-->

"A journey of a thousand miles begins with a single step." by Chinese Proverb

"Walking with a friend in the dark is better than walking alone in the light." by H. Keller

“As you older, you will discover that you have two hands, one for helping yourself, and other for helping others.” by A. Hepburn

ArtikelSaya

April 16, 2024

Anak Sosiologi Wajib Tahu: Chicago School & Frankfurt School

Anak Sosiologi Wajib Tahu: Chicago School & Frankfurt School

Perkembangan ilmu sosial banyak dipengaruhi atau bahkan dimulai dari dua mazhab atau school, yani Chicago School dan Frankfurt School. Pemikiran ini dilandasari berbagai hal atas pengamatan situasi pada masa itu. Pada artikel ini saya akan menjelaskan tentang kedua mazhab tersebut.

1. Chicago School (Mazhab Chicago)

Pada masa antara perang dunia kedua, sosiologi Amerika didominasi oleh University of Chicago yang menghasilkan banyak karya Sosiologi dan mendidik banyak mahasiswa yang selanjutnya mengajar di universitas Amerika lain. Walaupun mazhab Chicago menaruh perhatian yang luas dalam berbagai topik, baik dalam teori atau penelitian empiris, mereka terkenal dalam Sosiologi perkotaan dan pendekatan interaksionalisme simbolik. Karena terkesan kemajuan pesat dari mazhab Chicago,masuknya berbagai bangsa, ras, dan agama, serta karena dipengahuri pemikiran humaniora, sejumlah Sosiolog terutama E. Burgess, R. Mackenzie, R. Park, dan L. Wirth mengembangkan teori perkotaan yang khas sementara para mahasiswa mereka menyelenggarakan kajian mendetail mengenai kota itu.

Asumsi dominan dalam teori itu adalah bahwa kota menunjukkan cara hidup yang lebih radikal daripada pedesaan. Teori ini didasarkan pada prinsip ekologi kurban (urban ecology), yaitu bahwa tekanan dan kekuatan-kekuatan yang berkompetisi dalam satu ruang terbatas menciptakan sejumlah wilayah secara alami yang masing-masing dihuni oleh kelompok sosial yang berbeda.

Wilayah dan kelompok itu menjadi subjek penelitian yang kemudian melahirkan studi tentang antara lain hobo, skid row, keluarga negro, dan ghetto Yahudi. Studi ini didasarkan pada etnografi, sebuah metode yang juga digunakan untuk mempelajari seluk beluk pekerjaan di kota: musisi, dokter, pelayan restoran, misalnya.

George H. Mead

Penelitian kualitatif menjadi yang paling utama dilakukan dan tentu saja pengamatan partisipasi. Tradisi etnografi di Chicago sering dikaitkan dengan interaksionalisme simbolik, yakni kajian mengenai wilayah perkotaan, kelompok  sosial dan pekerjaan didasarkan pada konstruksi identitas yang dihasilkan oleh interaksi antara persepsi orang lain pada dirinya. Perhatian ini didukung teori mula-mula dari W. Thomas kemudan George H. Mead yang lebih penting. Dalam waktu yang sama, ada penekanan utama oleh karya W. F. Ogburn tentang kumpulan informasi statistik mendetail dari komunitas lokal.

2. Frankfurt School (Mazhab Frankfurt)

          Sebuah gerakan yang berpengaruh dalam Marxisme kontemporer. Mazhab Frankfurt adalah sekelompok ilmuwan sosial yang bekerja pada The Institute of Social Research (1923 – 1950) yang berhubungan dengan University of Frankfurt. Keanggotaan mazhab ini didominais oleh orang Yahudi sehingga sebagai sebuah kelompok mereka hidup dalam pembuangan selama kekuasaan Nazi. Institusi itu berpindah ke Colombia University, New York, kemudian kembali ke Frankfurt pada tahun 1949.

Walaupun menonjol ada tulisan-tulisan teoritis mengenai epistemologi, Marxisme dan Kebudayaan, kelompok itu melakukan penelitian empiris yang penting di Amerika mengenai rasisme dan prasangka yang diterbitkan dalam The Authoritarian Personality (1950). Tokoh penting dalam kelompok itu antara lain Adorno, Benjamin, E. Fromm, M. Horkheimer dan Marcuse.

Theodor W. Adorno

Anggota Mazhab Frankfurt memiliki banyak minat dan sumber pengaruh. Mereka terutama terpengaruh oleh pemikiran Marx, tetapi berutang intelektual juga kepada Freud dan Weber. Mereka melakukan penelitian mengenai audiens musik, sastra, dan radio pada satu sisi terlibat dalam kajian teoritis mengenai epistemologi dan teori ilmu sosial di sisi lain. Prinsip utama dari argumen mereka dalah sebagai berikut:

