Oktober 13, 2020

ADA DI RUMAH DI HATI BAPA (BEN, FRANKY, PETRA SIHOMBING)


ADA DI RUMAH DI HATI BAPA

 

Sebenarnya Kau sudah tahu

Pencarianku buntu

Tapi Kau takkan pernah ragu

Ku kan kembali padaMu

Musim yang berganti

Masih Dia temani

Selalu ada rumah di hati Bapa

Apapun terjadi

Dia teman sejati

Selalu ada rumah di hati Bapa

Dulu selalu ku bermimpi

Jadi pelita bagMu

Pelita hatiKu

Namun sering ku gagal lagi

Selalu ini jawab-MU

Musim yang berganti

Masih Dia temani

Selalu ada rumah di hati Bapa

Apapun terjadi

Dia teman sejati

Selalu ada rumah di hatimu

 

Kita tak kan mungkin selalu senada

Sebisa-bisanya kita manusia

Dari awalnya,sampai hilang arahnya

Kita hanya kumpulan cerita

Agustus 29, 2020

Pengalaman Terbang dari Syamsudin Noor - Soekarno Hatta di Tengah Pandemi Corona Virus

Pengalaman Terbang dari Syamsudin Noor - Soekarno Hatta di Tengah Pandemi Corona Virus

Di tengah pandemic sekarang ini ada begitu banyak hal baru yang diadaptasikan. Mulai dari perilaku hidup sampai menjadi kebiasaan baru. Pandemic yang sudah berjalan sejak Maret 2020 ini mempengaruhi segala aspek manusia. Kesehatan, ekonomi, sosial, sampai kepada banyak hal yang tidak dapat diprediksi sebelumnya.

Begitu juga dalam bidang transportasi. Nah, kali ini saya akan membagikan pengalaman naik pesawat disaat pandemic. Situasi rumit ini berpengaruh terhadap perjalan jarak jauh, terutama melakukan perjalanan dengan pesawat. Salah satunya saya rasakan perjalanan dari Kalimantan Selatan (Bandara Syamsudin Noor) ke Jakarta (Bandara Soekarno-Hatta). Perjalanan ini saya lakukan hari Senin, 24 Agustus 2020. Sekaligus menjadi perjalan perdana saya dengan menggunakan pesawat saat lima bulan sudah ada pandemic. Kali saya menggunakan maskapai penerbangan citilink.

Dulu itu menurutku ketika pergi ke mana-mana saya rasa tidak seribet ini. Namun, karena masa pandemic ada beberapa hal yang harus dilengkapi. Sehingga menjadi pengalaman yang cukup berkesan. Banyak sih kekhawatiran ketika melihat kondisi covid-19 yang sudah meluluhlantahkan banyak aspek. Khawatir terpapar virus, khawatir hasil rapid-test positif/reaktif, khawatir terpapar di dalam pesawat, belum lagi khawatir jatuh dari pesawat, terus tak bisa bangkit lagi. Hahaha.

Jadi pengalaman cukup berkesan ini saya tuangkan ke dalam catatan digital ini. Semoga saja dapat bermanfaat buat pembaca. Ketika ingin melakukan perjalanan jarak jauh, terutama menggunakan pesawat.   Hal-hal  yang perlu dipersiapkan sebelum berpergian ke luar daerah, antara lain:

Pertama, melakukan rapid test. Ini menjadi langkah pertama sebelum melakukan perjalanan. Setiap maskapai memerlukan bukti valid hasil tes corona, minimal rapid-test. Jika non-reaktif maka seseorang akan bisa melakukan perjalan. Tetapi jika reaktif, kita akan diminta lagi untuk test swab, untuk lanjut ke tahap berikutnya. Tes corona ini bisa dilakukan di daerah masing-masing dengan fasilitas yang sudah disediakan. Harganya berbeda-beda, sekitar Rp 200.000 – Rp 300.000. Kemarin itu saya melakukan rapid test ke di Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Tidak terlalu lama untuk mengetahui hasilnya, tergantung dari panjang antrian. Eits, Jangan lupa ya membawa KTP (Kartu Tanda Penduduk), karena ini nanti akan dipakai untuk membuat surat keterangan. Terus, surat keterangan ini hanya berlaku untuk 14 hari saja.

Kedua setelah rapid test dan jika hasilnya non-reaktif. Sebelum melakukan penerbangan, tetap jaga kesehatan. Karena bisa saja sebelum melakukan penerbangan, bisa terpapar corona.

Ketiga membeli tiket pesawat. Untuk saat ini penerbangan pesawat masih terbatas. Soal harganya sih tidak terlalu mahal jika dibandingkan dengan harga sebelum ada covid-19. Aku sarankan ambil tiket dari member citilink, dengan daftar akun, nama pengguna sesuai KTP, email aktif, dan nomor hp yang aktif.

Keempat, saatnya menuju bandara. Ada beberapa pemandangan yang tak biasa dari sebelumnya. Sekarang ini seluruh petugas bandara lengkap memakai masker, face shield, antrian sesuai protokol Kesehatan, dan beberapa proses pengecekan. Nah untuk itu jangan lupa memakai masker, saya sarankan juga pakai face shield, baju dengan lengan panjang, pakai celana panjang, sepatu, bawa handsanitizer, dan yang paling penting jaga perilaku selama ada di bandara. Selain daripada pengawasan yang ketat dari pihak bandara, kita juga diminta untuk melakukan protokol kesehatan di bandara. Paling mencolok adalah posisi ketika ada di bandara. Kita akan diminta untuk tetap menjaga jarak, memakai masker, dan protokol Kesehatan lainnya.

