-->

"A journey of a thousand miles begins with a single step." by Chinese Proverb

"Walking with a friend in the dark is better than walking alone in the light." by H. Keller

“As you older, you will discover that you have two hands, one for helping yourself, and other for helping others.” by A. Hepburn

ArtikelSaya

Januari 31, 2023

Asal Nama dan Istilah Orang Mentawai

Asal Nama dan Istilah Orang Mentawai

Kepulauan Mentawai terletak di barat Pulau Sumatra. Kepulauan ini masuk Kabupaten Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barata. Ibu kota kabupaten adalah Tua Pejat di Pulau Sipora.

Ada sekitar 40 pulau di kepulauan ini, yaitu hanya empat yang berpenghuni, yaitu Siberut (4.097 km), Pagai Utara dan Selatan (1.870 km), dan pulau Sipora (840 km). Orang asli Mentawai merupakan Kawasan hutan tropis basah yang kaya dengan vegetasi seperti sagu (metroxylon sagu), meranti putih (Shorea), keruing (Dipterocarpus), rotan (calamus spp), dan gaharu (Aquilaria malaccensiss) yang kini langka.

Hewan seperti siamang kerdil atau billou (Hylobates klosii), monyet berhidung pesek atau simakobu (simias concolor), lutung atau joja (Preshytis potenziani), beruk atau bokkoi (Macaca pagensis), kijang atau sibeutubu (muntiacus muntjac), babi hutan (sus barbatus), sejenis burung beo atau mainong (Gracula religiosa), burung hantu (otus silvicola), musang (paradoxurus hermaphroditus), dan tupai hitam (callociurus melanogaster) banyak dijumpai di Kawasan hutan.

Ada perbedaan antar lingkungan hidup Orang Mentawai, di Siberut, Sipora, dan Pagai. Di Siberut kehidupan penduduk bergantung pada hutan dan isinya. Sedang di Sipora, orang sudah berkebun dan bersawah, Mereka juga berinteraksi dengan para transmigram yang berasal dari suku lain. Ini menjadikan Sipora paling padat penduduknya.

Si Pagai, kehipan diwarnai industri perkayuan dan jasa. Pagai merupakan pulau yang pertama berkenalan dengan dunia luar. Dimulai saat para pelaut Inggris singgah di pulau ini dalam pelayarannya dari Bengkulu. Industri kayu pertama yang masuk Pagai milik pengusaha Inggris bernama Christie pada 1880-an. Kini ada PT Minas Pagai Lumber Coorporation (MPLC) milik Singapura yang bekerjasama dengan pengusaha nasional. MPLC mengelola Kawasan hutan tanaman industri (HTI) seluas 90.000 ha.

Siberut menjadi istimewa karena memiliki taman nasional. Luas taman nasional itu 56.500 ha, mencakup bagian barat hingga tengah pulau. Penduduk mendiami bagian timur pulau. Di masa kolonialisme Belanda, sebagian besar penduduk di Siberut dipindahka ke pulau lain lewat program resettlement demi kepentingan penjajah. Pada masa kemerdekaan, lagi-lagi penduduk dipindahkan pemerintah lewat program pemukiman kembali masyarakat terasing (PKMT). Kini pemindahan dilakukan demi menjaga Kawasan taman nasional.

Pemukiman

Ada dua bentuk pemukiman di Pulau Siberut, di dalam hutan dan pantai. Rumah di dalam hutan atau pedalaman biasanya hanya bisa dijangkau melalui jalan setapak yang memakan waktu berhari-hari dari pinggir pantai. Rumah di dalam hutan selalu dekat dengan sumber air atau sungai, karena penduduk membutuhkan air bersih yang mengalir, baik untuk mandi, memasak, maupun membuat sagu.

Pola pemukiman dusun di dalam hutan berbentuk melingkar dengan pusat rumah yang disebut uma dan lalep, atau rumah-rumah keluarga batih di sekelilingnya. Inilah model pemukiman asli orang Mentawai.

Pemukiman di pinggir pantai atau sungai berbentuk memanjang menyusuri pinggir pantai dan mengelompok di dekat sungai. Pemukiman ini merupakan proyek pemerintah lewat departemen sosial. Penduduk yang bermukim di sini diambil dari daerah pedalaman yang tersebar.

Pemukiman di pulau Sipora dan Pagai pada umumnya terletak di pinggir pantai dan dii muara-muara sungai. Ini menunjukkan mereka berasal dari klan lain atau daerah lain.

Asal Nama, Bahasa

Menurut cerita orang Mentawai, nama Mentawai diambol dari kata simateu yang berarti pemuda dalam Bahasa Mentawai. Kata ini sering diucapkan oleh penduduk hingga sekarang, untuk menunjukkan diri sebagai orang Mentawai atau pemuda Mentawai.

Ada lagi yang mengatakan istilah Mentawai datang dari kata simatalu yang berarti mencipta atau Tuhan. Ada sebuah dusun di Barat Siberut yang bernama Simatalu. Dusun ini dianggap sebagai daerah muasal penduduk asli Mentawai. Simateu atau Simatalu lama-lama berubah menjadi kata Mentawai, karena logat atau aksen penduduk.