  1. Kritik terhadap kapitalisme tingkat lanjut. Anggota-anggota Mazhab Frankfurt menggabungkan analisis Marx tentang kapitalisme dengan analisis rasionalisasi Weber. Walaupun rasionalisasi bermula sejak masyarakat pra-kapitalis, mereka berpendapat bahwa kedua bentuk sosial itu telah berkelindan: rasionalisasi menyediakan sarana untuk mencapai tujuan kapitalisme. Mazhab Frankfurt memandang masyarakat kontemporer secara pesimistik: rasionalisasi menyediakan disiplin yang keras sementara kapitalisme memberikan sehimpun hubungan sosial yang eksploitatif. Meskipun ada banyak tenakanan, anggota mazhab ini melihat sedikit kemungkinan akan adanya perubahan sosial revolusioner.
  2. Kritik terhadap ekonomisme. Mazhab Frankfurt ini menggunakan pandangan Marxisme dalam mengusulkan sintesis Marx dan Weber. Dalam mengkritik ekonomisme, mereka mengeluhkan beberapa teori versi toeri Marxis terutama teori yang memandang sekonomi sebagai satu-satunya kekuatan dalam perubahan sosial. Hasilnya adalah penekana pada peran kebudayaan yang lebih besar dari Marxis lain.
  3. Kritik terhadap positivisme. Anggota mazhab Frankfurt mengkritik epistemologi yang mereka anggap mendominasi masyarakat Barat, yaitu positivisme, yang mengganggap pengetahuan berakar pada, dan diuji oleh, kecerdasan. Mereka agak mendukung rasionalisme yang mana dialektika pemikiran menyingkap arus kontradiksi yang diselesaikan hanya untuk kembali muncul dalam selubung baru.
  4. Hubungan dengan Freud: Inovasi teoritis mereka yang lain adalah penyatuan psikoanalisis terutama psikoanalisis Fredian ke dalam pemikiran mereka tentang masyarakat. Hal ini menunjukkan variasi lain Marxisme: teori tentang kebutuhan dan hasrat manusia dibutuhkan untuk melengkapi teori struktural masyarakat.

Referensi:

Abercrombie, N., Hill, S., & Turner, B. S. (2010). Kamus Sosiologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Bagi teman - teman yang ingin mentahui cara dan langkah-langkah Aplikasi Pengolah Data (SPSS, STATA, MINITAB, JASP, dll) silahkan kunjungi Channel ini: Bonar Situmorang

 

April 10, 2024

DESAIN PENELITIAN KUALITATIF (Review Buku: John W. Creswell and Cheryl N. Poth,  2007)

DESAIN PENELITIAN KUALITATIF (Review Buku: John W. Creswell and Cheryl N. Poth, 2007)

Merancang Sebuah Studi Kualitatif

Menjelaskan framework kualitatif, peneliti sering menggunakan istilah konstruktivis, interpretatif, feminis, dan post-modernis. Pendekatan kualitatif yang sering digunakan adalah penelitian naratif, fenomenologi, teori dasar, etnografi, dan studi kasus. Ciri – ciri dari masing-masing pendekatan ini akan dijelaskan dalam tulisan ini. Salah satu desain penelitian yang disampaikan penulis dalam bukunya yang lain (diterjemahkan dari Creswell & Creswell, 2018, p. 12) ada penelitian naratif, fenomenologi, grounded theory, etnograpi, dan studi kasus. Semua jenis ini tujuannya adalah sama untuk menghasilkan penelitian yang terbaik.

Karakteristik Penelitian Kualitatif

Dalam bab ini penulis menggunakan dua pengertian penelitian kualitatif. Pertama pengertian dari Denzin dan Lincoln (1994, 2000, 2005, 2011: hal 3), penelitian kualitatif adalah aktivitas yang menempatkan pengamat di dunia. Penelitian ini terdiri dari serangkaian praktik interpretatif dan material yang membuat dunia semakin terlihat. Praktik ini mengubah dunia menjadi serangkaian representasi, termasuk catatan lapangan, wawancara, percakapan, foto, kamera, dan memo untuk diri sendiri.

Pada tingkat ini, penelitian kualitatif melibatkan pendekatan interpretatif dan naturalistik terhadap dunia. Artinya peneliti kualitatif mempelajari segala sesuatu dalam latar alaminya, berupaya memahami, atau menafsirkan, fenomena berdasarkan makna yang diberikan orang terhadap fenomena tersebut (hal. 43). Menurut (ditermahkan dari Denzin & Lincoln, 2008, hal. 4) kualitatif dikembangkan menggunakan dan dikumpulkan dengan berbagai materi empiris – studi kasus personal empiris, intropeksi, pengalaman hidup wawancara, artifaktual, produksi dan teks, observasi, historikal, interaksional, dan visual teks - mendeskripsikan kebiasaan dan permasalahan serta memahami kehidupan level individu.   

John Creswell

Kedua, penulis mendefenisikan penelitian kualitatif dimulai dengan asumsi dan penggunaan kerangka interpretasi/teori yang menginformasikan studi tentang masalah penelitian yang membahas makna yang dianggap berasal dari suatu masalah sosial atau kemanusiaan oleh individu atau kelompok. Untuk mempelajari masalah ini, peneliti kualitatif menggunakan pendekatan pengumpulan data dalam lingkungan alami yang sensitif terhadap orang dan tempat yang diteliti, dan analisis data yang bersifat induktif dan deduktif serta menetapkan pola atau tema. Laporan atau presentasi tertulis akhir mencakup suara peserta, refleksivitas peneliti, deskripsi kompleks dan interpretasi masalah, dan kontribusinya terhadap literatur atau seruan untuk perubahan (hal. 44).

Ada perkembangan pengertian metode penelitian kualitatif seiring dengan berjalannya waktu. Ini ditempatkan pada konteks sosial, politik, budaya, konteks peneliti (hal. 44 – 45). Tabel 1 dalam review ini merupakan beberapa karakteristik umum penelitian kualitatif, disusun bukan berdasarkan urutan kepentingan tertentu (hal. 45).