Kelima di dalam pesawat tidak ada perubahan yang signifikan. Hanya ada satu kursi pembatas di dalam pesawat, biasanya satu baris ada tiga kursi. Kali ini kursi tengah dikosongkan agar antar penumpang tidak terlalu dekat.

Keenam, diwajibkan yang diminta pihak bandara dan sejumlah kebijakan daerah. Misalnnya pengalaman saya dari Bandara Syamsudin Noor sampai ke Soekarno-Hatta. Jika menuju Jakarta kita akan diminta mengisi data diri di Aplikasi JAKI. Aplikasi ini berisi beragam informasi resmi dan berbagai layanan masyarakat dari Pemprov DKI Jakarta dengan satu aplikasi. Silahakan diisi JakCLM. Dalam aplikasi tersebut isilah data diri, tujuan ke mana, dan isi selengkap mungkin. Hasilnya Ini akan diperlukan jika mau keluar dari bandara Soekarno-Hatta dan ditunjukkan kepada petugas.

Ketujuh isi data diri dan lakukan tes yang ada di dalamnya melalui aplikasi Ehac Indonesia. Dalam aplikasi ini kita akan diminta untuk mengisi data diri dalam menu visitor tujuan domestic. Semangat mengisinya, agak ribet sih tapi untuk kesehatan kita dan oranglain, bukan?

Kedelapan install aplikasi PeduliLindungi di android kamu. Aplikasi PeduliLindungi adalah aplikasi yang dirancang Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dan Kementerian BUMN untuk digunakan Kementerian Kesehatan dan Gugus Tugas dalam mengatasi pandemi COVID-19 di Indonesia. PeduliLindungi adalah aplikasi yang dikembangkan untuk menghentikan penularan Coronavirus Disease (COVID-19). Aplikasi ini mengandalkan kepedulian (peduli) dan partisipasi masyarakat untuk saling membagikan data lokasinya saat bepergian agar penelusuran riwayat kontak dengan penderita COVID-19 dapat dilakukan.

PeduliLindungi menggunakan bluetooth Anda untuk merekam informasi yang dibutuhkan. Pertukaran data akan terjadi ketika ada gadget lain dalam radius bluetooth yang juga terdaftar di PeduliLindungi. PeduliLindungi selanjutnya akan mengidentifikasi orang-orang yang pernah berada dalam jarak dekat dengan orang yang dinyatakan positif COVID-19 atau PDP (Pasien Dalam Pengawasan) dan ODP (Orang Dalam Pengawasan). Hal ini akan sangat membantu ketika orang tersebut tidak dapat mengingat riwayat perjalanan dan dengan siapa saja dia melakukan kontak. Anda juga akan dihubungi oleh petugas kesehatan jika Anda pernah berada dalam jarak tertentu dengan penderita COVID-19 positif, PDP, dan ODP.

Ini beberapa pengalaman mulai dari melakukan rapid-test, penerapan protokol kesehatan di dalam bandara, dan lain sebagainya. Tulisan ini dikemas dengan sederhana, semoga bisa menambah referensi saat melakukan perjalan. Tuhan sertai kita selalu ya! Amin.

 

Juli 10, 2020

Arti Menjadi Pengajar Muda

Arti Menjadi Pengajar Muda

Mulai Mengenal Diri Kemudian Mengenal Indonesia

Becoming The True You

Kalimat yang mewakilkan diriku setelah 11 bulan menjalani status sebagai Pengajar Muda (PM) dari Indonesia Mengajar (IM). Tidak terasa, bahwa 11 bulan ini benar-benar membentukku menjadi pribadi yang akan paham tentang “diriku  sendiri”. Mengapa diriku? Karena menjadi Pengajar Muda menurutku adalah kesempatan terbaik masa muda mengenal dan menerima diri. 

Bukan mengutuk diri atas ketidakmampuan dalam merubah. Justeru yang muncul adalah perubahan dalam diri sendiri. Awalnya cukup kaget dengan peran dan tugas yang diemban selama menjadi PM, namun ternyata kata ‘kehendak’ yang menjadi teman proses selama ini. Sehingga ada dua hal yang berubah. Bisa diri sendiri bahkan bisa merubah orang lain. Tentu perubahan perilaku yang lebih positif.
Pemandangan Alam Loksado

Satu proses yang tak terlewatkan adalah tentang bagaimana sebuah ‘cara pandang’ yang terinternalisasi ke dalam habitus. Semakin ke sini aku pun yakin bahwa pembentukan ‘pola pikir’ ini tidak mudah dan hanya memungkinkan jika dilakukan. Banyak perlawanan datang dari dalam diri, bisa karena Pola pikir ini akan menjadi asset yang sangat berharga buat diri sendiri atau akan ber-
impact kepada oranglain.

Ibarat gelas dan air. Jika gelas penuh dengan air, maka jangan pernah menutup diri untuk memasukkan air yang baru. Anggaplah gelas itu tidak pernah penuh. Gelas adalah otak kita dan air merupakan ilmu, jika saja gelas itu tak mampu menerima air yang baru tentu dia akan bisa keruh dan tak berubah. Nah, itulah kusebut sebagai proses learning. 

Sebelas purnama dengan multi peran di masyarakat, tentu tak akan mudah meraihnya untuk purna tugas. Apalagi ketika berhadapan dengan kondisi yang tidak ideal dan tidak mendukung terhadap tujuan. Di situlah diperlukan ‘pola pikir’. Jika fokus kepada kekurangan tentu sedikit pun kondisi tidak dapat dirubah. Jika fokus kepada potensi di depan mata tentu bisa diupayakan perubahan semaksimal mungkin.

