Juni 12, 2018

BENARKAH KECERDASAN DITURUNKAN DARI ORANGTUA?



          Menurut Anda apakah seorang yang dilahirkan dari pasangan orang tua yang memiliki pendidikan tinggi, sebut saja profesor sudah pasti akan memiliki anak yang cerdas. Atau sebaliknya seorang yang lahir dari kedua orang tua yang bukan dari golongan akademik, memiliki anak yang "bodoh". Mungkin jawaban sementara kita dengan cepat memberikan pernyataan bahwa tidak ada hubungannya. 
             Mengapa ada orang yang berpandangan bahwa ada hubungan antara pendidikan orang tua terhadap kemampuan dan kecerdasan anak. Tentu ada pandangan ini ada yang mendasari walaupun memang ada cara dan penelitian yang membuktikan tidak ada hubungan antara kemampuan dan kecerdasan anak terhadap pendidikan orang tua yang dimiliki.
Jadi bagaimana sejarah munculnya keluarga yang dianggap ras unggul, pintar, dan berpendidikan tinggi. Mitos ras unggul mungkin bisa kita patahkan dengan mudah di zaman ini. Tetapi, bagaimana dengan perbedaan di tingkat individu? Richard Lewontin maupun Jared Diamond tidak membantah adanya perbedaan kecerdasan di tingkat individu. Francis Galton, seorang multi-talenta pada zaman Victoria Inggris yang juga merupakan sepupu Charles Darwin, adalah tokoh yang membuat banyak orang percaya bahwa kecerdasan adalah hasil keturunan.
Perkembangan Anak