  1. Natural settingpeneliti kualitatif mengumpulkan informasi dari orang-orang terdekatmengamati orang-orang yang diteliti dan berperilaku sesuai dengan konteksnya. Penelitian ini dilakukan dengan tatap muka (face to face).
  2. Researcher as key instrumentMengumpulkan data dari dokumen, mengamati perilaku, dan wawancara. Peneliti menggunakan instrumen sendiri.
  3. Multiple method. Peneliti mengumpulkan berbagai bentuk data, misalnya wawancara, observasi, dan dokumen.
  4. Complex reasoning through inductive and deductive logic. Peneliti kualitatif menggunakan keterampilan penalaran yang kompleks sepanjang proses penelitian.
  5. Participant meaning. Peneliti tetap fokus mempelajari makna yang diyakini partisipan mengenai masalah atau persoalan, bukan makna yang dibawa peneliti.
  6. Emergent design. peneliti menggunakan desain yang fleksibel, menyesuaikan dengan proses pengumpulan data.
  7. Reflexivity Peneliti dengan jelas “memposisikan diri” latar belakang, pengalaman budaya dan sejarah saat proses penelitian.
  8. Holistic account. Peneliti mengembangkan gambaran kompleks tentang permasalahan atau isu yang diteliti. Peneliti tidak terikat atas hubungan sebab-akibat yang erat antar aktor, namun mengidentifikasi interaksi kompleks dari faktor dalam situasi apapun.

Tabel 1. Karakteristik Penelitian Kualitatif

Karakteristik

LeCompte & Scencul

Hatch (2002)

Marshall & Rossman)

Dilakukan di lapangan (field)

Ya

Ya

Ya

Peneliti sebagai instrument kunci

 

Ya

 

Menggunakan berbagai metode

Ya

 

Ya

Melibatkan penalaran komples antar induktif dan deduktif

Ya

Ya

Ya

Fokus pada perspektif, makna, dan pandangan subjektif partisipan

Ya

Ya

 

Terletak pada konteks atau pengaturan peserta/sosial/politik/historis

Ya

 

Ya

Melibatkan desain yang muncul dan berkembang

 

Ya

Ya

Reflektif dan interpretative

 

 

Ya

Menyajikan gambaran holistik dan kompleks

 

Ya

Ya

Kapan Menggunakan Penelitian Kualitatif

Menggunakan penelitian kualitatif karena ada isu atau masalah yang ingin dieskplorasi, untuk mempelajari suatu kelompok atau populasi, mengidentifikasi variabel yang tidak mudah diukur, dan mendengarkan suara-suara yang dibungkam (hal. 48). Penelitian kualitatif digunakan ketika ingin pertama memberdayakan individu (empower individuals) berbagi cerita, mendengar suara mereka, dan meminimalkan hubungan kekuasaan yang sering terjadi antara peneliti dan partisan dalam sebuah penelitian. Kedua, ketika ingin menulis dalam gaya sastra yang fleksibel yang menyampaikan cerita, puisi, tanpa batasan struktur penulisan akademis formal. Ketiga ketika menggunakan penelitian kualitatif untuk menindaklanjuti penelitian kuantitatif dan membantu menjelaskan mekanisme (explain the mechanism) dan keterkaitan dalam teori atau model sebab akibat. Keempat, untuk mengembangkan teori ketika teori bersifat parsial atau tidak memadai untuk populasi tertentu. Kelima, menggunakan metode ini ketika pengukuran kuantitatif dan analisis statistik tidak sesuai dengan permsalasahan (fit the problem). Menurut (Guest, Namey, & Mitchell, 2013, hal. 22) bahwa menggunakan penelitian kualitatif ketika untuk identifikas dan mengeksplore, deskripsi, evaluasi dan asesement. Pendapat ini menambah beberapa alasan untuk menggunakan dengan metode kualitatif.

Studi yang Luar Biasa Membutuhkan dari 'Kami'

Penelitian kualitatif diperuntukkan bagi peneliti yang bersedia melakukan hal-hal berikut (hal 49):

  1. Berkomitmen menghabiskan banyak waktu di lapangan.
  2. Terlibat dalam proses analisis data yang kompleks dan membutuhkan waktu untuk mendapatkan dan memilah data ke dalam beberapa tema atau kategori.
  3. Menulis dengan panjang dan perlu menunjukkan berbagai perspektif.
  4. Berpartispasi dalam bentuk penelitian ilmu sosial dan kemanusiaan yang tidak memiliki pedoman atau prosedur khusus yang tegas dan terus berkembang serta berubah.

Proses Desain Studi Kualitatif

Penulis menyampaikan tiga poin utama dalam proses desain studi kualitatif yaitu: pertama, pertimbang awal sebelum memulai penelitian, kedua langkah-langkah yang dilakukan selama melakukan penelitian, ketiga unsur-unsur yang mengalir melalui seluruh tahapan proses penelitian (hal. 49 & 50).

Pertimbangan Awal (Preliminary Considerations)

Semua peneliti memulai dari suatu isu atau masalah, memeriksa literatur dengan cara tertentu, mengajukan pertanyaan, mengumpulkan data dan menganalisis, serta menulis laporan. Penulis sepakat dengan konsep kongruensi metodologis (methodological congruence) yang dikemukakan oleh Morse and Richards (2002) – bahwa tujuan, pertanyaan, dan metode penelitian semuanya saling berhubungan sehingga penelitian tampak sebagai suatu keseluruhan yang kohesif dan bukan terfragmentasi (hal. 50). Denzin dan Lincoln (2011) menyebut peneliti sebagai “subjek multikultural” dan memandang sejarah, tradisi, dan konsepsi diri, etika dan politik sebagai titik awal untuk penelitian.

