Agustus 10, 2018

Makalah Sosiologi: Doktrin Agama


BAB I
PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang

Seperti makhluk-makhluk lainnya, manusia adalah ciptaan Tuhan. Dimana manusia tersebut mempunyai dua fungsi yaitu individu dan sosial. Dalam fungsinya sebagai makhluk individu, manusia mempunyai hak untuk memenuhi kebutuhan pribadinya, misalnya pendidikan, kebahagiaan, dan sebagainya, sedangkan secara sosial manusia memerankan fungsinya sebagai makhluk sosial yang hidup dan berinteraksi dengan masyarakat.



Manusia mempunyai kecenderungan untuk mencari sesuatu yang mampu menjawab segala pertanyaan yang ada dibenaknya. Segala keingintahuan itu akan menjadikan manusia gelisah dan kemudian mencari pelampiasan dengan timbulnya tindakan irrasionalitas. Munculnya pemujaan terhadap benda-benda merupakan bukti adanya keingintahuan manusia yang diliputi oleh rasa takut terhadap sesuatu yang tidak diketahuinya. Rasa takut tersebut menjadikan manusia beragama.
Manusia diberi akal dan fikiran untuk bertindak sesuai dengan etika dan nilai-nilai moral yang berlaku sesuai dengan kehendaknya, lingkungan, dan ajaran agama yang dianutnya. Oleh karena itu, nilai-nilai memberikan arah dan makna bagi manusia dalam bertindak.
Dengan adanya agama, manusia diberi pemahaman terhadap adanya kepercayaan-kepercayaan yang akan membuka cakrawala berfikir oleh para pemeluknya sehingga pada akhirnya akan mempengaruhi tingkah lakunya pula.

1.2    Rumusan Masalah
Bagaimanakah doktrin-doktrin agama mempengaruhi pola berfikir dan pola berperilaku manusia (dalam perspektif Max Weber) ?

1.3    Tujuan
Untuk mengetahui doktrin-doktrin agama dalam mempengaruhi pola berfikir dan pola berperilaku manusia (dalam perspektif Max Weber).

BAB II
ISI

2.1   Istilah Dogma atau Doktrin Agama
Doktrin adalah kepercayaan yang dipegang oleh sebuah institusi. Doktrin agama berarti kepercayaan yang dipegang oleh sebuah agama.
Doktrin keagamaan, yang dipikirkan secara matang didasarkan pada bukti-bukti selain doktrin itu sendiri dan akhirnya kepada iman.  Doktrin banyak ditemukan dalam banyak agama, dimana mereka dianggap sebagai prinsip utama yag harus dijunjung oleh semua umat agama tersebut.
Istilah doktrin diberikan kepada ajaran-ajaran teologi yang dianggap telah terbukti baik, sedemikian rupa hingga usul batahan atau revisinya berarti bahwa orang itu tidak lagi menerima agama tersebut sebagai agamanya sendiri, atau ia mengalami keraguan-keraguan pribadi.
Lebih rinci, doktrin mampu diistilahkan sebagai suatu bentuk tindakan yang mengharuskan atau memaksakan bahwa suatu kasus harus diyakini dan dibenarkan seperti apa yang disampaikan.
Doktrin agama dalam perspektif sosiologi:
lebih menekankan pada unsur pengaruh yang ditimbulkan oleh doktrin-doktrin keagamaan dalam merekonstruksi perilaku sosial yang ada di masyarakat. Bagaimana dengan pemahaman dan kepercayaan-kepercayaan yang ditujukan kepada pemeluknya tersebut dapat mempengaruhi pola berfikir dan pola perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

2.2   Konsep Rasionalisasi Max Weber

Pada esensinya, sosiologi agama Weber bercirikan rasionalisasi yang progresif khas masyarakat Barat. Artinya:
Ø  Sistematisasi yang mungkin tumbuh dari ide-ide keagamaan dan konsep-konsep keagamaan.
Contoh: dulu di Eropa segala macam dewa untuk segala benda. Sistematisasi sekarang: monoteisme[1].
Ø  Pertumbuhan rasionalitas yang etis dan kemunduran yang progresif dari unsur-unsur magis.
Ø  Weber adalah seorang pemikir evolusionis, karena dia memberikan perhatian kepada hancurnya kebudayaan Eropa yang tradisional kemudian munculnya sains modern dan kapitalisme modern yang berhubungan dengan industri kemudian kepada makin tumbuhnya birokrasi dan kepada sentralisasi politik.
Ø  Weber menolak definisi agama. Dia mengatakan bahwa agama merupakan kepercayaan mengenai yang gaib dan agama merupakan kepercayaan universal karena terdapat disetiap masyarakat.