            Dalam buku The Lunar Men, Jenny Uglow menceritakan sekelompok pria cerdas di Inggris yang berkumpul setiap bulan purnama dan melakukan ritul diskusi tentang topik hangat saat itu. Para anggota kelompok itu adalah Jamess Watt (penemu mesin uap), Josiah Wedgwood (pembuat tembikar terkenal), Joseph Priestley (pendeta yang juga penemu gas oksigen) dan James Keir (wirswasta yang terkenal pada bidang gelas dan kimia). Di dalam kelompok elite tersebut berkumpul juga Erasmus Darwin dan Samuel Galton yang menjadi pemimpin mereka. Erasmus Darwin terkenal sebagai seorang dokter, penemu, dan ahli ilmu alam. Pertemuan tersebut dimulai dari siang sampai malam hari. Mereka berdisukusi tentang apa saja. Anak dan istri mereka juga berkumpul sama. Salah seorang anak laki-laki Samuel Galton kemudian menikahi salah satu putri Erasmus Darwin. Dari pernikahan tersebut, lahirlah Farncis Galton.
            Francis Galton pada awalnya percaya setiap manusia dilahirkan dengan potensi yang sama. Tetapi semuanya berubah ketiak dia membaca puisinya, Charles Darwin, tentang evolusi. Galton mengajukan hipotesis bila karakteristik fisik seperti tinggi badan dan warna kulit diturunkan. Perbedaan mental akan menentukan keberhasilan individu bersangkuta. Untuk menguji hipotesisnya. Galton mengamati halaman, Galton mengamati halaman obituari di surat kabar Times. Halaman demi halaman dikumpulkannya dengan cermat dan Galton menemukan mereka yang berprestasi tinggal kebanyakan memiliki hubungan keluarga dengan mereka yang berprestasi walaupun tidak harus di bidang yang sama. Dengan kata lain, prestasi melahirkan prestasi. Dari sana dia menyimpulkan, keahlian atau keunggulan diturukan dari orangtua ke anak-anaknya.
            Berbekal bukti kuat tersebut, Galton kemudian menulis sebuah buku yang sering dibaca sampai saat ini, Hereditary Genius. Tulisanya yang persuasif dengan bukti-bukti yang disusun secara ilmiah dan metodi berhasil mempengaruhi banyak orang. Selain itu, ilmu pengetahuan pada zaman itu belum berhasil melahirkan teori lternatif dengan argumen yang sama kuatnya. Maka, pengaruh Galton dengan cepat tersebar dan menancapkan kukunya: genius melahirkan genius kebalikanya, pecundang melahirkan pecundang. Sekali Anda mendapatkan gen dari orang tua Anda, tidak banyak lagi yang bisa dilakukan. Gen itulah yang akan mendikte kualitas hidup Anda seumur hidup.
            Galton kemudian juga mempelopori lahirnya ilmu eugentik, sebuah studi sistematis untuk mengembangkan bibit-bibit unggul pada manusia, dengan tujuan meningkatkan kualitas spesies manusia. Mereka yang percaya pada manfaat praktis eugenetik terbagi menjadi dua buku.
            Kubu pertama adalah penganut eugenetik positif, yang percaya pada kualitas spesies manusia bisa ditingkatkan dengan memberikan intensif dan kesempatan lebih besar bagi mereka yang memiliki kualitas unggul untuk memiliki keturunan sebanyaknya, sementara di saat bersamaan menerapkan kebijakan mengurangi penduduk yang memiliki bibit kurang unggul. Francis Galton berada pada kubu ini.
            Kubu kedua adalah penganut eugentika negatif, yang percaya bahwa mereka yang unggul harus dibiakkan dan mereka yang memiliki gen buruk harus dimusnahkan dengan segala cara. Adolf Hitler berada. Meski elihat eugentika positif lebih manusiawi, patut dicatat bahwa Adolf Hitler justru mendapatkan idenya dari geraka eugenetika positif yang dijalankan Amerika pada awal 1990-an. Sampai di sini kita bisa melihat betapa berbahayanya pengaruh pemikiran Francis Galton tersebut.
            Tetapi apakah kita bisa menyalahkan Galton sepenuhnya atas pandangan tersebut? Di masa itu, ilmu genetika dan neurologi belum berkembang sejauh ini. Untuk mempelajari otak, satu-satunya cara adalah dengan membuka batok kepala. Karena teknologi bedah otak belum berkembang di jaman Galton, satu-satunya cara untuk mengenal dan mempeajari otak adalah dengan cara melalui mayat. Dengan keterbatasan tersebut, Galton hanya bisa menarik kesimpulan dari efek yang tampak di permukaan. Bahkan studi-studi kini menemukan adanya pengaruh keturunan dalam hal kecerdasan. Hanya saja pengaruhya tidak sederhana yang disimpulkan oleh Galton. Orangtua selain memengaruhi anak melalui gen, juga bisa memengaruhi perkembangan anak melalui status sosial, pendidikan,, dan interaksi sehari-hari. Hal itulah yang terlewatkan oleh Galton karena kecerdasan teknologi dan pengetahuan. Tetapi sekarang kita hidup pada zaman yang berbeda sama sekali. Gen sudah berhasil dipetakan dan kita bisa mempelajari otak melalui mesin pemindai tanpa harus membedah kepala. Kemajuan ilmu berhasil menyingkap bnayak rahasia kecerdasan yang tak mungkin Galton ketahui.
            Sebenarya Galton tidak sepenuhya mendewakan kecerdasan. Dia berargumen bahwa kecerdasan yang diturunkan adalah berupa potensi. Untuk mewujudkan potensi tersebut dibutuhkan dua unsur lain, yaitu kerja keras dan semangat. Dia menyadari pentingnya latihan fisik untuk meningkatkan kinerja motorik dan hal sama berlaku untuk kemampuan mental yang bisa diasah melalui pendidikan dan belajar. Tanpa latihan, potensi yang ada tersebut akan sia-sia. Sayangnya, kedua bagian terakhir itu sering diabaikan para pengikutnya, termasuk Lewis Terman. 





Tags :

bonarsitumorang

  • Bonar Situmorang
  • Medan
  • Jakarta Selatan
  • bonarsos@gmail.com
  • +62853-7028-9213