Maret 06, 2016

Proposal Penelitian: Modal Sosial dalam Pengembangan Pariwisata Danau Toba



 Penelitian tentang manfaat modal sosial dalam sektor pariwisata sudah banyak dilakukan. Agus Yogi Pradyana (2014) menyatakan bahwa pemanfaatan modal sosial sangat bermanfaat di dalam proses pengelolaan obyek wisata Pantai Kedungu, terutama di dalam pemecahan masalah yang muncul. Jaringan atau kerjasama yang terbentuk antara Pemerintah Desa Belalang  dengan masyarakat, pihak swasta, dan Pemerintah Provinsi Bali sangat bermanfaat di dalam proses pengembangan obyek  wisata Pantai Kedungu ke depannya, dilihat dari bantuan-bantuan yang diberikan secara sukarela dalam pengelolaan dan pelestarian obyek wisata tersebut

Syahriar (2005) menyatakan bahwa masyarakat Desa Colo sudah membentuk sebuah institusi dalam bentuk ormas-ormas pendukung pariwisata dan membentuk kepengurusan induk untuk saling berkoordinasi. Namun, masih minim interaksi antar stakeholder yang berkepentingan sehingga saling menyalahkan atas kewenangan dan tanggung jawab pihak-pihak tersebut sehingga pengembangan pariwisata cenderung lambat sehingga diperlukan modal sosial yang mampu menyatukan masyarakat.




2.3.Pariwisata

Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan pemerintah daerah.
Pariwisata dari segi daya tariknya menurut Fandeli (1995) dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) bagian, yaitu:
a.     Daya Tarik Alam. Pariwisata daya tarik alam yaitu wisata yang dilakukan dengan mengunjungi daerah tujuan wisata yang memiliki keunikan daya tarik alamnya, seperti laut, pesisir pantai, gunung, lembah, air terjun, hutan dan objek wisata yang masih alami.
b.     Daya Tarik Budaya. Pariwisata daya tarik budaya merupakan suatu wisata yang dilakukan dengan mengunjungi tempat-tempat yang memiliki keunikan atau kekhasan budaya.
c.     Daya Tarik Minat Khusus. Pariwisata ini merupakan pariwisata yang dilakukan dengan mengunjungi objek wisata yang sesuai dengan minat.
Swarbrooke (1998) menyatakan bahwa pada hakekatnya, pengembangan pariwisata harus berintegrasi pada 3 (tiga) dimensi yakni dimensi sosial, dimensi lingkungan dan dimensi ekonomi. Ketiga hal tersebut saling tekait satu dengan yang lainnya. Pengembangan pariwisata harus memperhatikan kelestarian lingkungan, memberi peluang bagi generasi muda untuk memanfaatkan dan mengembangkannya sesuai dengan tatanan sosial yang ada sehingga sesuai dengan kebutuhan wisatawan dan pelaku wisata.

2.4.Sosiologi Pariwisata
            Sosiologi pariwisata merupakan ilmu yang mempelajari masalah-masalah kepariwisataan dalam berbagai aspek seperti penerapan prinsip, konsep, hukum, paradigma dan metode sosiologis di dalam mengkaji masyarakat dan fenomena pariwisata.
Analisis sosiologis terhadap pariwisata berdasarkan alasan :

  1. Pariwisata telah menjadi aktivitas ekonomi yang dominan dewasa ini
  2. Pariwisata sangat terkait dengan masalah sosial, ekonomi, politik, keamanan, ketertiban, keramahtamahan, kebudayaan, dan berbagai institusi sosial yang mengaturnya
  3. Bersifat sangat dinamis sehingga setiap saat memerlukan analisis yang tajam dalam rangka memberikan manfaat bagi masyarakat lokal khususnya
  4. Adanya proses akulturasi, dominasi, sosialisasi, adopsi, adaprasi, dll dalam kaitan hubungan antarbudaya dan masyarakat
  5. Pengaruh pariwisata sudah sangat meluas sehingga telah menjadi prime mover dalam perubahan sosial
  6. Berkembangnya berbagai lembaga terkait pariwisata
Secara sosiologis, John Urry (1990), menyebutkan bahwa pariwisata mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Pariwisata adalah aktivitas bersantai atau aktivitas waktu luang. Perjalanan wisata bukanlah sebuah “kewajiban” dan umumnya dilakukan pada saat seseorang bebeas dari pekerjaan yang wajib dilakukan yaitu pada saat mereka cuti atau libur.
  2. Hubungan-hubungan pariwisata terjadi karena adanya pergerakan manusia. Pergerakan ini terkait dengan adanya dimensi ruang dan waktu.
  3. Dilihat dari sisi wisatawan, pariwisata adalah aktivitas yang dilakukan pada tempat dan waktu yang “tidak normal”. Tetapi ketidaknormalan ini hanya bersifat sementara dan pelaku mempunyai keinginan yang pasti untuk kembali ke situasi normal atau ke habitat asalnya. 
  4. Tempat dan atraksi yang dinikmati oleh wisatawan adalah tempat dan atau peristiwa yang tidak langsung berhubungan dengan pekerjaan atau penghidupan wisatawan. 
  5. Cukup banyak proporsi dari penduduk masyarakat modern yang terlibat dalam kegiatan pariwisata sehingga pariwisata telah menjadi wahana sosialisasi yang baru. 
  6. Destinasi wisata yang dikunjungi acapkali dipilih berdasarkan khayalan atau fantasi atau karena image destinasi yang bersangkutan. Fantasi dan citra (image) ini tidak hanya terbentuk dari promosi-promosi kepariwisataan tetapi juga melalui kegiataan non-pariwisata seperti karya akademis, pertemuan, dan media massa.
  7. Perjalanan wisata adalah sesuatu yang bersifat “tidak biasa” (out of the ordinary). Pengalaman yang diharapkan adalah pengalaman yang lain dari biasanya.