Langkah-langkah dalam Proses

Dalam proses peneliti membawa topik atau bidang penelitian substantif, dan telah meninjau literatur tentang topik tersebut (hal.51). Untuk mempelajari topik ini perlu membuat pertanyaan penelitian terbuka (open-ended research questions) dan berbicara dengan beberapa individu. Selanjutnya mengumpulkan berbagai sumber data (variety of sources of data). Empat sumber dasar informasi kualitatif: wawancara, observasi, dokumen, dan materi audio visual. Langkah berikutnya adalah menggunakan sumber ini berdasarkan pertanyaan terbuka tanpa banyak struktur dan dengan mengamati serta mengumpulkan dokumen. Setelah mengatur data, kemudian menganalisis (analyze) dengan mengerjakan induktif apakah itu perspektif yang khusus ke perspektif yang umum, seperti kode, kategori, dan tema. Kemudian mengerjakan dengan cara deduktif untuk mengumpulkan bukti yang sesuai dengan tema dan interpretasi. Kemudian saat menulis, bisa dengan berbagai bentuk narasi (form of narrative). Selanjutnya melakukan analisis ke dalam tingkat abstraksi berupa kode, tema, keterkaitan tema, hingga model data. Pada akhirnya, membahas temuan dan membandingkan temuan dengan pandangan pribadi, literatur, dan model-model baru.

Berikut ini adalah daftar tentang karakteristik penelitian kualitatif yang “baik” menurut penulis (hal. 53-55):

  1. Peneliti menerapkan prosedur pengumpulan data yang teratur
  2. Peneliti menyusun penelitiannya dalam asumsi dan karakteristik pendekatan kualitatif terhadap penelitian.
  3. Peneliti menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Untuk peneliti pemula direkomendasikan untuk menggunakan satu pendekatan.
  4. Peneliti memulai dengan satu fokus atau konsep yang sedang dieskplorasi.
  5. Studi penelitian ini mencakup metode terperinci, pendekatan yang teratur terhadap pengumpulan data, analisis data, dan penulisan laporan.
  6. Peneliti menganalisis data menggunakan berbagai tingkat abstraksi.
  7. Peneliti menulis secara persuasif sehingga pembaca merasakan “berada di sana” atau disebut dengan istilah verisimilitude.
  8. Peneliti mencerminkan sejarah, budaya dan pengalaman pribadi peneliti.
  9. Penelitian kualitatif dalam penelitian yang bersifat etis. Peneliti menyadari dan membahas dalam penelitian dengan etika yang berlaku.  

Tulisan ini adalah review buku dari Buku Qualitative Inquiry and Research Design Choosing Among Five Approaches (John W. Creswell and Cheryl N. Poth,  2007). Khusus pada Chapter 3. Silahkan dibaca bukunya agar lebih bisa memahami. 

 

Jika kalian membutuhkan tutorial Aplikasi Pengolah Data seperti SPSS, STATA. CS-PRO, JASP, dll bisa berkunjung ke Channel ini ya: EdukasiAppData

 

November 20, 2023

Uji-t: Memahami Tujuan, Konsep, dan Syarat

Uji-t: Memahami Tujuan, Konsep, dan Syarat

Uji-t digunakan untuk menguji secara statistik apakah nilai rata-rata dari dua skor sampel memiliki perbedaan yang berarti (signifikan) secara statistik. Tokoh yang pertama kali mengembangkan tes ini adalah William Sealy Gosset pada tahun 1908 di Inggris. 
sumber foto: https://www.facebook.com/pedromics

Fokus penulisan ini adalah uji-t dua sampel independen (independent sample t-test) dan uji-t sampel berpasangan (paired sample t-test). Uji-t dua sampel independen digunakan ketika peneliti hendak membandingkan nilai skor rata-rata pada variabel pada variabel kontinu dari dua kelompok sampel yang berbeda. Contoh pertanyaan yang bisa dijadikan dalam kasus ini adalah apakah terdapat perbedaan signifikan antara laki-laki dan perempuan tentang pendapatan bulanan mereka. Dua variabel ini penelitian ini terdiri atas sebuah variabel independen kategori (laki-laki dan perempuan) dan sebuah variabel dependen (pendapatan bulanan).

Contoh uji-t sampel berpasangan (paired-sample t-test) bertujuan untuk membandingkan skor rata-rata (mean score) kelompok sampel yang sama dalam dua kesempatan yang berbeda. Variabel penelitian yang menggunakan t-test sampel berpasangan perlu diukur dalam bentuk variabel skala interval dan berdistribusi normal/sebaran data normal. Contoh kasus:  seorang peneliti ingin mengukur tingkat kemampuan mahasiswa Sosiologi pada awal semester. Kemudian peneliti tersebut melakukan tes kepada mahasiswa. Setelahnya, peneliti memberikan berbagai peningkatan pengetahuan dan keterampilan tentang Sosiologi selama 1 semester. Setelah 1 semester lewat, peneliti tersebut melakukan tes kampuan kepada setiap mahasiswa. Untuk kasus ini, peneliti menggunakan uji-t berpasangan.

