Agustus 14, 2018

CARA BARU PEDULI TERHADAP LINGKUNGAN DENGAN PEMAHAMAN ESENSI TEKNOLOGI


TINJAUAN PUSATAKA


2.1. Lingkungan

Lingkungan mempunyai arti amat penting bagi manusia. Dengan lingkungan fisik manusia dapat menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan materilnya, dengan lingkungan biologi manusia dapat memenuhi kebutuhan jasmaninya, dan dengan lingkungan sosialnya manusia dapat memenuhi kebutuhan spiritualnya. Bagi manusia, lingkungan dipandang sebagai tempat beradanya manusia dalam melakukan segala aktivitas kesehariannya, lingkungan tempat beradanya manusia menentukan seperti apa bentukan manusia yang ada di dalamnya.
Jika dikaitkan dengan harapan atas terciptanya manusia, semakin baik lingkungan tempat beradanya manusia, maka semakin besar kemungkinan manusia yang ada di dalamnya untuk berperilaku baik, kondisi serupa dapat terjadi pada ilustrasi sebaliknya. Lingkungan memiliki arti yang sangat penting atas eksistensi manusia sebagai makhluk yang memiliki multi potensi.
Kerusakan lingkungan yang ada dan sering kita dengar di telinga disebut juga dengan degradasi lingkunga. Kerusakan lingkungan hidup yang ditimbulkan oleh kegiatan manusia mendorong terjadinya tanah longsor, banjir, pencemaran lingkungan, serta kecelakaan industri dan kimia. Fenomena ini mengakibatkan banyak kerugian seperti kerusakan fisik, korban jiwa, timbulnya penyakit, perubahan iklim, dan kelaparan. Dalam menilik permasalahan lingkungan ini, perlu dibuat sebuah perubahan demi tercapainya lingkungan yang lebih baik ke de pannya.
Kewajiban manusia sebagai subjek moral terhadap alam. Kewajiban untuk tidak melakukan sesuatu yang merugikan alam dengan segala lainnya. Lingkungan bersifat kolektif yang terdiri dari manusia, binatang, dan tumbuhan yang juga mencakup aspek fisik seperti air, tanah, bebatuan dan lainnya. Semua itu bukan hak pribadi, dipergunakan bukan hanya untuk kesenangan pribadi. Lingkungan sebagai tempat tinggal bersama dihargai sebagai entitas yang memiliki nilai instrinsik.
Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan atau kerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum. Daya dukung lingungan hidup adalah kemampuan lingkungan untuk mendukung perikehidupan manusia, mahkluk hidup lain, dan keseimbangan antara keduanya.  
                                                                                        
2.2. Tanggung jawab Kita Terhadap Lingkungan
            Lingkungan yang kita pahami bukan hanya penjelasan di atas. Faktanya adalah ada dua jenis lingkungan kehidupan yang harus kita ketahui yaitu, lebih intuitif, yakni lingkungan alam dan kurang intuitif adalah kesadaran. Karena manusia adalah makhluk berkebutuhan jasmani, hidup dalam ruang dan waktu, memanfaatkan sumber daya alam dan sebagainya, maka alam adalah tempat kehidupan sosial yang berlangsung. Orang tak dapat hidup di luar alam. Sebagai manusia, kita sudah memiliki pikiran, sombol-simbol, merumuskan keyakinan, dan sebagainya.
            Tanggung jawab sebagai penghuni alam dan memiliki lingkungan ide tersendiri. Manusia harus sadar dan memahami bahwa lingkungan harus dijaga dan dipergunakan secukupnya saja.