2.5.Pengembangan Pariwisata

Dalam mengembangkan pariwisata baik pengembangan destinasi, kawasan pariwisata, maupun obyek daya tarik wisata pada umumnya mengikuti alur atau siklus hidup pariwisata. Adapun tujuannya adalah untuk menentukan posisi pariwisata yang akan dikembangkan. Tahapan pengembangan pariwisata (tourism life cycle) mengacu pada pendapat Butler (1980) yang dikutip oleh Cooper and Jackson (1997 yakni sebagai berikut :

1.     Tahap eksplorasi (exploration) yang berkaitan dengan discovery yaitu suatu tempat sebagai potensi wisata baru ditemukan baik oleh wisatawan, pelaku pariwisata, maupun pemerintah. Biasanya jumlah pengunjung sedikit, wisatawan tertarik pada daerah yang belum tercemar dan sepi, lokasinya sulit dicapai namun diminati oleh sejumlah kecil wisatawan yang justru menjadi berminat karena belum ramai dikunjungi.
2.  Tahap keterlibatan (involvement) yang diikuti oleh kontrol lokal (local control),  di mana biasanya oleh masyarakat lokal. Pada tahapan ini terdapat inisiatif dari masyarakat lokal, obyek wisata mulai dipromosikan oleh wisatawan, jumlah wisatawan meningkat, dan infrastruktur mulai dibangun.
3.  Tahap pengembangan (development) dan adanya kontrol lokal (local control)menunjukan adanya peningkatan jumlah kunjungan wisata secara drastis. Pengawasan oleh lembaga lokal agak sulit membuahkan hasil, masuknya industri wisata dari luar dan kepopuleran kawasan wisata menyebabkan kerusakan lingkungan alam dan sosial budaya sehingga diperlukan adanya campur tangan kontrol penguasa lokal maupun nasional.
4.  Tahap konsolidasi (consolidation) dengan constitutionalism ditunjukkan oleh penurunan tingkat pertumbuhan kunjungan wisatawan. Kawasan wisata dipenuhi oleh berbagai industri pariwisata berupa hiburan dan berbagai macam atraksi wisata.
5.     Tahap kestabilan (stagnation) dan masih diikuti oleh adanya institutionalism, dimana jumlah wisatawan tertinggi telah tercapai dan kawasan ini telah mulai ditinggalkan karena tidak mode lagi, kunjungan ulang dan para pebisnis memanfaatkan fasilitas yang telah ada. Pada tahapan ini terdapat upaya untuk menjaga jumlah wisatawan secara intensif dilakukan oleh industri pariwisata dan kawasan ini kemungkinan besar mengalami masalah besar yang terkait dengan lingkungan alam maupun sosial budaya.
6. Tahap penurunan kualitas (decline) hampir semua wisatawan telah mengalihkan kunjungannya ke daerah tujuan wisata lain. Kawasan ini telah menjadi obyek wisata kecil yang dikunjungi sehari atau akhir pekan. Beberapa fasilitas pariwisata telah diubah bentuk dan fungsinya menjadi tujuan lain. Dengan demikian pada tahap ini diperlukan upaya pemerintah untuk meremajakan kembali (rejuvenate).
7. Tahap peremajaan kembali (rejuvenate), dimana dalam tahapan ini perlu dilakukan pertimbangan mengubah pemanfaatan kawasan pariwisata, mencari pasar baru, membuat saluran pemasaran baru, dan mereposisi atraksi wisata ke bentuk lain. Oleh sebab itu diperlukan modal baru atau kerjasama antara pemerintah dengan pihak swasta.

