Maret 04, 2016

Makalah: Pengertian dan Ruang Lingkup Sosiologi



BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penulisan
            Untuk memahami dan mendalami buku ajar tentang sosiologi ekonomi sebenarnya banyak tantangan yang harus dihadapi. Apalagi jika pemahamannya tidak didasari tentang pemahaman yang kuat terhadap sosiologi-ekonomi. Kedua bidang ilmu pengetahuan ini merupakan bidang ilmu yang berdiri tegak sendiri dan memiliki ilmu sendiri untuk menjawab pertanyaan  dari permasalahan yang termasuk ruang lingkup setiap bidang ilmu. Dalam hal ini, sebuah ilmu pengetahuan tidak bisa menjawab seluruh permasalahan yang ada di lapangan, sehingga dibutuhkan ilmu dalam untuk membantu menjawab sebuah realita. Sehingga sosiologi-ekonomi disatukan untuk menjawab permasalah bidang ilmu sendiri.
            Dalam kajiannya itu dibutuhkan kesepakatan hubungan timbal balik anatar kedua ilmu tersebut. Dan untuk menggabungkan itu dibutuhkan kekuatan teori yang sudag dibangun dengan sejak dulu. Sosiologi dan ekonomi bisa menjadi satu untuk memberi penjelasan atau bahkan menjadi solution maker bagi permasalahan kebutuhan ekonomi dan keadaan sosial dalam masyarakat yang lebih luas.
Isu-isu dan permasalahan ekonomi dan sosial merupakan ranah dari sosiologi ekonomi. Dalam latar belakang ini dibangun sebuah penegasan, sebelum berangkat lebih luas. Dasar yang paling utama untuk bisa menggunakan sosiologi ekonomi harus terlebih dahulu paham pengertian dan ruang lingkup sosiologi ekonomi. Pemisahan dan penggabungan ranah ilmu masing-masing dan sejauh mana ruang lingkup yang bisa dijadikan sebagai bahan kajiannya, Sehingga dari fondasi yang sudah kuat terbangun nantinya bisa menganalisis bahkan mempergunakan ilmu yang terkandung dalam sosiologi ekonomi.  Oleh karena ini, tulisan ini akan memberikan penjelasan secara luas tentang pengertian dan ruang lingkup sosiologi ekonomi sebagai sebuah ilmu pengetahuan.
.
1.2 Rumusan Penulisan
            Berdasarkan latar belakang di atas dapat diputuskan penyederhanaan topik yang harus dianalisis dan dituliskan dalam makalah ini, yaitu: pengertian sosiologi, pengertian ekonomi, pengertian sosiologi ekonomi, pelatak fondasi sosiologi ekonomi dan sosiologi ekonomi dewasa ini.
1.3 Tujuan Penulisan
            Berdasarkan rumusan masalah yang ada, adapun tujuan tulisan ini adalah:
1.     Untuk menuliskan pengertian dan ruang lingkup sosiologi dan secara khusus pendalaman terhadap sosiologi ekonomi.
2.     Untuk memahami dan mengetahui pengertian dan ruang lingkup sosiologi dan secara khusus pendalaman terhadap sosiologi ekonomi.
1.4 Manfaat Penelitian        
1.4.1. Secara Teoritis
1.     Hasil karya ini diharapkan dapat memberikan sumbangan terhadap pengembangan ilmu Sosiologi, khususnya Sosiologi Ekonomi.
2.     Diharapkan dapat memperkaya kajian tentang seputar pentingnya memahami dasar sosiologi ekonomi.

1.4.2. Secara Praktis
1.     Bagi lingkungan kampus, makalah ini menjadi karya dari mahasiswa dan bisa menjadi bahan tulisan selanjutnya.
2.     Bagi mahasiswa dan mahasiswi ini bisa menjadi bahan bacaan, menambah referensi bacaaan tentang pengertian dan ruang lingkup sosiologi ekonomi..
3.     Bagi kelompok satu diharpakan tulisan ini menjadi pemenuhan tugas mata kuliah sosiologi ekonomi.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Sosiologi
            Dalam menentukan ruang kajian keilmuan, diperlukan sebelumnya membuat batasan terhadap kajian ilmu tersebut, yaitu dengan cara membuat pengertian atau defenisi tentang ilmu tersebut. Demikian pula dengan kajian ilmu sosiologi, sangatlah diperlukan pemahaman atas pengertian ataupun defenisinya. Untuk itu, berikut ini akan disampaikan pembahasan mengenai beberapa pandangan para sosiolog dalam mendefenisikan sosiologi.
      2.1.1 Pitirim Sorikin
Sosiologi adalah ilmu yang memperlajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala-gejala sosial seperti, antara gejala ekonomi dan agama, keluarga dan moral, hukum dan ekonmi, gerakan masyarakat dan ekonomi, dan sebagainya; hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala-gejala non sosial seperti gejala geografis, biologis dan sebagainya; dan ciri:ciri umum dari semua gejala-gejala sosial.
      2.1.2. Roucek dan Warren
Sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dan kelompok.
            2.1.3. William F. Ogburn dan Meyer F. Nimkoff
Sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya, yaitu organisasi sosial.
      2.1.4. Selo Soedmardjan
Sosiologi adalah ilmu yang mempelari struktu sosial (keseluruhan jalinan antara unsur-unsur sosial yang pokok seperti kaidah-kaidah sosial, lembaga-lembaga sosial, kelompok sosial dan lapisan sosial), dan proses-proses sosial (yang berupa pengaruh timbal balik antara pelbagai kehidupan bersa,a seperti kehidupan ekonomi dan kehidupan politik, kehidupan hukum dan kehidupan agama dan lain sebagainya), termasuk di dalamnya adalah perubahan-perubahan sosial.
            2.1.5.    Soerjono Soekanto
Sosiologi memusatkan perhatiannya pada segi kemasyarakatan yang bersifat umum dan berusaha untuk mendapatkan pola-pola umum kehidupan masyarakat.
2.1.6. David B. Brinkerhoft dan Lynn K. White
            Brinkerhoft dan White (1989:4) berpendapat bahwa sosiologi merupakan studi sistematik tentang interaksi sosial manusia. Titik fokus perhatiannya terletak pada hubungan-hubungan dan pola-pola interaksi, yaitu bagaimana pola-pola tersebut tumbuh-kembang, bagaimana mereka dipertahankan, dan juga bagaimana mereka berubah.
            Adapun konsep interaksi sosial yang dimaksud adalah sebagai suatu tindakan timbal-balik antara dua orang atau lebih. Selanjutnya yang dilihat dari interaksi sosial tersebut adalah adanya kontak dan komunikasi. Sebagai contoh, Pak Kusno sedang mengendarai sepeda motor dan sedang berhenti di suatu persimpangan jalan oleh karena lampu lalu lintas menyalakan warna merah tanda berhenti. Ketika melihat ke sekeliling, ternyata tidak jauh darinya Pak Kusno melihat Pak Ahmad, tetangganya yang juga sedang menunggu lampu merah berganti. Pak Kusno menyapa Pak Ahmad, namun karena menggunakan helm, Pak Ahmad tidak dapat mendengar sapaan Pak Kusno. Lalu Pak Kusno pun membunyikan klakson sepeda motor beberapa kali sampai akhirnya Pak Ahmad menoleh ke arahnya. Ketika Pak Ahmad menoleh ke arah Pak Kusno, maka saat itu telah terjadi kontak antara mereka yakni kontak mata.

