-->

Mei 04, 2022

Fasilitator dan Kualifikasinya yang Dibutuhkan dalam Dunia Kerja

Menjadi seorang fasilitator semestinya memiliki keunikan. Sebelum mengeksplor sesuatu, seorang fasilator terlebih dahulu memahami dirinya sendiri sebelum memberikan pemahaman kepada oranglain. Jika tidak paham bagaimana menyelesaikan konflik di dalam dirimu, bagaimana cara menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh oranglain, bisa jadi menyebabkan kegagalan dan kemarahan dari orang lain.

Dalam artian seorang fasilitator harus komitmen untuk mengembangkan dirinya. Setelah mengetahui kemampuan yang dimiliki, hal-hal yang mungkin perlu diwaspadai adalah hal yang diyakini, perasaan, pengalaman, harapan, ketakutan, kekuatan, dan kelemahan. Hal seperti ini membuat seorang fasilitator jadi memahami bagaimana menghadapi oranglain.

Menurut Anthony Landale dan Mica Douglas dalam bukunya yang berjudul “The Fast Fasilitator”, ada 10 kualifikasi yang esensial yang perlu diketahui dan dilakukan seorang fasilitator, antara lain:

  1. Mengembangkan kesadaran diri (develop self-awareness). Ini adalah hal yang penting dimiliki seorang fasilitator. Mungkin ini menjadi hal yang tidak mungkin dilakukan ketika kamu sendiri tidak mengenal dirimu. Semua hal tentu berasal dari dirimu.
  2. Peka terhadap oranglain (be sensitive to others). Dalam menghadapi tim dan berhadapan dengan individu-individu, seorang fasilitator diharapkan memiliki kemampuan untuk melihat berbagai hal dari cara pandang yang berbeda dan memiliki sensivitas. Fasilitator yang efektif, dapat berjalan jika setiap momen, emosi, tubuh, dan semangat berjalan bersamaan. Karna pada umumnya, fasilitator memiliki kekuatan yang terkonsentrasi.
  3. Empati (be empathic). Untuk level dasar, menjadi seorang yang berempati perlu melakukan dan memahami oranglain dari kesulitan mereka. Kita seharusnya aktif untuk mendengar dan kembali merefleksikan setiap momen dan jangan menghakimi mereka.
  4. Miliki tujuan yang sungguh (have good intent). Fasilitator adalah orang yang melayani. Itu selayaknya dilakukan dengan sungguh-sungguh. Suatu saat kita kehilangan kepercayaan, ini menjadi situasi yang sulit, dan perlu usaha untuk mengembalikannya. Aspek yang sangat esensial dari tujuan yang sungguh-sungguh ini untuk mengetahui mengapa kita perlu hadir dan mengulangi kembali tujuan awal kita.
  5. Percaya diri (be confident). Ini berasal dari kualifikasi dan kompetensi yang dimiliki. Bagaimanapun, seorang percaya diri dengan jalannya masing-masing. Bagi sebagian orang, kepercayaan diri ketika berani mengambil resiko dari hal-hal yang mungkin tidak dapat diprediksi. Kepercayaan diri dapat dinyatakan jika seseorang dapat layak dipercaya. Jika kamu seorang yang layak dipercaya, kamu akan bisa melakukan sesuatu dengan sugesti untuk perubahan yang kamu inginkan.
  6. Pikiran yang terbuka (be open minded). Setiap pertemuan dan setiap tim adalah berbeda dan memiliki tantangan yang berbeda-beda. Kamu tentu harus memiliki sumber daya dan memerlukan adaptasi, tetapi kamu tidak akan dapat jawaban semuanya. Kamu juga harus percaya kepada sumberdaya yang ada. Kamu juga bisa mencari tahu jawaban terhadap situasi yang kamu miliki, melihat dengan cara pandang yang berbeda.
  7. Jelas (be clear). Seorang fasilitator untuk mengatur sebuah tim dengan teori dan tanggungjawab yang disampaikan dengan jelas. Berkomunikasi dengan jelas dan mengatahui mengapa kamu haru bekerja untuk itu sekarang.   Hal ini adalah dengan percaya diri menyampaikan kepada orang lain dan memastikan mereka sadar dengan apa masalah yang dihadapi.
  8. Cerdas (be discerning). Tahu apa yang diintervensi dan tahu bagaimana cara mengintervensi, hal ini datang dari pengalaman. Miliki sebuah ‘cahaya sentuhan’ untuk memulai sesuatu, bangun skil dari hal kecil, saksikan dan dengarkan oranglain. Mencoba sesuatu dengan cara yang baru.
  9. Milikilah humor (use humor). Sebagai seorang fasilitator tahu bagaimana melakukan pendekatan dengan santai dan membawa suasana santai.  Baik sebagai seorang fasilitator untuk memiliki joke dalam mencairkan suasana.
  10. Imajinasi (be intuitive). Sebagian orang mengatakan bahwa, intuisi datangnya dari memperhatikan hal-hal yang kecil yang tak kelihatan di permukaan. Dengarkan apa yang muncul dari dirimu sendiri, berdiri untuk sesuatu yang kamu yakini, dan bicaralah secara jujur. Ini bukan berarti kamu selalu melakukan dengan benar, tetapi dengan mendengar instuisi, kamu akan menemukan akses yang terbaik dari sumberdaya yang kamu miliki.

Tags :

bonarsitumorang

  • Bonar Situmorang
  • Medan
  • Jakarta Selatan
  • bonarsos@gmail.com
  • +62852-6969-9009