Dari tahapan pengembangan pariwisata (tourism life cycle) kemudian dikaitkan dengan tingkat iritasi masyarakat (level of host irritation). Tingkat iritasi masyarakat (level of host irritation) yaitu teori yang mengukur interaksi antara wisatawan dan masyarakat lokal. Dengan mempertimbangkan dampak sosial yang terjadi pada tahapan pengembangan daerah wisata, Doxey (dalam Ryan, 1991: 136) menyimpulkan, bahwa terjadi perilaku spesifik pada masyarakat lokal atas pengaruh pariwisata dari waktu ke waktu.

Untuk mengukur dampak sosial yang ditimbulkan atas hubungan yang terjadi antara masyarakat lokal dan wisatawan digunakan teori tingkat iritasi masyarakat (level of host irritation) yang terdiri dari beberapa tahapan, yaitu :
1.     Tingkat euphoria (perasaan bangga rohani dan jasmani), di mana pada awal perkembangannya wisatawan disambut gembira dan pariwisata dianggap sebagai pembawa manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal. Wisatawan juga dipandang tertarik dan menghargai adat-istiadat, gaya hidup, dan kehidupan sehari-hari masyarakat lokal.
2.     Tingkat apathy (sikap acuh tak acuh), di mana dalam tahapan ini volume kunjungan wisatawan bertambah dan pariwisata tersebut tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang baru, malainkan sesuatu yang biasa saja. Wisatawan tidak lagi menggunakan bahasa masyarakat lokal dan hubungan yang terjadi lebih formal atau lebih bersifat hubungan dagang bukan hubungan pribadi. Sikap masyarakat lokal menjadi lebih apatis terhadap pariwisata.
3.     Tingkat annoyance (sikap terganggu/ terusik), di mana dalam tahapan ini jika pengembangan pariwisata tetap berlanjut, berbagai permasalahan bermunculan mulai dari kemacetan, susahnya memperoleh tempat parkir dan bertambahnya kepadatan. Masyarakat lokal merasa bahwa mereka mengalami marginalisasi dengan keterlibatannya dalam pariwisata
4.     Tingkat antagonism/xenophobia (rasa benci/ pertentangan), apabila pariwisata dan berbagai fasilitas dianggap sebagai penyebab berbagai permasalahan yang menimpa masyarakat lokal, baik masalah sosial  maupun ekonomi. Pada tahapan ini kegiatan pariwisata mengalami kemandegan dan telah melampaui daya dukung.

Menurut Mill (Prayogi, 2011) bahwa perpindahan dari satu tahapan ke tahapan berikutnya disebabkan oleh tiga hal, yaitu :
·       Jarak, semakin besar jarak tersebut, baik ekonomi maupun budaya antara masyarakat lokal dan wisatawan, maka semakin besar akibat sosial yang ditimbulkan dan semakin besar pula kemungkinan terjadinya pergerakan pada tahapan-tahapan yang ada.
·       Kemampuan kawasan menyerap secara fisik dan kejiwaan pertumbuhan jumlah kunjungan, hal ini terkait dengan perbandingan jumlah mereka yang datang dan jumlah penduduk, sebuah kota besar tentunya dapat menyerap lebih banyak wisatawan dibandingkan dengan komunitas pulau kecil
·       Jumlah dan kecepatan perkembangan pariwisata itu sendiri, semakin cepat dan intensif tingkat perkembangannya, maka semakin besarlah kecenderungan terjadinya akibat sosial.

Greenwood (1977) melihat bahwa hubungan antara wisatawan dengan masyarakat lokal menyebabkan terjadinya proses komersialisasi dari keramahtamahan masyarakat lokal. Pada awalnya wisatawan dipandang sebagai ‘tamu’dalam pengertian tradisional, yang disambut dengan keramahtamahan tanpa motif ekonomi. Dengan semakin bertambahnya jumlah wisatawan, maka hubungan berubah terjadi atas dasar pembayaran, yang tidak lain daripada proses komersialisasi, di mana masyarakat lokal sudah mulai agresif terhadap wisatawan, mengarah kepada eksploitasi dalam setiap interaksi, tanpa mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang.