Arti menjadi Pengajar Muda: becoming the true You. Kata – kata sederhana ini membawaku sebuah pengalaman yang membentuk diriku, mulai dari keberanian. Ketika berani keluar dari zona nyaman, tentu zona yang tidak aman itu akan menjadikan kita tangguh terhadap kondisi apa pun. Teringat kata Bapak Anis Baswedan, “Ketika kamu menjadi Pengajar Muda tentu setiap hari kamu akan dihadapkan dengan masalah – masalah – dan masalah. Ke depan setalah kamu merasakan satu tahun mengenal Indonesia, masalah tersebut akan menjadi sebuah hal biasa buatmu, di situlah kamu akan mengerti menjadi sebuah Pengajar Muda’. Pola pikir tentang masalah lahir dari sebuah pandangan, besar-kecilnya masalah tersebut tergantung orang yang melihat. Bisa besar bagi oranglain, bisa kecil bagi dirimu, atau sebaliknya.  

Masa muda adalah masa “trial error’ untuk membentuk diri. Benar, salah, baik, jahat, dan segala hal tentang masa muda akan terbentuk jika berani keluar “confort zone’. Dengan keluar, maka gelas tadi akan terisi kembali dengan hal-hal yang baru. Hal baru tersebut akan terfilter sendiri dengan prinsip sendiri. Itulah apa yang kusebut sebagai becoming the true you.

Makna Pengabdian

Dengan memilih menjadi Pengajar Muda aku pun semakin menguatkan pemahaman bahwa pengabdian itu bukan tentang hadir dan sadar penuh di pelosok negeri. Bukan juga tentang mengabdikan diri haruslah mengorbankan segala sesuatu. Pengabdian juga bukan tentang apa yang bisa kamu beri. Bukan tentang jauhnya, bukan tentang banyaknya pengorbanan, bukan juga tentang perubahan. Justeru menghitung hari mundurku di sini membawa pemahaman bahwa konsep pengabdian itu tentang bagaimana memberi diri dengan segala apa yang kamu miliki, dengan segala kondisi.

Sederhananya; profesi yang kamu miliki jadikan wadah pengabdian. Apa pun yang bisa kamu beri, segeralah. Karena untuk bangsa ini kita harus benar-benar menjadi pioneer untuk kemajuan. Mulai dari dri sendiri kemudian akan muncul oranglain, bahkan akan muncul sebuah gerakan.

 Tentang memberi itu ….

Bisa tentang materi dan non-materi. Sebegitu kakunya dahulu aku memandang kata ‘pengaabdian’. Hari ini aku pun semakin paham tentang apa yang bisa dilakukan untuk kemajuan bangsa.  Mulai dari hal kecil, mulai dari hal sederhana, dan mulai dari sekarang.

Menjadi Pengajar Muda itu adalah awal diriku memaknai dan membersamai apa yang disebut mengisi cita–cita bangsa. Tanggung jawab sebagai pemuda bangsa adalah mengisi kemerdekaan yang sudah dihadiahkan oleh seluruh pahlawan Indonesia yang telah mati di medan juang. Mungkin puluhan tahun lalu bahkan ratusan tahun yang lalu. Saatnya orang muda yang merasakan seluruh sudut sumber kebahagiaan di bangsa ini dijadikan sebagai wadah mengabdi.

Jika suatu hari generasi setelah aku bertanya, “apa hal yang terbesar kamu lakukan untuk bangsa ini?” Jawabku adalah diriku. Bisa tentang pengabdian, bisa tentang pengorbanan, bisa tentang memberi, bahwa bisa tentang mengisi kemerdekaan. Tetapi yang terpenting adalah memberi diri.
         
Setelah Hari Ini

Proses baru akan segera dimulai. Setelah ini akan ke mana? Tentu jawabanku adalah kembali bertunas di tempat baru. Setelah menjalani satu tahun mengabdikan diri di penempatan, segala ilmu yang telah kuterima akan kukembalikan ke negaraku. Bukan tentang besar-kecilnya ilmu itu yang kudapat, tetapi bagaimana aku bisa berpengaruh bagi orang di sekitarku.

 Bisa saja berpengaruh bagi orang terdekatku, keluarga, teman, bahkan lingkungan. Ilmu itu akan kutransfer bagi orang-orang yang ingin membentuk diri, bagi bangsa bahkan bagi lingkungan mereka. Arti menjadi Pengajar Muda adalah bagaimana mencintai Indonesia seutuhnya mulai dari mencintai diri sendiri. Selamat bertunas ....


Maret 29, 2020

Gagal Bersembunyi

Gagal Bersembunyi


Hari ini aku gagal. Sama seperti yang dulu. Lagi dan lagi, itu terulang. Merasa ga berguna. Merasa bersalah. Terjebak dalam masa yang lalu. Seakan tak menerima aku pernah mengalami dan pernah merasa ada di dalam itu. Ntahlah, kapan itu akan berhenti.

Pagi ini sekitar jam 06.30, sinar matahari menembus mataku. Sinar itu datang dari lubang kecil di tempat tidurku malam ini. Aku sih menyebutnya, pondok, berdinding papan, beralaskan belahan bambu kecil. Aku coba angkat kepalaku. Kuhangatkan kakiku dengan selimut coklat yang sudah satu malam ini memberikan kehangatan.   Alas tempat tidurku selembar tikar itu tidak cukup menghambat dinginnya malam itu.  
Untuk menyambut hari,  kulipat tanganku, kutundukkan kepalaku dan berkata dalam hati syukur Tuhan untuk hari ini dan aku siap menyambut harimu ini.