2.3. Teknologi dalam Perkembangan Manusia
Secara harafiah, teknologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu “technologia” yang berarti pembahasan sistematik mengenai seluruh seni dan kerajinan. Istilah tersebut memiliki akar kata “techne” dan “logos” yang berarti perkataan atau pembicaraan, sedangkan kata “techne” dalam bahasa Yunani Kuno berarti seni. Teknologi dapat pula dimaknai sebagai “pengetahuan mengenai bagaimana membuat sesuatu (know-how making things) atau “bagaimana melakukan sesuatu” (know-how of doing thing). Berangakat dari pengertian ini, teknologi buka hanya benda nyata, bukan hanya elektronik yang menjadi alat melakukan sesuatu. Namun, teknologi adalah berbuat sesuatu. Ilmu sosial sebagai pemerhati lingkungan, layak dan sepantasnya memberikan pandangan yang serius terhadap lingkungan dan memulainya dari sekarang.

2.4. Kenyataan: Logos Menjadi Teknologos
            Teknologi sejak dari filsafat Yunani klasik, kebudayaan dan peradaban barat dituntun oleh nalar-akal budi yang mencari jawaban dari berbagai persoalan yang mengitari hidup manusia. Seluruh pencarian dan permenungan filosofis klasik bergulat dengan persoalan mengenai prinsip, penyebab, dan alasan dari segala yang ada. Nalar ingin menemukan sesuatu yang kokoh, tetap, dan absolut di balik semua benda yang selalu berubah.
            Dalam masa teknologis, ada benang merah yang mengaitkan dominasi perangkat teknis atas alam raya dan nasib manusia. Alam yang diolah menjadi produk yang akan menguasai, mengontrol, dan menjadi ukuran menilai kegagalan maupun kesuksesan, peran, dan fungsi, martabat dan jati diri individu dalam hidup bersama. Penemuan sebab, prinsip, dan hukum yang mendasari dan mengatur fenomena tidak hanya berhenti sebagai informasi atau materi studi sekolah dan universitas dan bukan pula sekedar pengetahuan yang membeku dalam rumusan teori, buku, dan perpustakaan. Beraneka macam penemuan tentang sebab dan hukum alam terus dipelajari, dikembangkan, diuji coba di laboratorium. Menggerakkan dan mengatur benda alam dipindahkan dan diwujudkan menjadi sebab, prinsip, dan hukum mesin. Era baru telah dimulai dan logos menjadi teknologos.
            Era teknologi merupkan satu keharusan sejarah dan mengungkapkan buah karya dari perkembangan dan perwujudan daya nalar. Selain itu, teknologi merupakan akibat langsung dari kewajiban manusia untuk bertahan hidup di tengah kerapuhan menyesuaikan diri secara langsung dengan alam. Asal usul teknologi dengan bernas dan padat “kebutuhan merupakan ibu dari segala penemuan”. Di mana pun dan sampai kapan pun, manusia senantiasa memerlukan sarana dan prasarana yang dapat mempermudah dan mendukungnya, guna memenuhi semua kebutuhan hidupnya, menjinakkan keliaran dan keganasan alam. Teknologi sudah terukir dalam pikiran manusia sebagai makhluk yang berkebutuhan. Jadi pada hakikatnya perubahan dinamis dari skema ontologos kepada skema logos kepasa skema logos ke technologos
2.5. Penggunaan Teknologi
Pemanfaatan teknologi secara gencar di segala bidang kehidupan merupakan realitas harian. Dewasa ini, hampir tidak ada lagi daerah yang terturup atau menutup diri dari pengaruh teknologi. Penduduk yang hidup di belantara Amazon, di tengah rimba Kalimantan dan Papua maupun di padang gurun Sahara dan di pedalaman Afrika ditemani radio dan televisi, telepon biasa dan seluler, mobil dan aneka perangkat teknologi yang lain. Siang dan malam mereka menikmati siaran radio dan televisi yang ada, berkomunikasi dengan telepon seluler dan internet serta mengambil alih nilai yang ditawarkan oleh media komunikasi tanpa banyak tanya. Pikiran teknologi berhasil menyebar luas di seantero dunia.
            Dampak langsung yang timbul dari pikiran teknologi adalah pembentukan realitas teknologi dalam masyarakat. Teknologi menjadi bagian integral dari hidup warga dan berperan sebagai ukuran penilaian dalam menjalin hubungan, pergaulan, dan pekerjaan. Kelengketan dengan teknologi menciptakan sikap tergantung, ketergantungan yang dicuptakan secara sengaja. Ibarat seorang yang mulai mengkomsumsi narkoba, makin lama semakin kecanduan, demikian pemakai dan penikmat teknologi. Tanpa semua perangkat teknis, hidup individu seakan tanpa daya dan makna. Teknologi menguasai manusia secara mutlak dan menyeluruh.
            Persoalan yang hakiki yang muncul adalah ketergantungan atau kecanduan terhadap teknologi itu mengungkapkan apa? Realitas teknologis membawa serta prinsip, hukum, dan ukuran nilai yang berciri teknis. Dari sekian prinsip, hukum, dan ukuran nilai teknologi yang dipaksakan adalah otomatisasi dan mekanisasi.
            Otomatisasi merujuk pada kerja mesin yang bergerak sendiri tanpa campur tangan manusia (otomatis). Otomatisasi merupakan penerapan prinsip kerja mesin yang berlangsung mandiri ke dalam kesadaran manusia supaya menghasilkan tindak-tanduk dan aktivitas yang spontan atau mengalir begitu saja.
            Secara sederhana, mekanisasi mengacu pada hukum gerak dari berbagai elemen yang menyusun benda atau organisasi sebagai keseluruhan (mekanika) ruang dan waktu. Mekanisasi merupakan pengalihan pola gerak yang menghubungkan bagian yang satu dengan bagian yang lain dalam benda atau organisme secara seirama dan serentak ke dalam pikiran individu yang menghasilkan rasa ketergantungan pada sistem sebagai keseluruhan.
            Teknologi yang kita kenal selama ini esensinya adalah untuk mempermudah pekerjaan manusia. Tidak lebih dari itu, teknologi memberikan janji manis terhadap manusia diantaranya menjanjikan perubahan, menjanjikan kemajuan, menjanjikan kemudahan, produktivitas tinggi. Janji tersebut bisa membuat manusia berubah dan berupaya dalam menjaga lingkungan.