Menurut orang Nias kata Mentawai berasal dari amatawe yang berarti ayah si Tawe dalam Bahasa Nias. Amatawe datang dari Nias ke Siberut dan memperoleh daerah berladang di Simatulu. Setelah membuka lahan, Amatawe kembali ke Nias untuk menjemput istri dan anaknya yang bernama Tawe. Mulai saat itu daerah ini dikenal dengan daerah Amatawe dan berkembang melalui pergeseran waktu menjadi mentawe atau Mentawai.

Bila dilihat dari warna kulit dan bentuk fisiknya, orang Mentawai masuk ke dalam ras Melayu Polinesia. Van Beukering (1947) dalam Coronse 1986:23) pernah menyatakan bahwa secara prinsip orang Mentawai termasuk dalam ras Proto-Melayu terutama di daerag timur laut Siberut. Sedang yang tinggal di daerah Sipora dan Pagai termasuk dalam ras Detero-Melayu.

Bahasa turut orang Mentawai berbagi dalam dua dialek. Pertama dialek simalegi yang berlokasi di Utara dan Tengah Siberut. Kedua, dialek sakalangan digunakan di Selatan Siberut, Sipora, dan Pagai.

Penelitian lain menulis bahwa ada tiga belas dialek yang dapat diidentifikasikan sebagai Bahasa Mentawai yang tersebar di seluruh kepulauan. Dialek-dialek tersebut adalah Sikakap, Sipora, Taileleu, Maileppet, Sarereiket, Sila’oinan, Saibi, Sagulubbe, Paipajet, Simatalu, Sikabaluan, Terekan dan Simalegi (Wagner, Mentawei, Bremen 1989).

  • Lalep keluarga batih, yang terdiri atas suami isteri yang diikat oleh perkawinan adat, serta anak-anak yang belum kawin. Lalep tinggal di uma.Uma: satu rumah komunal, ditinggali banyak lalep.
  • Ukkui: pemimpin sebuah lalep, yang merupakan kepala keluarga patrilineal.
  • Muntoghat/lineage: kekerabatan yang mengikat satu keluarga batih.
  • Sikebukat uma: kepala keluarga luas yang menjadi kepala rumah tangga uma, bekerja untuk mengontrol kehidupan sosial warganya sekaligus menjadi pusat informasi dari dusun ke warganya. Juga mengatur upacara (punen) dalam satu uma.
  • Sibakkat laggai : jenjang sosial komunitas di Sipora dan Pagai, sebagai penghuni pertama dusun. Bisa terdiri dari 2 atau 3 lineage.
  • Langgai: sebutan untuk satu dusun, bisa terdiri dari lahan yang belum tergarap, ladang, hutan, dan kebun sagu.
  • Sasareo: orang tepi, yaitu orang di luar suku Mentawai yang diterima dalam satu dusun Mentawai (banyak terdapat di Pagai dan Sipora). Di Siberut, sasareo berarti orang luar.
  • Pulajagat: pemukiman dengan lahan Garapan beserta penduduknya.
  • Sioyake : orang di luar suku Mentawai yang sudah menjadi warga orang Mentawai, bahkan masuk dalam lineage orang Mentawai (di Siberut).
  • Sikerey : dukun, sebagai pengawas dalam aturan. Bertugas antara lain menentukan kapan dimulainya upacara adat, mengobati orang sakit, sekaligus menjadi penasihat uma.
  • Arat Sabulungan: kepercayaan orang Mentawai akan dunia supranatural (roh nenek moyang, jiwa mahkluk hidup dan benda mati). Pada tahun 1950 terjadi penghancuran kepercayaan ini oleh pemerintah atas usul agama (Katolik, Protestan, dan Islam). Praktek sikerey pun dilarang, upacara yang berkaitan dengan arat sabulungan dan benda-bendanya dilarang dan dihancurkan.


Januari 06, 2023

Apa Itu Pengambilan Keputusan Apriori dan Apostriori, Bagaimana Prosesnya?

Apa Itu Pengambilan Keputusan Apriori dan Apostriori, Bagaimana Prosesnya?

Kegiatan kelompok orang dalam bentuk kerja sama sebagai wujud hubungan manusiawi yang efektif, untuk mencapai sesuatu tujuan, pada dasarnya merupakan adanya pelaksanaan keputusan-keputusan. Tujuan kelompok yang dirumuskan secara jelas, tegas dan terinci, jika mungkin bersifat tertulis, merupakan pedoman bagi pemimpin dalam membuat keputusan dan kebijaksanaan. Dari sisi lain tujuan itu pun sebenarnya adalah keputusan, yang sangat prinsipil sifatnya, karena akan mewarnai seluruh keputusan lainnya yang akan diwujudkan menjadi kegiatan-kegiatan kelompok/organisasi.

Keputusan dari seorang pemimpin tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi berlangsung sebagai suatu proses. Dalam kenyataannya proses itu mungkin terjadi di dalam diri pemimpin sendiri, tetapi mungkin pula ditetapkan dengan mengikutsertakan orang-orang yang dipimpin, atau beberapa orang lainnya yang berkedudukan sebagai pembantu pemimpin. Sehubungan dengan itu secara konvensional harus diterima ketentuan bahwa pengambilan keputusan merupakan wewenang pimpinan tertinggi organisasi/kelompok masing-masing.

Dengan kata lain pengambilan keputusan yang akan diwujudkan menjadi kegiatan kelompok/organisasi merupakan hak dan kewajiban pucuk pimpinannya. Wewenang adalah “hak seorang dalam jabatannya sebagai pemimpin untuk mengambil keputusan dan memerintahkan pelaksanaanya atau untuk melakukan suatu tindakan/kegiatan dalam rangka mewujudkan eksistensi kelompok/organisasi.”

