Agustus 07, 2018

Resume: Memutus Siklus Kekerasan : Pencegahan Konflik dalam Krisis Intranegara.


A.    Identitas Buku
Judul               : Memutus Siklus Kekerasan : Pencegahan Konflik dalam Krisis Intranegara.
Penulis             : Janie Leatherman, dkk.
Penerjemah      : Muba Simanihuruk dan Subhilhar
Penerbit           : Gaja Mada University  Press
Tahun Terbit   : Januari 2004
Tebal Buku     : 320 halaman.

B.     Analisis Isi Buku
Konflik intranegara telah menjadi ancaman serius bagi keamanan dan perdamaian di akhir abad ke-20. Konflik tersebut telah mengakibatkan kehancuran dalam skala yang luas, meruntuhkan negara, kerusakan lingkungan yang parah, instabilitas regional, melonjaknya jumlah pengungsi dan yang terusir secara paksa dari tempat tinggalnya, dan jumlah korban sipil yang tinggi. Konflik intranegara tampaknya membutuhkan metode-metode pencegahan dan sistem siaga dini yang sangat berbeda  ketimbang konflik antarnegara.


Secara keseluruhan buku ini  menarik untuk dijadikan sebagai bahan pembelajaran dan pembuatan kebijakan terutama dalam rangka pencegahan dan penanggulangan konflik intranegara. Sebab, dalam buku ini disajikan metode-metode serta langkah-langkah yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam rangka mencegah dan mengatasi konflik intranegara. Salah satu metode yang dibahas dalam buku ini yang dapat kita gunakan sebagai kebijakan dalam rangka mencegah dan mengatasi konflik adalah metode siaga dini dan pencegahan konflik. Metode ini merupakan salah satu langkah pencegahan konflik dengan menempuh berbagai kebijakan-kebijakan dalam rangka mencegah konflik intranegara terutama dalam negara atau daerah yang rawan terjadi konflik.
Usaha untuk mengembangkan siaga dini dalam konflik internegara bukanlah sesuatu yang baru. Siaga dini dalam konflik intranegara dilakukan melalui pencarian indikator yang paling efektif, metode, dan sistem informasi, dimana kondisi ekonomi, sosial dan kultural dan proses konflik yang kondusif kearah aksi kekerasan dapat diidentifikasi secara dini. Namun demikian, senantiasa terjadi bias mekanis dalam sebagian besar literatur siaga dini. Ini membuktikan bahwa metode tertentu dan tepat dan sumber data yang realibel dalam konflik-konflik kekerasan dapat dideteksi dan eskalasinya juga dicegah.
Siaga dini merupakan bentuk disentralisasi yang penting dalam sebuah tindakan transnasional sebab berbagai aktor, isu, metode dan target yang terkait di dalamnya. Agar efektif, jaringan siaga dini memerlukan basis data untuk mengkristalkan  informasi dan merubahnya menjadi sinyal-sinyal peringatan, atau” bendera merah”. Siaga dini akhirnya adalah proses evaluasi akhir yang menuntun pada sebuah penilaian politis apakah tindakan di lakukan atau tidak. Aktor-aktor utama yang terlibat dalam rangka siaga dini adalah para akademisi , para analisis kebijakan , organisasi non pemerintah, media, agen rahasia dan pembuat kebijakan pemerintah. Mereka semua memiliki kekuatan dan kelemahan dalam pengumpulan dan penjajakan informasi dalam siaga dini.
Siga dini dan tindakan pencegahan adalah dalam bentuk tindakan yang terjalin erat terkait dengan hubungan-hubungan aktor-aktor yang terlibat dan terintevedensi tandakan yang akan di lakukan. Karna itu, anggapan bahwa siaga dini akan membuk jalan pencegahan mungkin terlalu sederhana. Beberapa bentuk siaga dini secara inheren memiliki fungsi pencegahan. Siaga dini adalah proses evaluatif yang melahirkan pertimbangan politis mengenai perlu tidaknya mengambil tindakan.
Namun demikian, pencegahan konflik dan sisitem siaga dini tidak selalu dapat berjalan dengan baik. Pencegahan konflik dan sistem siaga dini senantiasa menghadapi masalah-masalah besar, seperti validitas politik, membangun konsensus bersama, dan organisasi yang bisa melakukan tindakan kolektif. Agar efektif, inisiatif pencegahan konflik dan sistem siaga dini harus memiliki tujuan jangka pendek dan jangka pendek. Tujuan jangka berupaya menghambat ekskalasi konflik. Upaya yang lain yang dapat dilakukan, yakni menelusuri latar belakang penyebab konflik. Pembangunan dan bantuan kemanusiaan bisa memperbaiki keatidakadilan struktural dan membantu masyarakat, tapi tindakan ini juga memperburuk perbedaan yang ada dan karena menjadi sumber konflik. Tindakan pencegahan juga bisa diarahkan pada dimensi lain konflik internal seperti disparitas sosial dan ekonomi, ketegangan budaya, dan kelemahan-kelemahan lembaga pemerintahan.
Dalam rangka pelaksanaannya, siaga dini membutuhkan beberapa prasyarat yang sama seperti mediasi yang impresial didalam konflik dimana kekerasan sudah meledak-jika tidak tujuan siaga dini adalah membantu  salah suatu kubuh yang bertikai untuk memenangkan konflik. Sebuah sistem siaga dini yang bergasil sebaiknya menggabungkan penggunaan model-model yang bisa disimpulkan dan studi kasus yang mendalam yang melibatkan konteks lokal. Siaga dini memerlukan model kriteria kunci spesifik melalui mana tingkat stabilitas sekarang dan yang akan datang didalam sebuah masyarakat dan dalam momen-momen pentingnya dapat dijajaki. Studi kasus dapat membantu memperkirakan ketepatan waktu, cara dan konsekuensi ledakan sosial dan politik.
Selain metode pencegahan dan sistem siaga dini dalam mengatasi konflik, buku ini juga menawarkan berbagai metode lain dalam rangka pencegahan dan mengatasi konflik sehingga buku ini semakin menarik untuk dibahas dan teori-teori yang ada didalamnya dapat kita aplikasikan langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Metode lain yang dapat kita jadikan sebagai langkah pencegahan dan mengatasi konflik adalah strategi pencegahan eksternal dan internal. Pencegahan internal berlangsung dalam kubu-kubu berseteru itu sendiri, sedangkan pencegahan eksternal melibatkan pihak ketiga. Didalam fase pra konflik, strategi pencegahan menekankan pencegahan internal dan non kekerasan, berdasarkan tawar menawar diantara pihak-pihak pertama yang terlibat dalam perselisihan. Dalam fase intrakonflik, kesempatan penyelesaian konflik secara internal berkurang dan kebutuhan keterlibatan pihak ekesternal semakin mendesak. Baik siaga dini maupun pencegahan konflik keduanya bisa merupakan kegiatan jangka pendek, sedangkan revolusi konflik dan proses pembangunan pendamaian membutuhkan waktu yang lebih panjang.
Agar penggembangan sebuah sistem siaga dini bisa efektif mengedintifikasi konflik yang berkembang, faktor-faktor latar belakang berikut ini harus diperhatikan;
1.      Tingkat ketegangan struktural dalam masyarakat; semakin dalam ketegangan sosial, semakin tinggi kemungkinan pecahnya konflik masyarakat. Ketegangan struktural ini dapat dirubah dengan melakukan distribusi pendapatan dan kepemilikan tanah, memperbaiki ketimpanagn sosial, khususnya akses untuk mendapatkan pekerjaan, dan kesenjangan ekonomi antara kelompok-kelompok sosial dan regional yang berbeda, khususnya antara pusat kota dan pinggiran pedesaan.