            Namun, interaksi sosial tidak akan terjadi jika hanya ada kontak tanpa diikuti dengan komunikasi. Akhirnya, setelah mengalami kontak mata, Pak Kusno pun memulai percakapan dengan pertanyaan mau ke mana, lalu Pak Ahmad dapat menjawab pertanyaan Pak Kusno sambil menunjukkan arah jalan yang akan ditujunya, selanjutnya setelah lampu hijau menyala, Pak Kusno melambaikan tangannya kepada Pak Ahmad tanda berpisah karena jalan yang selanjutnya mereka tempuh berbeda. Demikianlah interaksi sosial tengah berlangsung terjadi di antara mereka.
            Defenisi sosiologi dari Brinkerhoft dan White menempatkan manusia sebagai makhluk yang aktif-kreatif . Manusia adalah sebagai pencipta terhadap dunianya sendiri. Proses penciptaan tersebut berlangsung dalam hubungan interpersonal. Oleh sebab itu, sosologi yang dikembangkan melalui defenisi ini adalah sosiologi mikro.
            2.1.7. Paul B. Horton dan Chester L. Hunt
            Dari sekian banyak defenisi yang ada, untuk kepentingan pemahaman batasan sosiologi ekonomi, menarik untuk dipahami 2 defenisi masyarakat dari Horton dan Hunt (1987:59) serta Peter L. Berger (1966).
            Horton dan Hunt mendefinisikan masyarakat sebagai sekumpulan manusia yang secara relatif mandiri, yang hidup bersama-sama cukup lama, yang mendiami suatu wilayah mandiri memiliki kebudayaan yang sama, dan melakukan sebagian besar kegiatannya dalam kelompok tersebut. Lalu mereka juga mendefenisikan kebudayaan sebagai segala sesuatu yang dipelajari dan dialami bersama secara sosial oleh para anggota suatu masyarakat, maka hal ini berarti, seseorang dapat menerima kebudayaan sebagai bagian dari warisan sosial. Dan pada gilirannya, bisa membentuk kebudayaan kembali dan mengenalkan perubahan-perubahan yang kemudian menjadi bagian dari warisan generasi berikutnya. Contohnya, cara berpakaian seragam siswa/siswi tahun 90-an berbeda dengan cara berpakaian seragam siswa/siswi saat ini.
            Berbeda dengan Horton dan Hunt, menurut P.L Berger, masyarakat merupakan suatu keseluruhan kompleks hubungan yang luas sifatnya, seperti analogi bagian-bagian dalam masyarakat adalah sosial, seperti hubungan antar jenis kelamin, hubungan antar usia, hubungan antar dan inter keluarga, hubungan perkawinan dan seterusnya. Keseluruhan hubungan tersebut dikenal dengan masyarakat. Maka di sini dapat dilihat bahwa Berger lebih menekankan sistem yang berpengaruh antar individu atau pun kelompok, di mana aspek kualitas dan konstuktif lebih diharapkan, berbeda dengan pendapat Horton dan Hunt yang lebih menekankan pada aspek ruang dan kuantitas.
            Setelah memahami dua defenisi yang berbeda tentang sosiologi, maka dalam melihat ataupun hendak memahami sosiologi ekonomi, sebaiknya posisi kita adalah menggabungkan dua defenisi di atas. Dengan kalimat lain, posisi kita berada antara tataran sosiologi mikro dan  makro serta antara realitas objektif (eksternal) dan realitas subjektif (internal).
2.2. Pengertian Ekonomi
Ekonomi merupakan kata serapan dari bahasa Inggris, yaitu economy. Sementara kata economy berasal dari bahasa Yunani, yaitu oikonomike yang berarti pengelolaan rumahtangga. Adapun yang dimaksudkan dengan ekonomi sebagai pengelolaan rumahtangga adalah suatu usaha dalam pembuatan keputusan dan pelaksanaannya yang berhubungan dengan pengalokasian sumber daya rumah tangga yang terbatas di antara berbagai anggotanya, dengan mempertimbangkan kemampuan, usaha dan keinginan masing-masing. Dengan demikian, ekonomi merupakan suatu usaha dalam pembuatan keputusan dan pelaksanaannya yang berhubungan dengan pengalokasian sumberdaya masyarakat yang terbatas di antara berbagai anggotanya dengan mempertimbangkan kemampuan, usaha, dan keinginan masing-masing.
2.3. Pengertian Sosiologi Ekonomi
            Kemunculan sosiologi ekonomi merupakan fenomena dam aktivitas ekonomi yyang berkembang di masyarakat, seperti aktivitas produksi, pengolahan, pemasaran dan berbagai lembaga perekonomian yang ada, sesungguhnya sudah sejak lama menjadi perhatain sosiolog klasik. Kebangkiatan sosiologi ekonomi dan puncak perkembangannya terjadi 1980-an dan dari sinilah lahir sosiologi ekonomi.
Sosiologi ekonomi dapat didefenisikan dengan dua cara. Pertama, sosiologi ekonomi didefenisikan sebagai sebuah kajian yang mempelajari hubungan antara masyarakat, yang di dalamnya terjadi interaksi sosial dan ekonomi dalam hal ini dapat dilihat bagaimana masyarakat mempengaruhi ekonomi dan sebaliknya bagaimana ekonomi mempengaruhi masyarakat. Sosiologi ekonomi mengkaji masyarakat yang di dalamnya terdapat proses dan pola interaksi sosial dalam hubungannya dengan ekonomi. Hubungan antara sosiologi (dalam hal ini pola interaksi) dan ekonomi merupakan hubungan yang saling respirokal atau pengaruh-mempengaruhi.
Masyarakat sebagai realitas eksternal objektif akan menuntun individu dalam melakukan kegiatan ekonomi. Dalam menentukan tindakan ekonomi dan motif ekonomi, masyarakat akan senantiasa terikat dengan nilai-nilai yang dianut yang berasal dari budaya, agama, hukum, dan lain-lain. Kegiatan ekonomi seperti produksi, distribusi dan konsumsi akan selalu dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat. Dalam hal inilah dapat dilihat bagaimana hubungan antara masyarakat dengan ekonomi, di mana masyarakat (dalam hal ini nilai-nilai yang dianut) dapat mempengaruhi tindakan maupun kegiatan ekonomi serta sistem ekonomi.
Bagi masyarakat yang memeluk agama Buddha dan sebagian masyarakat tertentu, mengkonsumsi daging merupakan hal yang dilarang. Umumnya masyarakat lebih memilih mengkonsumsi sayur dan buah-buahan untuk memenuhi gizi dalam tubuh (vegetarian).