Wewenang itu dapat dilimpahkan pada pimpinan pembantunya, apabila dipandang perlu oleh pimpinan yang bersangkutan. Oleh karena itu, pelimpahan wewenang dapat diartikan sebagai “penyerahan sebagian hak untuk mengambil keputusan dan memerintahkan pelaksanaanya atau untuk melakukan suatu tindakan/kegiatan dalam suatu organisasi, kepada pimpinan yang lebih rendah posisinya.”

          Pelimpahan wewenang dari pimpinan pada dasarnya merupakan awal dari kepemimpinan yang bersifat mengikutsertakan orang-orang yang dipimpin. Oleh karena itu, pelimpahan wewenang harus jelas menggambarkan “apa yang dilimpahkan” atau “keputusan dan kegiatan apa” yang boleh ditetapkan atau dilakukan penerima wewenang tanpa meminta pesertujuan pemberi wewenang.    Pelimpahan wewenang perlu ditegaskan meskipun berdasarkan sturktur organisasi telah dilakukan pembagian dan pembidangan pekerjaan/kegiatan. Di samping itu harus jelas pula kepada siapa wewenang itu dilimpahkan, setidaknya jelas pada pimpinan unit yang mana diantara beberapa pimpinan unit yang sama jenjangnya di bawah jabatan pucuk pimpinan. Kejelasan itu penting, bukan saja untuk menghindari kesimpangsiuran pekerjaan, tetapi juga agar seluruh volume dan beban kerja berlangsung lancar dan efektif dan efisien dalam mencapai hasil tujuan. Kelancaran pekerjaan akan terwujud karena setiap anggota kelompok/organisasi mengetahui secara cepat apa dan kapan harus mengerjakan sesuatu yang menjadi tugas wewenangnya. Dalam keadaan itu pelimpahan wewenang tidak berarti pihak penerima wewenang boleh membuat keputusan atau melakukan kegiatan sekehendak hatinya, tetapi harus tetap dalam batas-batas, norma-norma, dan kebijaksanaan umum yang berlaku dalam kelompok/organisasi.

          Sejalan dengan uraian-uraian di atas berarti pelimpahan wewenang harus diiringi dengan pelimpahan tanggung jawab. Sehubungan dengan itu tanggung jawab diartikan sebagai “keharusan atau kewajiban melaksanaan wewenang yang dimiliki dengan cara baik dan benar, dan menyampaikan laporan pelaksanaan atau hasilnya kepada pemberi wewenang, agar tidak terjadi penyalahgunaan atau penyimpangan.”

          Dari uraian di atas berarti di dalam kepemimpinan harus jelas, “dari siapa keputusan berupa perintah atau tugas diterima,” bagi setiap anggota di dalam sebuah kelompok/organisasi. Sebagaimana telah dikemukakan terdahulu, setiap pemimpin perlu mengatur pelimpahan wewenang dan tanggung jawab. Dengan pelimpahan wewenang dan tanggung jawab dapat diperoleh beberapa manfaat sebagai berikut:

