28 Agu 2018

RESENSI BUKU MAX WEBER: STUDI KOMPREHENSIF SOSIOLOGI KEBUDAYAAN



Essay From Max Weber
Polity Press, Cambridgee, 2002
Penerjemah
Abdul Qodir Shaleh
Penyunting
Anas Yusuf
Tata Sampul
Firdaus
Tata Isi
Hendra
Cetakan Pertama
September 2006
Tim Pracetak
Ruslani, Dwi, Diah, It
Penerbit
IRCiSoD
Sampangan Gg. Perkutut No.325-B
Jl. Wonosari, Baturetno Banguntapan Jogyakarta
Telp: (0274) 7418727
Fax: (0274) 4463008
Jumlah halaman: 392 halaman

Buku ini seperti sebuah sumur yang dalam, dengan air sebagai gambaran dari teorinya yang tak pernah kering sepanjang masa. Gagasan Max Weber seakan tak pernah surut menghadapi musim silih berganti, ditengah-tengah bayak teoritis baru bermunculan justru ia dapat berjasa dalam perkembangan sosiologi sepanjang zaman.

Memahami pemikiran Max Weber dalam buku ini adalah Weber menyebutkan agama adalah salah satu alasan utama perbedaan antara budaya barat dan timur. Ia mengaitkan efek pemikiran agama dalam kegiatan ekonomi, hubungan antara stratifikasi sosial dan pemikiran agama serta pembedaan karakteristik budaya barat. Tujuannya untuk menemukan alasan mengapa budaya barat dan timur berkembang dengan jalur yang berbeda. Weber kemudian menjelaskan temuanya terhadap dampak pemikiran agama puritan (protestan) memiliki pengaruh besar dalam perkembangan sistem ekonomi di Eropa dan Amerika Serikat, namun tentu saja ini ditopang dengan faktor lain diantaranya adalah rasionalitas terhadap upaya ilmiah, menggabungkan pengamatan dengan matematika, ilmu tentang pembelajaran dan yurisprudensi, sistematisasi terhadap administrasi pemerintahan dan usaha ekonomi. Studi agama menurut Weber semata hanyalah meneliti satu emansipasi dari pengaruh magi, yaitu pembebasan dari pesona. Hal ini menjadi sebuah kesimpulan yang dianggapnya sebagai aspek pembeda yang sangat penting dari budaya yang ada di barat.
  
BAB I
Psikologi Sosial Dalam Dunia Agama

Menurut buku bab ini, kelima agama menganut etika ekonomi bukan “fungsi” sederhana suatu bentuk organisasi ekonomi dan hanya sedikit yang bisa dilakukan sebaliknya yaitu etika ekonomi secara tidak ambigu menunjukkan bentuk organisasi ekonomi.[1] Determinasi agama terhadap perilaku kehidupan juga menjadi faktor etika ekonomi. Dalam setiap agama, kita akan menentukan bahwa sebuah perubahan dalam strata yang menentukan secara soasial biasanya menjadi sangat penting. Jenis agama yang suatu saat ditandai, biasanya didesak pengaruh yang terentang juah di atas perilaku kehidupan dari strata yang heterogen. Setiap orang telah berusaha memahami hubungan antara etika keagamaan dengan keinginana terhadap situasi dalam suatu cara yang datang belakangan.
Determinasi kelas yang benar-benar general dan abstrak terhadap etika keagamaan mungkin disimpulkan dari teori “ kebencian” yang dikenal sejak esai brilian Fridrich Nietzschen, diketahui teori ini mengakui glorifikasi moral terhadap sikap murah hati dan garis persaudaraan sebagai sebuah “ perjuangan moral para budak ”  diantara mereka yang tidak beruntung, baik dalam sokongan alamiah mereka maupun dalam kesempatan yang ditentukan oleh takdir. Menoleransi manusia sedemikian ditengah-tengah komunitas agama bisa berakibat ketidakberuntungan terhadapnya. Dalam memperlakukan penderitaan sebagai sebuah geejala menjijikkan dimata dewa-dewa dan sebagai suatu tanda kesalahan rahasia, agama telah mempertemukan sebuah kebutuhan yang sangat general. Dia berharap dapat meyakini bahwa kurangnya keberuntungan hanya dalam pengalaman haknya saja. Jadi, keberuntungan yang bagus ingin berubah menjadi keberuntungan yang “ sah “.  Jadi istilah keberuntungan menutupi semua “kebsikan” kehormatan”, kekuasaan, kepemilikan, dan kesenangan, maka formula paling umum bagi pelayanan legitimasi yaitu memberikan teodisi keberuntungan yang baik bagi mereka yang beruntung.
Realita dan relevansinya:
Maklumat dan janji-janji keagamaan pada dasarnya telah dialamatkan kepada umat yang menginginkan keselamatan. Mereka dan minat-minat mereka telah bergerak ke pusat organisasi prifesional yang bertujuan untuk “pengobatan jiwa”, dan hanya dari sanalah kemudian mereka menyadarinya. Religiositas memgisyaratkan mitos dari “sang penyelamat”, karena ini menjadi suatu pandangan dunia yang rasional. Spirit berpengaruh terhadap datang dan perginya vegetasi, dan jalan pada badan langit penting bagi musim-musim dan menjadi bawaan yang sangat disukai bagi mitos-mitos penderitaan, kesekaratan, dan kebangkitan dewa demi kepentingan manusia. Dewa bangkit untuk menjamin kembali suatu keneruntungan di dunia ini dan dunia baka. Figur sang penyelamat menjadi tanda yang bervariasi. Janji-janji agama tentang keselamatan yang pertama kali ditetapkan terkait dengan prakondisi-prakondisi etis. Misalnaya keuntungan suatu duniawi dan duniawi yang lain dari misteri-misteri yang terikat dengan kemurnian ritual dan dengan kehadiran massa Eleusinian. Saat perkembangan agama secara meyakinkan dioengaruhi oleh sebuah kenabian , saat itulah “dosa” pada dasarnya tidak lagi menjadi kejahatan magis belaka. Hal itu merupakan tanda pengingkaran kepasa nabi dan juga kepada perintah-perintahnya.
Teodisi suatu penderitaan bisa diwarnai oleh kebencian. Tapi kebutuhan akan kompensasi akan ketidakcukupan terhadap takdir sesorang di dunia ini bukanlah, sebagai suatu aturan, suati bentuk kebencian sebagai dasar dan warna yang menentukan. Orang bisa sangat lebih siap diyakinkan bahwa cara pemikiran ini, yang kadang-kadang tampak, tidaklah selalu ditentukan oleh kebencian dan hal ini bukan berarti selalu ada produk dari strata yang tertindas secara sosial. semua ini dapat dikatakan kebencian yang bisa menjadi, yang sering dan dimana pun menjadi, dalam pengaruh rasionalisme yang ditentukan secara agamis terhadap strata ketidakberuntungan sosial. Strata yang mempunyai kemuliaan dan kekuatan sosial yang solid biasanya cendrung menciptakan legenda status mereka dengan cara seperti itu tentang klaimkualitas khusus dan intrinsik yang mereka punyai, yang biasanya disandarkan kepada kualitas darah (keturunan): itulah yang dianggap mereka sebagai “ makanan “martabat dalam bentuk aktual atau bentuk yang masih tidak pasti

Menurut anggapan psikologis mereka yang tengah mencari keselamatan pasti akan terfokus pada apa yang dilakukan sekarang ini. Kondisi kemuliaan permanen yang bersandar pada perasaan “ pembuktian diri sendiri “ yang hanya menjadi suatu objek konkret diantara nila-nilai suci dari agama. Kultus Jesuit tentang hati Jesus, perbaikan mistisisme kristen, penawaran cinta orang saleh terhadap anak Jesus dan “luka yang terus mengalir” dari tubuh Jesus, pesta pora seksual dan semi-seksual pada cumbu rayu Krishna, jamuan makan malam kultis vallabhacharis yang rumit, berbagai aktifitas kultis kaum onamis yang gnostik, beragam bentuk union mystical, dan penyelamatan kontemplatif dalam keadaan “ bersatu ” (Tuhan dan mahluk), keadaan seperti itulah yang dicari oleh mereka demi suatu kepentingan nilai emosional seperti yang mereka secara langsungtawarankan kepada orang saleh. Sebagai perilaku yang begitu luar biasa, kondisi keagamaan hanya bisa menjadi transit penampakan karakter dan penam pakan eksternal. Hanya dengan cara membedakan keadaan-keadaan keagamaan dan profan yang bisa mengacu kepada karakter keadaan keagamaan yang luar biasa.