Sambil aku menilik sebelah kanan kiriku. Ternyata mereka yang membersamaiku satu malam, sudah bangun dengan aktifitas kecil. Aku berharap ini akan jadi pagi yang indah. Ternyata, aku sadar bahwa ada satu mimpi yang memaksaku kembali menengok ke belakang. Aku pun mengucek mata, berharap pagi ini adalah kenyataan.   Sembari menghirup udara pagi yang dingin, dan berpikir:
“Pagi kadang terlalu cepat memberikan cahaya lembut yang menghangatkan tubuhku. Sebenarnya aku belum siap menyambut.” Tapi mau bagaimana mentari sudah terasa di seluruh badanku. Hangat. Memberikanku sebuah harapan, bahwa hari ini akan jadi baik.”
Tak lepas dari itu aku tak mampu menyimpan rasa bahwa menyambut pagi ini penuh dengan memori. Tadi malam, di atas tempat tidur bersama keluargaku di sini, aku kembali mimpi tentang masalalu. Memaksaku untuk mengingat kembali masa yang pernah datang. Sebenarnya aku benci dengan ini, tapi mengapa ini bisa datang lagi ya?
Ternyata matahari ini menyadarkanku bahwa itu hanyalah mimpi. Kuulangi lagi, dan kuingat lagi, eh, ternyata dalam mimpi juga.  Busyet dah. Lagi, dan berkali aku gagal bersembunyi untuk satu hal ini. Harapku sih bisa kembali datang dalam kenyataan. Walau hanya sesingkat mimpi ku itu.
Sepertinya aku mulai bingung dengan hari ini. Aku melangkah sedikit. Kuambil sabun pencuci muka di depanku. Ku bergegas berangkat ke samping pondok. Hanya sekitar 10 meter saja. Kubasuh mukaku dan kurasakan udara dingin pagi yang seakan menelanjangi tubuhku. Kembali aku teringat, “apakah itu hanya mimpi?’ artinya apa? lanjutku lagi sambil merasakan tetesan air.
Bukan sekali atau dua kali saja ni terjadi. Setelah April yang memutuskan aku untuk berjuang untuk melawan rasa itu. Akhirnya dalam mimpi pun aku tetap saja mengingatnya. Aku tidak suka dengan itu. Aku ingin gelapnya malam nanti tidak akan menghadirkan itu lagi.
Aku tidak tahu. Yang pasti sebelum tidur aku sudah lupa tentang itu semua. Mengingat pun tidak, apalagi berharap untuk bermimpi. Ternyata kali ini aku gagal bersembunyi. Masih dirasa yang sama. tentang seseorang yang sempat singgah, diam, lalu aku sendiri yang meminta pergi.
Setelahnya, aku pulang dari pancuran itu. kuletakkan sabun pencuci wajahku. Karena aku tak tahan dinginnya pagi, aku mencoba berdiang di dekat api. Ruangan itu tidaklah luas. Hanya 4 kali 3 meter saja. Tak ada satupun alat – alat canggih di situ. Hanya ada perapian, alat masak yang terbatas, dan aku tak lupa bahwa langit – langit pondok dihiasi gantungan baju yang dipakai untuk bekerja.

Mudahan besok dan luasa, mentari tak membohongiku lagi.

Maret 15, 2020

KAMI ADALAH GERAKAN

KAMI ADALAH GERAKAN



Kita adalah sebuah gerakan
Terdiridari tangan, kaki, juga pikiran
Lahir sepuluh tahun yang lalu di kota metropolitan
besar, tumbuh, dan berkembang di jengkal Tanah pertiwi, Indonesia!
Bukan hanya tentang sebuah nama, tapi  wajah negeri ini tak cukup diwakilkan dengan kesibukan dan hiruk pikuk kota,
Masa depan Nusa dan bangsa ini bukan hanya di sana, tapi sungguh hadir di sini.

Sekarang, optimiskah dikau masa depan Indonesia akan maju?
Hari ini, kita di depan bumi  pertiwi  ingin kukisahkan tentang


Guru - Guru SDN Haratai 3

Saya adalah optimis masa depan bangsa. Namaku Aspian, umurku 53 tahun, seorang Guru  di SDN Haratai 3. Aku di sini sudah 15 tahun mengajar. Tahu tidak? Setiap hari aku menempuh 66 Km untuk menghadirkan cita bangsa di sekolah.

Wajah keriput, langkahku kadang gemetar, namun aku antusias untuk memberi. Bukankah kita di sini sudah banyak menerim.  Untuk berbuat aku tidak pernah merasa ada kata cukup. Umur tidak jadi penghalang, untuk berani mengatakan "dimulai dari kita". aku ibu Tati, salah satu wajah Pendidikan.

Aku adalah gerak perubahan, 57 tahun sudah kusaksikan wajah Indonesia. Dari Pegunungan Meratus, seorang Kepala Sekolah, aku sungguh percaya, bahwa langkah kecil untuk sebuah kebesaran.



Sekarang! Bukankah kita yang akan melanjutkan itu semua.
aku yang  berdiri di sini. Muda dan berani, untuk turun tangan bangkitkan masa depan negeri.