Dalam sistem ajaran agama Islam dikenal sistem ekonomi syariah dimana sistem ekonomi dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip syariat (ajaran agama). Dalam sistem perbankan misalnya, sistem ekonomi syariah melarang pemberlakuan sistem bunga simpanan karena dianggap melanggar ajaran agama.

Di Indonesia, jika seseorang meninggal dunia, umumnya masyarakat yang datang melayat menggunakan pakaian berwarna hitam. Simbol warna hitam tersebut bermakna sedih dan berkabung sehingga orang-orang yang melayat merasa turut prihatin dan berduka atas meninggalnya seseorang.
Berdasarkan ilustrasi tersebut dapat disimpulkan bahwa masyarakat (dalam hal ini nilai-nilai yang dianut) berpengaruh terhadap tindakan ekonomi masyarakat. Karena adanya larangan untuk mengkonsumsi daging maka kelompok masyarakat yang mengidentifikasikan diri sebagai vegetarian tidak akan memakan daging. Hal ini berarti bahwa nilai yang berfungsi sebagai tuntunan dalam kehidupan masyarakat berpengaruh berhadap tidakan ekonomi dalam hal ini konsumsi. Aturan penggunaan pakaian dalam acara kematian pun menunjukkan bahwa nilai-nilai yang ada dalam masyarakat berpengaruh terhadap tindakan ekonomi masyarakat yakni konsumsi. Demikian juga dengan sistem ekonomi syariah yang menggunakan prinsip-prinsip syariat dalam perekonomian.
Sedangkan ekonomi mempengaruhi masyarakat yang di dalamnya terdapat proses interaksi dapat dilihat dalam bentuk gaya hidup masyarakat.
 
Saat ini, dalam masyarakat sedang trend busana pria dan wanita ala artis Korea. Melalui media seperti televisi dan media online, masyarakat disuguhkan dengan berbagai iklan yang menawarkan produk-produk fashion yang sedang trend. Seseorang yang ingin tampil beda dan tidak ingin dianggap “ketinggalan zaman” akan sangat mudah dipengaruhi oleh iklan tersebut. Munculnya iklan tersebut menyebabkan sebagian masyarakat berperilaku konsumtif dan lebih mementingkan style daripada esensi. Hal ini membuktikan bahwa ekonomi dapat mempengaruhi masyarakat sehingga masyarakat semakin konsumtif dan cenderung berindak kurang rasional. Sementara dengan kondisi yang demikian, mendorong para pengusaha untuk terus berpoduksi barang-barang yang banyak diminati masyarakat.
Tabel 1.1 Hubungan Antara Masyarakat dan Ekonomi
Masyarakat
 
           


 





Keterangan :
                      Hubungan Timbal Balik                                          Hubungan Inklusif
            Kedua, sosiologi ekonomi didefenisikan sebagai pendekatan sosiologis yang diterapkan pada fenomena ekonomi. Adapun yang dimaksud dengan pendekatan sosiologis adalah konsep-konsep, variabel-variabel dan teori-teori serta metode yang digunakan dalam sosiologi untuk memahami kenyataan sosial yang termasuk kompleksitas aktivitas yang berkaitan dengan eknomi seperti produksi, komsumsi, dan distribusi. Ada banyak teori-teori, konsep dan metode-metode dalam sosiologi, seperti teori konflik, teori struktural fungsional, teori interaksionisme simbol, dan lain-lain. Sedangkan konsep-konsep yang ada pada Sosiologi yang berkaitan dengan ekonomi seperti stratifikasi sosial, tindakan rasional, etika protestan dan spirit kapitalisme, dan lain-lain
            Adapun yang dimaksud dengan fenomena ekonomi adalah gejala dari cara bagaimana orang atau masyarakat memenuhi kebutuhan hidup mereka terhadap jasa dan barang langka. Fenomena ekonomi senantiasa berkembang seiring dengan perkembangan teknologi, ekonomi dan sosial budaya masyarakat. Adapun fenomena-fenomena yang termasuk dalam fenomena ekonomi adalah sebagai berikut :
Tabel 2.1. Fenomena Ekonomi
No
Fenomena Ekonomi
1
Proses ekonomi (produksi, distribusi dan konsumsi)
2
Produkivitas dan inovasi teknologi
3
Pasar
4
Kontrak
5
Uang
6
Tabungan
7
Organisasi ekonomi seperti bank, perusahaan, dan lain-lain
8
Kehidupan di tempat kerja
9
Pembagian kerja dan segregasi pekerjaan
10
Kelas ekomomi
11
Ekonomi dan gender
12
Ekonomi dan perubahan sosial
13
Ekonomi dan pembangunan
14
Ekonomi dan politik
15
Dan lain-lain


