Maret 05, 2016

Budaya Permisif : Cakap Kotor





Ada orang yang  melakukan interaksi sosial tidak sesuai dengan komunikasi yang normatif. Terutama dikalangan para anak muda yang bisa disebut sebagai penakluk kehidupan. Banyak sekali melakukan kesalahan dalam hubungan itu. Terkadang kata-kata yang bisa menyatukan pertemanan adalah kata yang selama ini mengandung unsur negatif. Namun, kebiasaan yang tidak baik itu sepertinya sudah menjadi bagian kehidupan.

Perkataan  ini sering penulis dengarkan  terutama di kampus. Banyak persahabatan hanya terjadi saat teman kita memanggil dengan kata SU, ANJING, PUKIMAK, NYET, BAN*SAT, SI*IT, sampai TOL tanpa membuat marah.  Kata yang seperti ini yang sepertinya bisa lebih mengeratkan persahabatan. Hal ini yang paling sering dilakukan oleh kaum adam.



Kebiasaan ini mungkin tidak pernah terbertik dipikiran para pelaku, bahwa ini adalah kata yang sala.
Jadi pandangan penulis secara teori strktural yang sangat sederhana adalah, semua sistem itu akan berjalan dengan baik, ketika ini merupakan suatu organ sosial yang tak bisa dipisahkan yang selalu inherent dengan kehidupan anak muda secara khusus. Ketika unsur sistem sosial selalu memiliki fungsi yang berguna bagi unsur lainnya atau bagi kelangsungan interaksinya, unsur itu tidak akan hilang dengan sendirinya. Namun, KETIKA UNSUR WALAUPUN SECARA MORAL TIDAK DISUKAI OLEH WARGA MASYARAKAT, misalnya perkataan negatif di atas, MAKA UNSUR ITU AKAN SULIT UNTUK DIHILANGKAN.

Baiklah memang perspektif dari struktural fungsional ini, bahkan dengan teori ini anak muda yang melakukan tindakan sosial ini akan saling mendukung. Karena mungkin dengan perkataan seperti yang di atas…..ada fungsinya bagi pelaku. Apakah itu fungsi untuk mempereratkan hubungan persahabatan, membuat tertawa, atau sampai membuat jadi kamus di atas nama sahabat.
Penulis sangat sering mendengar, para kaum adam mengatakan seperti ini terutama di kampus. Bahkan di luar kampus sekalipun banyak sekali terdengar oleh penulis.

Namun penulis mempunyai suatu peribahasa yang mungkin bisa membantu pembaca dalam memaknai fenomena di atas. Mislanya, Mulutmu adalah harimaumu. Peribahasa lain adalah dipetik dari buku Rule of Life misalnya “jika Anda tidak mau mengatakan hal yang baik, jangan menagatakan apa pun”. Jadi penulis sangat yakin, bahwasanya kata di atas tidak pantas disampaikan kepada manusia ataupun itu sekalian sahabat. Memang penulis belum bisa memastikan,  mengapa para pelaku interaksi negatif ini mengatakan hal ini sering kepada sahabatnya? Apa hal yang diuntungkan? Bisakah memang benar menambah hubungan yang harmonis bagi persahabatan? Semua pertanyaan ini hanya bisa disampaikan penulis lewat imajinasi, soalnya penulis sering mendapatkan jawaban yang ambigu dari sahabat kampus ketika memberikan pertanyaan-pertanyaan di atas.  Jawaban para pelaku, kebanyakan tidak tahu alasannya mengapa bisa mengatakan hal yang demikian terhdap sahabatnya.

Hal yang pasti, kata-kata di atas diciptakan karena memang ada fungsinya. Soalnya penulis bisa memberikan  pendapat kata-kata yang seperti itu BISA DISAMPAIKAN jikalau itu sesuai dengan waktu, tempat, keadaan, dan sesuai dengan objek yang dituju. Jadi tidak logikakan jika kata-kata itu tercipta bukan untuk disampaikan, namun pas pada waktunya. Objek yang dituju harus sesuai, misalnya janganlah pula memanggil sahabat dengan kata  “kontol”.

Misalnya, sebenarnya penulis dan pembaca telah membaca dan mmengatakan kata kotor-kotor itu. Hahahahahaha. Jadi, penulis dan pembaca tidak bersalah membacanya, mengapa? Karena tepat waktu (memberikan penjelasan), keadaan (fenomena dikaum muda), dan merupakan sebuah penjelasan kapan bisa disampaikan kata-kata itu.
Tidak ada salahnya, jika penulis ingin membawa pemikiran pembaca, bagaimana sebenarnya pandangan Alkitab dengan kata-kata kotor?

Tertulis di Efesus 4:29 “Janganlah ada perkataan kotor dari keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia”.
Sudah pastilah semua kata-kata di atas adalah perkataan kotor. Jadi tidak perlu disampaikan pada siapa pun. Suapaya setiap perkataan yang kita keluarkan adalah kata yang penuh kasih karunia.

Terima kasih telah membaca, jadi penulis ingin memberikan pertanyaan.
Menurut pendapat Anda, apakah ada fungsi kata-kata di atas? Jika ada, berikan alasan.
Jika tidak ada fungsinya, mengapa kata-kata itu diciptakan?


Tags :

bonarsitumorang

  • Bonar Situmorang
  • Medan
  • Jakarta Selatan
  • bonarsos@gmail.com
  • +62853-7028-9213