Dua konsepsi paling agung yaitu “kelahiran kembali’ dan “penebusan”, dimana kelahiran kembali nilai migas yang paling awal diartikan sebagai akuisisi terhadap jiwa baru dengan cara bertindak orgiastik atau melalui asketisme yang direncanakan secra metodis. Manusia yang sifatnya fana mendapatkan jiwa yang baru. Jenis kebahagiaan atau pengalaman kelahiran kembali yang empiris dicari setelah nilai yang agung dalam suatu agama menjadi jelas dan harus bervariasi sesuai dengan karakter yang menjadi hal terpenting dengan mengadopsinya. Konsepsi tentang gagasan[2] “penebusan” sepertinya menjadi suatu gagasan yang sangat tua, jika orang memahaminya dengan sebua pembebasan dari suatu penderitaan, rasa lapar, mati kekeringan, penyakit, dan paling penting dari penderitaan dan kematian. Orang bisa berharap diselamatkan dari permainan nafsu manusia yang eksternal dan tidak berprikemanusiaan serta berhasrat dan berharap bisa mendapatkan ketenangan dari penglihatan murni yang bersifat ketuhanan.
Semua kekuatan yang berkuasa baik yang profan msupun agama, baik politis maupun tidak, mungkin anggap sebagai variasi dari, atau perkiraan terhadap, jenis-jenis kemurnian tertentu. Hal ini dikonstruksikan melalui pencrian akan basis legitimasi, yang diklaim oleh kekuatan yang berkuasa.  Berikut ini kita hanya akan mengerangkakan dasar-dasar otoritas dalam terminologis.Signifikansi stratifikasi status dalam hal ini mempengaruhi struktur ekonomi dengan adanya suatu rintangan dan regulasi konsumsi dan dengan adanya monopoli-monopoli status dari sudut pandang rasionalitas ekonomi yang menjadi irasional dan stratifikasi status menpengaruhi ekonomi yang sangat kuat melalui hambatan konvensi-konvensi status dari strata masing-masing yang berkuasa menetapkan contoh.
Calvinisme merupakan suatu faham yang berpegangan bahwa tuhan tidak hidup atau ada bagi manusia tetapi manusialah yang hidup atau ada demi tuhan dan dunia ada untuk melayani kemuliaan tuhan, serta tuhan menghendaki adanya pencapaian social dalam dunia. Calvinisme berpendapat bahwa kesuksesan kehidupan social di dunia adalah ngambaran kehidupan akhirat, kesuksesan di dunia merupakan penebus dosa-dosa bagi orang-orang yang tidak terpilih, dan hal ini merupakan gambaran audomonisme.

BAB II
Sekte-Sekte Protestan dan Semangat Kapitalisme

Dalam bab ini dijelaskn bahwa mudah melihat bahwa pertanyaan keanggotan keagamaan selalu dihubungkan dengan kehidupan sosial dan kehidupan bisnis yang tergantung pada hubungan yang permanen dan penhrgaan. Namun, seperti yang telah diterangkan, otoritas AS tidak pernah mengajukan pertanyaan tersebut. Mengapa?
Pengusiran dari suatu sekte karena pelanggaran moral berrti secara ekonomi akan kehilangan kredit, sedangkan secara sosial akan kehilangan status alias turun kelas. Kompetisi antaa sekte begitu kuat melalui jenis penawaran material dan spiritual pada saat jamuan minum teh jamaah di alam hari. Juga diantra gereja yang beradab, persentasi musik menjadi persaingan. Saat ini jenis denominasi sudah menjadi tidak relenan lagi. Hal itu bukan masalah apakah orang menjadi Freemason. Yang menemtukan adalah orang diakui menjadi anggota setelah sebuah pengujian dan masa percobaan etika dalam pengertian kebijakan dilakukan untuk asketisme batin protestantisme dan juga untuk tradisi puritan yng kuno.
Semua fenomena, yang tampaknya memunculkan disintegrasi, setidaknya disintegrasi keagamaan pada dasarnya dibatasi untuk kelas menengah. sebagian terbudakkan sering menolak fakt-fakta ini secara singkat dan dengan marah mereka tidak terima sebutan “pembual” atau mengalami keterbelakangan atau bahkan menolak. Asosiasi-asosiasi menjadi kendaraan untuk mendapatkan kenaikan sosial menjadi lingkungan kelas penguasa menengah. Mereka bertindak untuk menggabungkan dan mempertahankan etos bisnis kapitalis borjuis diantar strata kelas menengah yang luas (termaksud para petani). Kelas-kelas menengah, semua strata yang meningkat dngan dan keluar dari kelas menengah , adalah pembawa orientasi keagamaan spesifik yang orang harus hati-hti dalam melihat mereka sebagai hal yang menentukan secara oportunistik. Bahkan orang tidak pernah harus mengabaikan bahwa difusi prisip-prinsip dan kualitas-kualitas yang univesal dari suatu cara hidup yang metodis, melalui komuitas-komunitas keagamaan.
Ketika fokus pada latar belakang agama dari sekte-sekte, kita menemukan dalam dokumen-dokumen literer, khususnya di antra mereka yang mnganut sekte Quakers dan Baptis.[3] Keseluruhan etika bourjuis yang khas berasal dari permulaan umum sampai ke semua sekte dan pertemuan yang sifatnya asketis dan identik dengan etika yang dipraktekkan oleh sekte-sekte di amerika hingga sekarang. Dalam Protestantisme, prinsip “tipe ideal tersebut, maka akan terjadi adalah kebiaraan seperti dalam Penganut gereja” yang pertama muncul di antara sekte Baptis di Zurich tahun 1523-1524.
Keseluruhan etika bourjuis yang khas berasal dari permulaan umum sampai ke semua sekte dan pertemuan yang sifatnya asketis dan identik dengan etika yang dipraktekkan oleh sekte-sekte di amerika hingga sekarang. Dalam Protestantisme, prinsip “pe ideal tersebut, maka akan terjadi adalah kebiaraan seperti dalam Penganut gereja” yang pertama muncul di antara sekte Baptist di Zurich tahun 1523-1524. Prinsip terbatas hanya dalam jamaah kristen “sejati” karena berarti sebuah asosiasi ukrela dri orang-orang yang benar-benar tersucikan yang memisahkan diri dari dunia. Dalam protestanisme, konfik eksternal dan internal dari dua prinsip struktural konflik “gereja” sebagai suatu asosiasi yang diwajibkan bagi administrasi keagungan dan konflik “sekte” sebagai sebuah asosiasi sukarela dari orang yang berkualifikasi dalam hal keagamaan  dan hanya berharap berbagai konsekuensi dari prinsip voluntaris tersebut pada praktisnya menjadi penting dalam pengaruh terhadap perilaku mereka.
Jadi jamaah ikut bertanggungjawab atas administrasi sakramen oleh seorang pendeta yang patut dalam suatu negara keagungan. Bersamaan dengan hal tersebut, masalah-masalah primordinal dari konstitusi greja muncul kembali. Dan menunjukkan bahwa setidaknya hal tersebut harus diterima dari seorang pendeta.ketika komunitas  teralu besar untuk mencapai ideal, akan tejadi kebiaraan seperti dlam Pietisme atau para anggota mengorganisasikandalam kelompok pada suatu gilirannya, akan melahirkan kedisiplina-kedisplinan gereja, seperti yang terjadi di dalam kelompok metodis.
Relevansi dengan Teori
Pemikiran agama sangat berpengaruh bagi perkembangan aspek material (kehidupan di dunia ini), baik politik, ekonomi, sosial, maupun budaya. Atau dengan kata lain, ada hubungan yang sangat signifikan antara kemajuan dalam bidang pemikiran (immaterial) dan kemajuan dalam bidang material. 
Weber menganalisis bahwa perubahan masyarakat Barat menuju kemajuan ekonomi tidak hanya disebabkan oleh kelompok bisnis dan pemodal. Dalam penelitiannya, sebagian dari nilai keberagamaan Protestan memiliki aspek rasionalitas ekonomi dan nilai-nilai tersebut ditunjukkan pada spirit keagamaan
                                                    
BAB III
Penolakan terhadap dunia dan arah tujuannya

A. Motif – Motif Penolakan (Abnegation) terhadap dunia: Pemaknaan Konstruksi Rasional
Motif etika agama tentang asal – mula penolakan terhadap dunia merupakan hal yang harus dipahami terlebih dahulu untuk mampu mengklarifikasi pemaknaannya dalam cara yang skematis dan teoritis. Skema yng konstruktif hanya bertujuan untuk menawarkan alat – alat orientasi yang ideal dan khas. Jenis konflik “ tatanan hidup” yang terkonstruksi secara teoritis hanya bermaksud untuk menunjukkan bahwa konflik internal yang tidak dinyatakan secara spesifik menjadi mungkin dan memadai. Hal ini bukan berarti menunjukkan bahwa tidak ada pendirian dari konflik-konflik yang tidak bisa dipertahankan untuk bisa diselesaikan dalam suatu sintesis yang lebih tinggi. Seperti yang akan kita lihat, ruang lingkup individu dipersiapkan dengan sebuah konsistensi rasional yang jarang sekali ditemukan dalam realitas.
Rasionalitas pengertian konsistensi logis dan teleologis, dari suatu perilaku inteektual teoritis atau praktiis etis selalu mempunyai kekuatan manusia, namun kterbetasan dan ketidakadilan ada dan selalu berhadapan dengan kehidupan historis yang lain. Berbagai intrepretasi keagamaan tentang dunia dan etika agama.