  1. Pimpinan tertinggi mendapatkan kesempatan yang cukup untuk memikirkan keputusan-keputusan dan melaksanakan tugas-tugas yang penting saja dalam melaksanakan tugas pokok organisasi,
  2. Setiap keputusan dan perintah sesuai dengan sifat penting atau tidak, dapat ditetapkan pada jenjang kepemimpinan yang tepat, sehingga dapat meningkatkan efisien dan efektivitas kerja dan mengarungi atau meniadakan birokrasi yang tidak perlu.
  3. Keputusan-keputusan dan perintah-perintah dapat ditetapkan secara cepat, tanpa kekhawatiran terjadi penyalahgunaan wewenang, karena setiap pemimpin pembantu berkewajiban menyampaikan pertangungjawaban.
  4. Memperbesar partisipasi dan meningkatkan dedikasi serta loyalitas pada kebersamaan dan bahkan pada pemimpin, karena setiap anggota kelompok merasa ikut berperan serta sesuai dengan posisinya masing-masing.
  5. Mendorong dan mengembangkan inisiatif, kreativitas, dan kemauan untuk berprestasi di bidang masing-masing.
  6. Menghilangkan sifat dan sikap menunggu perintah atau keputusan pucuk pimpinan dan pimpinan lainnya, sehingga kehidupan kelompok/organisasi menjadi dinamis.
  7. Pelaksanaan pekerjaan tidak terhambat, meskipun pucuk pimpinan berhalangan atau tidak hadir, karena sesuai wewenang yang dilimpahkan tetap dapat diambil keputusan-keputusan oleh para pembantu pimpinan di bidangnya masing-masing.
  8. Pucuk pimpinan berkesempatan memberikan latihan kepemimpinan, sehingga selalu tersedia kader-kader pengganti yang berkualitas, yang meneruskan kepemimpinan kelompok/organisasi pada masa-masa mendatang. 
Pengambilan keputusan yang menjadi wewenang pimpinan dapat dibedakan dalam dua bentuk, terdiri atas keputusan yang bersifat apriori dan apostriori. Keputusan apriori tidak berlangsung dalam bentuk proses, karena hanya dilakukan dengan mengulangi keputusan yang pernah ditetapkan dan ternyata tepat atau berhasil dalam pelaksanaannya. Keputusan ini dapat berbentuk mengikuti suatu keyakinan sebagai yang paling benar, sehingga dianggap keliru jika membuat keputusan yang lain atau bertentangan dengan keyakinan itu. Pengambilan keputusan yang bersifat apostriori oleh seorang pemimpin selalu merupakan proses, baik yang berlangsung dalam pikiran maupun dalam kegiatan operasional pemecahan masalah. Proses pengambilan keputusan itu berlangsung dengan tahapan sebagai berikut:
  1. Menghimpun data melalui pencatatan dan bahkan mungkin berupa kegiatan penelitian. Data tersebut dikembangkan dengan mengikuti perubahan-perubahannya, sehingga data yang telah dihimpun mungkin bertambah, berkurang atau bahkan harus dibuang dan diganti dengan yang sama sekali baru.
  2. Melakukan analisis data, baik melalui proses berpikir kritis maupun diskusi-diskusi dan bahkan perhitungan-perhitungan matematik dan statistik.
  3. Menetapkan keputusan yang ditempuh dengan memilih salah satu di antara beberapa alternatif yang mungkin atau terbaik untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Di samping itu dapat juga berbentuk memilih salah satu dari beberapa alternatif tindakan/kegiatan yang terbaik dapat dilaksanakan. Pilihan biasanya berorientasi pada resiko, dapat menetapkan keputusan yang paling baik yang risikonya paling kecil. Namun jika yang terbaik risikonya terlalu besar, maka pilihan dapat dijatuhkan pada alternatif lainnya yang resikonya kecil.
  4. Mengoperasionalkan keputusan menjadi kegiatan atau tindakan dengan mengamati hasilnya dan kemungkinan adanya resiko yang tidak diramalkan sebelumnya.
  5. Selama berlangsungnya kegiatan sebagai pelaksanaan keputusan akan diperoleh data operasional baru. Data tersebut mungkin langsung dipergunakan dalam kegiatan analisis ulang, sehingga terjadi perubahan keputusan. Perubahan itu dapat berupa perbaikan, mengganti atau membatalkan keseluruhan dan membuat keputusan berbeda dari sebelumnya. Apabila terjadi penggantian atau perbaikan keputusan, maka kegiatan operasional akan mengalami perubahan. Sedang data operasional setelah melalui analisis ulang ternyata tidak terpengaruh pada keputusan, maka sebagai data baru masuk ke dalam pencatatan untuk pengambilan keputusan yang lain.

Proses pengambilan keputusan seperti diuraikan di atas telah menggambarkan bahwa dinamika kelompok sangat bergantung pada keputusan-keputusan yang ditetapkan. Dari proses itu dihasilkan keputusan-keputusan yang pelaksanaanya menjadi kegiatan yang berpengaruh langsung pada perkembangan dan kemajuan kelompok/organisasi. Di samping itu juga bagaimana pimpinan mengikutsertakan anggota kelompok/organisasi di dalam proses tersebut, juga berpengaruh pada keputusan yang ditetapkan dan dalam pelaksanaannya menjadi kegiatan. Dalam keadaan seperti itu jelas, bahwa proses pengambilan keputusan berpengaruh pada dinamika kepemimpinan.

Sumber: Hadari dan Martini, "Kepemimpinan yang Efektif" 2012 

Problem Solver: Pengambilan Keputusan dan Siklus Solusi Standar

Problem Solver: Pengambilan Keputusan dan Siklus Solusi Standar

Pengambilan keputusan adalah pekerjaan memilih isu yang memerlukan perhatian, penetapan tujuan, mendapatkan atau mendesain Langkah yang diperlukan dan mengevaluasi untuk memilih di antara pilihan alternatif yang ada.

Dalam hal ini sesuai dengan tingkatannya, pengambilan keputusan dapat dilakukan oleh seorang, sebuah keluarga, sebuah organisasi, masyarakat atau tokoh global. Untuk sebuah organisasi, keputusan yang dibuat oleh seorang pimpinan tentu saja akan membawa sebagai konsekuensi logis. Dalam hal ini, serangkaian langkah ditempuh dalam pembuatan keputusan, atau penetapan siklus standar pemecahan masalah. Secara prosesudural, tujuh langkah biasa dilakukan oleh seseorang termasuk manajer meliputi:

  1. Pemahaman dan perumusan masalah,
  2. Pengumpulan dan analisis data yang relevan,
  3. Pengembangan alternatif,
  4. Evaluasi alternatif,
  5. Pemilihan alternatif terbaik,
  6. Implementasi keputusan, dan
  7. Evaluasi hasil keputusan.

Untuk memudahkan proses, atau prosedur pelaksanaan , setiap langkah perlu disertai dengan dokumen dan atau data pendukung riil. Perumusan masalah contohnya, dalam perumusan masalah problem solver dituntut untuk dapat merumuskan masalah dengan baik – untuk kemudian disambung kepada langkah berikutnya – pengumpulan dan analisis yang relevan. Usulan untuk mendapatkan solusi terbaik, dari seorang supervisor atau manajer di satu unit usaha, dapat dilakukan melalui pelibatan bawahan atau staf. Memang masing-masing ada plus minus – melibatkan bawahan atau staf dalam proses pengambilan keputusan. Misalnya berikut ini:Keterlibatan bawahan dalam pengambilan keputusan kelompok, lelebihan ada enam:Pengembangan tujuan, memberikan pengetahuan yang lebih besar,

  1. Pengembangan alternatif, lebih luas dari berbagai fungsional
  2. Penilaian alternatif, ada kerangka pandangan yang lebih lebar,
  3. Pemilihan alternatif, lebih dapat menerima resiko,
  4. Partisipasi termotivasi untuk melakukan keputusan,
  5. Kreatifitas lebih besar dari interaksi individu yang berbeda-beda.

