Agustus 09, 2018

Makalah : Teori Fenomenologi dan Tokoh - Tokohnya


P    Pengertian Fenomenologi

Fenomenologi secara etimologi berasal dari kata “phenomenon” yang berarti realitas yang tampak, dan “logos” yang berarti ilmu. Sehingga secara Tujuan utama fenomenologi adalah mempelajari bagaimana fenomena dialami dalam kesadaran, pikiran dan dalam tindakan, seperti bagaimana fenomena tersebut bernilai atau diterima secara estetis. Fenomologi mencoba mencari pemahaman bagaimana manusia mengkonstruksi makna dan konsep-konsep penting, dalam kerangka intersubjektivitas.
Secara terminologi fenomenologi adalah ilmu berorientasi untuk dapat mendapatkan penjelasan tentang realitas yang tampak.Fenomena yang tampak adalah refleksi dari realitas yang tidak berdiri sendiri karena ia memiliki makna yang memerlukan penafsiran lebih lanjut. Fenomenologi menerobos fenomena untuk dapat mengetahui makna (hakikat) terdalam dari fenomena-fenomena yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Jadi, fenomenologi adalah ilmu mengenai fenomena yang dibedakan dari sesuatu yang sudah menjadi, atau disiplin, atau disiplin ilmu yang menjelaskan dan mengklasifikasikan fenomena, atau studi tentang fenomena. Dengan kata lain, fenomenologi mempelajari fenomena yang tampak di depan kita, dan bagaimana penampakannya.

      Sejarah Fenomenologi

Ahli matematika Jerman Edmund Husserl, dalam tulisannya yang berjudul Logical Investigations (1900) mengawali sejarah fenomenologi. Fenomenologi sebagai salah satu cabang filsafat, pertama kali dikembangkan di universitas-universtas Jerman sebelum Perang Dunia I, khususnya oleh Edmund Husserl, yang kemudian di lanjutkan oleh Martin Heidehher dan yang lainnya, seperti Jean Paul Sartre. Selanjutnya Sartre, Heidegger, dan Merleau-Ponty memasukkan ide-ide dasar fenomenologi dalam pandangan eksistensialisme. Adapun yang menjadi fokus dari eksistensialisme adalah eksplorasi kehidupan dunia mahluk sadar, atau jalan kehidupan subjek-subjek sadar.
Seperti telah disebutkan sebelumnya, bahwa fenomenologi tidak dikenal setidaknya sampai menjelang abad ke-20. Abad ke-18 menjadi awal digunakannya istilah fenomenologi sebagai nama teori tentang penampakan, yang menjadi dasar pengetahuan empiris (penampakan yang diterima secara inderawi). Istilah fenomenologi itu sendiri diperkenalkan oleh Johann Heinrich Lambert, pengikut Christian Wolff. Sesudah itu, filosof Immanuel Kant mulai sesekali menggunakan istilah fenomenologi dalam tulisannya, seperti halnya Johann Gottlieb Fichte dan G.W.F.Hegel. Pada tahun 1889, Franz Brentano menggunakan fenomenologi untuk psikologi deskriptif. Dari sinilah awalnya Edmund Hesserl mengambil istilah fenomenologi untuk pemikirannya mengenai “kesengajaan”.

     Teori Fenomenologi

Terdapat dua garis besar di dalam pemikiran fenomenologi, yakni fenomenologi transsendental sepeti yang digambarkan dalam kerja Edmund Husserl dan fenomenologi sosial yang digambarkan oleh Alfred Schutz. Menurut Deetz dari dua garis besar tersebut (Husserl dan Schutz) terdapat tiga kesamaan yang berhubungan dengan studi komunikasi, yakni pertama  dan prinsip yang paling dasar dari fenomenologi – yang secara jelas dihubungkan dengan idealism Jerman – adalah bahwa pengetahuan tidak dapat ditemukan dalam pengalaman eskternal tetapi dalam diri kesadaran individu.  Kedua, makna adalah derivasi dari potensialitas sebuah objek atau pengalaman yang khusus dalam kehidupan pribadi. Esensinya, makna yang beraal dari suatu objek atau pengalaman akan bergantung pada latar belakang individu dan kejadian tertentu dalam hidup. Ketiga, kalangan fenomenolog percaya bahwa dunia dialami dan makna dibangun melalui bahasa. Ketiga dasar fenomenologi ini mempunyai perbedaan derajat signifikansi, bergantung pada aliran tertentu pemikiran fenomenologi yang akan dibahas. 