Mengikuti arus hingga ujung muara
Tangan ini tidak kosong
Melekat kuat suatu harapan, seluas alam semesta

Terpaku pandangan pada uluran tangan yang menarikku  dari dasar air yang menenggelamkan
Buah tangan yang melekatpun bagai cahaya yang menuntun dan menarik menjadi lengan yang sama



Ya cahaya itu ada di depanku sekarang
Menatapku lembut dan mengisyaratkan mereka yakin dan ingin

Sekarang ada aku, kamu
Tapi bagaimana dengan mereka?
Angin bertiup kencang, matahari enggan menunjukkan senyumannya,
Kesunyian hanya terpecah oleh derasnya air, gelapnya malam menjadi tantangan yang cukup berarti
Terus bagaimana cahaya itu bisa kita bagikan?
Kawan, jangan biarkan aku menggenggam ini sendiri
Karena ku tau, langkahku kuat karena kalian kawan
Meski alam semesta tidak selalu berpihak, namun kita harus bergandengan tangan menumbuhkan akar untuk membangunkan alam semesta lainnya yang sedang tertidur untuk mencapai cita bersama.

Cita itu tidak lahir dari ego dalam diri
Gemilang cita karena cinta untuk mengubah semesta menjadi lebih baik
Seperti akar yang merambat mengikat air dan tumbuh menjadi individu yang baru
Saling bersahutan untuk menggenggam tangan dan mengangkat cita
Cita itu tumbuh dari mana saja yang bergema dilangit yang sama


Aku menemukanmu yang menjadikan aku tak lagi asing
Ku bagikan apa yang ku bawa sebagai tanda terimakasih
Ku rasakan hangatnya genggaman tangan itu, yang dulu hanya aku, kamu tapi sekarang merekapun ada
Semua terjadi nyata bukan hanya sekedar fiksi atau mimpi


Aku melihat banyaknya cita-cita lainnya dari senyuman malaikat kecil
Dari mereka aku belajar, melebur diri menjadi bagian dari kehidupan kumpulan ini
Aku asing, tapi itu dulu
Sekarang aku bagian dari keluarga yang citaku di dengar dan bisa membantu untuk bersama-sama mencapainya.
Hari ini, besok, lusa, mari kita jaga kehangatan ini. Untuk bergerak bersama, bahwa masa depan itu sungguhlah ada.


Februari 22, 2020

MASA MUDA : BAGAI POHON YANG BERBUAH

MASA MUDA : BAGAI POHON YANG BERBUAH

Seseorang pernah mengatakan begini, “Kamu tidak dapat berpikir salah tapi berbuat benar, dan Kamu tidak dapat berpikir benar tapi berbuat salah”. Ini sesuatu pepatah dalam kehidupan sehari hari yang pernah kita dengar. Bagaimana dalam kehidupan itu dimulai dari sebuah pemikiran yang benar. Ada enam hal yang tak pernah cukup dalam hidup menurut Gunadi Gethol dalam bukunya Six things U Don,t Have Enough..? disebut sebagai Management Miracle Series Waktu, Uang, Akal/Pikiran, Hati/Rasa, Kesehatan, dan Ibadah

Dalam kehidupan bersama, semua orang akan dihadapkan dengan sebuah pemikiran. Walau pemikiran yang baik atau buruk. Itu sebuah pilihan. Kehidupan yang serba “tuntutan” jaman sekarang menuntut orang untuk segera berpikir dan ambil tindakan. Jika dalam satu detik kita telat berpikir, maka akan banyak tindakan yang terlambat.
Kota Tua, Jakarta
Firman Tuhan yang disampaikan oleh Paulus melalui jemaat Galatia. Tetapi buah roh ialah: kasih, sukacita, damai, sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada satu hukum yang akan menantang semua buah roh itu (Galatia 5:22-23). Inilah mistar kehidupan yang akan mengukur sejauh mana makna dan tindakan hidup yang kita lakukan di dalam nama Yesus Kristus dan Roh Kudus.

Secara manusiawi, semua daftar buah – buah roh tadi memang menuntut kita menjadi makhluk yang sempurna. Membuat pertanyaan di dalam diri kita, apakah itu bisa kita lakukan di jaman modern ini? Apakah benar juga seorang muda harus menguasai diri dalam kasih, sukacita, damai, sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,  kelemahlembutan, penguasaan diri.

Citra Diri Masa Muda Menurut Alkitab

Apakah Alkitab tidak tahu bahwa, masa muda dihantui oleh kecemasan, kekhawatiran, masalah, kegagalan, putus asa, amarah, dendam, benci, dan lain sebagainya, dan lain sebagainya. Apakah juga ayat ini tidak melihat bahwa hidup sekarang penuh dengan persaingan, dipenuhi dengan ketidakpastian, dikelilingi oleh orang – orang yang tidak mendukung, kondisi sosial dan ekonomi yang sulit, mempunyai hubungan yang tidak baik antarsesama, pekerjaan yang sulit, gaji yang sedikit, perkelahian, pembunuhan, pencurian, dan lain – lain. Kadang itu menjadi pikiran, bahwa dunia pada jaman dulu lebih mudah dibandingkan dunia yang sekarang. Semua ini dialami pemuda saat ini. Bahkan lebih dari ini. Ayat ini tidak mengetahui kondisi jaman sekarang.

Tentu saja hal ini TIDAK BENAR. Dalam jaman penulisan ayat ini, Paulus menghadapi situasi dan orang – orang pada saat itu jauh lebih sulit dibandingkan dengan sekarang. Meskipun demikian, Paulus tidak menyerah untuk mengilhami Firman Allah, agar keturunan Adam dan Hawa dipenuhi dengan dengan kasih. Bagaimanapun kondisi, kita telah diingatkan untuk tetap memberikan buah roh kepada oranglain di manapun dan kapanpun.
Cara Meng Upgrade Diri Melalui Pikiran yang Benar
Orang Yang Bersalah Kepadaku
Apa yang Mereka Lakukan
Aku Memutuskan Mengampuni Mereka
XXX
YYY
ZZZ





Yesus dalam perumpamaan-Nya mengatakan bahwa kualitas sebuah pohon bisa dilihat dari buahnya. Dengan cara yang sama kita akan mengenal sebuah pohon dari buahnya juga. Dalam bahasa universalnya, pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik; pohon yang tidak baik akan menghasilkan buah yang tidak baik juga”. Isi ayat ini dapat kita baca dan dalami melalui Matius 7:15-18,

Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam-Ku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa . . . . dalam hal ini Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid – murid-Ku.