B. Tiologi Asketisme dan Mistisisme
Konsepsi Tuhan dan pencipta menjadi satu dan sangat penting bagi pencarian keselamatan yang aktif dan askektif. Dan menjadi tidak begitu penting bagi pencarian komtemplatif dan mistis, yang mempunyai afinitas (daya tari) internal dengan adanya depersonalisasi dan imanensi kekuatn ilahian. Tuhan supraduniawi dengan asketisme aktif tidaklah absolut,Tuhan supraduniawi tidak menentukan arah asketisme Oksidental. Trinitas Kristen dan penjelmaan Juru Selamat dan Santa, merepresentasikan sebuah konsepti tentang Tuhan yang secara fundamental kurang supraduniawi dibandingkan Tuhan umat Yahudi, khususny umat Yahudu terakhir, atau Tuhan Allah dalam agama Islam.Umat Yahudi mengembnagkan mistisme, dan juga mengembangkan dengan keras beberapa asketisme jenis Oksidental. Ilamisme tidak mau mengaui asketisme
Asketisme aktif yaitu tindakan orang saleh yang mencerminkan kehendak Tuhan yang menjadi kapitalan Tuhan, yang di sisi lain dengan kepemilikan komtemplatif terhadap yang suci, seperti yang ada dala mistismu. Kekontrasan tersebut mengeras saat asketisme aktif  membatas dirinya untuk mengendalikan dan mengatasi kejahatan mahkluk, dalam hakikat diri sang aktor. Kemudian dia berusaha meningkatkan daya konsentrasi terhadap kehendak Tuhan yang benar-benar terbentuk dan penyeasaian aktif terhadap inti penghindaran berbagai tindakan dalam tatanan dunia. Dengan demiian, sketisme aktif dalam embawaan eksternal sangat dekat dengan penerbangan dari dunia.
Kekontrasan anatar asketisme dan mistise juga mengeras saat mistik komtemplatif tidak menggambarkan kesimpulan bahawa dia harus melarikan diri dari dunia tapi seperti asketisis dunia batin, harus tetap berada dala tatanan dunia. Bagi asketisis dunia batin, perilaku mistik menjadi kesenangan diri. Bagi mistik, perilaku asketisis merupakan sebuah keterlibatan di jalan-jalam dunia yang jahatyng berkombinasi dengan kebenaran diri memuaskan.

C. Arah Penolakan (Abnegation) terhadap Dunia             
Ketegagan-ketegangan yang ada dalam dunia dan agama, membuat bisa dikatakan bahwa model-model perilaku ini yang berkembang menjadi cara hidup metodis membentuk inti asketisme dan mistisme, dan bahwa mereka asalnya menumbuhkan berbagai persangkaan magis. Praktek magis pun dilakukan, baik untuk kpentingan menumbuhkan kualitas karismatis maupun untuk mencegah pesona kejahatan.
Secara historis ahli medis, menjadi perintis jalan kenabian, pelopor kenabiaan dan juru salamat teladan dan kenabian juruselamat utusan. Dengan karisma magis tersebut, ini hanya menjadi alat pengauan keamanan dan juga menjadi jalan bagi para pengikut untuk meledani signifikasi, yaitu misi, atau meledan kualitas sang juru selamat mengenai kepribadian mereka. Kenabian dan perintah berarti, setidaknya secara relatif melakukan sistematisasi nasionalisasi cara hidup untuk mengejar suatu nilai yang suci.
Tujuan rasional dari agama penebusan telah menjadi jaminan keselamatan untuk suatu yang suci dan dengan demikian hal itu menjadi. Ini mengambil tempat menjadi akut dan luar biasa sehingga menjadi  hal yag suci yang diperoleh secara fana dengan jalan “pesta pora agama”  asketisme dan kontemplasi.Jika sebuah komunitas agama muncul dalam kebangkitan kenabian atau propaganda seseorang juru selamat, kontrol perilaku biasa pertama kali jatuh ke dalam kekuasaan suksesor, murid dan anak-anak didik sang juru selamat dan nabi yang berkualifikasi karismatis.
Di manan pun kenabian keselamatan mnciptakan komunitas kegamaa, kekuasaan pertama asti mengalami konfli yang telah menjadi saudara alami. Mereka yang tidak bisa bermusushan dengan anggota rumah tangga, ayah dan ibu, tidak bisa dipanggil anak Jesus. “saya datang bukan mengirim perdamaian, tetapi mengirimkan sebah pedang” (Matthew, 34) merupkan ungkapan yang bisa dikutip dalam hubungan ini, dan yang harus dicatat itu hanya dalam hubungan ini. Kenabian telah menciptakan komunitas sosial yang baru, di mana ia menjadi sebuah agama jamaah dan soteriologis. Komunitas ini mengenal dua prinsip;
1.      pertama dualisme moralitas di dala dan di luar kelompok
2.      terjadi resiproritas (perilaku pembalasan) sederhana dalam moralitas kelompok.
Prinsip yang menyatakan bahwa hubungan komunal di anatara kenabian keselamatan adalah penderitaan umum bagi semua umat. Dan mejadi kasus apakah penderitaan ini benar-benar ataukah hanya ancaman spontan belaka. Yang lebih penting lagi dari etika pembalasan  di antara tetangga pun muncul, sedangkan konsepsi yang lebih rasional adalah tentang keselamatan. Agama persaudaraan selalu berbenturan dengan berbagai tatanan nilai yang ada di dunia ini, dan tuntutannya yag lebih konsisten telah dilaksanakan dan benturan itupun terjadi sangat keras.

D. Bidang Eonomi
Ketegangan antara agama bersaudara dengan dunai telah menjadi jelas dalam bidang ekonomi. Ekonomi yang terasinalisasi merupakan organisasi fungsional yang berorientasi pada uang dan uang adalah elemen yang paling abstrak dan impersonal yang ada dalam kehidupa manusia.
Deo placere non protets agama Katolik selalu menjadi perilaku berkarakteristika dari agama-agama keselamatan menuju keuntungan ekonomi, dengan semua metode keselematan menuju keuntungan ekonomi dengan semua keselamatan ekonomi rasional, peringatan terhadap cinta dan barang-barang.

E. Bidang Politik
Etika agama serta keselamatan yang tengah memasuki suatu ketergantungan yang sangat tajam dengan tatanan politik dunia. Masalah ini tidak berlaku bagi keagamaan magis atau bagi agama dari deitas-deitas fungsional. Masalh hanya muncul ketika rintangan-rintangan lokalitas, suku, negara ini dihancurkan oleh agama-agama universal, oleh suatu agama dengan Tuhan di seluruh dunia. Dan masalah itu muncul dengan kekuatan yang penuh hanya ketika Tuhan menjadi Tuhan “cinta” . masalah ketegangan dengan tatanan politik muncul bagi agama-agama penebusan yang keluar dari tuntutan dasar garis persaudaraan.
Homo politicus manusia politik yang rasional, berintegrasi ke dalam negara, mengurus segala urusan, termasuk hukuman bagi kejahatan ketika mereka melepaskan bisnis dalam pengertian yang lebih ideal. Kedengkian terhadap semua kebijakan kesejahteraan sosial, seluruh fungsi bagian politik negara keadilan dan adminitrasi beulang-ulang dan tidak dapat dielakkan lagi diatur oleh pragmatisme objektf berbagai nalar negara. Agama dan politik, ketika keduanya benar-benar terealisasi, semuanya disebabkan karena persoalan politik, kecuali ekonomi, yang mungkin langsung menyebabkan terjdinya kompetisi secara langsung dengan etika keagamaan pada hal-hal yang menentukan.