BABIII       
METODE PENELITIAN

3.1.Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Metode deskriptif merupakan metode yang menggambarkan apa yang dilihat atau dialami oleh sipeneliti. Sedangkan jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer merupakan data yang didapat secara langsung dari sumber-sumber pertama baik dari individu maupun dari kelompok.

3.2.Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan di Pangururan, Kabupaten Samosir dan  Kota Parapat karena kedua daerah tersebut merupakan daerah destinasi pariwisata di povinsi Sumatera Utara.



3.3.Unit Analisis dan Informan
            Unit analisis adalah hal-hal yang diperhitungkan menjadi subjek penelitian keseluruhan unsur yang menjadi fokus penelitian (Bungin, 2007). Dalam penelitian ini, yang menjadi unit analisisnya adalah masyarakat Kota Parapat dan Kabupaten Samosir dan masyarakat pelaku pariwisata (yang bekerja pada sektor pariwisata).
Informan merupakan subjek yang memahami permasalahan penelitian sebagai pelaku maupun orang yang memahami permasalahan penelitian (Bungin, 2007). Dalam pemilihan informan peneliti menggunakan teknik purposive Sampling untuk menentukan subjek penelitian. Teknik purposive Sampling digunakan jika dalam pemilihan informan peneliti menggunakan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Adapun kriteria yang menjadi informan dalam penelitain ini adalah:
1.     Masyarakat asli Kota Parapat dan Kabupaten Samosir yang telah menetap di Kota Parapat dan Kabupaten Samosir minimal 5 (lima) tahun.
2.     Pedagang yang berjualan di kawasan objek wisata Danau Toba (Parapat dan Kabupaten Samosir).
3.     Pemilik/pegawai hotel atau tempat penginapan yang ada di sekitar objek wisata.
4.     Pemilik warung/rumah makan/cafe/restoran yang ada di Kota Parapat dan Kabupaten Samosir.
5.     Pengunjung atau wisatawan yang dijumpai pada saat penelitian berlangsung.

3.4.Teknik Pengumpulan Data

a.     Wawancara
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara tidak terstruktur. Wawancara dilakukan pada informan yang dianggap mempunyai kapasitas dalam memberikan informasi yang dibutuhkan. Adapun yang menjadi informan adalah pemangku kepentingan wisata di Kota Parapat dan Kabupaten Samosir seperti pengelola hotel, travel, kuliner, pedagang, wisatawan, dan lain-lain yang relevan dengan topik penelitian.
                           
b.     Observasi
Selain wawancara, peneliti juga menggunakan teknik observasi partisipatif pasif di mana peneliti ikut terjun dan melakukan kegiatan sesuai tema yang menjadi objek penelitian. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan data yang lebih akurat. Dimensi yang hendak diobservasi adalah interaksi dan pelayanan wisata di Kota Parapat dan Kabupaten Samosir yang berkaitan dengan nilai-nilai modal sosial dan interaksi pelaku wisata dengan wisatawan.

c.     Dokumentasi
Dokumentasi merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisis dokomen-dokumen baik dokumen tertulis, gambar maupun elektronik. Dokumen-dokumen yang dihimpun dipilih sesuai dengan tujuan dan fokus masalah. Metode dokumentasi digunakan untuk mendukung hasil wawancara dan observasi yang dilakukan.

3.5.Teknik Analisis Data
Teknis analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data kualitatif dengan beberapa tahapan seperti tergambar pada skema berikut :

a.    
Pengumpulan data
Analisis data yang gambar diatas dapat dijelaskan sebagai berikut:
Data-data yang diperoleh di lapangan dicatat atau direkam dalam bentuk naratif, yaitu uraian data yang diperoleh dari lapangan apa adanya tanpa adanya komentar peneliti yang berbentuk catatan kecil. Dari catatan deskriptif ini, kemudian dibuat catatan refleksi yaitu catatan yang berisi komentar, pendapat atau penafsiran peneliti atas fenomena yang ditemui di lapangan.

b.     Reduksi data
Reduksi data merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian, pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan lapangan. Reduksi data dilakukan terus menerus selama penelitian dilaksanakan. Reduksi data merupakan wujud analisis yang menajamkan, mengklarifikasikan, mengarahkan, membuang data yang tidak berkaitan dengan pokok persoalan. Selanjutnya dibuat ringkasan, pengkodean, penelusuran tema-tema, membuat catatan kecil yang dirasakan penting pada kejadian seketika yang dipandang penting berkaitan dengan pokok persoalan.

c.     Penyajian data
Pada tahapan ini disajikan data hasil temuan di lapangan dalam bentuk teks deskriptif naratif.
                                       
d.     Penarikan kesimpulan dan verifikasi
Penarikan kesimpulan dan verifikasi merupakan upaya memaknai data yang disajikan dengan mencermati pola-pola keteraturan, penjelasan, konfigurasi, dan hubungan sebab akibat. Dalam melakukan penarikan kesimpulan dan verifikasi selalu dilakukan peninjauan terhadap penyajian data dan catatan di lapangan melalui diskusi tim peneliti.