2.3    Doktrin-Doktrin Agama Dalam Hubungannya Dengan Perspekif  Max Weber

2.3.1        Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme

Weber mengadakan penelitian mengenai peranan agama dan mengenai pengaruh agama atas etika ekonomi. Weber melihat reformasi Protestan menyebabkan perusahaan ekonomi yang merupakan gejala unik didalam sejarah manusia. Dikatakan unik karena tenaga pendorongnya adalah karena jiwa pengabdian dan tanggung jawab atas pekerjaannya.
Menurutnya, pengikut aliran protestan mempunyai suatu etika kerja yang luar biasa, sehingga Weber mendalilkan adanya suatu hubungan antara etika Protestan dengan jiwa kapitalisme.

      Etika Protestan tumbuh subur di Eropa yang dikembangkan seseorang yang bernama Calvin. Penganut kaum protestan itu disebut sebagai Protestan Calvinisme[2] yang pada saat itu muncul ajaran yang menyatakan:
“ seseorang pada intinya sudah ditakdirkan untuk masuk surga atau neraka, untuk mengetahui apakah ia masuk surga atau neraka dapat diukur melalui keberhasilan kerjanya didunia.

Jika seseorang berhasil dalam kerjanya (sukses) maka hampir dapat dipastikan menjadi penghuni surga, namun kalau didunia selalu mengalami kegagalan maka dapat diperkirakan seseorang itu ditakdirkan untuk masuk neraka”.

Khas Protestan adalah:
Kecenderungan kepada pekerjaan sering kali merupakan panggilan (beruf = calling), yaitu pekerjaan itu merupakan tugas yang diciptakan Tuhan. Jadi, karena pekerjaan merupakan panggilan Tuhan, pekerjaan itu mesti dilaksanakan secara etis. Golongan Protestan terkenal sebagai pedagang yang jujur dalam transaksi mereka. Jujur merupakan kualitas yang tinggi.[3]

Weber tertarik dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada orang-orang yang menyetujuinya. Weber meramalkan bahwasannya dengan doktrin-doktrin yang mengatasnamakan Tuhan, pada akhirnya akan menimbulkan pola fikir dimana konsekuensinya dapat berupa diantaranya:
-          mereka berada di dalam aktivitas yang tiada henti-hentinya
-          dalam disiplin peribadi yang kuat
-          dalam meraih tujuan-tujuan mereka secara metodik
-          ditambah keyakinan bahwa mereka benar-benar termasuk diantara orang-
      orang yang dipilih Tuhan untuk diselamatkan.

Weber mendefinisikan semangat kapitalisme sebagai bentuk kebiasaan yang sangat mendukung pengejaran rasionalitas terhadap keuntungan ekonomi. Semangat seperti itu telah menjadi kodrat manusia-manusia rasional, artinya pengejaran bagi kepentingan-kepentingan pribadi diutamakan dari pada memikirkan kepentingan dan kebutuhan kolektif.


Namun, berbeda dengan protestan Puritanisme dan Lutheranisme:
-          Puritanisme[4]: mereka menganggap perasaan berpuas diri dianggap sebagai dosa besar, mereka adalah kelompok keagamaan yang memperjuangkan “kemurnian” doktrin (misalnya, kaum protestan ini menuntut agar kembali kepada ajaran alkitab saja, tanpa terlalu bermegah-megah. Tidak mempergunakan uang itu untuk berpuas diri.
-          Lutheranisme[5]: ajaran khasnya adalah bahwasannya keselamatan manusia hanya diperoleh karena imannya kepada karya anugerah Tuhan, bukan hasil usaha manusia, bukan hasil usaha pekerjaan manusia, sehingga jangan ada orang yang memegahkan diri.


2.3.2        Katholik (Menurut Weber):

“Katolik yang lebih menekankan kehidupan kolektif, berorientasi komunitas yang menghasilkan sikap solider. Weber mengutip temuan pakar lain tentang orientasi nilai katolik “Orang Katolik lebih tenang, kurang serakah”.


2.3.3        Agama Di India: Kajian Sosiologi Pada Agama Hindu Dan Budha.
                  (The Religion Of Hindia: The Sociology Of Hinduism And Buddhism).