     Jenis-Jenis Tradisi Fenomenologi

Inti dari tradisi fenomenologi adalah mengamati kehidupan dalam keseharian dalam suasana yang alamiah. Tradisi memandang manusia secara aktif mengintrepretasikan pengalaman mereka sehingga mereka dapat memahami lingkungannya melalui pengalaman personal dan langsung dengan lingkungannya. Titik berat tradisi fenomenologi adalah Pada bagaimana individu mempersepsi serta memberikan interpretasi pada pengalaman subyektifnya. Adapun varian dari tradisi Fenomenologi ini adalah :

  1. Fenomena Klasik, percaya pada kebenaran hanya bisa didapatkan melalui pengarahan pengalaman, artinya hanya mempercayai suatu kebenaran dari sudut pandangnya tersendiri atau obyektif.
  2. Fenomenologi Persepsi, percaya pada suatu kebenaran bisa di dapatkan dari sudut pandang yang berbeda – beda, tidak hanya membatasi fenomenologi pada obyektifitas, atau bisa dikatakan lebih subyektif.
  3. Fenomenologi Hermeneutik, percaya pada suatu kebenaran yang di tinjau baik dari aspek obyektifitas maupun subyektifitasnya, dan juga disertai dengan analisis guna menarik suatu kesimpulan.
  4. Fenomena Klasik, percaya pada kebenaran hanya bisa didapatkan melalui pengarahan pengalaman, artinya hanya mempercayai suatu kebenaran dari sudut pandangnya tersendiri atau obyektif.
  5. Fenomenologi Persepsi, percaya pada suatu kebenaran bisa di dapatkan dari sudut pandang yang berbeda – beda, tidak hanya membatasi fenomenologi pada obyektifitas, atau bisa dikatakan lebih subyektif.
  6. Fenomenologi Hermeneutik, percaya pada suatu kebenaran yang di tinjau baik dari aspek obyektifitas maupun subyektifitasnya, dan juga disertai dengan analisis guna menarik suatu kesimpulan.

Prinsip Dasar Fenomenologi
Stanley Deetz menyimpulkan tiga prinsip dasar fenomenologis:
  • Pengetahuan ditemukan secara langsung dalam pengalaman sadar. Kita akan mengetahui dunia ketika kita berhubungan dengan pengalaman itu sendiri.
  • Makna benda terdiri dari kekuatan benda dalam kehidupan seseorang. Bagaimana kita berhubungan dengan benda menentukan maknanya bagi kita.
  • Bahasa merupakan kendaraan makna. Kita mengalami dunia melalui bahasa yang digunakan untuk mendefinisikan dan mengekspresikan dunia itu.
T
Tokoh Fenomenologi
E     1. Edmud Husserl
Edmud Husserl
Edmund Husserl (1859-1938) merupakan tokoh terpenting dalam metode fenomenologi mengingat ialah yang untuk pertama kalinya mempopulerkan nama fenomenologi sebagai metode atau cara berpikir baru dalam ranah keilmuan sosial-humaniora. Beberapa pemikiran Edmund  Husserl terkait teori fenomonologi. sebagai berikut : 
 Fenomenologi Sebagai Metode untuk Membangun Disiplin dasar

Pendiri fenomenologi sebagai sebuah gerakan filosofis, Edmund Husserl (1859-1938) memiliki tujuan fundamental, yang diperlukan untuk memiliki jelas dalam pikiran dalam menilai pekerjaannya dan relevansinya bagi psikologi. Tujuan ini adalah untuk memberikan dasar yang pasti untuk disiplin ilmiah yang berbeda dengan membentuk makna konsep-konsep mereka yang paling dasar. Hal ini harus dilakukan oleh klarifikasi struktur-struktur esensial penting dari pengalaman yang membedakan satu disiplin dari yang lain dan mengatur sifat dari masing-masing konsep disiplin itu. Seorang ahli matematika dengan pelatihan, kita bisa melihat dalam sesuatu karya Husserl pendekatan untuk pengetahuan tentang geometri Euclidean, peletakan keluar dari aksioma, atas dasar hal-hal yang pada kenyataannya dapat dianggap melalui secara sehat. Dimana ini istirahat analog bawah adalah dalam sifat dari aksioma dasar, yang bukan untuk Husserl, produk dari alasan sederhana tetapi temuan pengawasan dari sifat abstrak dari pengalaman tersebut dan dari mana konsep seperti itu berasal, sehingga mendasar untuk cabang beasiswa.