METODE PENELITIAN
3.1.Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Menurut Creswell (dalam Pambudi, 2014), pendekatan kualitatif adalah pendekatan untuk mengeksplorasi dan memahami makna yang dianggap berasal dari masalah sosial atau kemanusiaan oleh sejumlah individu atau sekelompok orang. Menurut Somantri (dalam Mustofa, 2013), penelitian kualitatif sangat memperhatikan proses, peristiwa, dan otentisitas. Nilai peneliti bersifat eksplisit dalam situasi yang terbatas dan melibatkan subyek dengan jumlah yang relatif sedikit. Peneliti kualitatif biasanya terlibat dalam interaksi dengan realitas yang ditelitinya. Peneliti kualitatif menjalin interaksi secara intens dengan obyek penelitiannya.
Peneliti memilih pendekatan deskriptif karena penelitian yang memiliki tujuan untuk menggambarkan secara tepat sifat-sifat suatu individu, keadaan, gejala atau kelompok tertentu di dalam masyarakat. Peneliti berusaha menggali, mengidentifikasi, menjelaskan, meringkas berbagai kondisi yang menyangkut pemanfaatan modal sosial dalam pengembangan pariwisata di Kota Parapat dan Kabupaten Samosir.

Penelitian ini akan dilakukan di Pangururan dan Tomok Kabupaten Samosir dan  Kota Parapat karena kedua daerah tersebut merupakan daerah destinasi wisata di Provinsi Sumatera Utara. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 13 November 2015.