2.4.  Peletak Fondasi Sosiologi Ekonomi
Tokoh-tokoh yang berjasa dalam meletakkan fondasi sosiologi ekonomi ialah:
2.4.1. Karl Marx (1818-1883)
& Manusia terasing dari objek yang dia hasilkan (produksi)
& Sejarah digerakkan oleh perjuangan kelas
& Hanya terdapat dua kelas yaitu kelas proletar dan kelas bourgeois
& Ekonomi merupakan pondasi dari masyarakat
& Hubungan kapitalis dan buruh cenderung eksploitatif
& Buruh hanya memiliki tenaga kerja untuk dijual
Contoh/ Ilustrasi :
Buruh yang bekerja, maka mereka terasing dari hasil produksinya.
Misalnya: Seorang buruh yang bekerja di sebuah pabrik meubel (pembuat lemari). Mereka bekerja sehari mungkin menghasilkan banyak lemari. Para pemilik industri itu mengambil untung dari setiap lemari yang diproduksi. Sedangkan para buruh tadi tidak dapat menikmati/merasakan sedikitpun keuntungannya, padahal lemari itu merupakan hasil produksinya. Buruh hanya mendapat upah yang ditentukan dari para pemilik usaha. Keuntungan bersih lemari diperoleh pemilik usaha. Ini yang membuat kaum bourgeois semakin makmur, sedangkan kaum proletar tidak bisa memperbaiki status dan hidupnya.
Anggapan-anggapan pokok yang menjadi sumber bagi kupasan ekonomi yang juga dikembangkan oleh Marx di dalam naskah-naskahnya mengatakan bahwa produksi merupakan ciri khas dari kapitalisme, diakibatkan oleh semua bentuk ekonomi. Para ahli ekonomi bertolak pada pertukaran dan adanya kepemilikan pribadi. Usaha mencari dan mengejar keuntungan dilihat mereka sebagai sifat-sifat alamiah dari manusia.
Penting juga kiranya untuk menekankan, bahwa Marx juga memiliki konseps yang kuat t terhadap kelas sosial dan memiliki hubungan dengan pasar. Semua pola yang ada dalam masyarakat memperlihatkan suatu pola yang lebih rumit, dan yang tumpang tindih dengans struktur kelas.
2.4.2. Max Weber (1864-1920)
Membahas tentang The Protest  ant Ethic and Spirit of Capitalism, yang menyatakan bahwa ketelitian yang khusus, perhitungan dan kerja keras dari bisnis Barat didorong oleh perkembangan etika protestan yang dimunculkan oleh doktrin Calvinisme.      
Weber memusatkan perhatian pada protestanisme sebagai sebuah sistem gagasan dan pengaruhnya terhadap sistem ekonomi kapitalis. Agen terpenting ialah orang protestan.
Untuk mencapai keberhasilan, seseorang harus melakukan aktivitas kehidupan, termasuk aktivitas ekonomi, yang dilandasi oleh disiplin dan bersahaja, yang didorong oleh ajaran keagamaan.
Contoh/ Ilustrasi:         
Etika protestan tumbuh subur di Eropa, yang dikembangkan oleh seorang yang bernama Calvin. Saat itu, muncul ajaran yang menyatakan seorang pada intinya sudah ditakdirkan untuk masuk surga atau neraka. Untuk mengetahui apakah ia masuk surga atau neraka dapat diukur melalui keberhasilan kerjanya di dunia. Jika seseorang berhasil dalam kerjanya (sukses) maka hampir dapat dipastikan bahwa ia ditakdirkan menjadi penghuni surga, begitu juga sebaliknya, kalau di dunia ini seseorang selalu mengalami kegagalan maka dapat diperkirakan kalau seseorang itu ditakdirkan masuk neraka.

                                                                            
2.4.3. Emile Durkheim (1858-1917)
Dalam bukunya yang berjudul Division of Labor in Society:
            Pembagian kerja mempunyai fungsi yang lebih luas. Pembagian kerja merupakan sarana utama bagi penciptaan kohesi dalam masyarakat modern untuk menghasilkan solidaritas organik. Pada buku tersebut disebutkan bahwa perubahan struktur sosial sebagaimana perkembangan masyarakat dari status yang tidak dibedakan pada masa primordialisme untuk sebuah langkah yang dikarakteristikkan dengan pembagian tenaga kerja yang kompleks.
Pembagian kerja yang dimaksudkan Durkheim  ialah masyarakat modern tidak diikat oleh kesamaan antara orang-orang yang melakukan pekerjaan yang sama, akan tetapi pembagian kerjalah yang mengikat masyarakat dengan memaksa mereka agar tergantung satu sama lain.
Contoh/ Ilustrasi:
           
Misalnya di dalam sebuah pabrik. Ada orang yang bekerja di mesin teknisi, pengawas, penjual, di bidang pembukuan, sekretaris, pengiriman dan penerimaan barang, dan lainnya. Dengan adanya spesialisasi tadi, maka mereka akan berhubungan dan saling tergantung sehingga sistem tersebut membentuk solidaritas menyeluruh yang berfungsi didasarkan pada saling ketergantungan.

