Maret 05, 2016

KERJA DAN PEMBAGIAN KERJA DEWASA INI




Pembagian kerja seturut keahlian merupakan perbudakan gaya baru yang sangat ilmiah dan rasional. Hidup dan interaksi antarpribadi dihambat, dikontrol, dan dibatasi secara sistematis lewat pembagian kerja dan profesionalitas. Setiap pekerja dikurung secara ilmiah dalam bidang keahlian dan ruang kerjanya, sedangkan di luar kompetensi tersebut dia berada di luar hitungan dan tanpa guna. Dalam iklim kerja seperti ini, kemerdekaan dan kemandirian hilang di balik beban kerja dan pilihan bebas menjadi tabu.
Yang dituntut dalam dunia kerja kapitalis adalah ketaatan buta terhadap segala norma, kebijakan, tradisi yang telah digariskan secara sepihak. Kemampuan bekerja diukur berdasarkan kuantitas waktu kerja yang dihabiskan dan kualitas produk yang dihasilkan.
Kerja berubah dari aktivitas multidimensi kesatu dimensi, kegiatan yang menyenangkan dan didambakan menjadi beban hidup yang menjemukan dan dibenci. Kerja dialihfungsikan dari proses aktualisasi dan realisasi kepada proses represi, eksploitasi, dan negasi atas individu.
Akibat langsung dari pembagian kerja dan profesionalitas adalah pembagian masyarakat ke dalam kelas-kelas sosial. Pembagian kerja mengubah cara pekerja menjalin relasi dengan sesama dan produk. Hubungan sosial dinilai, diukur, dan kemudian direduksi menjadi hubungan ekonomi, hubungan pemilik modal dan karyawan, tuan dan budak, produsen dan konsumen. Nilai individu ditentukan dan diperhitungkan dari sudut kemampuan berproduksi dan membeli, memiliki, dan mengosumsi. Masyarakat pun terbagi menjadi dua kelas sosial yang saling berhadapan: kelompok berpunya dan papa, penguasa dan jelata, pemberi kerja dan pencari kerja, kaum kapitalis dan kaum proletariat.
Bertolak dari realitas dari dua kelas sosial yang saling berhadapan, perlulah dimengerti makna kelas dalam struktur masyarakat kapitalis. “kelas merupakan unit sosial dan ekonomi aktual dan bukan unit individual. Kelas telah mencapai eksistensi independen yang membuatnya berhadapan langsung dengan individu, tetapi kepunyaan kelas”. Praksis kerja dalam dunia kapitalis mengasingkan individu bahkan dari diri sendiri dan ia tinggal sebagai satu onderdil dari keseluruhan dunia reproduksi. Individu mempunyai arti sebagai individu hanya ketika berada bersama dan berkeja bagi orang lain.
Kenyataan bahwa kerja membuat individu kehilangan individualitas membuktikan bahwa gagasan Hegel yang mengagungkan universalitas dan mengabaikan eksistensi dan makna hakiki singularitas sedang dipraktikkan oleh sistem sosial dan ekonomi kapitalis. Sentralitas ke-umum-an diambil dari pikiran murni dan diterapkan ke dalam praksis harian dan dialihgunakan sebagai prinsip operasional dalam relasi sosial yang bernuansa ekonomi murni. Kapitalisme merupakan praksis lanjutan dan jelmaan daru filsafat idealitas Hegelian.
Kerja merampas sentralitas dan kehakikian individu, dan ia berada sebagai entitas yang sementara sebagai seluruh bangunan diunia industri dan masyarakat teknologis kontemporer.
Fakta bahwa aspek ekonomi menentukan secara dominan interaksi sosial membuktikan bahwa semesta hubungan sosial berkarakter materialis. Karakterr materialis merupakan fakta historis yang bermakna tunggal, sehingga semua relasi masyarakat, segenap aktivitas kebudayaan, sistem nilai moral ditentukan dan dicirikan oleh nilai material atau proses dan hasil produksi belaka.

Tags :

bonarsitumorang

  • Bonar Situmorang
  • Medan
  • Jakarta Selatan
  • bonarsos@gmail.com
  • +62853-7028-9213