Pemikiran Baik – Tindakan yang Baik

Pemikiran yang baik akan juga menghasilalkan buah yang baik juga. Pemikiran yang baik akan muncul ketika kita memilih menjadi pohon yang mempunyai buah dan bisa dinikmati oleh orang – orang yang ada di sekitar kita. Ketika kita terputus dengan itu semua, tidak mungkin kita bisa menyatu dalam Roh Kudus. Ketika kita dicangkokkan menjadi bagian dari Pokok Anggur, berarti kita sudah menjadi bagian dari pemikiran yang baik. Tinggal bagaimana langkah – langkah yang kita ambil menjadi wajah dan rupa Roh Kudus di dalam diri kita.
Batas – batas berpikir yang benar
Benar, mulia, adil, suci, manis, enak dengar, kebajikan, kebaikan, syukur, dan lain sebainya.
Buah Roh; kasih, sukacita, damai sejahtera, kebenaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri.


Ketika kita sudah menganggap bahwa, diri kita sudah mengambil diri sebagai pohon yang diberkati oleh Tuhan. Maka tantangan kita adalah untuk berbuah lebih hebat. Jenis buah yang dihasilkan tentu berbagai macam. Menghasilkan buah dalam kehidupan menjadi bukti nyata bahwa Roh Kudus bekerja dalam diri kita. Mulai dari pikiran yang baik menjadi tindakan yang baik juga. Juga dari pohon yang baik menghasilkan buah yang baik juga. Semakin kita banyak belajar untuk menjadi pohon, juga semakin banyak tantangan yang kita hadapi.

Di bawah ini saya berikan contoh untuk mendisiplinkan diri tentang cara berpikir:

Contoh
Pola Pikiran/Keadaan yang Dialami
Senin
Aku berpikir bagaimana si Bonar memperlakukanku di depan publik. Menasehatiku di hadapan banyak orang. Tentu ini bukan sebuah tindakan yang benar, masa dia beraninya memberikan aku statement seperti itu ...
Selasa
Oh, ternyata begitu. Selama ini aku sudah berbuat baik dengan dia. Ini baru saja aku minta tolong, masa dia ga bisa bantu. Padahal dia punya waktu untuk membantuku, kali ini aku memilih . . . .
Dst
 Dst


Inilah kunci masa muda untuk menjadi lebih bermakna dan bermanfaat bagi sesama. Tentu dimulai dari sebuah pikiran yang benar. Pikiran yang benar bersumber dari Alkitab dan akan dibuktikan melalui tindakan. Hingga masa muda kita mampu menghasilkan buah yang baik untuk sesama kita.

TUHAN YESUS MEMBERKATI

Februari 08, 2020

KETULUSAN KAMERA (KAMU DAN MEREKA)

KETULUSAN KAMERA (KAMU DAN MEREKA)




"Aku seorang guru di SDN Haratai 3, Desa Haratai, Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Aku ini adalah Pengajar Muda (PM) dari Indonesia Mengajar (IM) Angkatan XVIII.  Dengan rompi yang aku pakai masyarakat sudah mengenalku dari mana. Karena  untuk saat ini aku menjadi estafet ke empat (PM). Enam bulan bertugas. Tanggal 10 Agustus 2019 menjadi hari pertamaku ditempatkan di sini. Aku bertugas menjadi penerus ke empat optimisme Indonesia Mengajar di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, secara khusus di Desa Haratai, bahwa pendidikan itu ada. Enam bulan perjalan di sini, sungguh membuatku jatuh cinta. Banyak sekali hal – hal yang baru aku kenal dan rasakan. Bahagi. Tertawa. Kehangatan yang sungguh luar biasa. Itu yang membuatku jatuh cinta. "

Mandi di Sungai


Di sini aku mengenal banyak hal; kultur, sosial, bahasa, alam, tak lupa aku juga mengenal kasih dan cinta orang – orang yang luar biasa di sekelilingku.  Dari kultur contohnya aku mengenal apa itu kepercayaan Kaharingan, apa itu baharago, baaruh, pamataan, tentang balai, baaruh basambu, baaroh ganal, dan masih banyak lagi.

Dari sosial masyarakat aku belajar banyak tentang masyarakat Dayak Gunung Meratus karena memang di sinilah tempatku, belajar membersamai orang – orang yang sama sekali belum pernah ku kenal sebelumnya. Melalui kebiasaan sehari – hari mereka, bercocok tanam, tentang bagaimana mereka disatukan dalam satu kohesi sosial yang sangat melekat, dengan gotong royongnya yang masih tinggi, harmonis, dan sangat terbuka terhadap orang baru. Masyatakat di sekitar Gunung Meratus sangatlah ramah. Ini dibuktikan banyaknya orang dari luar yang datang ke desa ini. Termasuk turis yang sering menginjakkan kaki di Dusun 3 tempatku untuk pergi ke Gunung Halau-halau yang menjadi salah satu gunung tertinggi di Kalimantan.