3.3.Unit Analisis dan Informan
            Unit analisis adalah hal-hal yang diperhitungkan menjadi subjek penelitian keseluruhan unsur yang menjadi fokus penelitian (Bungin, 2007). Unit analisis dalam penelitian adalah satuan tertentu yang diperhitungkan sebagai subjek penelitian. Dalam pengertian yang lain, unit analisis diartikan sebagai sesuatu yang berkaitan dengan fokus atau komponen yang diteliti. Unit analisis ini dilakukan oleh peneliti agar validitas dan reabilitas penelitian dapat terjaga. Karena terkadang peneliti masih bingung membedakan antara objek penelitian, subjek penelitian dan sumber data. Unit analisis suatu penelitian dapat berupa individu, kelompok, organisasi, benda, wilayah dan waktu tertentu sesuai dengan pokus permasalahannya. Dalam penelitian ini, yang menjadi unit analisis penelitian adalah masyarakat Kota Parapat dan Kabupaten Samosir yang berprofesi sebagai pelaku pariwisata (yang bekerja pada sektor pariwisata).
Informan merupakan subjek yang memahami permasalahan penelitian sebagai pelaku maupun orang yang memahami permasalahan penelitian (Bungin, 2007). Dalam pemilihan informan peneliti menggunakan teknik accidental sampling atau teknik sampel kebetulan untuk menentukan subjek penelitian. Teknik accidental sampling digunakan jika dalam pemilihan informan peneliti menggunakan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Adapun kriteria yang menjadi informan dalam penelitian adalah:
1.      Pelaku wisata di Kota Parapat dan Kabupaten Samosir seperti pedagang, pemilik tempat penginapan atau pemilik hotel/wisma, pemilik rumah makan/warung/cafe/restoran, pengusaha souvenir, tokoh masyarakat, pihak dinas pariwisata.
2.      Pengunjung atau wisatawan yang dijumpai pada saat penelitian berlangsung.
Dalam penelitian ini, peneliti tidak menentukan informan kunci karena dinamika dan proses penelitian di lapangan tidak memungkinkan untuk hal tersebut. Namun sebelum melakukan penelitian, peneliti terlebih dahulu membuat daftar informan berdasarkan karakteristik sosial seperti status dan peran dalam bidang pariwisata di lokasi penelitian. Asumsi dasar penentuan informan ialah bahwa informan tersebut dianggap mempunyai kapasitas dan pengetahuan yang cukup memadai untuk menjawab pertanyaan permasalahan penelitian. Pelaku wisata seperti pedagang souvenir, pemilik hotel, pemilik rumah makan, dan lain-lain dipilih karena peneliti berasumsi bahwa informan tersebut dianggap dapat menjawab permasalahan penelitian karena sehari-hari mereka berperan sebagai pelaku wisata (pihak yang berkepentingan langsung dengan pariwisata). Adapun tokoh masyarakat dipilih dengan tujuan untuk mengetahui apa saja modal sosial yang terdapat dalam masyarakat. Sedangkan pengunjung atau wisatawan berfungsi sebagai pembanding terhadap informasi yang diberikan oleh informan dalam hal ini pelaku wisata.


3.4.Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang didapat secara langsung dari sumber-sumber pertama baik dari individu maupun dari kelompok. Dalam penelitian ini, data atau informasi didapatkan langsung dari sumber primer (sumber utama) penelitian yakni stakeholder. Adapun data primer yang dikumpulkan yakni terkait dengan pemanfaatan modal sosial dalam pengembangan pariwisata di Kota Parapat dan Kabupaten Samosir. Sedangkan data sekunder ialah data yang diperoleh dari sumber lain di luar subjek penelitian. Adapun data sekunder yang dikumpulkan oleh peneliti ialah tentang gambaran lokasi penelitian yang bersumber dari internet (website pemerintah Kabupaten Samosir).