Adapun kelemahan daripada pengambilan keputusan kelompok adalah:

  1. Membuat tidak seorang pun akan bertanggungjawab, tidak kelompok dan tidak manajer
  2. Peertimbangan waktu,
  3. Pertimbangan biaya,
  4. Kecepatan pengambilan keputusan,
  5. Lebih merupakan keputusan kompromi kelompok disbanding keputusan kelompok,
  6. Bila atas terlibat, atau bila salah satu anggota mempunyai kepribadian dominan keputusan akan mengarah ke orang tersebut.

Berbagai gaya kepemimpinan dalam pengambilan keputusan dapat dipilih apabila diambil oleh manajemen – manajer atau supervisor. Berikut disebutkan ada lima gaya yang perlu dipertimbangkan dan kemudian dilakukan.

  1. Manajer membuat keputusan sendiri, dengan informasi yang tersedia pada waktu tertentu,
  2. Manajer mendapatkan informasi dari apa bawahan dan kemudian menentukan keputusan yang sesuai,
  3. Manajer membicarakan masalah dengan para bawahan secara individual, dan mendapatkan gagasan-gagasan dan saran-saran tanpa mengikutsertakan bawahan sebagai suatu kelompok. Keputusan yang dihasilkan dapat atau tidak mencerminkan masukan atau perasaan para bawahan.
  4. Manajer membicarakan situasi keputusan dengan para bawahan sebagai suatu kelompok dengan gagasan-gagasan dan saran-saran dalam suatu pertemuan kelompok, keputusan yang dihasilkan dapat atau tidak mencerminkan masukan atau pendapatn para bawahan.
  5. Manajer membicarakan situasi keputusan dengan para bawahan sebagai suatu kelompok, dan kemudian kelompok menyusun dan menilai alternatif-alternatif. Manajer tidak bermaksud untuk memengaruhi para bawahan dan berkeinginan untuk menerima serrta mengimplementasikan setiap keputusan hasil konsensus.
    Sumber Buku : Jemmy dan Saleh, Problem Solver
sy

J

November 06, 2022

Robert Iger: Perjalanan 15 Tahun Memimpin "Disney Company"

Robert Iger: Perjalanan 15 Tahun Memimpin "Disney Company"

Robert Iger tidak dianggap sebagai siapa-siapa dulu dalam waktu kerja, dia bekerja di salah satu studio kecil dan tugasnya adalah sebagai pengangkat kabel. Akhirnya dia belajar dari lingkungan pekerjaan, tentunya dengan unsur kesempatan, perusahaan di mana tempat dia bekerja. Kemudian perusahaannya ini melakukan merger dengan perusahaan lainnya, yang sekarang kita sebut namanya Disney. 



Dalam buku ini diceritakan bagaimana dia bisa berkembang di posisi yang rendah sekali dan menjadi tinggi, hal ini dikarenakan dia sangat berdedikasi dan bekerja keras. Dia bekerja tidak sedikit, dari pagi sampai malam hari. Tak pernah mengenal lelah. 

Cerita menarik dari hidupnya adalah bagaimana dia bisa melakukan desentralisasi pengambilan keputusan. Jadi setelah Disney menjadi besar, dia memberikan kepercayaan penuh ke pimpinan anak-anak perusahaan Disney. Dia hanya terlibat dalam strategi dan konsultasi dengan pimpinan anak perusahaan. Salah satu yang membuahkan kesuksesan dan salah satu atribut yang bikin dia sukses itu juga mungkin personalitinya. Cukup rendah hati, sehingga dia menempatkan simpati dan empati yang luar biasa dengan rekan kerja, bukan hanya mitra bisnisnya saja melainkan pimpinan perusahaan yang dia akuisisi.


Berdasarkan pengalaman sebagai pemimpin, Robert Iger menyampaikan bahwa ada 10 poin menjadi pemimpin sejati:

1. Optimism

Salah satu dari seorang pemimpin yang baik adalah menjadi seorang yang optimis terhadap apa yang bisa dicapai. Bahkan dalam situasi sulit sekalipun dan kondisi yang tidak normal, seorang pemimpin mesti bisa menjadi optimis, bukan pesimis.  Sederhananya, orang akan tidak termotivasi dengan pemimpin yang pesimis.

2. Courage

Dalam kepemimpinan hal yang perlu juga adalah keberanian. Pengambilan keputusan dalam resiko besar sekalipun, seorang pemimpin tidak akan ragu dengan situasi tersebut. Untuk menciptakan peluang baru, perlu membuat keputusan. Kreatifitas hanya muncul ketika kita mengambil keputusan.

3. Focus

Perlu mengalokasikan waktu, energi, sumberdaya, dan strategi untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Perlu membuat prioritas dalam mengerjakan sesuatu, sampai hasil yang terbaik bisa ditemukan.

