3 Apr 2020

KUANTITATIF? PAHAMI DULU VARIABEL DAN JENIS - JENISNYA!


"Sebelum melakukan penelitian ke lapangan. Seorang mahasiswa atau peneliti terlebih dahulu menyelesaikan sebuah proposal. Di dalam proposal ini terdapat hal yang dikerjakan. Dari pendahuluan, teori yang berhubungan, dan sampai metode penelitian. Di metode penelitian ini, kita akan menentukan, apakah menggunakan metode kuantitatif, kualitatif, atau mix metode. Jika kita memilih metode dengan menggunakan pendekatan kuantitatif, maka terlebih dahulu kita memahami metode tersebut. Salah satu topik yang sangat perlu untuk diketahui adalah tentang variabel. Karena dalam variabel inilah nantinya kita akan memulai sebuah rancangan dan sebagai alur proses penelitian."
Metode Penelitian



Variabel adalah suatu atribut, nilai/ sifat dari objek, individu/kegiatan yang mempunyai banyak variasi tertentu antara satu dan lainnya yang telah ditentukan oleh peneliti untuk dipelajari dan dicari Informasinya serta ditarik kesimpulannya. Contoh: Jika  kita membicarakan mengenai mahasiswa, hal itu belum dapat dikatakan variabel. Sebab mahasiswa saja hanya merupakan sebuah konsep. Tetapi jika kita sudah membicarakan mengenai Mahasiswa Fakultas Teknik, Mahasiswa Fakultas Ekonomi, itu artinya kita sudah bisa dikatakan membicarakan variabel, karena Mahasiswa Fakultas Teknik, Mahasiswa Fakultas Ekonomi itu termasuk kategori. Contoh lain, pekerja  merupakan objek  mempunyai beberapa variabel berikut:

No.
Variabel
Jenis Variabel
1.
Usia
variabel yangg memiliki nilai numerik
2.
Tingkat pendidikan
variabel numerik/kategori
3.
Bidang pekerjaan
variabel kategori

Jenis-jenis variabel penelitian

Variabel Independent dan Dependent

Variabel bebas atau independent kadang-kadang disebut variabel prediktor, treatment, stimulus, penyebab, input dan lain-lain adalah variabel yang dimanipulasi untuk mengamati efeknya terhadap variabel tergantung. Variabel tergantung atau terikat atau dependent disebut variabel akibat atau output adalah variabel yang diukur untuk mengetahui pengaruh dari variabel bebas.
Hubungan Variabel Independet dengan Dependent

Variabel Intervening

Variabel intervensi adalah variabel mediasi mengacu pada proses abstrak yang tidak secara langsung diamati diantara variabel independent dan dependent. Ini variabel hipotetik
Variabel ini dianggap sebagai variabel yang dapat menjelaskan keterkaitan variabel bebas dan terikat tetapi tidak dapat dipertanggungjawabkan, mungkin karena tidak diperhitungkan, tidak dapat diindentifikasi atau tidak dapat diukur. Pada titik ini variabel intervening adalah konsep abstrak yaitu argumen hipotetik yang diusulkan seorang peneliti setelah penelitian selesai dilakukan berupa saran untuk agenda penelitian mendatang.
Hubungan Variabel Intervening

Variabel Moderating

Variabel moderating adalah vari
abel mediasi yang sudah diidentifikasi, diukur dan dipertanggungjawabkan mempengaruhi keterkaitan variabel independent dan dependent .Kedudukan variabel moderating adalah memoderasi pengaruh variabel bebas terhadap variabel tergantung. Dengan demikian variabel moderating memberi efek memperlemah pengaruh.
Variabel Moderating

Variabel Control

Variabel kontrol adalah variabel yang menyebabkan hubungan variabel bebas dan tergantung tetap konstan. Variabel ini mengeliminasi dampak yang diakibatkan dari adanya variabel-variabel moderating.
Variabel Control

Variabel Asing (Extraneous)

Variabel extraneous atau variabel asing adalah faktor-faktor dalam lingkungan penelitian yang mungkin memiliki efek terhadap variabel dependent, tetapi tidak diketahui keberadaanya. Variabel asing sangat berbahaya karena dapat merusak validitas sebuah penelitian. Jika memang tidak dapat dikendalikan, variabel asing harus setidaknya dipertimbangkan ketika menafsirkan hasil.