a.      Wawancara
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara semi terstruktur dimana daftar pertanyaan telah dipersiapkan terlebih dahulu untuk mempermudah peneliti ketika sedang mewawancarai informan. Pertanyaan yang telah disusun tersebut berfungsi sebagai pedoman awal bagi peneliti untuk mewawancarai informan. Pada saat proses wawancara berlangsung di lapangan ternyata pertanyaan-pertanyaan tersebut berkembang dengan munculnya pertanyaan baru sebagai tanggapan peneliti atas jawaban yang diberikan informan. Pertanyaan tersebut berfungsi untuk menggali informasi yang lebih akurat sehingga data yang didapatkan berkualitas.
Wawancara dilakukan pada informan yang dianggap mempunyai kapasitas dalam memberikan informasi yang dibutuhkan. Adapun yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah masyarakat yang bekerja pada sektor pariwisata di Kota Parapat dan Kabupaten Samosir seperti pedagang, pengelola hotel/penginapan, pengusaha, pemilik rumah makan/cafe, pegawai pariwisata, dan tokoh masyarakat sedangkan informan tambahan yakni wisatawan lokal maupun manca negara yang sedang berkunjung ke lokasi penelitian.

b.      Observasi
Selain wawancara, peneliti juga menggunakan teknik observasi untuk mendapatkan data yang lebih akurat. Observasi merupakan salah satu metode pengumpulan data dengan melakukan pengamatan pada aspek-aspek yang berkaitan dengan permasalahan penelitian baik berupa benda maupun aktifitas. Dimensi yang diobservasi dalam penelitian ini adalah interaksi antara pelaku wisata dengan wisatawan di lokasi wisata.

c.       Dokumentasi
Dokumentasi merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisis dokomen-dokumen baik dokumen tertulis, gambar maupun elektronik. Dokumen-dokumen yang dihimpun dipilih sesuai dengan tujuan dan fokus masalah. Metode dokumentasi digunakan untuk mendukung hasil wawancara dan observasi yang dilakukan. Adapun objek yang didokumentasikan ialah kegiatan pelaku wisata, peneliti, dan wisatawan serta beberapa objek wisata yang ada di lokasi penelitian seperti Patung Sigale-gale, makam kuno para Raja, pemandangan Danau Toba, dan lain-lain.
Teknis analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data kualitatif dengan beberapa tahapan seperti tergambar pada skema berikut :
Langkah-langkah analisis data yang gambar diatas dapat dijelaskan sebagai berikut:

a.      Pengumpulan data
Data-data yang diperoleh di lapangan dicatat atau direkam dalam bentuk naratif, yaitu uraian data yang diperoleh dari lapangan apa adanya tanpa adanya komentar peneliti yang berbentuk catatan kecil. Dari catatan deskriptif ini, kemudian dibuat catatan refleksi yaitu catatan yang berisi komentar, pendapat atau penafsiran peneliti atas fenomena yang ditemui di lapangan.


b.      Reduksi data
Reduksi data merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian, pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan lapangan. Reduksi data dilakukan terus menerus selama penelitian dilaksanakan. Reduksi data merupakan wujud analisis yang menajamkan, mengklarifikasikan, mengarahkan, membuang data yang tidak berkaitan dengan pokok persoalan. Selanjutnya dibuat ringkasan, pengkodean, penelusuran tema-tema, membuat catatan kecil yang dirasakan penting pada kejadian seketika yang dipandang penting berkaitan dengan pokok persoalan.

c.       Penyajian data
Pada tahapan ini disajikan data hasil temuan di lapangan dalam bentuk teks deskriptif naratif.
                                       
d.      Penarikan kesimpulan dan verifikasi
Penarikan kesimpulan dan verifikasi merupakan upaya memaknai data yang disajikan dengan mencermati pola-pola keteraturan, penjelasan, konfigurasi, dan hubungan sebab akibat. Dalam melakukan penarikan kesimpulan dan verifikasi selalu dilakukan peninjauan terhadap penyajian data dan catatan di lapangan melalui diskusi tim peneliti.





Tags :

bonarsitumorang

  • Bonar Situmorang
  • Medan
  • Jakarta Selatan
  • bonarsos@gmail.com
  • +62853-7028-9213