2.4.4. Joseph Schumpeter
            Meskipun sebagai seorang ekonom, Shumpeter lebih tertarik dengan sosiologi ekonomi. Schumpeter lebih berhasil dan perspektifnya lebih dekat kepada tradisi sosiolog. Menurut schumpeter telah meletakkan bagian dasar pembagian kerja antara sosiologi ekonomi dan ekonomi.  Menurut schumpeter, dengan sosiologi ekonomi kita menggunakan deskripsi dan interpretasi tentang institusi-institusi yang relevan secara ekonomi, termasuk kebiasaan dan semua bentuk perilaku umumnya. Seperti pemerintah, hak milik, perusahaan swasta, prilaku rasional dan tradisional. Sedangkan dengan ekonomi kita menggunakan deskripsi interpretatif tentang mekanisme ekonomi yang bekerja dalam keadaan istitusi tersebut telah ada. Di mana kesimpulannya adalah kalau kita berbicara pada sosiologi ekonomi berarti kita mengkaji aspek institusional secara luas berhubungan dengan tingkah laku tersebut. sedangkan ekonomi berhubungan dengan ekonomi itu sendiri.
Schumpeter juga ikut meramaikan sosiologi ekonomi tentang kapitalisme. Dia memberikan peryataan yang angat provokatif “dapatkah kapitalisme bertahan?’’ karena ia berpendapat kapitalisme akan runtuh digantikan oleh sosialisme, tapi pada akhirnya pendapat pada tesisnya runtuh dikarenakan Keruntuhan Negara sosialisme di Eropa Timur maka tesis pernyataannya juga ikut runtuh.
Contohnya
salah satu contoh untuk sosiologi ekonomi yang ada kaitannya dengan kehidupan sehari-hari antara lain dimana perusahaan swasta dalam bidang pakaian/fashion yang sengaja merancang berbagai model pakaian. Dimana kapitalis bebeas mengatur model dan gaya yang sesuai untuk dipakai dan siap untuk diproduksi serta dipasarkan di lingkungan masyarakat dan dunia. Ditambah lagi untuk menjual produknya biasanya kapitalisme tidak kehabisan akal mereka biasaya menyewa artis papan atas untuk memakai produknya ditambah lagi ikan-iklan model yang sengaja dibayar untuk menjual produk pakaiannya. Sehingga membuat banyak masyarakat sekitar tertarik dan membeli produknya. Inilah salah satu contoh bagaimana tingkahlaku mendominasi dan mengatur ekonomi suatu pasar jika ini berhasil tentunya kapitalisme untung besar dalam usahanya.

2.4.5. Karl Polanyi
            Polanyi mengembangkan suatu pemikiran tentang lebih luas daripada yang ditawarkan oleh tradisi ekonomi politik. Ada dua tema sentral yang diajukan oleh polanyi dalam tulisannya: kelahiran dan perkembangan lebih lanjut suatu masyarakat yang didominasi oleh pasar diabd ke 19-20, dan hubungannya antara ekonomi dan masyarakat primitif.dia menjelaskan tentang evolusi historis mentalitas pasar.
Polanyi mencatat munculnya ide dari “pasar yang mengatur dirinya sendiri’’ yang diperkenalkan pada tahun 1834 ketika pembaharuan hukum bagi orang miskin diperkenalkan di Inggris dan pasar tenaga kerja bebas secara total diciptakan untuk pertama kali. Pasar yang mengatur dirinya sendiri merupakan mekanisme institusional yang utama dari regulasi ekonomi dalam masyarakat kapitalisme dan biasanya ini secara radikal melepaskan dirinya sendiri dari institusi sosial serta menghambat institusi sosial lainnya untuk berfungsi menurut hukumnya.
Dalam tesisnya kembali polanyi mengajukan gagasannya yang terkenal yakni masalah “Keterlekatan’’ ekonomi manusia terlekat dan jaringan dalam institusi-institusi ekonomi dan non ekonomi. Memasukan institusi  non-ekonomi ke dalam ekonomi manusia adalah penting.  Selain itu polanyi dan koleganya juga membedakan antara makna formal dan substantif dari ekonomi. Yang disebut pertama, dipakai oleh ekonom, mendefinisikan ekonomi dalam arti tindakan rasional. Yang sebut kedua, ekonomi adalah sesuatu yang tampak secara institusional dan berpusat disekitar tentang pencapaian nafkah kehidupannya.
Contohnya:
untuk masalah keterlekatan dimana aspek non ekonomi yang dipadukan dengan ekonomi menjadi penting didalam kehidupan manusia. misalnya dalam hal budaya kepada pedangang dan pembeli. Ketika pedagang berinteraksi dengan pembeli. Pertama diantara mereka berdua tidak ada hubungan tetapi karena pembeli sering membeli barang kepada pedagang maka lama kelamaan pembeli menjadi langganan ditambah lagi hubungan itu semakin kuat dengan adanya hubungan marga antara sipenjual dan sipembeli. Inilah yang menjadi ilustarasi bagaimana pengaruh budaya Non ekonomi jika dipdukan dengan ekonomi menjadi penting.