·         Agama Hindu:
Agama Hindu ditentukan oleh sistem kasta (jati) dan golongan (warna). Setiap kasta dari golongan menjadi terkenal karena perbedaannya dari kasta dan golongan lain karena norma-normanya sendiri. Dalam agama hindu tidak terdapat etika yang universal, setiap kasta memiliki Dharma (norma moral) tersendiri.
Suatu segi dari etika Hindu bahwa setiap orang mengikut-sertakan setiap norma dalam setiap pekerjaan.
Misalnya:

Anggota kasta ksatria (prajurit) tidak pernah memperoleh apa saja didalam bidang etika kalau tidak patuh kepada standar kasta yang lain.

Menurut weber:
-       Sistem kasta menggambarkan konfrontasi yang secara terus-menerus antara berbagai cara hidup yang tidak sama. Cara hidup seseorang kadang-kadang lebih berarti cara hidup orang lain.
-       Bahwa berbagai jalan keselamatan terdapat untuk orang awam dan orang biarawan. Namun keselamatannya berbeda dan mempunyai kesucian pribadi. Misalnya prestasi orang awam tidak pernah dapat dibandingkan dengan prestasi seorang birawan.
-       Disamping cara hidup yang berbeda, agama Hindu bercirikan massa rakyat dan elit keagamaan.
-       Dalam agama hindu terdapat etika bahwa dunia adalah ciptaan Tuhan, karena itu orang harus bekerja keras dan bagi diri harus hidup sesederhana mungkin.
 Kasta tertinggi Brahmana, juga merupakan elit ekonomi. Mereka mencapai posisi ekonomis yang begitu tinggi, karena mereka menerima kompensasi untuk upacara ritual yang mereka laksanakan.
 Menurut Weber, di India yang berkembang adalah kapitalisme tradisional. Artinya, seorang karyawan pabrik di India memperlihatkan ciri-ciri yang khas kapitalisme tradisional, yaitu karyawan itu ingin menjadi kaya secepat mungkin. Karyawan itu tidak diberi semangat untuk bekerja lebih baik dengan upah yang lebih tinggi.
Sikap disiplin (dalam artian Eropa Barat) adalah konsep yang tidak dikenal oleh agama Hindu.
Industrialisasi modern dan kapitalisme modern tidak terdapat atas dasar sistem agama Hindu, karena sistem kasta ini melarang setiap perubahan. Setiap perubahan diancam dengan degredasi ritual pada waktu inkarnasi.
Menurut weber, soal dasar struktur kasta ialah bahwa anggota kasta yang halus dan anggota kasta yang kasar tidak dapat saling menyentuh. Karena itu mereka tidak dapat bekerja sama. Menurut weber, sistem kasta Hindu menentang setiap bentuk kerja sama.


·         Agama Budha:

Menurut Weber, tidak pernah menjadi dasar kapitalisme modern karena empat alasan:
a.          Melarikan diri dari dunia.
b.         Agama Budha memiliki dua sistem etika yaitu, etika untuk orag awam dan sistem etika untuk para biarawan.
c.          Agama Budha tidak mempunyai etika tenaga ahli dengan panggilan (calling = beruf).
d.         Agama Budha tidak mengenal asketisme yang rasional, yaitu yang dengan sengaja melayani Tuhan.
Karena empat alasan tersebut, maka agama Budha tidak pernah menjadi dasar kapitalisme modern.
Sedikit membahas mengenai agama Jaina (Jainisme):
Ketertarikan Weber kepada Jainisme[6] karena Jainisme berasal dari lingkungan pedagang-pedagang. Pedagang Jainisme terkenal karena kejujuran mereka. Penganutnya terkenal sebagai orang yang kaya sekali.
Menurutnya, Jainisme bukan saja menghubungkan kekayaan dengan kejujuran, tetapi juga menghubungkan dengan cara hidup mereka yang sistematis. Penganut Jainisme ini menjauhkan diri dari zat yang memabukkan, tidak makan daging, tidak minum madu, tidak berzina, tidak melibatkan diri dalam praktik yang tidak bermoral dan menghindari rasa harga diri. (mereka mirip dengan Protestan Puritan).
Namun, kapitalisme tidak terdapat pada Jainisme karena masih terdapat pembatasan ritual, mereka dilarang masuk industri. Menurut pandangan Weber, kapitalisme yang dianut mereka adalah kapitalisme kuno.



