September 23, 2016

Defences (Pertahanan) dalam Ilmu Psikologi



            Konseptulisasi mengenai pertahanan diri sendiri merupakan sumbangan paling berharga yang telah diberikan oleh Sigmund Freud dana aliran psikoanalisis (analisis-jiwa) bagi psikologi alias ilmu jiwa. Par ahli jiwa modern, termasuk mereka yang tidak menganut aliran Freud, mengartikan mekanisme pertahanan internal  dalam diri seseorang secara lebih luas sebagai cara mengatasi masalah, yang secara otomatis memungkinkan individu yang bersangkutan untuk memperkecil perubahan internal atau eksternal yang datang mendadak untuk menyelesaikan masalah kejiwaan sendiri (konflik psikologis).


            Pertahanan tidak dibentuk secara sadar melainkan  cenderung muncul dengan sendirinya, dan ini kontras dengan apa yang disebut sebagai startegis menghadapi sesuatu. Bukti-bukti yang terkumpul menunjukkan bahwa perbedaan mekanisme pertahanan yang dibentuk oleh individ dengan gaya dalam menyelesaikan masalah secara otomatis merupakan salah satu pertimbangan utnuk memahami perbedaan respon terhadap stress/tekanan mental. Sebagai contoh, ada sementara orang yang menghadap stress dengan sikap tenang, rasional, sementara orang lain justru ketakutan atau menarik diri ke dalam dunia khayal. Perbedaan tanggapan tersebut sebetulnya merupakan perbedaan mekanisme pertahanan.

Sigmund Freud berpendapat penyakit kejiwaan lebih cenderung merupakan akibat dari kekecewaan, atau emosi, daripada ide-ide yang mengejutkan. Freud melihat mekanisme pertahan diri dapat mengakibatkan kekacauan atau perubahan ide tertentu melalui proses yang disebut disosiasi (pemisahan), represi (penekanan) atau isolasi (penekanan). Selanjutnya akibat yang muncul akan dapat ditanggulangi melalui proses yang disebut pengganian, proyeksi dan sublimasi (penguapan).

 Freud mengindikasikan empat sifat mekanisme pertahanan: cenderung mendukung insting dan afektif, tidak disadari dinamis dan tidak dapat dibalik. Sekalipun hal-hal ini merupakan ciri  dari sindron kejiwaan utama, pada kebanyakan orang, semua mekanisme itu mencerminkan proses penyesuaian.

 Penggunaan mekanisme pertahanan biasanya mengubah persepsi individu mengenai kenyataan di dalam dan di luar dirinya. Kesadaran akan keinginan instingtif seringkali dikurangi, sedangkan keinginan pilihan yang terkadang bertentangan malahan disertakan. Ketika mekanisme pertahanan diri berkait dengan proses psikologi yang intgratif dan dinamis, manusa lebih analogis terhadap seekor binatang yang berpura-pura mati dalam mengahadapi bahaya daripada kedipan mata yang mengandung arti atau taktik nyata dari manipulasi antar-personal.

            Beberapa kesimpulan mengenai tujuan mekanisme pertahanan ini adalah:
  1. Menjaga sikap dalam batas-batas yang memungkinkan guna menghadapi perubahan tiba-tiba dalam kehidupan emosi manusia (misalnya sehubungan dengan kematian seseorang yang disayangi),
  2. Mengembalikan keseimbangan psikologis dengan menunda atau mengalihkan kenaikan tiba-tiba dorongan bioogis seksual atau agresi selama masa dewasa,
  3. Menciptakan penundaan guna menguasai perubahan kritis dalam hidup,
  4. Menangani konflik yang tidak terselesaikan dengan seseorang yang penting yang masih hidup atau yang sudah meninggal.
Refrensi:
Freud, S. (1964) (1894) The Neuro-Psychoses of Defence, Standart Edition of the Complete Psychological Work of Sigmund Freud, ed. J. Strachey, Vo. London.

Tags :

bonarsitumorang

  • Bonar Situmorang
  • Medan
  • Jakarta Selatan
  • bonarsos@gmail.com
  • +62853-7028-9213