4. Decisiveness

Tidak peduli seberapa besar masalah yang dihadapi dan perbedaan fakta yang ada. Seorang pemimpin harus bisa tegas terhadap sebuah kondisi. Kesulitan dalam memutuskan sesuatu, akan menyebabkan keragu-raguan, kontraproduktif, dan korosif moral terhadap orang yang dipimpin. 

5. Curiosity

Keingintahuan mendalam tentang hal-hal baru sangat penting bagi pemimpin. Keingintahuan terhadap tempat, orang, dan segala dinamika perubahan. Katanya “The path to innovation begins with curiosity.”

6. Fairness

Seorang pemimpin harus adil terhadap siapapun juga. Empati sangatlah penting, namun tidak semua dalam segala hal diberikan empati. People committing honest mistakes deserve second chances, orang yang melakukan kesalahan akan mendapatkan kesempatan yang kedua. Ketakutan dan kecemasan, akan menghambat jalur komunikasi dan inovasi. 

7. Thoughtfulness

Perhatian adalah salah satu elemen yang sering diremehkan dalam kepemimpinan. Ketika memberikan perhatian, ini akan bisa menjadi salah satu wadah untuk mencari informasi dan menemukan hal yang baru. Its simply about taking the time to develop informed opinions.

8. Authenticity

Be genuine. Be honest. Dont fake anything. Truth and authenticity breed respect and trust.

9. The Relentless Pursuit of Perfection

Ini bukan berarti sempurna dalam segala hal, tetapi menolak untuk mendapatkan hasil yang biasa saja serta membuat alasan untuk hasil sesuatu yang tidak tercapai. If you believe that something can be made better, put in the effort to do it.

10. Integrity

Keberhasilan seorang pemimpin tergantung menetapkan standar etika yang tinggi untuk semua hal. Another way of saying this is: The way you do anything is the way you do everything.

Kesepuluh kepemimpinan di atas merupakan pengalaman 15 tahun Robert Iger memimpin perusahaan Disney, hingga sampai sekarang perusahaan ini menjadi sangat besar. Suksesnya Disney ini, tidak lepas dari penerapan kepemimpinan dalam perusahaan. Layak untuk dicoba.  

September 02, 2022

CARA MUDAH MEMAHAMI PERBEDAAN PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUALITATIF

CARA MUDAH MEMAHAMI PERBEDAAN PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUALITATIF

Untuk lebih memahami kedua pendekatan ini, kita perlu mendefenisiskan istilah penelitian kuantitatif dengan metode penelitian kualitatif.

Menurut Creswell (2005:39) penelitian kuantitatif berkaitan dengan kegiatan ilmiah yang dilakukan seorang peneliti dalam memutuskan apa yang akan diteliti, merumuskan masalah penelitian yang lebih spesifik, mengumpulkan data numerik dari partisipan, dan menganalisis angka-angka tersebut dengan menggunakan statistik.

Agustus 30, 2022

Rumah Penuh Cerita dari Kalimantan Selatan

Rumah Penuh Cerita dari Kalimantan Selatan

         Saat mengajar di Kalimantan Selatan, SDN Haratai 3. Di sekolah sebenarnya kami punya rumah dinas guru. Rumah ini sudah tidak layak huni lagi. Bangunannya sudah cukup tua dan sebagian sudah rusak. Dindingnya berlubang dan sebagian lantai papannya sudah busuk karena sering basah. Kalau hujan, sebagian atapnya selalu bocor.

Kegiatan belajar malam  hari 

          Karena sudah tidak layak huni lagi, kami pun memanfaatkan rumah tersebut untuk tempat belajar, anak-anak yang ada di desa. Kami sering menyebut rumah ini sebagai perpustakaan di desa. Walau pada saat itu faktanya sekolah kami belum memiliki perpustakaan. Saat masih di sini, telah kami ajukan proposal ke dinas pendidikan terkait untuk pengadaan bangunan perpustakaan sekolah.

          Di rumah ini, terdapat satu lemari yang berisi berbagai macam buku untuk anak-anak. Mulai dari buku panduan untuk anak kelas rendah, sains, ilmu pengetahuan sosial, kumpulan latihan soal, bahkan buku-buku komik.

          Kami sering berkumpul di sini bersama anak-anak, bisa malam hari atau pun sore hari. Walaupun satu hari penuh aktivitas, biasanya kami penuh semangat ketika ke rumah ini. Bahagia dan penuh canda bersama anak-anak. Di sinilah salah satu tempat belajar kami.

          Belajar matematika, belajar Bahasa Inggris, belajar membaca, menulis, dan menghitung. Selain itu, kami juga sering memanfaatkan waktu untuk menggambar, bernyanyi, dan bercerita untuk mengisi malam di desa. Banyak lagu-lagu yang sering kami nyanyikan, dengan ukulele yang kumiliki. Namun, sebuah lagu yang berkesan adalah twinkle-twinkle little star. Kami pernah juga menonton di sini, walau listrik hanya hidup pada malam hari. Kami pun memanfaatkan hal tersebut untuk menonton.

          Begitulah kami menikmati hari. Di tengah pedesaan yang sepi dan berada di pegunungan Meratus, kami selalu menyempat diri untuk mengisi waktu yang bermanfaat.

Pertanyaan, apakah pernah merasa lelah? Pasti, namun ketika bertemu dengan anak-anak semangat dan motivasi selalu bisa hadir kapan saja dan di mana saja. Sederhana, tapi akan selalu dikenang.