2.3.4        The Religion of China: Confucianism Taoism

Menurut Weber, Cina dilambangkan oleh etika yang dualis yaitu:
-          Suatu sistem etik untuk rakyat. Etika itu disebut Taoisme yang berarti sistem etika yang khas rakyat Cina.
Ajaran pokok Taoisme adalah bahwa ada satu cara atau jalan alami yang dapat juga diikuti oleh manusia, asalkan dia membatasi ketamakannya untuk diri sendiri, persaingan dan sikap permusuhannya. Dia dapat melaksanakan sebaik-baiknya dengan cara meninggalkan semua kegiatan yang mendatangkan godaan-godaan ini, bukan dengan menilainya sebagai bagian dari jalan yang dapat memenuhi kehendak Tuhan. Jadi, godaan, menjauhkan diri dari politik, kemandirian, bukan ketamakan, sebagai tujuan ekonomik, bersumber dari pandangan Taoisme.
Penghalang bagi kaum kapitalisme ini, diperkuat dengan kecenderungan untuk kembali kepada magi (sihir) yang menurut weber itu dibenarkan dan bahkan didorong oleh Taoisme.

-          Suatu sistem keagamaan
Etika elit[7] ini disebut Konfusianisme. Adapun pemikiran terpeting Kofusius adalah penekanan pada identifikasi etika dengan politik. Berdasarkan pemikiran ini, konfusius berpedapat bahwa ilmu pemerintahan pertama-tama merupakan pertanggung-jawaban yang sarat moral. Jadi sistem konfusianisme merupakan sistem elit yang memerintah Cina.
Untuk menjadi anggota elite, seseorang harus membuktikan bahwa dia telah memperdalam dan lulus karya-karya klasik.
Dalam mendalami karya-karya klasik itu seseorang Konfusius, menanamkan kapitalnya dalam pendidikan, penambahan kekuatan karir. Mereka menggunakan kekayaannya tidak untuk mendapatkan keuntungan, tetapi untuk mencapat status, yaitu cara hidup yang bermartabat.
Ciri lain khas sistem ini adalah kecurigaan kaum Konfusianis bahwa setiap pegawai (elit) saling mencurigai. Kejujuran tidak terdapat didalamnya.
Menurut Weber, kecurigaan itu mencampurkan semua transaksi yang ekonomis dengan unsur-unsur yang irasional.
Kesimpulan Weber dalam hal ini adalah bahwa:
Etika Konfusianisme bersifat skeptis sekali terhadap magi, sebaliknya dari Taoisme yang menjadi kebanyakan rakyat Cina sangat percaya kepada perbuatan-perbuatan magi.

Jadi, Weber mengambil konklusi bahwa:
“Terdapat pemisahan antara agama-agama di India dan agama-agama di China terdapat pemisahan antara raja dan agama rakyat. Karena itu terdapat sistem etika yang berbeda dalam masyarakat”.[8]

2.3.5        The Religion Of Islam

-          menganjurkan manusia untuk bekerja keras.
-          ayat yang menerankan bahwa apabila kamu telah selesai dengan satu urusan segeralah bekerja untuk urusan yang lain karena ada kebaikan dibaliknya.
-          Beribadahlah seakan kamu mati besok dan bekerjalah seolah-olah akan hidup selamanya.
-          Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali mengubahnya sendiri.
-          dalam sebuah ayat disebutkan bahwa setelah menyelesaikan ibadah shalat, diperintahkan untuk bertebaran dimuka bumi ini dalam ranka mencari karunia Allah. Namun mekanisme penyeimbangan yang digunakan untuk membatasii kepemilikan pribadi dengan kewajiban membayar zakat, infaq, dan sedekah.

Oleh sebab itu, kapitalis tidak dikenal dalam islam dan tidak mendewakannya pula. Karena dalam islam, setiap pekerjaan yang dilakukan adalah untuk mengharap ridho Allah semata.