2.4.6. Talcot Parson
            Parson dan Smelser tidak mengembangkan suatu filosofi sejarah seperti Marx, juga tidak melakukan studi pembanding budaya seperti dan istitusi seperti Weber, dan juga tidak berusaha membuat teori khusus tentang dinamika dan kontradiksi seperti yang dilakukan Schumpeter dan Polanyi. Mereka mengembangan teori sistem yang bersifat abstrak dalam analisis. Menurut Parson dan Smelser, ekonomi merupakan saah satu dari beberapa subsistem masyarakat (juga sering disebut sistem sosial). Apa itu subsistem?
a)     Pola pemeliharaan laten dan sistem manajemen (L) setiap masyarakat mempunyai suatu sisitem nilai dan kepercayaan yang beroperasi sebagai rancangan yang melegitimasi dan berkelanjuta bagi institusi utama dan sebaga pola motivasional. Inti khusus dari pemeliharaan laten adalah agama, ilmu pengetahuan, keluarga dan pendidikan.
b)     Pencapaian tujuan (G).  Fungsi ini merujuk pada cara dimana masyarakat menciptakan tuuan khusus yang dilegimasi oleh nilai-nilai yang dominasi  dan menggerakkan penduduk untuk mencapai tujuan tersebut
c)     Adaptasi (A). Tujuan-tujuan yang melembaga dan sah misalnyam produktivitas ekonomi, peperangan tidak di realisasikan secara otomatis dan masyarakat harus mengeluarkan sejumlah energi untuk mencapainya.
d)     Integrasi (I).  Dimana kelompok-kelompok atau susistem yang ada, maka diperlukan integrasi sehingga terjadi keseimbangan dalam sistm secara keseluruhan. Fungsi integrasi ini dipenuhi oleh sistem hukum.

2.5. Perspektif Sosiologis tentang Ekonomi

Perkembangan analisis sosiologi atas fenomena ekonomi merupakan perhatian utama para sosiolog klasik seperti Marx, Weber dan Durkheim (pada karya awalnya). Namun, perhatian sosiologi terhadap fenomena ekonomi menurun selama abad dua puluh hingga kebangkitan sosiologi Marxis dan Weberian pada era 1970-an serta perkembangan sejak 1980-an hingga selanjutnya mengenai apa yang disebut sebagai new economy sociology (NES, sosiologi ekonomi baru). Sosiologi ekonomi ialah wilayah yang luas meliputi banyak fenomena ekonomi yang subtantif. Sosiologi ini meliputi: semua aspek aktivitas ekonomi baik individu maupun kelompok; sosiologi organisasi, pasar lembaga dan ekonomi lainnya; komsumsi dan waktu luang; isu-isu makro seperti perkembangan kapitalisme, analisis komparatif sistem-sistem perekonomian dan dampak perekonomian terhadap kebudayaan dan agama. Pada wilayah ini banyak tradisi sosiologi teoretis bekerja sehingga tidak ada ‘mazhab’ tunggal sosiologi ekonomi (Bryan. S. Tunner:2011)
Namun aspek utama dari semua bentuk sosiologi ekonomi adalah keterkaitannya dengan ilmu ekonomi. Dimulai dengan utilitarisme pada abad ke-19, sebagian besar ekonom menganut model tindakan individulistik yang mana individu memaksimalkan kepentingan materialnya sendiri secara rasional dan di mana masyarakat dapat dianggap sebagai agregrat dari individu-individu yang berkumpul bersama karena kepentingan diri. Marx, Weber dan Durkheim menentang pemikiran ini dan kemudian sifat sosial ekonomi itu sendiri. Gagasan bahwa ekonomi itu sendiri adalah sistem sosial pun terus menjadi sentral semua bentuk sosiologi ekonomi. Secara historis, para pemikir sosiologi cenderung menyerahkan wilayah murni ekonomi kepada para ekonom.
Mereka berfokus pada aspek-aspek kehidupan ekonomi di mana dimensi sosial tampak nyata, misalnya bagaimana perilaku kelompok sosial di dalam sebuah birokrasi dapat memengaruhi efisiensinya.Mereka menyakini hubungan antara ekonomi dan bagian lain dari masyarakat. Dua contoh analisis kelas dan hubungan antara etika Protestanisme terhadap kapitalis modern. Namun para pemikir sosiologi ekonomi komtemporer memperjuangkan analisis sosiologi bagi semua isu perekonomian, termasuk yang tadinya dianggap wilayah ekonomi murni. Perbandingan antara sosiologi ekonomi dan ilmu ekonomi membantu mendefenisikan pendekatan sosiologi.
Mula-mula, sosiologi beramsumsi bahwa pelaku ekonomi adalah entitas sosial. Menurut banyak sosiolog, pelaku yang relevan adalah kelompok dan lembaga. Namun, aspek sosial tetap dominan bahkan ketika pelaku ekonomi didefenisikan sebagai individu, seperti dalam konsep Weber. Hal ini karena pelaku individu menghuni jejaring hubungan sosial dengan orang lain yang mempengaruhi, juga karena sosialisasi berpengaruh pada bagaimana pelaku mendefenisikan dirinya. Para sosiolog bertentangan dengan pandangan ilmu ekonomi mengenai aktor ekonomi individu. Selain itu, pertentangan juga dalam hal asumsi bahwa saat bertindak sebagai agen ekonomi, individu tidak terpengaruh oleh ikatan sosial.
            Sosiologi memiliki tiga pandangan yang berbeda-beda mengenai sifat tindakan ekonomi yaitu:
1.     Ekonomi makro neo-klasik berasumsi bahwa individu bertindak secara rasional untuk memaksimalkan kepentingan diri sendiri. Akibat sumber daya yang langka digunakan secara efektif. Namun, para sosiolog melihat bahwa tipe pengambilan keputusan secara rasional ini hanyalah satu bentuk tindakan ekonomi. Dengan menggunakan pembedaan Weber pada tipe-tipe tindakan, teori tindakan menunjukkan bahwa banyak keputusan ekonomi mungkin hanya berdasarkan pada tradisi dan bahwa ada lebih dari satu tipe rasionalitas. Pandangan bahwa motif dan rasionalitas itu bervariasi didukung oleh teori pilihan rasional. Walaupun cukup simpatik kepada ilmu ekonomi, cabang teori ilmu sosial ini menunjukkan bahwa asumsi mengenai motif egoistik serta bentuk rasionalitas tertentu tidak dapat dipertahankan.
2.     Tindakan ekonomi menjadi tindakan bermakna tetapi makna itu dikontruk secara sosial alih-alih muncul dari kesadaran individu. Proses kontruksi sosial itu biasanya  merupakan kombinasi antara sosialisasi sebelumnya dengan interasksi yang sedang terjadi.
3.     Sosiologi memandang bahwa tindakan ekonomi memuat kekuasaan dan berasumsi bahwa, sebagai konsekuensi, hubungan pertukarann biasanya tidak setara. Walaupun pasar mungkin tampaknya bebas, dalam kenyataannya pertukaran berpihak kepada mereka yang berkuasa seperti yang dulu dikemukakan Marx dan Weber. Namun, dalam ekonomi, pada prinsipnya pertukaran diasumsikan bebas dan tidak ada paksaan (asalkan pasar beroperasi dalam kondisi persaingan sempurna).