F. Bidang Estetika
Etika persaudaraan agama berdiri diantara ketegangan dinamis dengan perilaku rasional dan berguna yang mengikuti hukum-hukumnya sendiri. Ketegangan ini terjadi antara etika agama dengan kekuatan hidup duniawi, yang memiliki karakter yag secara esensial tidak rasional atau pada dasarnya anti rasional. Oleh sebab itu ada ketegangan antara etika pesaudaraan agama dengan kehidupan estetika dan erotika. Keagamaan magis berdiri dalam suatu hubungan yang intim dengan bidang estetika. Agama-agama yag menjanjikan keselamatan mempunyai bentuk yang terdevaluasi sebagai kesatuan, sebagai sesuatu yang bersifat makhluk dan membingungkan pemaknaan. Hubungan antara etika agama dan seni akan tetap harmonis  diperhatikan sepanjang seniman kreatif menghayati tarinnya sebagai hasil baik dari suatu karisma “kemampuan” atau (yang semua magis) ataukah dari permainan yang spontan.

G. Bidang Erotis
Pada dasarnya hubungan seks dengn agama begitu sangat intim. Hubungan seksual seringkali menjadi bagian orgiatisisme maagis atau menjadi hasil bagi kegembiraan orgiastik yang tidak diharapkan. Ketegangan tertentu antara agama dan seks pun mengemuka hanya dengan kesucian kultis dari orang-orang saleh yng sifatnya temporer. Kesucian yang agak kuno inni mungkin telah ditentukan dengan baik oleh fakta bahwa dari sudut pandang ritual yang terabelkan dengan kaku tentang kultus komunitas yang teregulasikan.

H. Bidang Intelektual
Penolakan terhadap semua ketundukan nif mngenai car-cara mengalami eksistensi artistik dan erotis yang pling intensif merupakan perilaku negatif belaka. Ketegangan antara diri dan agama dan pengetahuan adalah yang paling besar dan paling berprinsip dimana agama menghadapi bidang pengetahuan.  Dan pastinya dimanapun pengetahuan empiris dan rasional secara konsisten bekerja melalui kekecewaan dunia dan transformasinya ke dalam mekanisme kausal. Ilmu pengetahuan pun mengklaim tentang postulat etis bahwa dunia adalah yang ditakdirkan Tuhan. Pandangan terhadap dunia empiris dan juga berorientasi scara matemtis mengembangkan sangkalan intlektual yang didalamnya ada cara mempertanyakan.

I. Tiga bentuk teodisi
Kebutuhan metafisik menjawab kesadaran akan keberadaan ketegangan yang tidak bisa dijembatani dan melalui teodisilah dicoba untuk menemukan suatu pemaknaan umum terhadap semuanya. Dualisme mempertahankan bahwa selalu ada kekuatan cahaya dan kebenaran, kemurnian dan kebaikan yang hidup berdampingan dan berkonflik dengan kekuata kegelapan, kesalahan, ketidakmurnian, dan kejahatan.
Zoroastrisme merupakan keberagaman profetik yang menyadari konsep ini secara lebih konsisten. Di sini dualisme mualai diperhatikan dengan kekontrasan magis antara “yang bersih” dengan “yang tidak bersih”. Semua kebajikan dan kejahatan diintegrasikan.
  
BAB IV
Kapitalisme dan mayarakat pedesaan di Jerman
Saat ini, masyarakat pedesaan sudah tidak lagi kita temukan disebagian besar dunia modern. Pemilik tanah yang konstan, tuan tanah,tidak lagi menjadi seorang agrikulturalis, tetapi sebagai orang yang menyewakan. Pemilik tanah temporer, penyewa adalah seorang wirausahawan. Sedangkan para buruh selalu bekerja musiman dan berpindah-pindah dan mereka semua berasal dari kelas yang sama yaitu proletar.
Permasalahan sosial dalam lingkup pedesaan pada dasarnya adalah masalah etnis. Perbedaan tersebut disebabkan oleh populasi yang padat dari efek kapitalisme. Berkenaan dengan kemajuan teknis, produksi pedesaan bisa diubah melalui suatu pembagian dan kombinasi buruh yakni dengan akselerasi balik modal, dan mengganti bahan-bahan mentah anorganik dan alat-alat produksi mekanik menjadi bahan-bahan mentah organik dan menggunakan tenaga buruh. Kekuatan tradisi sangat berpengaruh dalam dunia pertanian dan mempertahankan jenis-jenis populasi pedesaan di Benua Eropa.
Selain itu, petani didorong untuk selalu mendukung tuan tanah dan tunah tanah sering sekali memiliki hak atas tubuh petani. Petani juga juga mebayar pajaknya kepada tuan politik sedangkan para kesatria dibebaskan dari pembayaran pajak. Hal ini terus berlangsung dan membuat para petani tidak bisa mengatur seperti keinginannya melainkan tunduk pada aturan. Bahkan dalam pekerjaan petani harus disesuaikan dengan rotasi panen yang telah ditentukan pada zaman purba untuk mempertahankan tradisi di pedesaan tersebut.
Tenaga buruh yang sangat melimpah menghapuskan hasrat untuk menggantikan buruh dengan mesin. Pemanfaatan tanah sebagai investasi modal dan suku bunga yang besar telah mengangkat harga tanah di pedesaan sampai kisaran tertinggi. Hal ini juga menyebabkan tingginya modal untuk menjalankan pertanian, sehingga menyebabkan peningkatan jumlah penyewa tanah. Dengan cara ini, efek kontras dari kapitalisme terbentuk.
Tatanan ekonomi memiliki pandangan yang berbeda dengan kapitalisme, dimana tatanan ekonomi tua lebih memikirkan bagaimana memberi pekerjaan dan menopang jumlah manusia yang jumlanya banyak hanya dengan sepetak tanah, sedangkan kapitalime memikirkan bagaimana bisa menghasilkan panen yang berlimpah untuk pasar hanya dengan sedikit mungkin tenaga kerja. Jika petani kecil tau bagaimana cara membebaskan dirinya dari belenggu tradisi, maka dia mampu untuk beradaptasi dengan kondisi pertanian yang baru. Munculnya tarif sewa dipinggiran kota, menaikkan harga daging, produk susu dan sayuran serta perawatan intensif terhadap ternak yang mungkin bisa dilakukan sendiri oleh petani tanoa harus menggaji orang lain. Petani pun ditransformasikan untuk menjadi buruh yang memiliki alat produksi sendiri.
Para petani ingin menjadi seorang agrikulturis modern yang mengetahui akan pentingnya pemisahan kepemilikan dari manajemen. Sedangkan tuan tanah menjaga kapitalnya dalam melakukan pekerjaan atau pengambilan kembali kapitalnya. Dibeberapa daerah, pemerintah telah mencoba untuk menyeimbangkan antara harta milik dan sewa.
Akibat adanya ketidakseimbangan upaya pembubaran kapitalisme pun meningkat karena kepemilikan tanah telah menciptakan posisi sosial, harga tanah pun melonjak tinggi diatas nilai produktivitas buruh. Di negara-negara berperadaban tua seerti Jerman, kebutuhan akan tentara yang kuat muncul agar bisa mempertahankan independensinya, maka ini berarti bahwa institusi politik mendukung dinasti herediter (turun-temurun). Dinasti ini memiliki hak istimewa dan hanya berlaku bagi pemegang hak – hak istimewa.
Di Eropa, Gereja memiliki pengaruh terhadap kehidupan para petani. Gereja Katolik Roma dan Gereja Lutheran merupakan kekuatan konservatif karena memiliki banyak pngikut dan telah menciptakan satu kekuatan yang signifikan. Gereja ini mendukung para petani dengan cara hidup yang konservatif, melawan budaya rasionalis kaum urban.kelompok masyarakat pedesaan pun terbentuk dibawah pimpinan pendeta. Masyarakat pedesaan menjadi alat bagi pesta suci mereka dalam menghadapi konflik dengan kaum sosialis, sedangkan kaum sosialis didukung oleh konsumen dan serikat perdagangan. Gereja disenangkan dengan hubungan patriarkal karena berkebalikan dengan hubungan komersial yang telah diciptakan oleh kapitalisme. Gereja mempertahankan relasi seorang tuan dengan pelayan.
Di negara berperadaban tua, aristokrasi pendidikan sangatlah berpengaruh dalam kehidupan masyarakat. Masyarakat lebih menyukai dikuasai oleh orang – orang yang memiliki budaya sosial yang mereka anggap sesuai dengan budaya sosial mereka. Oleh karena itu, mereka lebih menyukai kekuasaan aristokrasi yang independen secara ekonomis dibandingkan dengan kekuasaan politisi profesional. Masyarakat ragu apabila dominasi kapital akan memberi lebih baik, memberikan jaminan yang lebih kekal kepada kebebasan personal dan pelembagaan intelektual, estetika, dan budaya sosial yang tidak sesuai dengan aristokrasi masa lalu.
Kemajuan kapitalisme tidak dikepung jika para pekerja sadar untuk tetap menjadi proletarian sepanjang hidupnya yang terikat dengan negara. Akhirnya mereka memperlemah kekuatan politik kaum borjuis dan memperkuat kekuatan musuh aristokratik borjuis. Runtuhnya liberalisme borjuis jerman, didasarkan pada kerjasama yang berlangsung antara buruh dan kelompok aristokratik.
Namun pada akhirnya di negara-negara berperadaban tua maslah sosial dan politik yag kompleks akhirnya muncul. Di bawah pengaruh kapitalisme aritokrasi yang berkuasa transformasi internal yang serius telah mengubah aristokrasi yang diwariskan dimasa lalu. Petani kecil lebih berkuasa dan budaya menjadi kacau balau. Kelas penguasa pertanian yang tidak memiliki properti di pedesaan berlawanan dengan aristikrasi pemilik tanah. Kelas pemilik tanah di Jerman dikuasai oleh bangsawan dan merupakan politisi dari penguasa di Jerman. Tuan tanah mendominasi struktur sosial di pedesaan dan penghasilan tuan tanah tergantung pada pajak-pajak yang diberikan petani. Ketika kesatria dibebaskan dari pembayaran pajak petanilah yang menjadi satu-satunya pembayar pajak di negara itu. Demikian halnya apabila ada perekrutan tentara, petanilah yang melengkapi rekrutmen tesebut.
Ketuan tanahan pun hilang dengan adanya revolusi Perancis. Tetapi masih tetap membebani para petani. Dimana di wilayah Barat, hak tanah diberikan kepada petani namun tidak mempunyai nilai guna sehingga tidak bisa dijadikan sebagai sumber pendapatan dan petani dijadikan sebagai pembayar pajak. Sedangkan pada wilayah Timur, petani dijadikan sebagai angkatan buruh. Tetapi intinya, kedua tanah baik itu di Timur dan di Barat tetap memeras para petani lebih dari pajak tradisional
Para aristokrat yang berkuasa berharap bisa hidup berleha-leha sebagai seorang gentleman. Dibeberapa area di Jerman, semakin intensif penggarapan, semakin menuntut pengurangan kekayaan, sedangkan munculnya aristokratis membutuhkan perluasannya, khususnya dari produk – produk yang jatuh. Berbagai kepentingan kapitalis yang berjuang mendapatkan keuntungan usaha dan kepentingan para tuan tanah dalam bentuk sewa dan pelestarian posisi sosial dari hasil warisan.
Aristokrat menjadi seseorang yang dituakan di pedesaan. Dengan tanah yang dimilikinya, petani memiliki tanah yang telah disediakan dan bukan berarti proletarian. Para kapitalis industri dan perdagangan pun semakin mengeksploitasi tanah. Para pemilik pabrik dan pedagang pun membeli tanah yang dimiliki oleh para kesatria. Kaya menjadi salah satu karakteristik kapitalisme dalam negara tua yang masih menggunakan tradisi aristokratis dan monarki militer.
Petani Eropa sangat berbeda dengan petani di Inggris dan Amerika. Petani Inggris kadang menjadi seorang wirausahawan dan produsen yang mengagumkan bagi pasar dan selalu menyewakan tanah. Petani Amerika dalah seorang agrikulturis yang memutuhkan tanah sebagai properti dengan membeli atau membuka lahan dan kadangkaa menyewakan tanah. Di Amerika petani bekerja untuk pasar dan pasar lebih tua dari pada produsen di Amerika. Sedangkan petani Eropa adaah seseorang yang dalam banyak hal mewarisi tanah dan menghasilkan ap yang menjadi keinginannya. Di Eropa, pasar lebih baru dari pada produsen.
Dalam batas produksi pertanian tertentu, jika petani kecil tau bagaimana membebaskan dirinya dari belenggu tradisi, maka dia mampu beradaptasi dengan kondisi pertanian yang baru. Munculnya tarif sewa di pinggiran-pinggiran kota, menaikkan harga daging, produk-poroduk susu, dan sayuran serta perawatan intensif terhadp ternakyang mungkin bisa dilakukan sendiri oleh petani tanpa harus menggaji bntuan dari orang ain. Petani pun ditransformasikan menjadi buruh yang memiliki alat produksinya.
Efek-efek membubarkan dari kapitalisme pun meningkat, karena kepemilikan tanah memberikan posisi sosial, harga tanah pun melonjak tinggi diatas nilai produktivitas mereka. Konflik antara kapitalis dengan tradisi sekarang u menjadi masalah poitis. Jika kekuatan ekonomi dan politik membiarkan egitu saja kekuasaan kapitalis kaum urban,pertanyaan yang muncul adalah “ apakah pedesaan kecil menjadi pusat inteligensi politis, dengan udaya sosial mereka yang anh, yang merusak, sedangkan kota-ota hanya sebagai pembawa bdaya politis, sosial, dan estetik, akan menguasai sluruh medan peperangan?