Yang penting, maka Husserl memiliki kekhawatiran bahwa ilmu yang berbeda dan disiplin ilmiah tidak memiliki metodologi untuk membangun konsep-konsep dasar mereka. Banyak psikolog dengan selera untuk kekakuan konseptual juga memiliki kepedulian picik bahwa konsep-konsep dasar yang kurang kuat dan jika ada pretensi dari yayasan tersebut, mereka tampaknya tetap akan digunakan secara longgar tanpa mata untuk setiap arti mendasar. Husserl memandang hal ini sebagai khas dari semua alam pemikiran ilmiah. Tujuan filsafat aslinya sebagai ilmu yang ketat (yang metodologis ketat dan hasilnya pasti memproduksi) dan itu akan memberikan landasan untuk konsep dari setiap disiplin ilmiah. Jadi akan ada (misalnya) menjadi geografi fenomenologis, efektif menciptakan apa disiplin adalah dengan memperbaiki konsep-konsep utama. Husserl (1913/1983) berpendapat bahwa, untuk setiap ilmu pengetahuan empiris akan ada disiplin eidetic (Historisisme), tubuh dasar penelitian fenomenologis yang tidak akan sendiri secara langsung berkaitan dengan dunia nyata tetapi akan memberikan set mapan konsep-konsep yang akan memungkinkan peneliti untuk mempelajari dunia nyata. “Eidetic” mengacu pada gagasan bahwa akan konsep-konsep dari “ esensi”  tersebut, murni ide dasar memberikan struktur rasional untuk berpikir tentang realitas. Sama seperti logika tidak secara khusus tentang realitas, namun menyediakan sistem konseptual yang memungkinkan berpikir tentang aspek-aspek realitas untuk melanjutkan, dan hanya sebagai geometri disiplin eidetik memungkinkan teknologi seperti survei tanah untuk mengambil tempat, sehingga akan ada disiplin eidetik untuk wilayah masing-masing usaha manusia.

Jadi, sama seperti geometri bisa menempatkan “ garis lurus “ sebagai item dalam gudang senjata yang eidetik kebenaran meskipun adalah pertanyaan yang sama sekali apakah hal seperti itu mempunyai manifestasi empiris sehingga esensi disiplin murni lainnya harus dibangun tanpa perhatian yang dibayar untuk masalah ini eksistensi nyata. Di antara disiplin fenomenologis akan ada psikologi fenomenologis. Bahkan Husserl ditangani secara khusus dengan topik ini dalam ceramah di 1925 (Husserl, 1925/1977). Tapi account dari psikologi fenomenologis akan tidak seperti buku psikologi empiris seperti biasanya dipahami, memberikan hasil penelitian ilmiah. Melainkan akan memeriksa dan fundamental psikologi menemukan nyenyak sehingga bekerja empiris bisa pergi ke depan aman.

l
Hal Sendiri intensionalitas dan Para Fenomena

Bagaimana pengalaman dari sesuatu untuk diinterogasi ketat? Ini melibatkan mengalihkan perhatian secara eksklusif untuk pengalaman, kemungkinan mengalihkan perhatian untuk mengalami dan apa yang diberikan dalam pengalaman tergantung pada pemahaman bahwa kesadaran semua adalah kesadaran dari sesuatu. Prinsip pertama dari fenomenologi adalah bahwa kesadaran adalah disengaja. Namun Husserl (1913/1983) terdengar peringatan terhadap ini yang risalah pahami sebagai hanya mengulangi dunia “batin” dan dikotomi dunia “luar”. Sebaliknya, perlu dipahami adalah bahwa kedua “modus kesadaran” dan “obyek” kesadaran ini adalah “milikku”, mereka berdua di dalam pengalaman pribadi atau kesadaran: Kita semua memahami kesadaran ekspresi dari sesuatu Ini jauh lebih sulit untuk murni dan benar merebut atas keanehan yang sesuai untuk itu tidak ada yang dilakukan dengan mengatakan bahwa objektivitas dan cerdas setiap berhubungan dengan sesuatu objektivikasi, bahwa setiap menilai sesuatu yang berhubungan dengan dinilai, dll Karena tanpa memiliki disita pada sendiri aneh sikap transendental dan memiliki benar-benar disesuaikan dasar phenomenlogical murni, seseorang mungkin saja menggunakan kata, fenomenologi tapi tidak memiliki materi itu sendiri.