Syarat Penggunaan Uji-t

Data yang diuji dengan menggunakan uji-t harus berdistribusi normal dan nilai variansi kedua kelompok harus homogen. Jika data tidak berdistribusi normal, dapat menggunakan tes statistik non-parametrik yakni menggunakan Tes-Mann Whitney


Sumber: Bandur, A., & Prabowo, H. (2021). Penelitian Kuantitatfi Metodologi, Desain, dan Analisis dengan SPSS,  AMOS & Nvivo. Bogor: Mitra Wacana Media

Tutorial uji statistik, klik link di bawah:

November 11, 2023

Jenis-Jenis Validitas Penelitian Kuantitatif

Jenis-Jenis Validitas Penelitian Kuantitatif

Dalam berbagai literatur penelitian kuantitatif (Huck, 2012; Manning & Don Munro, 2006; Nardi, 2003; Pallant, 2010), terdapat tiga jenis validitas yang sering didiskusikan para ahli statistik, yakni validitas isi (content validity), validitas kriteria pembanding (criterionrelated validity), validitas konstruk (construct validity).


1. Criterion Validity

Criterion validity berkaitan dengan apakah alat pengukuran yang baru sudah tepat sesuai dengan istrumen pengukuran lainnya yang dianggap sebagai model atau telah dipakai secara luas dalam bidang ilmu tertentu. Dalam konteks ini, peneliti perlu membandingkan instrumen penelitian yang baru dengan instrumen penelitian lainnya. Dalam bidang psikologi misalnya, hasil tes dengan menggunakan alat pengukuran kecerdasan yang baru dikorelasikan dengan alat pengkuran kecerdasan yang telah dipakai secara luas, yakni Stanford-Bined. Dua hal utama yang perlu dibandingkan ialah konteks responden yang terdapat dalam Kedua alat pengukuran dan secara khusus dalam penelitian korelasi, skor hasil tes perlu dibandingkan untuk melihat nilai korelasi koefisien kedua instrumen Huck (2012) menjelaskan bahwa Korelasi Pearson dipakai untuk melihat korelasi kedua skor instrumen. Semakin besar nilai korelasi Pearson (r) kedua instrumen, semakin tingkat tingkat validitas instrumen tersebut.

2. Content Validity

Validitas isi (content validity) berkaitan dengan apakah butir-butir pernyataan (item-item) yang tersusun dalam kuesioner atau tes sudah mencakup semua materi yang hendak diukur. Misalnya, hendak meneliti tentang gaya kepemimpinan kepala sekolah dalam era Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Untuk tujuan tersebut, perlu membuat kajian literatur (literatur review) tentang gaya-gaya kepemimpinan kepala sekolah dalam era MBS. Berdasarkan litertaur review, kemudian berikutnya menyusun kuesioner misalnya dalam beberapa bagian.

  1. Informasi demografis (latar belakang) responden,
  2. Gaya kepemimpinan distributif,
  3. Gaya kepemimpinan autentik,
  4. Gaya kepemimpinan moral,
  5. Gaya kepemimpinan transformasional,
  6. Gaya kepemimpinan situasional.

Pernyataan-pernyataan dalam kuesioner disusun berdasarkan masing-masing gaya kepemimpinan kepala sekolah tersebut, sehingga diharapkan agar item-item tersebut dapat mewakili seluruh landasan teoritis tentang topik penelitian tersebut.

3. Validitas Konstruk (Construct Validity)

Validitas konstruk ini berkaitan apakah alat penelitian yang dipakai telah disusun berdasarkan kerangka teoritis yang tepat dan relevan. Kuesioner yang memiliki validitas konstruk tinggi selalu berdasarkan defenisi atau batasan para ahli tentang konsep tersebut, bukan defenisi kamus. Misalnya, ingin mengukur efektifitas kepemimpinan kepala sekolah, maka perlu ditentukan dulu konsep teoritis tentang teori efektivitas dan kepemimpinan serta hubungan keduanya dalam efektivitas kepemimpinan di sekolah. berdasarkan batasan-batasan tersebut, dapat disusun butir-butir pernyataan dan/atau pertanyaan-pertanyaan yang sesuai. Dengan SPSS, item-item kuesioner dan/atau tes perlu diukur dengan menggunakan analisis faktor.

 Jika ingin mengetahui bagaimana cara uji validitas menggunakan STATA atau SPSS, silahkan kunjungi channel ini: EdukasiAppData

Sumber: Agustinus Bandur, Harjanto Prabowo. 2021. Penelitian Kuantitatif: Metodologi, Desain, dan Analisis Data dengan SPSS, AMOS, & Nvivo. Jakarta: Mitra Wacana Media.

 


November 01, 2023

Seberapa terpolarisasikan Indonesia?

Seberapa terpolarisasikan Indonesia?

Semakin banyak analis yang melihat polarisasi sebagai faktor penting dalam proses kemunduran demokrasi. Carothers dan O’donohue (2019:2), misalnya membandingkan berbagai negara dari Amerika Latin, Asia, dan Eropa menemukan bahwa polarisasi merusak demokrasi karena “secara rutin melemahknan penghormatan terhadap norma-norma demokrasi, merusak proses dasar legislatif . . . memperburuk intoleransi dan diskriminasi, mengurangi kepercayaan masyarakat, dan meningkatkan kekerasan di berbagai lapisan masyarakat. Pembelahan partisan dan polarisasi semakin membuat aspek demokrasi seperti perlindungan hak dan kebebasan semua orang menjadi ‘bergantung’ atau ‘bersyarat.’

Sumber foto: environics institute


Fase baru polarisasi politik di Indonesia pada tahun 2014. Dalam tiga kontestasi electoral utama, pemilihan presiden 2014, pemilihan gubernur 2017 di Jakarta, dan pemilihan presiden 2019. Pertarungan antara presiden Joko Widodo dan kemudian tokoh oposisi, Prabowo Subianto.

Prabowo bersekut dengan partai-partai Islam konservatif dan kelompok Islamis, untuk merepresentasikan kubu islam politik. Sementara Jokowi dan koalisinya mewakili aliran pluralis.