Agustus 14, 2022

Kasih dan Kebenaran Dua Sisi Satu Agenda

Kasih dan Kebenaran Dua Sisi Satu Agenda

Kebenaran mengharuskan kita mengasihi dan kasih mengharuskan kita penuh dengan kebenaran.


Bertentangan dengan pendapat umum, kasih dan kebenaran sesungguhnya tidak saling berlawanan. Malahan, keduanya pasti ada bersama-sama. Untuk mencintai kebenaran, kita harus setia pada kasih, dan untuk mencintai kasih, kita harus setia pada kebenaran. Orang yang paling pengasih yang pernah ada, begitu penuh dengan kasih hingga Ia mati dengan kejam dan mengenaskan di depan umum karena kejahatan yang diperbuat oleh oranglain, adalah juga seorang pemberita kebenaran yang paling jujur dan terus terang yang pernah dikenal oleh dunia ini.

Kasih Yesus tak pernah bertentangan dengan kejujuran-Nya, dan kejujuran-Nya tak pernah merintangi kasih-Nya. Namun, bukan hanya itu. Ada sesuatu yang lebih dalam lagi. Komitmen-Nya menyatakan kebenaran digerakkan oleh kasih-Nya.

Panggilan Alkitab untuk mengasihi tidak akan pernah memaksa kita untuk memangkas, menyangkal, maupun membengkokkan kebenaran. Demikian juga dengan panggilan Alkitab untuk menjungjung kebenaran, tak pernah meminta kita mengabaikan perintah Alllah untuk mengasihi sesama. Hal ini ditampilkan dengan jelas dalam momen yang sangat terkenal dari kehidupan Yesus Kristus yang dicatat dalam Lukas 18:18-30. Seorang pemimpin kaya raya datang kepada Yesus dan bertanya tentang hidup kekal. Sebuah pertanyaan yang sangat bagus memerlukan jawaban keras sekaligus jujur. Sepanjang percakapan itu, menurut penilaian modern tampaknya Yesus tidak melakukan penginjilan yang berhasil.

Di tengah kejujuran penuh. Yesus tak berusaha membuat injil terdengar menarik. Sebaliknya, Ia mempertajam dan menyingkapkan pusat penyembahan berhala dalam hati orang itu. Yesus menyampaikan berita buruk yang harus didengarnya bila ia hendak menerima kabar baik yang sangat dibutuhkannya. Lukas mencatat sesuatu yang sangat penting bagi kita. Di hadapan kejujuran Yesus, orang itupun pergi, dan saat itu, Yesus memandangnya dengan kesedihan. Lihatlah, Yesus bukannya dingin dan masa bodoh. Ia tidak kekurangan kasih. Perkataan keras itu digerakkkan oleh kasih, dan kesedihan Yesus pada akhir percakapan membuktikan bahwa perkataan-Nya tadi digerakkan oleh kasih. Dalam perkataan Yesus, tidak ada penghakiman yang kejam. Teguran keras itu adalah perkataan anugerah, diucapkan oleh juruselamat dengan kasih, diucapkan untuk menebus.

Kebenaran tidaklah kejam, dan kasih tidak berdusta. Keduanya adalah dua sisi dari satu agenda kebenaran yang sama, dan tujuannya adalah kesejahteraan rohani oranglain. Kebenaran yang tidak dinyatakan dalam kasih bukan lagi merupakan kebenaran karena sudah dibengkokkan oleh maksud manusia. Kasih yang mengabaikan kebenaran bukan lagi kasih, sebab ketika sudah dicemari dengan maksud lain, ia mengesampingkan apa yang terbaik bagi orang yang dikasihi itu.

Saat ini, kita dipanggil kepada kejujuran yang penuh kasih dan kasih yang jujur. Kita akan tergoda untuk melepaskan salah satunya. Berdoalah meminta pertolongan dari Dia yang tetap teguh memegang keduanya, bahkan sampai mati. Anugerah-Nya adalah satu-satunya pengharapan kita untuk tetap setia pada agenda keberan-Nya.

 

Juli 24, 2022

Uji Validitas dan Realibilitas: Pengaruh Implementasi Hukum Adat terhadap Perilaku Masyarakat Adat

Uji Validitas dan Realibilitas: 


Contoh judul: Pengaruh Implementasi Hukum Adat terhadap Perilaku Masyarakat Adat

1.        1.      Uji Validitas

Dalam melakukan validitas konstruksi dengan pendekatan iterasi orthogonal, peneliti melakukan penghitungan sampai dengan ditemukannya butir-butir yang secara bersamaan valid. Dengan nilai degree of freedom (df) = n-2 = 28, maka berdasarkan tabel critical values of the person diperoleh r kriteria sebesar 0.361. Penghitungan dilakukan dengan bantuan program SPSS versi 21.0.