Skala Pengukuran

Terdapat 4 jenis skala pengukuran, yakni :
Skala Nominal
Angka yang diberikan pada objek/ variabel pengukuran hanya memiliki arti sebagai label saja (asal bisa dibedakan). Tidak memiliki tingkatan.
Contoh skala nominal
No.
Universitas
Jumlah dosen
1.
USU
1.256
2.
Unimed
1.009
3.
UISU
234
4.
UMI
375
5.
ULM
442

Skala Ordinal
Angka yang diberikan pada objek/variabel pengukuran mengandung pengertian tingkatan. Contoh skala ordinal:
No.
Universitas
Jumlah Mahasiswa Baru
1.
USU
20.089
2.
UNAND
14.568
3.
UNRI
13.721
4.
UNILA
8.674
5.
UGM
4.665

Skala Interval

Angka yang diberikan pada objek/ variabel pengukuran mengandung sifat ordinal ditambah sifat jarak/ interval. Contoh skala interval, suhu udara dapat berkisar antara -4° hingga 40° C. Jika termometer menunjukkan 0° C, bukan berarti tidak ada suhu, tetapi hanya sebagai penunjuk bahwa suhu saat itu tergolong rendah.

Skala Rasio

Angka yang diberikan pada objek/ variabel pengukuran mengandung sifat interval ditambah sifat yang mampu memberikan keterangan tentang nilai absolut variabel yang diukur. Artinya apabila menunjuk angka 0 (nol), maka berarti benar-benar nol, tidak ada, atau kosong. Contoh skala rasio Jumlah komponen mesin yang diproduksi per batch adalah 1.000.000 komponen. Bila dalam suatu batch menunjukkan angka produksi 0, maka artinya adalah pada saat itu tidak dilakukan proses produksi sehingga tidak ada outputproduksi.

Hubungan Antar Variabel
Ada tiga kategori hubungan variabel, yakni hubungan simetris, hubungan tidak simetris, dan hubungan timbal balik.

1. Hubungan Simetris

Hubungan Simetris adalah hubungan manakala variabel yang satu tidak disebabkan oleh variabel lainnya. Hubungan variabel yang simetris mempunyai ciri- ciri sebagai berikut: Kedua variabel merupakan indikator dari konsep yang sama. Misalnya : Kualifikasi guru yang baik adalah tingkat pendidikan dan pengalaman mengajarnya. Variabel tingkat pendidikan dan variabel pengalaman mengajar merupakan hubungan simetris, sebab kedua variabel tidak saling mempengaruhi. Tingkat pendidikan tidak dipengaruhi oleh tingkat mengajar, demikian pula sebaliknya.

Variabel merupakan akibat dari faktor yang sama misalnya: tes seleksi masuk universitas yang ketat menyebabkan banyak calon yang jatuh, tetapi juga dapat meningkatkan prestasi mahasiswa. Hubungan tersebut adalah asimetris, karena tidak ada hubungan antara calon mahasiswa yang jatuh dengan kenaikan prestasi mahasiswa.
Variabel memiliki ikatan fungsional misalnya : Kekuasaan mengalami kaitan fungsi dengan tugas dan tanggung jawab. Akan tetapi tidak berarti kekuasaan dipengaruhi oleh tugas dan tanggung jawab. Atau sebaliknya, tugas dan tanggung jawab ditentukan dan dipengaruhi kekuasaan.

Hubungan kebetulan misalnya : Anak pandai tidak lulus, tetapi anak bodoh lulus dengan baik. Jadi, tidak ada hubungan antara bodoh dengan kelulusan, dan pandai dengan kegagalan. Hubungan simetris dengan empat ciri di atas jarang digunakan dalam penelitian ilmu sosial, termasuk penelitian pendidikan.

2. Hubungan Tak Simetris

Hubungan tak simetris ditandai dengan adanya hubungan atau kaitan antar variabel yang satu dengan yang lainnya. Hubungan tersebut bisa hubungan pengaruh, sumbangan, atau kontribusi, atau pun hubungan sebab akibat. Oleh karena itu hubungan tak simetris merupakan inti dari penelitian ilmu sosial, termasuk penelitian pendidikan. Hubungan yang terjadi biasanya dalam bentuk hubungan positif dan fungsional. Hubungan positif biasanya terdapat hubungan yang searah. Misalnya, makin tinggi tingkat pendidikan guru, maka makin tinggi kualitas pengajaran. Demikian pula makin rendah kompetensi guru, makin rendah hasil belajar siswa. Akan tetapi makin tinggi kompetensi guru makin rendah hasil belajar. Maka hubungan tersebut adalah negatif atau berbanding terbalik.