Bagaimana kita tahu kapan pembelahan politik yang normal telah berkembang menjadi sesuatu yang merusak? Kapan polarisasi dapat mengancam institusi demokrasi suatu negara dan tatanan sosialnya?

Untuk menjawab pertanyaan ini penulis menyampaikan:

  •  Dalam kasus polarisasi yang parah, politik digambarkan oleh para aktor politik dalam istilah “kita versus mereka”, dan masing-masing pihak membingkai pihak lain tidak hanya sebagai pesaing atau lawan dengan pandangannya dan tujuan yang berbeda, tetap sebagai liyan yang ‘tidak diakui’ dan merupakan suatu ancaman eksistensial (Somer dan McCoy, 2018).
  • Kedua, di mana politik sangat terpolarisasi, kubu petanahan membingkai lawan politik sebagai ‘musuh negara’ dan dengan demikian menciptakan dalih untuk mengintimidasi dan menekan kekuatan oposisi (Somer dan McCoy, 2018; Svolik. 2019).
  • Ketiga, munculnya tanda-tanda memburuknya polarisasi yang ‘afektif’ di mana antisipasi antara pendukung di tingkat masyarakat meningkat (McCoy dkk., 2018).

Pada akhirnya hasil merusak pun muncul: pemerintah berhenti berfungsi, kekerasan antar kelompok meningkat, dan demokrasi sudah mulai terkikis karena masing-masing pihak meninggalkan norma dan isntitusi liberal demi menjinakkan dan mengalahkan musuh politik mereka (Carothers dan O’Donohue, 2019; Svolik, 2019).

Polarisasi Indonesia memang belum mencapai tingkat yang melumpuhkan seperti yang telah terjadi di beberapa negara seperti Turki, Thailand, atau Amerika. Tetapi sangat penting bagi analisi untuk terus memantau dan mengukur lintasan polarisasi sepanjang indikator yang diuraikan dalam bab ini, karena polarisasi adalah sebuah proses bukan sebuah keadaan statis, dan merupakan proses yang sudah memainkan peran signifikan di momen kemunduran demokrasi Indonesia saat ini.

Sumber: Thomas Power dan Eve Warburton, 2020. Demokrasi di Indonesia dan Stagnasi ke Regresi? Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. Bagian 4.

Oktober 31, 2023

JENIS-JENIS VARIABEL PENELITIAN METODE KUANTITATIF

JENIS-JENIS VARIABEL PENELITIAN METODE KUANTITATIF

Variabel pada umumnya dibedakan ke dalam dua jenis, yaitu urutan waktu (temporal order) dan pengkurannya (observation). Variabel urutan waktu berarti salah satu variabel mendahului variabel yang lain. Dalam penelitian kuantitatif sering disebut sebagai urutan “kiri ke kanan” (Punch, 2005). Hal ini dimodelkan ke dalam presentasi sebab akibat dari kiri ke kanan.

Jenis-jenis Variabel

  1. Variabel independen (independent variable): variabel yang mungkin (probably) menyebabkan, mempengaruhi, atau menghasilkan. Variabel ini sering juga disebut sebagai variabel perlakuan (treatment), manipulasi (manipulated), anteseden (antecedent), prediktor (predictor).
  2. Variabel dependen (dependent variable): variabel yang bergantung pada variabel independen, variabel ini juga dapat dipahami sebagai variabel yang disebabkan, dipengaruhi, dihasilkan oleh variabel independen. Nama lain daripada variabel ini adalah variabel kriteria (criterion), hasil (outcome), hasil (effect).
  3. Variabel perantara (intervening or mediating variable): berada di antara variabel independen dan dependen. Sebagai variabel perantara dari variabel independen ke dependen. Sebagai contoh: jika seorang mahasiswa mendapatkan nilai baik dalam mata kuliah metode penelitian kuantitatif (variabel dependen), hal tersebut mungkin disebabkan oleh (a) persiapan belajar (variabel independen), mengerjakan tugas, UTS, dan UAS (variabel perantara) yang mempengaruhi nilai mahasiswa tersebut. Variabel perantara tersebut berada di antara variabel independen dan dependen.
  4. Variabel moderasi (moderating variable): variabel baru yang dibangun oleh peneliti dengan mengambil variabel tersebut kemudian dikalikan dengan variabel lain untuk ditemukan hubungannya dan dilihat dampak keduanya. Contohnya: sikap usia tertentu terhadap kualitas hidup. Jenis ini sering digunakan ke dalam penelitian eksperimen.
  5. Ada juga jenis variabel yang lain, yaitu variabel control (control variable) dan variabel perancu (confounding variable). Variabel kontrol dalam penelitian dengan metode kuantitatif digunakan karena bisa saja berpengaruh terhadap variabel dependen. Contoh variabel ini adalah variabel demografi atau data diri (jenis kelamin dan suku). Variabel perancu tidak diteliti tetapi bisa langsung diamati. Peneliti dapat menjelaskan hubungan dependen dan independen, namun masih ada yang belum dijelaskan. Sehingga perlu untuk melihat variabel lainnya, contoh sikap diskriminatif.

Sumber: 

Creswell, John W. Research Design: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed (Edisi Ketiga).

Oktober 30, 2023

7 Karakteristik Penelitian Kebijakan yang Baik

7 Karakteristik Penelitian Kebijakan yang Baik

Karakteristik penelitian kebijakan (good policy research) yang baik menurut Ann Majchrzak; M. Lynne Markus (Sugiyono, 2017) yaitu: credible, meaningful, responsible, creative, manageable, good research question, detail understanding, rarely comes easily. Penjelasannya sebagai berikut.