Menurut sosiologi, tindakan ekonomi terjadi dalam konteks sosial. Jadi, fenomena ekonomi tidak dapat dijelaskan dalam hal motif individu dan kelangkaan sumber daya secara terpisah dari struktur sosial dan kebudayaan seperti kecenderungan ilmu ekonomi.
Sosiologi ekonomi didefenisikan sebagai studi tentang bagaimana cara orang atau masyarakat memenuhi kebutuhan hidup mereka terhadap jasa dan barang langka, dengan mengunakan pendekatan sosiologi (Damsar, 1997). Dari defenisi yang dijelaskan tersebut, sosiologi ekonomi berhubungan dengan dua hal yaitu:
Fenomena ekonomi yaitu gejala bagaimana orang atau masyarakat memenuhi kebutuhan hidup mereka terhadap jasa dan barang langka. Cara yang dimaksud di sini berkaitan dengan semua aktivitas orang dan masyarakat yang berhubungan dengan produksi, distribusi dan komsumsi barang dan jasa yang langka. Secara lebih terperinci, Swedberg (1987:5) mengusulkan hal-hal yang termasuk dalam fenomena ekonomi

Bidang kajian antara sosiologi dan ekonomi telah lama menjadi agenda pembicaraan ilmiah antara para sosiolog dan ekonom.  Dari pihak sosiologi Max Weber  juga dikenal sebagai ekonom, telah memberikan garis batasnya dengan menekankan bahwa sosiologi ekonomi memperhatikan tindakan ekonomi sejauh ia mempunyai dimensi sosial dan selalu melibatkan makna serta berhubungan dengn kekuasaan.
Sedangkan dari pihak ekonom Joseph Schumpeter juga dipandang sebagai sosiolog, membuat pembagian kerja di antara kedua bidang ilmu tersebut dengan memberikan batasan bahwa sosiolog ekonomi berkaitan dengan konteks institusional dari ekonomi, sedangkan ekonomi berkaitan dengan ekonomi itu sendiri.

2.6. Sosiologi Ekonomi Dewasa Ini
Perekembangan sosiologi ekonomi dewasa ini tidak terlepas dari lebat lama antara sosiolog dan ekonom tentang pendekatan terhadap masyarakat dan ekonomi. Debat teresebut berlangsung sepanjang dekade 1950-an, 1960-an dan 1970-an yang ditandai dengan perluasan model-model ekonomi terhadap masalah-masalah yang berhubungan dengan ilmu politik, sejarah, hukumdan demografi. Sekitar pertengahan 1970-an istilah ‘imperealisme ekonomi’ dikenakan pada ekonom dan sosiolog yang melakukan perluasan dan penggunaan model-model ekonomi pada analisis sosial dan masalah sosial.
Konsekuensi logis dari perkembangan ini adalah munculnya pembagian kerja baru antara sosiolog dan ekonomi. Yang pada akhirnya memberi dampak terhadap perkembangan pemikiran yang muncul pada saat ini dalam memahami hubungan antara ekonomi dan masyarakat. Adapun aliran pemikiran tersebut adalah sebagai berikut:
2.6.1. Sosiologi pilihan rasional
Aliran pemikiran ini dimotori oleh ekonom seperti Hirschaman yang menulis tentang Exit, Voice, and Loyalty: Responden to Decline in Firm, Organization, and State (1970); Arrow tentang The Limit of Organization; Becker tentang The Economics of Discrimination (1957) dan Downs tentang; An Economic Theory of Democracy. Ide dasar dari aliran ini adalah memasukkan konsepsi pilihan rasional dan individualisme metodologis ke dalam sosiologi.
Contoh:
Pilihan rasional dalam memenuhi kebutuhan hidup individu. Itu didasari dari kebutuhan primer, kemudian sekunder dan setelah pemenuhan kebutuhan kudua-duanya ini kemudian menuju pemenuhan kebutuhan tersier. Realita yang bisa kita lihat bahwa pilihan rasional merupakan salah satu alasan individu untuk lebih selektif dan penuh pertimbangan sehingga pemenuhan kebutuhan didasari oleh kemampuan dan jenjang kebutuhan. Misalnya, berbelanja di pasar. Penuh dengan pilihan dan kita menyesuaikan pilihan tersebut, sebelum memilih barang yang ingin kita beli.

