Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

Kamis, Januari 19, 2017

Norma Kepentingan dalam Perilaku Ilmuwan



         Untuk segala kondisi yang mendorong kegiatan ilmu pengetahuan pada umumnya. Setiap hari semua masyarakat akan langsung berhadapan dengan ilmu pengetahuan, terutama lembaga yang menyediakan proses mentransfer pendidikan. Menjadi pertanyaan yang serius adalah, apakah ilmu pengetahuan tersebut dipraktekkan atau tidak?



    Para pemikir Barat secara tradisional memandang isi ilmu pengetahuan yang sekarang seluruhnya bebas dari determinasi sosial. Kebanyakan sarjana Barat berpendapat bahwa ide-ide ilmu pengetahuan muncul dan maju sesuai dengan suatu logika internal mereka sendiri, tanpa mengindahkan kondisi sosial ekonomi dan pengaruh sosial lainnya. Sehingga kondisi seperti apapun, para pencari ilmu pengetahuan memiliki integrasi terhadap tujuan yang ingin dicapainya. Kebanyakan Sosiolog memiliki cara pandang seperti ini, dan harapannya sosiolog tidak akan terpengaruh dalam segala situasi sosial untuk dijadikan sebagai objek atau subjek penelitian. Seperti yang disampaikan oleh Joseph Ben-David, (1971:13-14) kemungkinan bagi sosiolog berisi ilmu pengetahuan yang sangat kompleks dan konseptual serta teoritis yang memiliki keterbatasan.

        Secara umum memang bisa kita lihat bahwa ide-ide pengetahuan dan sebagian besar dari itu adalah pengaruh sosial yang datangnya dari eksternal kehidupan manusia itu sendiri. Para pengusul pandangan ini misalnya bisa kita lihat pada tokoh Sosiologi yang besar yakni Marx, yang menegaskan bahwa ilmu pengetahuan tidak menghasilkan pengetahuan yang obyektif, namun ilmu pengetahuan menghasilkan hal yang subjektif dan mengandung relativitas. Pandangan ini disebut sebagai pandangan eksternalis ilmu pengetahuan (Rose and Rose, 1976; Hull, 1988). Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dibentuk dan ditentukan oleh secara sosial yang ada di dalam masyarakat bukan secara intelektual (Mulkay, 1979; H. Collins, 1981).


         Penting untuk memahami pola pikir ilmu pengetahuan, yang pastinya adalah masyarakat yang memiliki hasrat mencapai ilmu pengetahuan harus bisa memosisikan diri dalam situasi masyarakat dan problematika yang ada. Walaupun pandangan ini terlalu ekstrim untuk dicerna dan dimaknai, tapi yang pasti adalah bahwa semua ilmu pengetahuan adalah hasil dari pola pikir yang kita bentuk.

Perilaku Ilmuwan yang Normatif
    
         Suatu masalah sekarang bagi sosiolog adalah dan turut menjadi perhatian, sejauh manakah ilmu pengetahuan itu merupakan suatu kegiatan normatif. Robert K. Merton (1973), menandaskan suatu posisi yang telah secara luas diterima dikalangan sosiolog, bahwa perilaku para ilmuwan dipedomani oleh suatu perangkat norma yang eksplisit yang penting adalah berhasilnya suatu pengetahuan yang dimiliki oleh lembaga.

            Norma-norma menurut Merton hal yang paling mendasar bagi ilmu pengetahuan. Netralitas emosional adalah standar yang mengatakan bahwa ilmuwan tidak boleh berpaut secara emosinal pada ide-ide yang dibentuk. Para ilmuwan hendaknya tenang  sehingga tidak akan kehilangan akal sehat perspektif dan obyektif. Pengetahuan hendaknya yang diharapkan tidak mempunyai atribut sosial, ras, kelas sosial, kepribadian dan kedudukan mereka di dalam suatu masyarakat. Harapannya adalah masyarakat ilmiah bisa juga memiliki komunitas ilmiah memegang dua perangkat norma yang bertentangan, norma pendapat dan norma tandingan pendapat tersebut.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Your Ad Spot