LAMPIRAN DAFTAR PERTANYAAN
a.     Untuk pelaku wisata
1.     Bagaimana kepercayaan masyarakat terhadap daerah wisata di Danau Toba?
2.     Bagaimana jaringan terhadap wisatawan?
3.     Bagaimana jaringan dengan tranportasi, hotel, pedagang dan pemerintah di daerah wisata Danau Toba?
4.     Bagaimana pandangan anda tentang objek wisata Danau Toba saat ini ?
5.     Bagaimana cara yang dilakukan masyarakat dan pemerintah dalam menjaga pesona Danau Toba ?
6.     Siapakah yang mengelola usaha wisata di daerah ini, apakah masyarakat lokal atau masyarakat luar daerah atau luar negeri ?
7.     Dalam setahun terakhir, wisatawan yang berkunjung ke daerah ini berasal dari daerah mana, apakah dalam negeri atau luar negeri ?
8.     Apa strategi yang anda gunakan untuk menarik minat wisatawan agar berkunjung ke daerah ini ?
9.     Bagaimana jaringan/sinergitas/kerjasama yang dibangun antara sesama pelaku wisata, pemerintah dan wisatawan ?
10.  Bagaimana cara yang dilakukan untuk menjaga kenyamanan dan kepercayaan pengunjung/wisatawan di daerah ini sehingga merasa nyaman berkunjung ke daerah ini ?
11.  Terkait dengan nilai-nilai budaya dalam pengelolaan pariwisata, apakah anda menggunakan nilai-nilai budaya yang ada pada masyarakat sebagai bagian dari pengelolaan pariwisata ? Kalau iya, nilai-nilai apa saja ?
  1. Untuk wisatawan
  1. Apakah anda sudah sering berkunjung/berwisata ke daerah ini ?
  2. Bagaimana pandangan anda tentang pengelolaan wisata di daerah ini ?
  3. Bagaimana pandangan anda tentang fasilitas wisata di daerah ini ?
  4. Bagaimana pandangan anda tentang pelayanan wisata, terkait dengan keramahtamahan penduduk,  kebersihan lingkungan di daerah ini ?
  5. Apakah anda merasa nyaman ketika berkunjung ke daerah ini ?
  6. Bagaimana pandangan anda tentang aturan-aturan dalam pengelolaan wisata di daerah ini ?
  7. Bagaimana pendapat anda tentang strategi dan kreatifitas masyarakat lokal terkait dengan pengelolaan wisata di daerah ini ?






DAFTAR PUSTAKA

Bungin, Burhan. 2007. Penelitian Kualitatif. Jakarta : Prenada Media Group
Lawang, R.M.Z, 2005. Kapital Sosial: Dalam Perspektif Sosiologik Suatu  Pengantar. Jakarta: FISIP UI Press.
Nasution, S. 1996. Metode Penelitian Naturalistik-Kualitatif. Bandung : Tarsito.
Mikelsen, Britha. 1999. Metode Penelitian Partisipatoris Upaya-Upaya Pemberdayaan. Jakarta.  Yayasan Obor Indonesia.
Jurnal :
Coleman, J. 1988. Social Capital in the Creation of Human Capital. American Journal of Sociology 94 (Supplement), S95–S120.
Putu Agus Prayogi, Jurnal Perhotelan dan Pariwisata, Agustus 2011, Vol.1 No.1 hal.69 Sekolah Tinggi Pariwisata Triatma Jaya
Siisiäinen, Martti. 2000. Two Concepts of Social Capital: Bourdieu vs Putnam. University of Jyvaskyla.

Skripsi :
Syahriar, Galang Henry. 2005. Modal Sosial Dalam Pengelolaan Dan Pengembangan Pariwisata Di Obyek Wisata Colo Kabupaten Kudus. Fakultas Ekonomika Dan Bisnis Universitas Diponegoro Semarang.
Putra, Agus Yogi Pradyana. 2014. Pemanfaatan Modal Sosial dalam Pengelolaan Objek Wisata Pantai Kedungu Desa Belalang Kabupaten Tabanan.

Tags :

bonarsitumorang

  • Bonar Situmorang
  • Medan
  • Jakarta Selatan
  • bonarsos@gmail.com
  • +62853-7028-9213