BAB V
Karakter Nasional dan Aristokrat Prussia
Tradisi politis, pelatihan, dalam keseimbangan dalam suatu pemerintahan, tidak diragukan lagi bahwa strata tuan tanah tidak bisa digantikan. Kita berbicara tentang strata tuan tanah tersebut seperti yang ada di Inggris. Aristokrat sedemikian yang ditemukan di Jerman, dan khususunya di Prussia.[4] Aristokrat Prussia di timur sering kali menebarkan fitnah, mereka sering kali tidak diidoalakan. Seluruh Aristokrat Prussia seluruhnya tergantung pada pekerjaan sebagai wirausahawan pertanian.
Strata dalam aristokrasi, yang penuh dengan gerak dan keinginan feodal, suatu strata yang kini tergantung pada kerja manjerial yang rutin dari suatu hakikat kapitalistik, maka hasil yang bisa dicapai yang tidak bisa dibatalkan adalah firasat terhadap seorang yang tergolong kaya dn berpengaruh. Fakta tersebut memberikan berbagai keinginan aristokratis bagi strata yang kekurangan kualifikasi.
[5]Ikatan pelajar adalah merupakan pendidikan sosial yang khas dari calon pejabat non militer, pekerjaan yang sangat mudah, dan rofesi-profesi liberal dengan kedudukan sosial yang lebih tinggi. Manusia berijazah akademis tidak bisa dieliminasi sampai saat ini. Dalam beberapa kasus kebebasan akademis yang dibebankan kepada calon pejabat di Jerman. Semakin seseorang berpengaruh yang penuh dengan dorongan untuk buku saku yang utuh, di manapun kondisi-kondisi tersebut berlaku.  Kecuali masa muda masuk ke dalam pengkondisian ini, jika memiliki spirit, maka karakter fatal dari seseorang yang tidak berpendidikan pun akan berkembang.
Tidak ada seorang prevenu kurang terdidik, setiap langkah yang dilalui melampaui apa yang secara mutlak yang sangat diperlukan dalam urusan luar negeri. Pemaknaan ini dihasratkan untuk solidaritas kepentingan di masa depan dengan bangsa lain yang mungkin gagal secara politis disebabkan karena determinasi dari pasangan yang tidak disebabkan pasangan yang tidak dibebankan kepadanya apa yang belakangan ini, dengan sikap yang membanggakan “spirit Prussia”. Demokrasi pun dinyatakan membahayakan spirit Prussia. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah tidak ada bentuk sosial dari kebangsawanan Jerman. Dari orang yang sangat terdidik, namun sangatlah tidak benar bahwa individualisme yang ada di Jerman ada dalam pengertian kebebasan terhadap berbagai konvensi yang berkebalikan dengn konvensi manusia Anglo-Saxon atau jenis manusia Latin. Di manapun ada bentuk korps pejabat yang tidak dipertahankan.[6]
Bentuk Jerman ini tidak sesuai dengan pelayanan sebagai suatu model bagi seluruh bangsa yang turun ke strata terendah, dan hal ini sangat kontras dengan konvensi negara-negara Latin dan Angl-Saxon. Kesalahan yang paling mendasar jika percaya bahwa “ ras” merupakan faktor menentukan dalam hal berkurangnya suatu martabat dan keagungan yang ada dalam masyarakat Jerman. Cara bertindak dibentuk oleh suatu aristokrasi sejati. Segala konvensi Anglo-Saxon juga membentuk suatu kepribadian yang turun ke strata yang lebih rendah. Mereka berasal dari kebiasaan sosial strata orang baik, yang telah membentuk sifatnya. Dalam semua kasus yang ada, hal itu merupakan suatu konsekuensinya yang merupakan suatu  ciri menentukan dari segala konvensi dan gestur yang isa dengan mudah iimitasi dan bisa didemokratisasi. Tapi konvensi-konvensi secara akademis menguji para kandidat pejabat dan strata juga yang mempengaruhinya dan menjadi suatu kebiasaan bagi korps-korps yang berlawanan dengan kemanusiaannya.
Seperti halnya semua konvensi dan bentuk lain didukung oeh struktur birokrasi dan duuat dengan kemuliaan pelajar Jerman, maka dari sudut pandang yang formal, konsep tentang suatu klasifikasi yang berlawanan menjadi suatu konvensi kasta yang disebabkan oleh hakikatnya yang aneh. Jerman adalah suatu bangsa yang kampungan atau istilah lain jerman adalah bangsa orang biasa. Hanyalah dengan ini jerman bisa menumbuhkan “ bentuk-bentuk Jerman “ yang khas.
Secara sosial, demokratisasi dibawa atau dipromosikan oleh tatanan politik yang baru, yang tidak akan menghancurkan nilai dari bentuk-bentuk aristokrasi[7] Demokrasi di sini, dalam beberapa suatu kasus, hal ini yang dipertahankan : jika “demokratisasi“ harus menghasilkan eliminsi martabat sosial dari manusia yang berijazah secara akademis. Maka kemudian tidak ada bentuk-bentuk sosial yang bernilai secara politik yang akan dihapus Jerman, hal itu karena tidak bisa dieliminasi. Tapi demokrasi mungkin bisa memberikan kebebasan dalam bentuk nilai-nilai, sosial, ekonomi, yang oleh karenanya akan menjadi suatu nilai “sejati“ dan terbudakkan. Ada juga orang yang meleehkan hak sebagai suatu kemenangan massa yang tumpul dan tidak mampu untuk mengemukkan alasan yang menandai perbedaan dengan suatu keyakinan politik yang bijaksana, mempertahankannya menjadi seuah kemenangan emosional atas politik rasional.