Jadi, “fenomena ini” apa yang muncul (objek sengaja) seperti yang dijelaskan dengan caranya muncul, dengan memperhatikan mode sadar (persepsi, misalnya) yang muncul. Kami akan mempertimbangkan kemudian dua “aspek” dari fenomena seperti yang dijelaskan oleh Husserl (1913/1983), yang noema, obyek kesadaran, dan cara di mana seseorang menyadari itu, noesis. Kunci pendekatan fenomenologis adalah untuk fokus pada “penampilan yang muncul”. Untuk memperhatikan benda di dalam yang muncul adalah untuk menolak gagasan bahwa ada noumenon tersembunyi berbaring di balik fenomena yang berpengalaman., tugas ini adalah untuk menggambarkan apa yang muncul, fenomena yang murni dan sederhana. Sebagai Husserl memberitahu kita: “Apa yang menentukan terdiri dari deskripsi benar-benar setia dari apa yang sebenarnya hadir dalam kemurnian fenomenologis dan dalam menjaga di kejauhan semua melampaui interpretasi diberikan”. Sekarang, deskripsi kesadaran seseorang tentang fenomena ini dianggap oleh Husserl sebagai pasti. Jadi, misalnya, keyakinan keagamaan meskipun pasti masalah sengketa besar untuk hubungannya dengan realitas dan nilai di dalam masyarakat saat ini, adalah tetap describable dalam muncul nya. Itu harus mungkin karena itu, menurut Husserl bagi siapa saja untuk datang ke sebuah pernyataan tentang apa iman. Tidak ada teori dibayangkan bisa membuat kita keliru sehubungan dengan prinsip semua prinsip bahwa setiap intuisi asal presentive merupakan sumber legitimasi dari cogniton, bahwa segala sesuatu awalnya (sehingga untuk berbicara, di personal yang sebenarnya) ditawarkan kepada kita dalam intuisi yang akan diterima hanya seperti apa yang disajikan kepada kita sebagai mahluk, tapi juga hanya dalam batas-batas dari apa yang disajikan di sana.


 Berpikir Fenomenologis

Temuan eksistensial tentang proses mental, sehingga tidak perlu membuat “pengalaman” dan “pengamatan” akal di mana ilmu hal-hal fakta harus mendukung dirinya sendiri oleh mereka, itu tetap membuat temuan eidetik yang berutang untuk refleksi, lebih tepatnya intuisi reflectional dari esensi. Akibatnya keraguan skeptis sehubungan dengan pengamatan-diri juga datang ke dalam tampilan untuk fenomenologi, yang datang ke dalam tampilan untuk fenomenologi, lebih khusus, sejauh meragukan hal ini memungkinkan menjadi diperpanjang dari refleksi tentang sesuatu yang imanen untuk refleksi diambil universal.


 2  2.    ALFRED SCRUTZ

Alfred Scrutz

Ahli teori sosiologi-fenomenologi yang paling menonjol adalah Alfred Schutz, seorang murid Husserl yang berimigrasi ke Amerika Serikat setelah munculnya fascism di Eropa, melanjutkan karirnya sebagai bankir dan guru penggal-waktu (part-time). Dia muncul di bawah pengaruh filsafat pragmatis dan interaksionisme-simbol; barngkali cara terbaik untuk mendekati karyanya adalah melihatnya sebagai bentuk interaksionisme yang lebih sistematik dan tajam. Akan tetapi, dalam karya klasiknya yang berjudul The Phenomenology of the Social World, bagaimanapun, dia tertarik dengan penggabungan pandangan fenomenologi dengan sosiologi melalui suatu kritik sosiologi terhadap karya Weber.  Dia mengatakan bahwa reduksi fenomenologis, pengesampingan pengetahuan kita tentang dunia, meninggalkan kita dengan apa yang ia sebut sebagai suatu “arus-pengalaman” (stream of experience). 