Sumber foto: https://www.greatschools.org/

  1. Credible: Penelitian kebijakan harus credible atau dapat dipercaya karena penelitian kebijakan dilaksanakan dengan langkah-langkah yang benar dan sistematis, dan berdasarkan pada kejadian nyata, sehingga merupakan data yang valid, reliabel dan obyektif serta tidak bias.
  2. Meaningful: penelitian kebijakan harus meaningful, yaitu bermakna dan berguna bagi yang mempunyai masalah, bagi pembuat kebijakan dan bagi orang-orang akan dikenai kebijakan nanti.
  3. Responsible: penelitian kebijakan harus bertanggungjawab, bila saran-saran kebijakan diberikan setelah diimplementasikan berdampak negatif bagi orang-orang yang dikenakan kebijakan. Oleh karena itu peneliti kebijakan, sebelum memberikan saran, maka harus sudah diperhitungkan dampak positif dan kemungkinan dampak negatifnya.
  4. Creative: peneliti kebijakan harus kreatif, karena setiap situasinya mempunyai permasalahan yang berbeda, maka harus kreatif dalam memberikan rekomendasi. Selain itu peneliti kebijakan harus kreatif dalam mengumpulkan pertanyaan penelitian, analisis dan memilih pertanyaan penelitian, mensitesakan permasalahan, teknik pengumpulan data, memberikan alternatif saran saran kebijakan, menganalisis dampak negatif dari saran yang diberikan.
  5. Manageable: peneliti kebijakan harus memiliki kemampuan mengelola berbagai sumber yang digunakan untuk penelitian, karena penelitian kebijakan cenderung menggunakan berbagai metode penelitian, yang menggunakan waktu yang relative lama, lebih sulit, tenaga dan biaya lebih besar.
  6. Good Research Question: peneliti kebijakan harus mampu membuat pertanyaan penelitian yang baik, karena pembaca laporan penelitian akan lebih memfokuskan pada pertanyaan penelitian. Dengan pertanyaan penelitian yang spesifik dan jelas, maka proses penelitian, dan rekomendasi yang diberikan akan menjadi lebih jelas.
  7. Detailed Understanding: harus dapat memberikan pemahaman bagi pembaca secara mendetail. Apa permasalahannya, sebab-sebab atau mengapa sampai muncul masalah, teori yang digunakan untuk menjelaskan dan memecahkan masalah, dampak masalah, dan alternatif rekomendasi yang diberikan.
  8. Rarely Comes Easily: pekerjaan penelitian yang bersifat multidisiplin dan multi metode merupakan penelitian yang tidak mudah karena penelitian kebijakan akan memerlukan, pemikiran, waktu, tenaga dan biaya yang tinggi. Hal ini perlu dipahami bagi peneliti kebijakan dan unit-unit yang terkait pengelolaan penelitian kebijakan.

Sumber: Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kebijakan. Bandung: Alfabeta.

 

 


Apa itu Teori Postmodern?

Apa itu Teori Postmodern?

Pada permulaan ini perlu sekali memahami betul teori sosial postmodern yang dikemukakan oleh Pauline Rosenau (1992). Dia mendefenisikan teori tersebut secara gamblang dalam istilah yang berlawanan. Ada lima pemahaman mendasar dalam memahami teori postmodern.

Sumber foto: Kompasiana

Terutama sekali dan sangat nyata, postmodernisme merupakan kritik atas masyarakat modern kegagagalannya dalam memenuhi janji-janjinya. Karena peristiwa yang mengerikan pada abad dua puluh, posmodernis menanyakan bagaimana setiap orang dapat percaya bahwa modernitas telah membawa kemajuan dan harapan bagi masa depan yang lebih cemerlang. Karenanya postmodern cenderung mengkritik segala sesuatu yang diasosiasikan dengan modernitas.

“akumulasi pengalaman peradabatan Barat adalah insdustrialisasi, urbanisasi, kemajuan teknologi, negara bangsa, kehidupan dalam ‘jalur cepat’. Namun mereka meragukan prioritas-prioritas modern, seperti akrier, jabatan, tanggung jawab personal, birokrasi, demokrasi liberal, toleransi, humanism, egalitarianism, penelitian objektif, kriteria evaluasi, prosedur netral, peraturan impersonal dan rasionalitas. (Rosenau, 1992:5-6).

Kedua, teoritis postmodern cenderung menolak apa yang biasanya dikenal dengan pandangan dunia (world view), metanarasi, totalitas dan sebagainya. Seperti Baudrillad (1990/1993:72) sebagai contoh yang memahami: “gerakan atau impulse yang besar dengan kekuatan positif dan efektif dan atraktif mereka (modernitas) telah sirna.” Postmodernis biasanya mengisi kehidupan dengan penjelasan yang sangat terbatas (lokal naratif) atau sama sekali tidak ada penjelasan. Namun, hal ini menunjukkan bahwa selalu ada celah antara perkataan posmodernis dan apa yang mereka terapkan. Sebagaimana yang akan kita lihat, setidaknya beberapa posmodernis menciptakan narasi besar sendiri. Banyak postmodernis merupakan pembentuk teoritis Marxian, dan akibatnya mereka selalu berusahan mengambil jarak dan narasi besar yang menyifatkan posisi tersebut.