Di sisi lain aku juga banyak mengenal bahasa termasuk Bahasa Banjar dan Bahasa Dayak Meratus. Bahasa di sini berbeda – beda antar desa. Padahal jarak antar desa tidak terlalu jauh. Bahasa Banjar di sini mempunyai kemiripan dengan Bahasa Jawa. Misalnya kata inggih (Ia), lawang (pintu), dan banyak lagi. Bahasa menjadi tolok ukur adaptasiku di desa, kecamatan, bahkan di tingkat kabupaten. Karena melalui bahasa aku dapat berbincang terbuka dan menghargai kekayaan bahasa yang dimiliki daerah.


Aku juga banyak belajar tentang alam pegunungan, menuntutuku untuk beradaptasi. Cuaca pegunungan yang dingin, beraptasi juga dengan pola makan/minum di desa. Orang di desaku masih menyatu dengan alam. Makanan dan minuman bersumber dari alam di sekitar, tidak dibeli, dan masih menunjukkan kepemilikaan bersama. Karena mereka menyakini, bahwa tanaman tua yang berbuah saat ini adalah warisan leluruh mereka. Dijaga dan dinikmati adalah salah nilai yang mereka utamakan untuk bersahabat dengan alam.

Desa ini selalu menghadirkan kenyamanan, alamnya juga, percikan air sungai yang mengalir setiap hari dari kaki Gunung Meratus, Air Terjun Haratai yang menampilkan pesona alam yang begitu indah, suara burung yang memberikan penghiburan pagi dan menjelang sore hari. Setiap malam aku memandang langit, aku merasakan bahwa bintang itu sungguh dekat di tempat ini. Sungguh ini semua adalah ciptaan Tuhan yang layak disyukuri dan dijaga.

Ditanggal 02 – 02 – 2020 ini. Tanggal, bulan dan tahun yang unik ini. Tak lupa aku juga mensyukuri akan hadirnya aku di sini. Termasuk anak – anak yang menjadi tempatku mengajar dan juga belajar, ada banyak hal yang tak bisa direkam kamera tapi bisa disaksikan dengan kepala mata sendiri. Tentang ketulusan, kegembiraan, semangat, motivasi, kemauan yang tinggi, antusias, dan sebagainya, dan sebagainya.

Tiga Puluh Tujuh Cahaya Mimpi (SDN Haratai 3)

Ini tentang tiga puluh cahaya di Kadayang. Mengapa aku sebut mereka sebagai cahaya? Karena cahaya selalu memberikan terang. Sudah pasti terang itu disukai oleh banyak orang, dalam terang kita dapat menemukan kebahagiaan, optimisme, semangat, dan harapan. Aku sebut mereka tiga puluh tujuh cahaya masa depan di desaku. Angka itu adalah jumlah siswa/i di sekolahku. Mereka punya tekad dan optimis, bahwa jauhnya kota dari tempat tinggalnya tidak menjadi penghalang untuk sekolah, jauhnya akses dari kecamatan tidak menjadi penghalang untuk bisa menampilkan kemauan. Karena keindahan masa depan seseorang itu sebenarnya tergantung pada keyakian dan impiannya. Sekarang mereka itu sudah yakin, bahwa mereka semangat. Hadir di sini akan membawamu benar – benar untuk “becoming the true you”. Karena alamnya matahari adalah menyinari dan memberi cahaya; “alam”nya manusia adalah memberi; ketika matahari bersinar, manusia akan berkontribusi.
Belajar Malam
Sebelumnya aku ingin beritahu. Nama lengkapku adalah Bonar Situmorang. Kalau di tanah kelahiranku, Sumatera Utara nama panggilanku adalah Bonar. Kalau di sini agak berbeda sedikit, aku itu dipanggil Bapak Bunar. Hihihi. Baik oleh anak – anak di sekolah dan masyarakat kece di desaku. Mengapa? Karena di sini itu orang mengenal o ( U bulat) dan U (U pecah). Unik bukan?

Di sini aku selalu di kelilingi orang – orang baik. Ada keluarga asuhku yang menerimaku, ada masyarakat desa yang selalu memberikan kehangatan, terutama anak – anak didik. Di desa merekalah temanku sehari – hari. Pergi ke kayuan (hutan), mandian (mandi) di sungai, mencari buah – buahan, apalagi saat ini di desaku lagi musim buah. Setiap hari mereka membawa buah untukku. Pokoknya mereka adalah sumber energiku setiap hari di sana.


Aku datang ke desa ini hanya sendirian. Awalnya tujuanku membawa inspirasi. Sekarang justeru aku yang banyak diinspirasi oleh anak – anak, orang tua, dan masyarakat desa. tentang bagaimana mereka melakukan kebaikan, ketulusan, dan membuatku berefleksi akan hadirnya aku di sini.  Berharap hadirnya estafet ke empat di sini akan membawa kebaikan untuk mereka. Dulunya, aku adalah pribadi yang cukup khawatir kalau pergi ke mana – mana. Maklum saja, daerah ini belum pernah sama sekali aku jejaki. Baru pembagian penempatan aku ketahui bahwa di Tanah Air Indonesia ini ada satu tempat yang begitu indah yaitu Dusun Kadayang, Desa Haratai, Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Sekarang ini aku sudah bisa memetakan kekhawatiran. Aku tidak takut lagi di sini tentang makanan, tempat tidur, tidak bisa bahagia. Justeru aku mendapatkan semua di sini. Anak – anak yang sering mengantarkan makanan untukku, mereka yang mengajakku untuk tidur di rumahnya, dan mereka jugalah yang membuatku selalu menikmati setiap hariku. Melalui orang – orang yang ada di sekitarku.