2.4    Weber dan Karisma
      Karisma adalah gejala sosial yang terdapat pada waktu kebutuhan kuat muncul terhadap legitimasi otoritas. Weber menekankan bahwa yang menentukan kebenaran karisma adalah pengakuan pengikutnya.
Weber memandang karismatik sebagai salah satu dari tiga landasan kekuasaan yang dimiliki seorang terhadap orang lain di bidang politik, militer, agama dan intelektual. Kekuasaan karismatik ditemukan dalam pribadi yang penuh kreatif, inovatif yang diakui oleh pengikut atau orang yang ditundukkan.
Pemimpin karismatik mengembangkan gaya tindakan dan ciri kepribadian unik yang membantu memperkuat citra mereka sebagai utusan Tuhan, jelmaan nabi, pertanda sejarah, pemimpin rakyat, dan sebagainya.
Mereka mengambil jarak dari pengikut dan melakukan tindakan luar biasa untuk membuktikan kekuatan khusus mereka. Mereka sangat dogmatis, sangat fanatic dan tidak menolelir kritik. Sehingga menimbulkan fenomena Think and thank (menanamkan keyakinan tentang betapa sangat berkuasa, bijaksana, dan adilnya pemimpin itu”.[9]

Mereka mengambil jarak dari pengikut dan melakukan tindakan luar biasa untuk membuktikan kekuatan khusus mereka. Mereka sangat dogmatis, sangat fanatik dan tidak menolelir kritik.

BAB III
PENUTUP
3.1    Kesimpulan
             
ü Doktrin agama dalam perspektif sosiologi: lebih menekankan pada unsur pengaruh yang ditimbulkan oleh doktrin-doktrin keagamaan dalam merekonstruksi perilaku sosial yang ada di masyarakat.

ü  Weber menolak definisi agama. Dia mengatakan bahwa agama merupakan kepercayaan mengenai yang gaib dan agama merupakan kepercayaan universal karena terdapat disetiap masyarakat (salah satu konsep rasionalisasi).


ü  Doktrin-Doktrin Agama Dalam Hubungannya Dengan Perilaku Ekonomi Masyarakat, kajian Weber mengenai Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme (Calvinisme, Lutheranisme) juga mengenai etika Katholik, agama di India: Hindu dan Budha, agama di Cina: Confucianism Taoism, dan sedikit membahas mengenai doktrin-doktrin dalam agama Islam.

ü  Karisma adalah gejala sosial yang terdapat pada waktu kebutuhan kuat muncul terhadap legitimasi otoritas. Pemimpin karismatik mengembangkan gaya tindakan dan ciri kepribadian unik yang membantu memperkuat citra mereka sebagai utusan Tuhan, jelmaan nabi, pertanda sejarah, pemimpin rakyat, dan sebagainya.


3.2    Saran
Setiap pemeluk agama tentu menganggap bahwa agama yang dianutnya adalah benar sehingga setiap doktrin yang disampaikan diikuti dengan penuh rasa tanggung jawab. Dalam kaitannya dengan ekonomi masyarakat, diharapkan jangan sampai oleh karena adanya doktrin-doktrin tersebut membawa masyarakat menjadi tamak terhadap perekonomian karena terlalu mengejar-ngejar duniawi sehingga ditakutkan akan membawa manusia kedalam individualisme, hanya mementingkan peran personal dan tidak mementingkan peran sosial.

DAFTAR PUSTAKA


Scharf Betty R. 2004. Sosiologi Agama (Edisi Kedua). Jakarta: Kencana.
Abdullah Syamsuddin. 1997. Agama Dan Masyarakat: Pendekatan Sosiologi Agama. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.
Sztompka, Piotr.2011. Sosiologi Perubahan Sosial. Jakarta: Prenada.





[1] Monoeisme adalah kepercayaan terhadap adanya Tuhan Yang Maha Esa.
[2] Protestan Calvinisme merupakan suatu faham yang dikembangkan oleh seseorang yang bernama “Calvin”.
[3] Max Weber, The Protestan Ethic and the Spirit of Capitalism, 1904.

[4] Puritanisme adalah suatu faham kepercayaan yang di anut kaum puritan yang berasal dari Inggris pada abad ke 16-17
[5] Luheranisme adalah suatu faham kepercayaan yang di anut oleh kaum Lutheran
[6] Jainisme merupakan sebuah agama Dharma dan Jaina bermakna penakhlukkan.
[7] Elite yaitu orang-orang yang terbaik atau pilihan disuatu kelompok.
[8] Syamsuddin Abdullah, Agama dan Masyarakat: Pendekatan Sosiologi Agama, ibid.,hlm. 38.
[9] Piotr Szompka, Sosiologi Perubahan Sosial, ibid., hlm. 318.

Tags :

bonarsitumorang

  • Bonar Situmorang
  • Medan
  • Jakarta Selatan
  • bonarsos@gmail.com
  • +62853-7028-9213