yang pintar, yang bisa berbicara. Tapi bangsa ini sudah memiliki itu dari dulu, karakterlah yang menentukan. Mari buang jauh-jauh keegoan.
            Kesuksesan dalam sebuah acara yang kau buat bukan diukur dari lancarnya acara itu. Kesuksesan tugas seorang pimpinan itu, bukan diukur dari keringatnya saja. Ingatah, menurutku ukuran sukses seorang pemimpin itu adalah SEBERAPA BANYAK YANG BERKONTRIBUSI DAN SEBERAPA BANYAK YANG BISA DIAJAK BEKERJA SAMA UNTUK MENGERJAKAN TUGASMU ITU, jika hanya engkau yang mengerjakan berarti tugasmu bukan seorang pemimpin, tapi layaknya suruhan saja.
            Buang jauh keegoan, buang jauh kebencian. Pesan pak Jokowi: revolusi mental. Tugas pemuda masih banyak, yang kita hadapi ke depannya bukanlah perbedaan pendapat. bukan soal ujian, bukan pula penebar fitnah. Yang kita hadapi sesungguhnya nanti adalah diri kita, kejujuran, saling menghargai dan paling penting adalah merubah bangsa ini melalui diri kita yang bisa diteladani oleh orang banyak.
            Percayalah tugas ini adalah tugas kita bersama. Sifat ini adalah sifat kita secara umum. Keegoaan ini sudah tertanam sejak kita mengenali itu apa perbedaan kepentingan. Pencitraan selama ini yang ada kita buat adalah sebuah zona aman. Mari mulai dari hal yang sederhana, mulai dari diri sendiri dan mulai dari sekarang.


Bonar Situmorang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Your Ad Spot