2.6.2. Sosio-Ekonomi
Teoritisi sosio-ekonomi memperingatkan bahwa pendekatan neo-klasik tidak cukup memecahkan masalah ekonomi. Oleh karena itu, perlu menggunakan perspektif yang lebih luas, yang mencakup penggunaan sosiologi, psikologi, ilmu politik dan ilmu sosial lainnya.
2.6.3. PSA-Ekonomi
Ide dasarnya adalah dengan menggunakan penemuan-penemuan dari psikologi, sosiologi dan antropologi secara langsung ke dalam model-model ekonomi, maka banyak masalah yang selama ini membingungkan para ekonom mungkin dapat dipecahkan.
2.6.4. Biaya Transaksi Ekonomi
Aliran pemikiran ini muncul ketika Oliver Williamson mempublikasikan karya-karyanya terutama tentang Market and Hierarchies (1957). Ide dasarnya adalah bahwa masalah-masalah yang terjadi pada titik simpul antara ekonomi, hukum dan organisasi dapat dipecahkan dengan asumsi bahwa institusi-institusi tersebut cenderung kepada kondisi-kondisi yang secara efisien mengurangi biaya transaksi.
2.6.5. Sosiologi Ekonomi Baru
Ide dasar dalam aliran ini adalah merujuk pada proposisi utama yang diajukan oleh Swedberg dan Granovetter (1992:6-9): (1)Tindakan ekonomi adalah suatu bentuk dari tindakan sosial (2) Tindakan ekonomi disituasikan secara sosial (3) Institusi-institusi ekonomi dikontruksi secara sosial
Perkembangan sosiologi ekonomi ini bisa dilihat dari pilihan rasional sampai kepada sosiologi ekonomi baru atau New Economy Sociology (NES) merupakan perkembangan yang sangat signifikan untuk menjadikan sebuah sosiologi ekonomi bisa memiliki kekuatan yang lebih dalam lagi dan perlunya masukan dari bidang ilmu lainnya. Artinya sosiologi tidak bisa memecahkan masalahnya sendiri, demikian juga ekonomi tidak bisa memecahkan masalahnya sendiri. Arti singkatnya adalah baik sosiologi dan ekonomi membutuhkan kajian bidang ilmu lain untuk penyelesaiaan masalah yang lain.

















BAB III
KESIMPULAN

            Dari berbagai defenisi sosiologi dapat dilihat bahwa walaupun terdapat berbagai defenisi yang berbeda satu dengan yang lain akan tetapi dari pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan yaitu sosiologi ilmu pengetahuan yang mempelajari; manusia yang hidup dalam kelompok yang disebut masyarakat, pola-pola hubungan antara manusia baik secara individu maupun secara kelompok, hubungan manusia dengan lembaga-lembaga sosial, seperti norma-norma dan kaidah-kaidah sosial dan pola kehidupan manusia dan kaitannya dengan lingkungannya. Seain itu subtansi yang menjadi batasan sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yaitu mempelajari hubungan antara manusia satu sama dengan yang lainnya dan ilmu yang berobjek pada pola-pola hubungan antarmanusia.
      Ekonomi jika dilihat dari terminologi katanya berasal dari bahasa Inggris yaitu economy. Sementara kata economy berasal dari bahasa Yunani, yaitu oikonomike yang berarti pengelolaan rumahtangga. Ekonomi sebagai pengelolaan rumahtangga adalah suatu usaha dalam pembuatan keputusan dan pelaksanaannya yang berhubungan dengan pengalokasian sumber daya rumah tangga yang terbatas di antara berbagai anggotanya, dengan mempertimbangkan kemampuan, usaha dan keinginan masing-masing. Ekonomi merupakan suatu usaha dalam pembuatan keputusan dan pelaksanaannya yang berhubungan dengan pengalokasian sumberdaya masyarakat yang terbatas di antara berbagai anggotanya dengan mempertimbangkan kemampuan, usaha, dan keinginan masing-masing.
Sosiologi ekonomi dapat didefenisikan sebagai sebuah kajian yang mempelajari hubungan antara masyarakat, yang di dalamnya terjadi interaksi sosial dan ekonomi dalam hal ini dapat dilihat bagaimana masyarakat mempengaruhi ekonomi dan sebaliknya bagaimana ekonomi mempengaruhi masyarakat. Selain itu sosiologi ekonomi juga berbicara tentang konsep-konsep, variabel-variabel dan teori-teori serta metode yang digunakan dalam sosiologi untuk memahami kenyataan sosial yang termasuk kompleksitas aktivitas yang berkaitan dengan eknomi seperti produksi, komsumsi, dan distribusi. Ada banyak teori-teori, konsep dan metode-metode dalam sosiologi, seperti teori konflik, teori struktural fungsional, teori interaksionisme simbol, dan lain-lain. Sedangkan konsep-konsep yang ada pada Sosiologi yang berkaitan dengan ekonomi seperti stratifikasi sosial, tindakan rasional, etika protestan dan spirit kapitalisme, dan lain-lain.
Perkembangan sosiologi ekonomi dewasa. Konsekuensi logis dari perkembangan ini adalah munculnya pembagian kerja baru antara sosiolog dan ekonomi. Yang pada akhirnya memberi dampak terhadap perkembangan pemikiran yang muncul pada saat ini dalam memahami hubungan antara ekonomi dan masyarakat. Adapun aliran pemikiran tersebut adalah sebagai berikuta: Sosiologi pilihan rasional, Sosio-Ekonomi, PSA-Ekonomi, Biaya Transaksi Ekonomi dan, Sosiologi Ekonomi Baru.




















DAFTAR PUSTAKA
Damsar. 2009. Pengantar Sosiologi Ekonomi. Jakarta. Kencana Prenada Media Group.
Damsar. 1997. Sosiologi Ekonomi. Jakarta. PT RajaGrafindo Persada.
Suyanto, Bagong. 2013. Sosiologi Ekonomi: Kapitalisme dan Komsumsi di Era Masyarakat Post-Modernisme. Jakarta. Kencana Prenada Media Group.
Giddens, Anthony.1986. Kapitalisme dan Teori Sosial Modern: Suatu Analisis Karya Tulis Marx, Durkheim dan Max Weber. Jakarta. Penerbit Universitas Indonesia (UI-PRESS).
Setiadi, Elly. Kolip, Usman. 2011. Pengantar Sosiologi: Pemahaman Fakta dan Gejala Permasalahan Sosial: Teori, Aplikasi dan Pemecahannya. Jakarta. Kencana Prenada Media Group.
Turner. S. Bryan, dkk. 2010. Kamus Sosiologi. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.

Tags :

bonarsitumorang

  • Bonar Situmorang
  • Medan
  • Jakarta Selatan
  • bonarsos@gmail.com
  • +62853-7028-9213

1 Reviews:

bagus informasinya

Reply