2.    Uji Reliabilitas

Adapun koefisien reliabilitas instrumen Implementasi Kasih (X) dianalisa dengan menggunakan koefisien Alpha Cronbrach:

Reliabilitas kurang dari : 0,6 adalah kurang baik

Reliabilitas kurang dari : 0,7 adalah dapat diterima

Reliabilitas diatas          : 0,8 adalah baik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Tabel 4.1. Distribusi Jawaban Responden Tentang Implementasi Hukum Adat (Variabel X)

 

No Resp

No Item

Jlh

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24

25

1

4

3

4

3

3

3

4

3

3

3

4

3

4

4

3

4

4

4

3

4

4

3

4

3

3

87

2

4

3

3

3

4

3

4

3

4

4

4

4

4

3

4

4

3

4

4

4

3

4

4

4

4

92

3

4

4

4

4

4

4

4

3

3

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

98

4

3

4

4

4

3

4

3

3

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

96

5

4

4

3

4

4

3

4

4

4

3

4

3

3

4

3

3

4

4

3

3

4

4

3

4

4

90

6

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

100

7

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

75

8

4

4

4

4

4

4

4

4

4

3

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

99

9

4

4

4

4

4

4

4

4

3

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

3

4

4

3

97

10

3

4

3

3

4

4

3

3

4

3

3

4

3

4

4

3

4

3

4

3

4

4

4

4

4

89

11

4

4

3

4

4

4

4

4

4

4

4

3

3

4

3

3

4

4

3

3

4

4

3

4

4

92

12

4

3

4

3

3

3

3

2

3

2

4

4

3

4

4

3

4

4

4

3

4

4

4

3

3

85

13

3

4

4

4

4

4

3

3

4

3

4

4

3

3

4

3

3

4

4

3

3

4

4

4

3

89

14

4

3

4

3

2

2

4

4

3

3

3

2

4

3

2

4

3

3

2

4

3

2

4

2

4

77

15

4

4

3

4

4

4

4

3

4

3

4

3

4

3

3

4

3

4

3

4

3

4

4

3

4

90

16

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

75

17

3

3

3

3

3

3

3

2

2

3

3

2

3

3

2

3

3

3

2

3

3

2

3

3

2

68

18

4

4

4

4

4

4

4

3

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

3

4

4

4

98

19

2

2

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

2

4

4

4

94

20

3

4

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

4

3

3

3

77

21

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

4

4

4

3

4

4

3

4

4

4

3

3

3

3

3

83

22

3

3

4

4

4

4

4

4

3

3

3

4

4

4

4

4

4

3

4

4

4

4

4

4

4

94

23

4

4

4

3

4

4

4

4

4

4

4

4

3

4

4

3

4

4

4

3

4

4

4

4

4

96

24

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

3

3

4

3

3

4

4

3

3

3

2

3

3

89

25

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

3

4

4

3

4

4

4

3

4

3

3

3

94

26

2

2

1

4

2

4

4

3

3

2

3

4

4

4

4

4

4

3

4

4

4

4

1

1

4

79

27

4

4

4

3

4

4

4

4

4

4

4

4

3

4

4

3

4

4

4

3

4

4

4

4

4

96

28

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

3

3

4

3

3

4

4

3

3

3

2

3

3

89

29

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

3

4

4

3

4

4

4

3

4

3

3

3

94

30

2

2

2

4

2

4

4

3

3

2

3

4

4

4

4

4

4

3

4

4

4

4

1

3

4

82

 
Tabel 4.2. Distribusi Jawaban Responden Tentang Perilaku Masyarakat Adat (Variabel Y)

No Resp

No Item

Jlh

26

27

28

29

30

31

32

33

34

35

36

37

38

39

40

41

42

43

44

45

46

47

48

49

50

1

4

3

4

3

3

3

4

3

3

3

3

3

4

3

3

3

3

4

3

4

4

3

4

3

3

83

2

4

3

3

3

4

3

4

3

4

4

4

3

4

3

4

4

3

4

4

4

4

4

4

4

4

92

3

4

4

4

4

4

4

4

3

3

4

4

4

4

3

3

4

3

4

4

4

4

4

4

4

4

95

4

3

4

4

4

3

4

4

3

4

4

3

4

4

3

4

4

3

4

4

4

4

4

4

4

4

94

5

4

4

3

4

4

3

4

4

4

3

4

3

4

4

4

3

4

4

3

3

4

4

3

4

4

92

6

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

100

7

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

75

8

4

4

4

4

4

4

4

4

4

3

4

4

4

4

4

3

4

4

4

4

4

4

4

4

4

98

9

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

100

10

4

4

3

3

4

4

3

3

4

3

4

4

3

3

4

3

3

4

4

3

4

4

4

4

4

90

11

4

4

3

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

3

3

4

4

3

4

4

96

12

4

3

4

3

3

3

3

2

3

2

3

3

3

2

3

2

2

4

4

3

4

4

4

3

3

77

13

4

4

4

4

4

4

3

3

4

3

4

4

3

3

4

3

3

4

4

3

3

4

4

4

3

90

14

4

3

4

3

2

2

4

4

3

3

2

2

4

4

3

3

4

3

2

4

3

2

4

2

4

78

15

4

4

3

4

4

4

4

3

4

3

4

4

4

3

4

3

3

4

3

4

3

4

4

3

4

91

16

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

75

17

3

3

3

3

3

3

3

2

2

3

3

3

3

2

2

3

2

3

2

3

3

2

3

3

2

67

18

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

100

19

2

2

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

2

4

4

4

94

20

3

4

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

4

3

3

3

77

21

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

4

4

4

3

3

3

3

3

78

22

3

3

4

4

4

4

4

4

3

3

4

4

4

4

3

3

4

4

4

4

4

4

4

4

4

94

23

4

4

4

3

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

3

4

4

4

4

4

98

24

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

3

3

3

2

3

3

93

25

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

4

3

4

3

3

3

96

26