Sedangkan yang dimaksud dengan hubungan fungsional adalah kedua variabel (variabel bebas dan variabel terikat) menunjukkan adanya kaitan fungsi. Misalnya, adanya pengaruh, adanya sumbangan atau kontribusi, atau menjadi penyebab variabel lainnya. Secara statistik sumbangan atau pun pengaruh dapat dihitung besarnya. Ada beberapa ciri dari hubungan tidak simetris, antara lain sebagai berikut:

Hubungan Stimulus-Respon                                                                                                    

Stimulus berasal dari luar individu, sedangkan respons adalah reaksi atau jawaban dari individu. Hubungan yang terjadi biasanya dalam bentuk pengaruh dan efek dari variabel pengaruh atau variabel bebas terhadap variabel terikat atau terpengaruh / respon. Misalnya: Pengaruh metode belajar terhadap hasil belajar, pengaruh bimbingan kelompok terhadap kesanggupan menyesuaikan diri, pengaruh kepemimpinan demokratis terhadap kepuasan kerja.

Penelitian dapat menggunakan metode eksperimen atau metode ex post de facto. Hubungan disposisi-responsApabila stimulus datan dari luar, disposisis sudah berada dalam diri individu itu sendiri, yakni berupa kecenderungan untuk menunjukkan respons tertentu pada situasi tertentu. Contoh disposisi antara lain sikap, kebiasaan, dorongan, kepercayaan, nilai. Sedangkan respons ditunjukkan dalam bentuk perilaku individu. Misalnya : Hubungan antara kebiasaan membaca dengan kemampuan berbahasa, hubungan antar sikap antara profesi keguruan dengan kemampuan mengajar, hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar yang dicapainya. Hubungan ini banyak digunakan dalam penelitian pendidikan.

Hubungan Karakteristik Individu 

Yang dimaksud dengan karakteristik di sini adalah sifat atau sikap yang relatif menetap dalam individu, misalnya jenis kalamin, tingkat pendidikan, agama, usia, pengalaman kerja, keahlian atau jurusan. Contohnya adalah jenis kelamin, tingkat pendidikan dan keahlian guru dalam hubungannya dengan sikap terhadap profesi keguruan. Jenis hubungan karakteristik individu dengan perilaku dapat pula dikombinasikan dengan ciri hubungan pertama dengan ciri hubungan kedua. Caranya ialah dengan memasukkan karakteristik individu sebagai variabel kontrol. Misalnya : Pengaruh kompetisi guru terhadap prestasi belajar siswa ditinjau dari tingkat pendidikan dan jenis kelamin.

Hubungan Antara Cara Dengan Tujuan

Misalnya: Hubungan antara lamanya belajar dengan hasil belajar yang dicapainya, hubungan antara banyaknya pekerjaan rumah dengan prestasi belajar di sekolah. Penelitian di bidang ilmu sosial dan pendidikan pada umumnya menggunakan hubungan tak simetris, seperti disposisi-respons, karakteristik individu dengan perilaku, stimulus-respons, dan dalam hal tertentu hubungan antara tujuan dengan cara.

3. Hubungan Timbal BaliK

Hubungan timbal balik adalah hubungan yang ada pada suatu saat variabel yang satu menjadi penyebab variabel yang lain, dan pada saat lain terjadi sebaliknya. Jadi pada suatu saat variabel X mempengaruhi variabel Y, dan pada saat yang lain variabel Y mempengaruhi variabel X. Misalnya: siswa yang biasanya belajar teratur ternyata berprestasi tinggi. Pada suatu saat tiba giliran bahwa suatu siswa yang berprestasi tinggi menyebabkan belajar teratur.

Di antara ketiga pola hubungan antar variabel di atas, yaitu hubungan simetris, hubungan tak simetris, dan hubungan timbal balik, hubungan yang paling banyak digunakan dalam penelitian ilmu sosial dan pendidikan adalah pola hubungan tak simetris dan hubungan timbal balik.Hubungan simetris bisa terdiri dari dua variabel, dan bisa juga lebih dari dua variabel. Hubungan dua variabel ada yang bersifat bivariat dan ada yang bersifat multivariat.


Untuk mengetahui lebih banyak lagi tentang metode penelitian mampir di sini ya. 
https://www.youtube.com/channel/UCm8bBMRAZvKOiag6KdsKU5Q/videos?view_as=subscriber Semangat dan jangan lupa bahagia selalu mengerjakan penelitiannya. 







Tags :

bm

bonarsitumorang

Pengajar Muda

I like to make cool and creative designs. My design stash is always full of refreshing ideas. Feel free to take a look around my Vcard.

  • Bonar Situmorang
  • ????????????
  • Kec.Cilandak,Kota Jakarta Selatan
  • bonarsos@gmail.com
  • +62853-7028-9213