Keseruan Mencari Buah - buahan
Ini semua sudah aku rasakan selama enam bulan di penempatan. Semuanya berjalan begitu cepat. Waktu terasa begitu cepat berputar selama enam bulan ini. Benar pepatah mengatakan “di mana ada kemauan, di situ ada jalan” apalagi di sini bukan hanya tentang jalan yang aku temukan, juga kemauan orang – orang di sekitarku selalu memberikan optimisme.

Aku pun semakin sering menghitung hari mundurku di sini. Mestakung (semesta mendukung). Itu nyata dan terbukti. Awal pertengahan sampai detik ini aku selalu bersama dengan tiga puluh tujuh orang yang selalu setia dan menjadi tempatku bercerita. Mereka patut dan layak mendapatkan satu tempat cita – cita kelak. Tentang mereka yang selalu giat belajar, antusias mengajak bapak gurunya membaca dan belajar malam, mereka jugalah yang menjadi inspirasiku. Bagaimana mungkin tidak, merekalah yang mengajariku untuk hidup menyatu dengan alam. Melangkah, bermain, tertawa, menikmati setiap proses yang ada bersama mereka. Langkah dan pijakan kaki mereka selalu kurenungkan untuk jadi bahan refleksiku setiap hari.

Hari Ini, Besok, Sebelum Berakhir

Tadi aku sudah bercerita tentang masyarakat desa, alam, dan kultur yang senantiasa menjadi teman bertumbuhku. Kali ini aku akan bercerita tentang tiga puluh tujuh orang yang selalu memberikanku energi dan recharge semangatku setiap hari. tak luput juga bahwa mereka jualah sumber semangatku. Melihat senyum hangat mereka setiap hari, mendengar kisah mereka, mengikuti langkah mereka, bahkan kepolosan hati mereka akan selalu menjadi penyemangat buatku untuk menjalankan peran dan tugas.


Mereka jugalah sering menanyakanku, kaya apa habarnya pian pak ae? (apa kabar bapak), bapak laparankah (apakah bapak sedang lapar), pak ae kita maunjun yuk! (Pak, kita memancing yuk), pak ae kita mandian yuk ke sungai Panting (pak, kita mandian yuk ke sungai Panting), pauji pak? (kenapa pak). Pertanyaan – pertanyaan ini yang selalu hadir ditelingaku sebagai bukti bahwa mereka benar – benar memerhatikanku.

Tak lepas dari itu, enam bulan membersamai mereka adalah waktu yang sangat kusyukuri. Mereka yang selalu hadir saat hujan dan terik matahari. Mereka jugalah yang sering mengajakku tersenyum setiap hari, dengan kepolosan hati mereka, senyum tawa, energi mereka yang tak pernah habis ketika diajak bermain di alam. Mereka punya waktu selalu untukku.

Bagiku, hadirnya orang setulus mereka kadang membuatku tidak bisa menahan haru dalam hati. Tak mudah untuk melepas mereka, kalau ada kegiatan harus ke kecamatan atau pun ke kabupaten. Ketika aku kembali, mereka akan langsung menyalam dan menanyakanku? “bapak dari mana?”.  Mereka selalu menanyakan apakah saya sudah makan atau belum. Tiba – tiba mereka yang menawarkan makanan. Baik saat proses belajar berlangsung. Begitu juga di luar jam belajar di sekolah.

Tiba – tiba saja mereka menawarkan aku kerupuk yang berada digenggaman tangannya. Pak, hatjinkah? (pak maukah). Bapak masih kenyang, makan saja. Sambutnya, bapak harus makan, pantang menolak makanan pak. Itu satu dua siswa saja yang mengatakan demikian saya rasa tidak apa – apa. Bagaimana jika itu dilakukan oleh setiap siswa yang ada di sekolah. Bisa kenyang makanan aku setiap hari di sana. Mereka yang tiba  - tiba membawa beras kepadaku. Pak ini ada beras, nanti bapak masak ya! Biar bapak jangan lapar. Mereka jugalah teman bermain. Tak bisa dipungkiri kalau hari – hari ku di desa selalu saja mulus. Ada batu kerikil yang hadir di jalan – jalan yang kulalui. Tapi, berkat melihat mereka semua itu menjadi semangat. Karena mereka sendirilah yang menjadi temanku untuk berbagi, bercerita, dan ambil hikmat dalam setiap perjalanan.

Aduh, foto yok pak

Mereka yang sering mengajakku pergi ke hutan. Mencari buah, mencari kayu bakar, mencari hasil alam mereka, mengattam (mencari kepiting di sungai). Setiap pergi ke hutan aku akan selalu orang yang berjalan di depan, katanya biar bapak tidak ketinggalan di jalan. Mereka jugalah yang pertama memberiku buah. “Pak coba ini dulu, kalau rasanya enak nanti saya ambil lagi” katanya. Ini semua tentang kehadiran mereka bersamaku di desa.


Dengan kepolosan hati mereka. Bisa saja ketika jam isterahat, mereka membawa buah – buahan dibagikan kepada guru. Ada durian, duku, rambutan, dan lain masih banyak lagi. Ini semua diberi untuk bapak, tidak perlu dibayar, katanya. Di saat seperti inilah aku benar – benar tersentuh. Tanpa mereka di desa aku bukan siapa – siapa. Orang yang datang Sumatera sana diterima begitu hangat. Tak ada kata – kata yang dapat mewakilkan perasaan.

Berulang, berulang, dan berulang kali aku hanya bisa ucapkan terima kasih kepada mereka. Atas ketulusan, atas kebaikan, atas hadirnya semangat dalam setiap kondisi, dan perhatian mereka yang tulus akan. Cerita manis ini layak untuk dirasakan, disyukuri, dinikmati, dan layak untuk dibalas dengan AKS18AIK.