Sebutan fenomenologis berarti studi tentang cara dimana fenomena hal-hal yang kita sadari muncul kepada kita, dan cara yang paling mendasar dari pemunculannya adalah sebagai suatu aliran pengalaman-pengalaman inderawi yang berkesinambungan yang kita terima melalui panca indera kita. Fenomenologi tertarik dengan pengidentifikasian masalah ini dari dunia pengalaman inderawi yang bermakna, suatu hal yang semula yang terjadi di dalam kesadaran individual kita secara terpisah dan kemudian secara kolektif, di dalam interaksi antara kesadaran-kesadaran. Bagian ini adalah suatu bagian dimana kesadaran bertindak (acts) atas data inderawi yang masih mentah, untuk menciptakan makna, didalam cara yang sama sehingga kita bisa melihat sesuatu yang bersifat mendua dari jarak itu, tanpa masuk lebih dekat, mengidebtifikasikannya melalui suatu proses dengan menghubungkannya dengan latar belakangnya.

Hal ini mengantarkan kita kepada salah satu perbedaan yang jelas antara fenomenologi dan bentuk lain dari teori tindakan: “tindakan” sejauh ini mengacu pada tindakan manusi dalam berhubungan satu denan yang lain dan lingkungannya. Bagi fenomenologi juga sama halnya, bahkan tindakan terutama ditujukan kepada proses internal dari kesadaran (manusia), baik individualataupun kolektif. Sekali tindakan itu ditransformasikan ke dalam fikiran kita, ia menjadi sulit untuk keluar lagi dan ini mempunyai konsekuensinya pada usaha untuk memperluas sosiologi-fenomenologis menjadi sebuah teori tentang masyarakat seperti juga tentang pribadi.

Menurut Schutz, cara kita mengkonstruksikan makna diluar dari arus utama pengalaman ialah melalui proses tipikasi. Dalam hal ini termsuk membentuk penggolongan atau klasifikasi dari pengalaman dengan melihat keserupaannya. Jadi dalam arus pengalaman saya, saya melihat bahwa objek-objek tertentu pada umumnya memiliki ciri-ciri khusus, bahwa mereka bergerak dari tempat ke tempat, sementara lingkungan sendiri mungkin tetap diam. 
Jadi, kita menentukan apa yang Schutz sebutkan sebagai “hubungan-hubungan makna” (meanings contexs), serangkaian kriteria yang dengannya kita mengorgnisir pengalaman inderawi kita ke dalam suatu dunia yang bermakna. Hubungan-hubungan makna iorganisir secara bersama-sama, juga melalui proses tipikasi, ke dalam apa yag Schutz namakan “kumpulan pengetahuan” (stock of knowledge). Kalau kita tetap pada tingkat kumpulan pengetahuan umum (commomsense knowledge), kita diarahkan kepada studi-studi yang berlingkup kecil, mengenai situasi-situasi tertentu, yang merupakan jenis karya empiris. Dimana interaksionisme simboliklah yang lebih unggul. Secara umum karya Schutz telah digunakan untuk memberikan konsep-konsep kepekaan yang lebih lanjut, sering secara implicit. Saya kira tiada satupun studi empiris yang menggunakannya secara sistematik kecuali melalui pengembangan etnometodologi. Namun demikian, Peter Berger telah mencoba secara sistematis untuk mengembangkan fenomenologi menjadi suatu teori mengenai masyarakat.

Lebih jauh, bagi Schutz, manipulasi individu turut dimungkinkan dikarenakan individu selalu berhadapan dengan dunia, obyek-obyek, atau realitas secara nyata. Menurutnya, individu selalu meyakini bahwa ia berhadapan dengan realitas nyata sepanjang tak memiliki alasan yang tepat untuk menentangnya. Keyakinan akan keberadaan realitas nyata tersebutlah yang diistilahkannya dengan realitas puncak dan pada gilirannya melahirkan makna puncak. Namun, manakala individu tak mampu menghadapi realitas puncak, atau realitas tersebut tak sesuai dengan harapannya, maka ia pun bakal menolak keberadaan makna puncak, dan menggantinya dengan “makna khusus”. Dalam hal ini, makna khusus merupakan makna yang tak terpaku pada dunia obyektif—berikut demikian berbeda dengan pemaknaan individu lain, melainkan pendayagunaan-lebih alam kesadaran manusia terhadap realitas nyata. Penggunaan makna khusus inilah yang kemudian menghantarkan individu larut dalam dunia khayalan. Sebagai misal, seorang intelektual yang gagal menjadikan dirinya terkenal dan tak kuasa menerima kenyataan tersebut, kemudian kerap membayangkan dirinya menjadi populer, memiliki publikasi yang laris di pasaran, serta diundang berbagai universitas dunia untuk memberikan kuliah. Bagi Schutz, hal tersebut merupakan bagian dari kebebasan individu, hanya saja kebebasan yang tak bertanggung jawab mengingat ketiadaan kontrol dan batasan di dalamnya.

Di samping konsep manipulasi individu yang memiripkan bentuknya dengan fenomenologi eksistensial, layaknya Sartre, Schutz turut meyakini bahwa kehendak dan keinginan dalam diri individu merupakan tanda kekosongan manusia yang memaksa individu untuk terus bertindak. Adapun kecemasan mendasar individu menurut Schutz adalah kematian mengingat hal tersebut selalu membayangi individu akan berbagai proyeknya yang belum selesai selama dirinya berhadapan dengan realitas puncak (Zeitlin, 1995: 264). Hal ini sedikit berbeda dengan pandangan eksistensialisme Sartre (1956: 412) di mana kematian ditempatkan sebagai kepasrahan individu akan proyeknya yang telah usai: kematian menyebabkan individu menjadi “is” ‘adalah’. Oleh karenanya, apa yang dapat dilakukan individu dalam pandangan eksistensialisme hanyalah “berbuat tanpa berharap”.

Di sisi lain, perbedaan mendasar antara fenomenologi eksistensial Sartre dengan fenomenologi Schutz adalah anggapan Schutz bahwa kesadaran individu selalu terbagi. Kesadaran tak pernah menjadi entitas yang tunggal, melainkan selalu terbagi dengan individu lain; sahabat, keluarga, teman dan orang lain. Artinya, pemahaman atau perspektif individu akan suatu hal tidak mungkin tidak dipengaruhi oleh individu lain. Dengan kata lain, dunia individu tak pernah bersifat pribadi sepenuhnya. Anggapan tersebut sudah tentu mengingkari otentitas individu dalam pandangan fenomenologi eksistensial, terlebih berkenaan dengan pemaknaan eksistensial yang dilakukan tiap-tiap individu.

3.    PETER L. BERGER 
Add caption

Peter L. Berger
Pengkajian fenomenologi Peter L. Berger berkaitan erat dengan konsepnya mengenai konstruksi realitas sosial yang dianggapnya bergantung pada posisi individu sebagai subyek. Dengan demikian, asumsi awal pemikiran terkait layaknya struktural fungsional, hanya saja pemaknaan dihasilkan oleh hubungan subyektif individu dengan dunia obyektif. Dalam proses tersebut, Berger (1994: 4-5) meyakini eksisnya dialektika tiga momentum yang dialami individu dalam masyarakat, yakni eksternalisasi, internalisasi dan obyektivasi, yang mana ketiganya menunjukkan eksistensi individu sebagai produk masyarakat dan begitu pula sebaliknya: masyarakat sebagai produk individu. Eksternalisasi adalah kondisi di mana individu lebih dominan ketimbang masyarakat, dalam kondisi yang demikian individu aktif memproduksi nilai, norma dan budaya bagi masyarakatnya. Sebaliknya, internalisasi adalah kondisi tatkala individu lebih dormant ketimbang masyarakatnya, dalam kondisi tersebut individu aktif mengadopsi nilai, norma dan budaya yang terdapat dalam masyarakat. 
              
Lebih jauh, kontektualisasi dialektika tiga momentum di atas dapat dimisalkan dengan proses bertransformasinya konstruksi sosial menjadi kenyataan sosial. Sebagai misal, seorang individu yang berpengaruh dalam masyarakat pada mulanya mempraktekkan senyum simpul kala berpapasan dengan individu lain yang dikenalnya sebagai bentuk penghormatan. Lambat-laun, perilaku tersebut ditiru oleh individu-individu lain dan segera berubah menjadi suatu konstruksi sosial, yakni senyum simpul sebagai bentuk penghormatan kala berpapasan dengan individu lain yang dikenal. Bersamaan dengannya, konstruksi sosial pun menemui bentuknya sebagai kenyataan sosial. Sebagai misal, apabila terdapat individu yang berpapasan dengan individu lain yang dikenalnya namun tak melancarkan senyum simpul, maka ia akan segera mendapati cap sombong, angkuh, dan lain sejenisnya.

            Apabila fenomenologi Berger masih mengakui keterkaitan antara individu dengan masyarakat, maka tak demikian halnya dengan fenomenologi eksistensial Sartre yang menolaknya sama sekali. Begitu pula, fenomenologi eksistensial Sartre menolak dimensi internalisasi dan obyektivasi mengingat memberikan titik tolak penuh pada kedirian individu. Secara tak langsung, hal tersebut turut menyiratkan penolakannya terhadap konstruksi sosial sebagai realitas sosial. Dalam hal ini, fenomenologi eksistensial Sartre sekedar meluluskan terjadinya momen eksternalisasi, namun tak demikian halnya pada momen internalisasi dan obyektivasi. Internalisasi sebagai bentuk pengadopsian nilai, norma dan budaya dalam masyarakat menemui bentuknya sebagai mauvaise foi dalam pandangan Sartre, alih-alih obyektivasi yang menekankan pada penciptaan (persetujuan) konsensus bersama.

            Analisis Berger menyatakan, bahwa individu dilahirkan dengan suatu pradisposisi ke arah sosialitas dan ia menjadi anggota masyarakat. Titik awal dari proses ini adalah internalisasi, yaitu suatu pemahaman atau penafsiran yang langsung dari peristiwa objektif sebagai suatu pengungkapan makna. Kesadaran diri individu selama internalisasi menandai berlangsungnya proses sosialisasi.

4. MAX WEBER
Max Weber

Terkait dengan fenomonologi Max Weber membahas tentang Verstehen. Max Weber (1864-1920) merupakan tokoh sosiologi yang paling berpengaruh dalam pemahaman nominalisme sosiologis. Menurutnya, kajian sosiologi yang memfokuskan perhatian pada studi mengenai entitas masyarakat, institusi atau lembaga-lembaga sosial bersifat abstrak dan penuh spekulasi. Bagi Weber, satu-satunya perihal yang konkret adalah motif berikut tindakan yang dimiliki individu, “Tak ada sesuatu yang dinamakan masyarakat, melainkan kumpulan individu dan kelompok yang menjalin hubungan sosial satu sama lain”, pungkas Weber. Di satu sisi, pernyataan tersebut dapat diasumsikan sebagai berikut, “Keluarkan individu dari masyarakat, maka habislah masyarakat. Tetapi, bubarkan masyarakat beserta lembaga-lembaganya, maka individu akan tetap ada”. Oleh karenanya, obyek studi sosiologi Weber berfokus pada motif tindakan sosial aktor.

Dalam hal ini, tindakan sosial memiliki beberapa karakteristik, antara lain; (1) Tindakan aktor yang memiliki makna dan bersifat subyektif, (2) Tindakan nyata maupun yang bersifat membatin dan sepenuhnya bersifat subyektif, (3) Tindakan yang sengaja diulang berikut tindakan dalam bentuk persetujuan diam-diam, (4) Tindakan terkait diarahkan pada individu maupun kolektif, serta (5) Tindakan tersebut memperhatikan tindakan orang lain dan terarah pada orang itu.

            Lebih jauh, guna menelisik penafsiran dan pemahaman dari serangkaian tindakan sosial di atas, Weber mencetuskan metode verstehen. Secara sederhana, verstehen mengajak peneliti (ilmuwan sosial) untuk menempatkan diri dalam posisi aktor dan berusaha memahami dunia sebagaimana yang dipahami aktor tersebut. