-->

Januari 21, 2021

MEMAHAMI ENAM ISTILAH DALAM SOSIOLOGI (AKULTURASI, AGEISME, DETERMINISME, DIGITAL DIVIDE, DIASPORA, DAN HIPERRIALITAS)

Dalam Sosiologi ditemukan begitu banyak istilah, baik dari masyarakat Timur atau Barat. Istilah ini banyak digunakan dalam menganalisis situasi masyarakat dan fenomena yang terjadi saat ini. Di bawah ini ada enam istilah ilmu sosial yang sering digunakan dalam memahami situasi masyarakat. Adapun ke  enam istilah tersebut dijelaskan di bawah ini:

1. Acculturation (akulturasi)

Sumber foto:
Sumber foto: https://www.tolerance.org/

Istilah ini digunakan untuk menerangkan baik proses kontak antarkebudayaan yang berbeda maupun hasil dari kontak semacam itu. Sebagai proses kontak antarkebudayaan, akulturasi mungkin melibatkan baik interaksi sosial langsung maupun pengenalan terhadap kebudayaan lain melalui media komunikasi. Sebagai hasil dari kontak semacam itu, akulturasi merujuk pada asimilasi oleh kelompok budaya lain yang memodifikasi budaya yang telah ada sehingga mengubah identitas kelompok. Mungkin ada ketegangan antar budaya lama dan baru menuju adaptasi bagi kedua budaya tersebut.

2. Ageisme

Sumber foto: https://jurnaba.co/memahami-fenomena-ageisme-di-era-digital/

Pertama kali digunakan oleh Dr. R.N. Butler, direktur American Institute of Aging pada 1968. Istilah ini mengacu pada streotip negatif terhadap kaum berusia lanjut yang menggambarkan mereka secara tidak adil sebagai orang yang bangka rapuh dalam sikap serta tidak mandiri secara psikologis dan sosial. Ageisme menjadi isu politik yang penting dengan semakin bertambahnya orang-orang tua pada populasi masyarakat Barat.

3. Detirminism (determinisme)

Sumber foto : https://isyraq.wordpress.com/2010/08/21/menolak-mazhab-determinisme/

Istilah ini banyak disalahgunakan dalam Sosiologi, dipakai dalam beberapa pengertian:

  • Sebuah teori disebut deterministik jika terlalu menekankan aspek kausal struktur sosial di atas otonomi atau ‘kehendak bebas’ subjek manusia. Penjelasan harus dicari dalam sifat struktur sosial, bukan sifat individu.
  • Sosiologi Marxis sering dianggap menggunakan determinisme ekonomi karena semua gejala soosial dijelaskan berkenan dengan struktur ekonomi atau hubungan produksi.
  • Teori determinasi teknologi adalah teori yang menyatakan bahwa perubahan sosial tergantung pada perubahan teknologi.
  • Ilmuwan sosial kadang berpendapat bahwa gejala sosial harus dijelaskan dengan mengacu pada sifat-sifat biologis atau genetis. Hal ini mewujudkan determinis biologis.

4. Digital Divide

s

Sumber foto: https://www.nj.com/opinion/2020/07/the-digital-divide-in-our-schools-sheneman.html

Ada banyak pendapat mengenai internet. Ada pendapat bahwa internet akan merevolusi penyediaan informasi bagi semua orang, meningkatkan kesadaran komunitas, dan bahkan katanya memperbaiki partisipasi demokrasi. Hanya saja, semua aspek ini menunjukkan adanya kesenjangan digital dan bahwa banyak orang tidak memiliki akses. Orang berusia lanjut misalnya, kesulitan mengikuti perubahan digital sedangkan kaum perempuan kurang menggunakan komputer meskipun proses ini berubah dengan cepat. Namun, kesenjangan yang paling penting adalah kesenjangan sumber daya. Mereka yang tidak memiliki uang untuk membeli peralatan komputer terbaru atau untuk mendapatkan akses broadband, atau tidak memiliki keterampilan, tidak akan mampu memanfaatkan internet sebaik-baiknya. Kesenjangan ini hadir di masyarakat yang sudah maju. Kesenjangan bahkan lebih luas terjadi antara masyarakat Barat dengan masyarakat kurang maju. Akses komputer dan internet dengan kata lain, mereproduksi ketidaksetaraan  di dalam dan di antara masyarakat.

5. Diaspora

Sumber foto: https://diplomatist.com/2020/07/22/an-overview-of-indian-diaspora-in-south-africa/

Kata ini diturunkan dari bahasa Yunani yang berarti ‘berhamburan’ dan aslinya mengacu kepada masyarakat dan kebudayaan Yahudi. Dengan demikian, diaspora terjadi pertama kali seperti yang diceritakan dalam Alkitab, ketika komunitas Israel di Palestina ditaklukkan kemudian semua orang Yahudi ditangkap di Babylonia. Diaspora kedua terjadi sesudah runtuhnya Kuil Yerusalem pada 70 SM ketika kaum Yahudi terpencar-pencar di Mediterania. Dengan adanya globalisasi kontemporer, terutama mobilitas kerja dan deregulasi dunia. Misalnya, hampir seluruh dari dua belas juta populasi Sikh tinggal di luar India. Ada  banyak diaspora kaum muslim di Eropa dari Afrika Timur, Timur Tengah, dan Asia yang berjumlah sekitar lima belas juta orang. Kemunculan komunitas ekpatriat ini berarti bahwa kebudayaan transnasional terlah berkembang, sering kali menyebabkan hibriditas budaya. Dengan pertumbuhan komunitas diaspora, mayoritas masyarakat modern bersifat multikultural sementara perubah kultural ini membawa konsekuensi penting dalam hal kewarganegaraan. Walaupun diaspora ini membawa dampak bagi tuan rumah, pengalaman migrasi juga membawa dampak transformasi membawa kebudayaan dan terjadinya campuran hibrida antara tradisi dan inovasi.

6. Hiperrialitas

Sumber foto: http://medhyhidayat.com/jean-baudrillard-simulasi-dan-hiperrealitas/

Istilah ini digunakan oleh Baudrillard untuk menggambarkan pertumbuhan budaya iklan, terutamma di Amerika Serikat, di mana gambar dan tanda sudah mengganti realitas. Istilah ini digunakan untuk mengkritik masyarakat massa. Dalam mewakili dunia sosial, kebudayaan visual ini membolehkan tipuan agar terlihat lebih realistis daripada realitas. Hiperrealitas melibatkan ‘pembangkitan kenyataan oleh model tanpa asal-usul atau realitas.’

Tags :

bonarsitumorang

  • Bonar Situmorang
  • Medan
  • Jakarta Selatan
  • bonarsos@gmail.com
  • +62852-6969-9009