2.      Teritori yang dimiliki bersama atau tebagi-bagi; konflik kemungkinan besar terjadi dalam komunitas yang berbeda yang tinggal di dalam teritori yang sama, khususnya jika ketegangan–ketegangan stuktural dan kultural telah matang untuk menyulut konfrontasi mereka. Sekregasi dapat mmebantu perdamaian tetapi ketika perselisihan berlatar garis etnis atau bangsa muncul, ia mungkin juga akan mempermudah mobilitas etnik, polaritasi kubu-kubu yang bersiteru, dan mempercepat proses konflik. Jadi, identitas teritori dpat berfungsi sebagai elemen identitas sosial dan cendrung menimbulkan bias solidaritas kelompok dalam (in-group) dan menyebarkan permusuhan terhadap kelompok luar (out-group). Ancaman-ancaman pada setip konstruksi inti kadang kala diklasifikasikan sebagai ”takdapat diraba”. Ancaman-ancaman itu adalah persebsi kebutuhan atau perhatian aktor terkait dengan kesan tau status, dan legitimasi dan dengan itu tidak akan memeberi kemungkinan untuk kompromi.
3.      Setiap pembelahan sosial: isu utama adalah apakah pembagian-pembagian dalma masyarakat mencipkan pola silang-menyilang berdasarkan pada bagian pekerja yang komplek dan loyalitas jamak atau apakah mereka membagi kelompok sosial dalam kolektifitas yang saling tumpang tindih. Dari sudut pandang penjegahan konflik hal-hal ini sangant penting yang ini apakah pembelahan ekonomi, kelembagaan, dan identitas tidak tumpang tindih, melainkan member sebuah dasar untuk berkembangnya masyarakat sipil yang berkelanjutan.
4.      Legitimasi polotik pemerintah: lembaga-lembaga negara yang demokratis dan adil cukup penting sebagai penjamin hak-hak kelompok. Efektifitas dan penerimaan, atau setidaknya toleransi pada intitusi-intitusi ini oleh mayoritas akan membantu memelihara stabilitas dan suasana bebas dari rasa takut. Kemunduran dan delegitimasi lembaga-lembaga politik akan membahayakan keteraturan public dan akan membuka pintu tanggul kekerasan. Jika ini menyebabkan terbentunya kelompok pribadi bersenjata dan bangkitnya sistem panglima perang, kemungkinan kekerasan meningkat dengan cepat.
5.      Tingkat ketegangan kultural, perasaan penderitaan secara historis, secara umum, sejarah konflik dalam masyarakat merefleksikan tingkat permusuhan di dalam masyarakat. Faktor-faktor konflik sedemikian dapat di ungkap dengan mengeksplorasi ketegangan-ketegangan antara etnik, religi, ideology politik, mitos dan ideology yang berbeda, dan konfrontasi sejarah yang ditimbulkannya. Seringkali jumlah konflik masalalu menjadi alat peramal yang terbaik untuk memprediksikan pecahnya konflik-konflik baru. Disamping belajar bagaimana menghindari konflik, orang-orang dan negara cendrung mengulangi kesalahan-kesalahan masa silam.
6.      Dalam masyarakat  yang rentan konflik acap kali ditandai tingginya tingkat militerisasi dan represi pemerintah dimana rakyat yang dirugikan cendrung untuk bereaksi, kadang kala dengan aktif , kadang kala dengan apatis. Respon itu tergantung dari tingkat kapasitas mobilisasi dan kelembagaan dan sumber daya lain yang dimiliki komunitas tersebut, termasuk tingkat persatuan di antara mereka. Organisasi dan mobilisasi yang rendah menopang pemerintahan yang refresip  mepertahankan kekuasaannya.
Tindakan pencegahan akan lebih efektif ketika tuntutan-tuntutan kelompok yang bertikai masih dapat disesuaikan, kohesi internalnya belum terpolarisasi, tujuan yang diperjuangkan masih  bisa diraih dan konflik belum bereskalasi dengan cara-cara kekerasan yang berbahaya. Tindakan pencegahan konflik memiliki fungsi ganda yaitu : mengelola konflik laten dan memperkuat stabilitas sosial serta membatasi konflik supaya jangan sampai ke fase kekerasan agar pilihan menuju jalan damai tetap terbuka.
Penjelasan struktutal menjelaskan bahwa kecenderungan konflik dalam masyarakat tergantung pada organisasinya yakni bagaimana kelompok sosial yang memiliki beberapa kepentingan dan sumber daya dihubungkan satu sama lainnya karena tujuannya adalah mengembangkan strategi siaga dini dan pencegahan konflik, analisis ini menekankan percepatan atau fakor yang mendorong terjadinya konflik dengan mudah ketimbang analisis akar-akar structural yang mendalam.
            Sistem pemberian hak biasanya dihubungkan dengan hak-hak kepemilikan. Dari segi hak-hak ini, kegagalan pemberian hak-hak berarti bahwa mereka tidak diberi akses yang cukup untuk memperoleh makanan, tempat tinggal, pendidikan, dan kebutuhan-kebutuhan penting lainnya. Diskriminasi demikian mungkin terkait dengan pelanggaran hukum ketika  pemberian hak-hak ekstra dalam hak-hak kepemilikan terjadi. Pendekatan pemberian hak-hak telah digunakan untuk menjelaskan latar belakang penyebab terjadinya konflik.
Penelitian empiris telah mengungkapkan bahwa ketidakadilan ekonomi saja tidak cukup sebagai penyebab letupan dan ekskelasi konflik berlatar etnis, walaupun ketidak adilan ekonomi ini mungking berperan lebih kuat didalam jenis konflik lainnya dan dalam situasi dimana diskriminasi minoritas pribumi diperarah oleh tekanan-tekanan lingkungan. Meskipun begitu, faktor-faktor keterkaitan dalam pembangunan ekonomi dan sistem sosial politik merupakan peramal konflik yang lebih konflik daripada dekradasi lingkungan yang memiliki dampak yang lebih kuat dalam perang skala yang lebih kecil.
Didalam konflik internal ada sebuah kecenderungan untuk memisahkan kelompok berbeda satu sama lain dan kemudian mempertajam batas-batas teritori. Pemisahan demikian acapkali diikuti stereotype, pengkambinghitaman, dan bahkan dihemunasiasi musuh yang meningkatkan dialektik demoniasi atau proses menjadi kelompok dan penyucian diri. Peluang terjadinya konflik kekerasan diperkirakan semakin meningkat jika populerisasi sosial, ekonomi, dan politik saling tumpang tindah sehingga saling menguatkan satu sama lain. Dalam situasi demikian, hanya sedikit ikatan sosial, Budaya dan ekonomi diantara kelompok-kelompok tersebut yang akan memperkuat saling pengertian identitas.
Disamping kelebihan-kelebihan tersebut, buku ini juga memiliki kelemahan, seperti bahasa yang digunakan kurang komunikatif sehingga sulit dipahami. Namun, secara keseluruhan isi buku ini menarik untuk dibahas.
Dalam konteks pencegahan konflik di Negara Kesatuan Republik Indonesia, ada beberapa metode dan teori yang dapat kita jadikan sebagai langkah-langkah pencegahan konflik berdasarkan metode dan teori yang ada dalam buku ini. Seperti kita ketahui, negara Indonesia adalah negara yang sangat rentan terjadinya konflik karena kondisi masyarakat yang multikultural secara vertikal maupun horizontal. Oleh karena itu, dalam rangka pencegahan dan mengatasi konflik dalam negara Indonesia, ada beberapa metode yang dapat kita ambil dari buku ini.



Tags :

bonarsitumorang

  • Bonar Situmorang
  • Medan
  • Jakarta Selatan
  • bonarsos@gmail.com
  • +62853-7028-9213