BAB VI
India: Brahma dan Kasta-kasta

Dalam bab VI ini dijelaskan bahwa ada beberapa kajian yang dijadikan sebagai tem dalam buku ini. Dalam aspek Sosiologi, hal yang menjadi kajian paling utam dalam bab ini adalah kasta. Kasta merupakan salah satu bentuk stratifikasi sosial yang tertutup, dan mungkin menjadi kajian yang paling utamanya adalah perbedaan yang sangat signifikan dalam masyarakat.
Posisi Brahmana, dalam Hinduisme klasik dan juga saat ini, dipahami dalam hubungannya dengan kasta. Kasta merupakan hak dan kewajiban ritual yang diberikan dan diterima serta menentukan posisi Brahmana.  Karenanya, kasta merupakan suatu institusi fundamental bagi Hindualisme. Tanpa ada kasta, tidak akan ada Hindu. Tapi posisi Hindu berkenaan dengan otoritas Brahmana mungkin akan menjadi luar biasa, dari ketundukan yang tidak kondisional sampai memperjuangkan otoritasnya. Tapi kenyataan yang ada, jika kasta benar-benar esensial bagi hindu, maka setidaknya hal itu berlaku sebaliknyakarena tidak setiap kasta mempengaruhi  Hindu, dan ada juga kasta yang berasal dari tanah Hindu dan bahkan Kristen. Hal tersebut sangat menentukan hubungan antara kasta Hindu dengan Brahmana, namun secara intens kasta Hindu menolak Brahmana sebagai rahib, sebagai sebuah otoritas doktrinal dan ritual dn dalam setiap hal yang lain, situsi objektif tetap tidak bisa dielakkan.
Kasta merupakan tingkatan sosial yang tetap sangat esensial dan posisi utama Brahmana dalam Hindualisme lebih bersandar pda suatu fakta bahwa tingkatan sosial di tentukan dengan mengacu kepada merek daripada kepada segla sesuatu yang lain.

a. kasta dan suku                                    
Kasta yang asli tidak pernah mempunyai wilayah yang tetap. Untuk suatu tingkatan yang sangat bisa untuk di pertimbangkan, anggota-anggota kasta tinggal dinegeri tersebut, yang terpish dari perkampungan. Pada masing-masing perkampungan hanya ada satu ksta mempunyai hak penuh terhadap tanah. Sebuah kasta tidak akan pernah mempunyai sesuatu yang bisa dilakukan dengan berbalas darah seperti itu.  Sebuah kast mungkin terdiri dari orang-orang yang mengikuti suatu penarian yang erbeda. Bahkan saat ini, sering kali kasta dan cara memperoleh penghasilan begitu saling berkaitan dengan pembagian kasta.
Dalam kasus ini, kasta-kasta dalam posisi yang sama dengan pedaganng atau serikat atau keahlian, keluarga atau jenis asosiasi. Kasta selalu berhubungan dengan asosiasi pekerjaan yang murni sosial dan memungkinkan membntuk bagian dari beridiri dalam suatu komunitas sosial.  Ada kasta berdifusi ke seluruh India. Dapat dilihat pembagian politisi yng seringkali dipengaruhi tatanan kasta yang paling tetap dan beraadaa dalam ruang lingkup antar negara.
Suku biasanya berbeda dari kasta dalam hal eksogami (perkawinan dengan yang ada di luar suku atau perkawinan cmpuran) totem atau perkampungan bersma dengan eksogami saudara. Endogami (perkawinan hanya dalam satu kelompok) hanya di bawah kondisi –kondisi tertentu. Peraturan endogami selalu membentuk dasar esensial dari suatu kasta.

b. Kasta dan Serikat Pekerja
Serikat pekerja, pedagang menggambarkan kpedagangannya dengan menggambarkan kepedagangannya dengan menjual produk-produk yang dimilikinya, dan juga serikat pekerja  dalam bidang kerajinan, telah muncul di India selama periode perkembangan kota-kota dan khususny selama periode saat agama-agama keselamatan dan pekerja berhubungan. Asosiasi serikat pekerja di satu sisi mengahadapi seniman-seniman yang tergantung secara ekonomis. Hubungan ini kira-kira sama dengan serikat pekerja kerajinan yang lebih rendah pada masyarakat oksidental[8].
KeunikanIndia, terletak pada fakta bahwa permulaan-permulaan organisasi serikat pekerja yang ada di kota tidak mengarah baik pada otonomi kota dari jenis oksidental. Pada masyarakat Ooksidental pada dasarnya memiliki permulaan-permulaan yang tentunya mendahului organisasi, menjadi yang terpenting. Serikat pekerja pedagang dan kerajinan pada masyarakat memperkuat kepentingan-kepentingan agama seperti yang dilakukan kasta-kasta. Berbagai tantangan tentang tingkatan sosial juga memainkan peran yang sangat besar di antra berbagai serikat pekerja. Dalam serikat pekerja yang tertutup yaitu seorang dengan berbagai kesempatan pendapatan yang secara lengkap, dan tuan pun bersifat herediter.[9]
Perbedaan yang fundamental antara asosiasi pekerjaan dengan kasta-kasta tidak dipengaruhi oleh smua lingkungan yaitu:
  1. Bahwa sebagian sebuh pengecualiaan dan sebagian lagi konsekuensi pekerjaan bagi asosiasi benar-benar fundamental bagi bagi kasta, suatu jarak magis di antara kasta-kasta dalam hubungan mereka yang saling menguntungkan.
  2. Perbedaan lain di antara serikat pekerja dan kasta adalah signifikasinya yang lebih besar. Pekerjaan pada masyarakat oksidental pertengahan sering kali digunakan dalam perjuangan yang penuh kekerasan di antara mereka sendiri, tapi pada waktu yang sama mereka menunjukkan sebuah kecenderungan menuju pergaulan bersahabat.
Sebagai sebuah aturan, fraternisasi rakyat rakyat jelata dicapai dengan fraternisasi serikat pekerja[10] semua ini bergandengan tangan dengan pembentukan dengan sebuah komunitas kultis dari warga negara.[11] Fraternisasi di semua waktu mengisyaratkan komensalisme,[12] salah satu penyebab prinsip-prinsip kasta-kasta.
Orde kasta India membentuk suatu rintangan terrhadap yang lain yang ukurannya tidak pasti, setidaknya oleh kekuatan sendiri. Kasta tersebut tidak diatur hanya dengan pembagian ritual abadinya. Kepentingan pribadi dan kerenggangan yang besar bisa terjadi yang sangat besar yang terjadi di antara kasta-kasta, dan sering kali memunculkan rasa cemburu dan permusuhan yang sangat dalam dan karena kasta-kasta tersebut cenderung memikirkan tingkat sosial.
c. kasta dan kelompok status
Apa itu “kelompok status” ? dalam buku ini dijelaskan, kelas-kelas adalah kelompok orang yang dari sudut pandang kepentingan yang spesifik, mempunyai posisi ekonomi yang sama. Memiliki barang-barang material ataukah tidak memiliki keterampilan tertentu atau juga tidak merupakan defenisi kelas sesuatu.
Sedangkan dalam buku ini dijelaskan, status adalah kualitas kemuliaan sosial[13] atau juga kekurangan kualitas kekurangan sosial, dan ada dalam kondisi di mana melalui suatu gaya hidup. Deskripsi dalam buku ini tidak perlu diragukan adalah kelompok status yang tertutup. Karena semua kewajiban dan rintangan itu, keanggotaan dalam suatu kelompok status juga memerlukan keberadaan suatu kasta, di mana mereka diintensifikasi ke dalam tingkatan yang seenuhnya.[14]
Perkawina campuran dengn seorang gadis dari kasta yang lebih tinggi dengan laki-laki dan kasta yang lebih rendah dianggap sebuah perlawanan terhadap kemuliaan status di pihak keluarga gadis tersebut. Namun, untuk memiliki seorang kasta dari istri dari kasta yang lebih rendah tidak dianggap sebagai sebuah perlawanan, dari anak mereka juga tidak dianggap turun kelas atau setidaknya hanya secara parsial, yakni separo kelas tinggi dan separo kelas rendah. Berdasarkan kelas-kelas di atas, penjualan gadis kepada laki-laki dai tingkatan itu menjadi sangata sulit, dan semakin sulit hal itu, akan semakin gagal menghasilkan perkawinan dan hal itu dianggap telah monodai gadis tersebut.
Perkawinan anak di India dapat dideskripsikan dengan:
a.       Fakta bahawa di India sebagian gadis di kelompok usia 5 sampai 10 tahun sudah menjanda dan itu berlangsung sepanjang hidup. Ini dihubungkan dengan pembujangan janda, sebuah institusi yang di India juga yang lain, ditambahkan selain perilaku bunuh diri yang dilakukan janda tersebut. Bunuh diri yang dilakuan janda bersumber kebiasaan kekesatriaan, pemakaman kepunyaan pribadi, khususnya wanitanya, dengan kematian yang tercinta, khususnya kepada wanita dengan kematian yang tercinta.
b.          Perkawinan gadis-gadis yang belum dewasa telah mengakibatkan tingkat mortalitas yang tinggi pada waktu mereka bersalin.
Selain itu dapat jug kit lihat realita kasta dalam masyarakat India khusunya Hindu, yakni aturan makan yang tidak sederhana hakikatnya dan sama sekali mereka tidak memperdulikannya dan hany fokus pada pertanyaan:
  1. apa yang telah dimakan?
  2. makanan lain apa yang ada di meja pada saat bersamaan?
  3. tangan mana yang mengambil makanan jenis tertentu?
  4. Siapa yang dikeluarkan karena memperhatikan makanan?
  5. apa yang diperhatikan itu adalah makanan dan minuman menurut air dan makanan yang sudah dimasak dalam?
Yang perlu diperhatikan dalam pembahasan buku ini adalah adanya suatu perbedaan yang bisa diungkapkan menurut air dan makanan yang dimasak dalam air (kachcha) ataukah makanan yang dimasak dicampur dengan mentega (pakka) saja yang diperhatikan.[15] Posisi tingkatan sosial dari semua sketsa kasta tergantung pada pertanyaan dari siapa kasta yang tertinggi menerima kedua istilah tadi. Di antara kelas-kelas dan kasta-kasta Hindu, Brahmana selalu berada pada puncak hubungan ini. Namun yang perlu diberikan penjelasan adalah apakah seorang Brahmana yang memiliki posisi yang tertinggi dalam kasta, apakah melakukan pelayanan keagamaan terhadap para anggota kasta.
Meskipun dengan beberapa kali pengecualiaan dalam penjelasan buku ini, ada sebutan yang menyampaikan bahwa bentuk connubium[16] hampir selalu dilekatkan dengan sub-kasta hamper selalu dilekatkan dengan kasta.
d.      Orde Tingkatan Sosial dari Kasta-kasta Secara Umum
Kelompok kasta-kasta tertentu yang terbentuk dibedakan satu dengan yang lain menurut criteria berikut ini:
Sampai pada Brahmana dan mengikutinya serangkaian kasta-kasta yang secara benar atau salah mengklain menjadi bagian dari dua kasta yakni kasta Khastriya dan Vaisya. Alat yang digunakan sebagai pemisahnya adalah “sabuk suci”. Ini disebut sebagai dari mereka telah ditemukan kembali dan dalam sudut pandang kasta-kasta Brahmana yang senior dalam hal tingkatan.
Di India bagian Utara dan Tengah ada sebutan Jalacharaniya, yaitu kasta-kasta yang memberikan air kepada mereka yang memiliki lota.[17] Tukang cukur kelas tinggi bisa diinterpretasikan sulit mendapatkan strata yang tinggi dalam menjelaskan permasalahan yang ada di dalam masyarakatnya. Tukang cukur tidak akan mencukur mereka demikina juga tukang cuci juga tidak akan mencuci baju mereka. Akhirnya kasta tersebut tidak dianggap bersih dalam pelayananya.[18] Perkawinan antar klan ini merupakan terjadi hanya pada beberapa kasta saja. Namun bisa juga kita lihat bahwa deskripsi buku ini memberikan penjelasan bisa dilihat dari pekerjaan dan gaya hidupnya. Mereka menganggap diri meeka merupakan sebagiabn dari kasta.

e. Kasta dan Tradisionalisme
Karl Marx memberikan karakteristik pada posisi seniman, yang aneh dalam perkampungan India-ketergantungannya dengan jenis pembayaran yang tetap sebagai pengganti dari produksi untuk pasar. Selain seniman, ada juga pedagang dan seniman kota, dan yang terakhir bekerja untuk pasar dan juga secara ekonomis tergantung pada serikat pekerja pedagang, seperti dalam masyarakat Oksidental.   Sepanjang stratifikasi sosial diperhatikan, tidak hanya posisi seniman perkampungan tapi juga orde kasta sebagai suatu keseluruhan yang harus dipandang sebagai keseluruhan. Hukum kasta terbukti hanya elastis dalam menghadapi berbagai keseluruhan yang harus dipandang sebagai stabilitas.
Dalam akumulasi kekayaan, kasta-kasta seperti itu berkompetisi dengan yang lain sebelumnya, telah memonopoli posisi ahli tulis, para pejabat, atau kolektor pajak yang diserahkan untuk diselesaikan, dan juga berbagai kesempatan serupa demi tipikal penghasilan yang ditentukan secara politis dari kebesaran patrimonial.
Kapitalisme modern pasti tidak akan pernah bersumber dari lingkaran perdagangan India yang benar-benar tradisional. Seniman Hindu terkenal karenna industri ekstremnya, dia pada dasarnya dianggap menjadi lebih industrial dibandingkan dengan seniman India, yang berasal dari keyakinan Islam.

BAB VII
Kelas Terdidik di China

Selama duapuluh abad di China lebih ditentukan oleh kulaifikasi jabatan daripada kekakayaan. Kualifikasi ini ditentukan oleh pendidikan, dan khususnya oleh ujian-ujian. Kelas terdidik dan intelektual khususnya di bidang sastra dan seni yang ada pada abad ke-17.
Struktur birokrasi China juga ditentukan oleh tradisi literer dengan tanda berkarakteristiknya. Pentinggya literati yang tidak terbatas pada kebudayaan China teah berkembang dan menjadi penguasa strata intelektual serta tidak pernah mempunyai karakter seperti yang ada di agama Kristen dan Islam, atau rabbi pada agama Yahudi, atau Brahmana di India, atau pendeta di Mesir.
Bagian paling tua dari tulisan klasik dihubungan dengan nama Kung Tse, di mana Confucius jad editor. Jelas karnyanya dalam buku ini merupakan tulisan menceritakan kerajaan kerajaan yang ada di China.
Posisi tipologi sosiologis mengenai tujuan dan alat pedagogis tentang Confucian di China, secara historis ada dua kutub yang berlawanan dalam tujuan pendidikan, yaitu:
1.      Membangkitkan karisma
2.      Menanamkan keterampilan dan pelatihan
Status mulia literati mempunyai hak yang istimewa, bahkan mereka bisa melakukan ujian tapi tidak dipekerjakan. Yang paling penting adalah: kebebasan dari pemerintah, kebebasa dari hukuman badaniah, menjadi anggota pendeta.

Kelamahan Buku
  1. Keadaan dalam pembahasan ini sudah tidak relevan dengan keadaan saat ini. Didalam pembahasan ini, disebutkan bahwa petani merupakan pihak yang membayar pajak dari tuan tanah. Sedangkan pada kenyataan sekarang ini, justru yang membayar pajak adalah pemilik tanah. Kemudian keadaan saat ini setiap orang wajib membayar pajak, tidak ada orang yang tidak wajib membayar pajak. Pembayaran pajak saat ini juga disesuaikan dengan tanah yang dimiliki, bukan hnya dibayarkan oleh petani saja. Pembahasan dan jika dikaji per bab maalah dalam buku ini, tidak relevan lagi jika dikaji secara detail buku ini jauh dari keadaan sekarang. Karen buku ini sudah cukup lama dan juga masih dalam kajian teoritis yang dihubungkan dengan sekarang buku ini sudah sangat klasik dan membutuhkan pembaharuan ulang untuk bisa diteliti.
  2. Teknik penulisan dalam buku tersebut tidak mudah dimengerti dan banyak antar kalimat dalam bab I dan dua tidak sinkron atau berhubungan, ada juga kekurangan kata, di mana hurufnya tidak lengkap.
  3. teknik penulisan dalam buku ini susah dimengerti karena peletakan tanda baca yang tidak sesuai. Dalam penulisan ini juga tidak sistematis. Ini sudah bisa dibuktikan dalam beberap bab bisa dilihat dengan kajian dan tulisannya banyak yang tidak sinkron dan masih banyak kata-kata yang tidak sesuai dengan gaya bahasa Indonesia yang terbaru.
  4. gaya bahasa sulit untuk dipahami karena banyak istilah-istilah yang tidak dimengerti oleh pembaca. Gaya bahasanya filsafat dan masih menggunakan istilah Jerman itupun merupakan sebuah. Jadi sebagai peresume buku, banyak kata dan istilah yang harus kita dalami untuk lebih tahu lebih lanjut apa pengertian yang seharusnya/
Kelebihan Buku
1.    topik sesuai dengan pembahasannya, dalam bab sau samapi ke bab tujuh kajiannya sesuai dengan temanya. Namun, dan banyak kajian yang diperbandingkan dengn wilayah-wilayah yang ad di Eropa dan masyarakat yng lebih komplek.
2.    Selain itu buku ini merupakan essai yang dibuat oleh tokoh Sosiologi, yang bernama Max Weber dan ini merupakan tokoh dan narasi ilmiah yang peting untuk diketahui,
3.    Secara umum penulisan kata sudah sesuai dengan apa yang dihaarapkan oleh ilmiah. Kata demi kata sudah dituliskan dengan benar.
4.    Teori yang dipakai masih original dari Max Weber dan merupakan buku saku yang bisa dipergunakan oleh mahasiswa dan dosen yang ingin membahas secara dalam sosiologi, khususnya mendalami pemikiran tokoh Max Weber.

Saran
Saran kami sebagai pembaca adalah buku ini perlunya pemberian gaya bahasa yang memakai istilah yang mudah di mengerti dan memperluas gaya bahasa dalam setiap bab. Sehingga, para pembaca dapat memahami apa isi dan tujuan buku ini, civitas akedemi mmbutuhkan buku yang segar dan situasional dengan yang sekarang. Sehingg bisa memunculkan inspirasi dan pembelajaran yang luas lagi bagi ilmu pengetahuan.
Buku ini sulit ditemukan dan perlunya dibat dalam bentuk digital.studi komprehensif sosiologi kebudayaan.  Dan mungkin untuk mempermudah dalam memahami buku ini adalah dengan cara membacanya berulang-ulang. Pemberian makn terhadap istilah perlu diruliskan disetiap lembaran, agar pembaca dapat memahami dan sekaligus bisa memberikan masukan, ilustrasi yang tepat terhadap permasalahan yang ada dalam buku ini


[1] Tentunya jalan kehidupan yang ditentukan secara keagamaan itu sendiri sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor ekonomi dan politik yang beroperasi dalam ikatan-ikatan geografis, politis, sosial, dan nasional dan juga dari strata sosial juga sangat memepengaruhi etika praktis ke agamaan masing-masing. Strata-strata tersebut yang sifatnya menentukan karakteristik ciri-ciri suatu etika ekonomi mungkin bisa mengubah jalannya sejarah.
[2] Teori perbandingan: Dalam buku ini, sosial dan budaya Karl Marx yang merumuskan bahwa perubahan sosial dan budaya sebagai produk dari sebuah produksi (materialism), sedangkan Max Weber lebih pada sistem gagasan, sistem pengetahuan, sistem kepercayaan yang justru menjadi sebab perubahan.

[3] Sekte-sekte baptis, karakter yang dianut dari baptis adalah tenang, moderat, dan sangat taat terhadap keagamaanya. Pada perkembangannya penganut baptis akan mengikuti alur calvinisme, apa yang menjadi prinsip dari pemikiran baptis adalah mendengarkan adanya suara tuhan sebagai panggilan hidup, yang akan menjadi tujuan utama manusia dan hal ini menjadi semangat kapitalisme
[4] Hal. 253 dalam hal ini di Prussia jelas bahwa saat ini kebijakan negara bertujuan untuk melahirkan strata penyewa dari karakter aristokratis sejati yang berada di luar dari pernyataan di atas.
[5] Hal. 256 dalam pernyataan ini, ada beberapa akdemis yang berbeda dengan apa yang seharusnya ada dalam masyarakat.  Bahkan ada penyimpangan yang terjadi contohnya dalam bentuk tawuran, minum-minumn keras dan meninggalkan kelas. Hal ini terjadi akibat dari strata tertinggi di Jerman mempunyai hak-hak istimewa.
[6] Hal. 262 penjelasan mengenai adanya kesenjangan yang terjadi di Jerman.
[7] Hal. 265, Jerman merupakan negara yang cukup sederhana dan halaman ini menjelaskan Jerman pada waktu itu adalah negara yang orang biasa sehingga dari atas dasar negara biasa ini Jerman bisa muncul sebagai negara yang bisa berkembang dan menunjukkan kejatian diri.
[8] Hal. 283, masyarakat oksidental adalah pengertian masyarakat yng berhubungan dengan dunia Barat atau masyarakat Eropa. Suatu proses di mana masyarakat berada di bawah mengadopsi budaya atas mengadopsi budaya Barat dalam berbagai bidang industri, tekonologi, hukum, politik, ekonomi, dll.
[9] Bersifat herediter merupakan seorang pemimpin dalam buku ini memberikan penjelasan bahwa pemimpin tersebut atau seorang tuan mewarisi watak dirinya terhadap anggotanya.
[10] Fraternisasi adalah perserikatan terorganisir yang beranggotakan pria yang berkumpul dalam lingkungan yang bersahabatan dan bersaudara, yang berdedikasi dalam membina anggotanya dalam membina anggota dalam bidang intelektual, fisik maupun sosial.
[11] Komunitas kultis itu berhubbungan dengan keterlibatan sosial-politik, Komunitas Umat Basis hendaknya dilengkapi dengan kesadaran hukum yang memadai dan jaringan komunikasi yang kuas.
[12] Komensalisme adalah interaksi yang erat dan khusus,salah satu pihak yang tidak diuntungkan dan pihak lain diuntungkan.
[13] Menurut hal. 294 ini kemuliaan sosial bisa dipasangkan secra langsung dengan kelas situasi, ditentukan oleh rata-rata kelas-situasi dari anggota-anggota kelompok status.
[14] Salah satu contoh yang diberikan dalam buku ini, bahwa kasta memiliki rintangan yang besar adalah terdapat di hal. 295. Eropa masih mengakui rintangan terhadap status tersebut untuk kaum bangsawan yang tinggi. Amerika mengaki rintangan status tersebut di antara kulit orang Hitam dengan kulit orang Putih ni Negara Bagian Selatan. Faktualnya Amerika menyatakan bahwa perkawinan itu merupakan absolut dan legal tidak bisa diterima, yang benar-benar terpisah dari fakta adalah bahwa perkawinan campuran seperti itu akan mengakibatkan munculnya boikot sosial.
[15] Dalam hal. 300 dijelaskan bahwa salah satu allat yang digunakan selama ini untuk menjelaskan tingkatan dalam suatu kasta. dalam hal ini akan banyak kita temukan pengulangan kata yang memakai istilah bahasa Jerman.
[16] Connibium merupakan sebuah istilah bahasa Jerman yang berarti merupakan perkawinan antara dua orang yang berbeda klan.
[17] Lota dalam hal. 302 merupakan cerek air atau tempat air yang digunakan untuk menerima air dari Brahmana. Selain itu daging sapi juga bisa menentukan bagi tingkatan kasta, dank arena itu merupaka gejala yang sudah terjadi sebelumnya.
[18] Meskipun pengelompokan kasta tersebut tidak berlaku di seluruh wilayah di India dan ada pengecualian, namun secara keseluruhan hal itu benar-benar sudah ditopang dengan baik.




Tags :

bm

bonarsitumorang

Pengajar Muda

I like to make cool and creative designs. My design stash is always full of refreshing ideas. Feel free to take a look around my Vcard.

  • Bonar Situmorang
  • ????????????
  • Kec.Cilandak,Kota Jakarta Selatan
  • bonarsos@gmail.com
  • +62853-7028-9213