Ketiga, pemikir postmodern cenderung menggembor-gemborkan fenomena besar premodern seperti “emosi, perasaan, instuisi, refleksi, spekulasi, pengalaman personal, kebiasaan, kekerasan, metafisika, tradisi, kosmologi, magis, mitos, sentimen keagamaan, dan pengalaman mistik (Rosenau, 1992:6). Seperti yang terlihat dalam hal ini Jean Baudrillard benar, terutama pemikirannya tentang “pertukaran simbolis (symbolic exchange).

Keempat, teoritisi postmodern menolak kecenderungan modern yang meletakkan batas-batas antara hal-hal tertentu seperti disiplin akademik, “budaya dan kehidupan, fisksi dan teori, images dan realitas” (Rosenau, 1992:6). Maka kajian sebagian besar pemikir postmodern cenderung mengembangkan satu atau lebih batas tersebut dan menyarankan bahwa yang lain mungkin melakukan hal yangs sama sebagai contoh, kita melihat Baudrillard menguraikan teori sosialnya dalam bentuk fiksi, fiksi sains, puisi dan sebagainya.

Kelima, banyak potmodern menolak gaya diskursus akademis modern, yang diteliti dan bernalar (Nuyen, 1992:6). Tujuan pengarang postmodern acapkali mengejutkan dan mengagetkan pembaca alih-alih membantu pembaca dengan suatu logika dan alasan argumentative. Hal itu juga cenderung lebih literal dari pada gaya akademis.

Akhirnya postmodern memfokuskan pada inti masyarakat modern, namun teoritisi postmodern mengkhususkan perhatian mereka pada bagian tepi (periphery).

 

Sumber buku:

George Ritzer, 2003. Teori Sosial Postmodern. Halaman 18-20. Pencetak: Kreasi Wacana Yogyakarta.

Juni 29, 2023

KARYA TULIS DALAM FORMAT APA (AMERICAN PSYCHOLOGICAL ASSOCIATION)

KARYA TULIS DALAM FORMAT APA (AMERICAN PSYCHOLOGICAL ASSOCIATION)

Karya tulis dalam format APA (American Psychological Association) adalah gaya penulisan yang digunakan dalam bidang ilmu sosial, termasuk psikologi, sosiologi, ekonomi, dan ilmu politik. Format APA memberikan pedoman tentang bagaimana mengorganisir dan mengutip sumber referensi dalam karya tulis akademik.

Berikut adalah beberapa elemen penting dalam karya tulis dalam format APA:

  1. Halaman judul: Halaman judul berisi judul karya tulis, nama penulis, afiliasi institusional, dan informasi tentang penulis (misalnya, alamat surel). Halaman judul juga dapat mencakup judul pendek untuk header, judul yang terkait dengan penulis, dan informasi tambahan seperti nama dosen atau kursus.
  2. Abstrak: Abstrak adalah ringkasan singkat karya tulis yang menggambarkan tujuan penelitian, metode yang digunakan, temuan utama, dan kesimpulan. Abstrak biasanya terdiri dari 150-250 kata.
  3. Tubuh karya tulis: Bagian tubuh karya tulis biasanya terdiri dari pendahuluan, metode penelitian, hasil, dan pembahasan. Pendahuluan menjelaskan latar belakang topik, tujuan penelitian, dan perumusan masalah. Metode penelitian menjelaskan desain penelitian, partisipan, instrumen, prosedur pengumpulan data, dan analisis data. Hasil menyajikan temuan penelitian, sementara pembahasan menganalisis dan menginterpretasikan temuan tersebut serta memberikan implikasi dan saran.
  4. Kutipan dan pengutipan: Dalam format APA, kutipan dalam teks menggunakan gaya penulis-tahun. Ketika mengutip sumber langsung, nama penulis dan tahun terbitan dimasukkan dalam kurung siku. Misalnya: (Smith, 2019). Jika ada dua penulis, keduanya disebutkan setiap kali mengutip. Untuk tiga atau lebih penulis, digunakan "et al." setelah nama penulis pertama.
  5. aya penulisan dan format: Gaya penulisan dalam format APA menggunakan bahasa formal dan objektif. Paragraf baru dimulai setelah setiap subtopik, dan setiap paragraf diindentasi. Format teks menggunakan font Times New Roman dengan ukuran 12 poin dan diberi jarak 1,5 atau 2 spasi.
  6. Daftar referensi: Daftar referensi mencantumkan semua sumber yang dikutip dalam karya tulis. Setiap entri dalam daftar referensi harus mencakup nama penulis, tahun terbitan, judul artikel/buku, dan informasi penerbitan. Daftar referensi diatur secara alfabetis berdasarkan nama penulis.
  • Format Daftar Referensi:
  • Buku: Nama penulis, tahun terbitan, judul buku, tempat penerbitan, penerbit.
  • Artikel jurnal: Nama penulis, tahun terbitan, judul artikel, judul jurnal, volume(jilid)(nomor), halaman.
  • Artikel dalam buku: Nama penulis, tahun terbitan, judul artikel, penyunting buku, judul buku, tempat penerbitan, penerbit, halaman.
  • Sumber daring (website): Nama penulis, tahun terbitan, judul artikel, judul website, URL.

Selain format APA, terdapat juga format penulisan lain yang umum digunakan, seperti format MLA (Modern Language Association) untuk bidang humaniora, format Chicago untuk bidang sejarah dan ilmu sosial, dan format IEEE (Institute of Electrical and Electronics Engineers) untuk bidang teknik dan ilmu komputer. Setiap format memiliki pedoman yang berbeda dalam hal struktur laporan, kutipan, dan daftar referensi.


Maps And Contact

Hubungi saya di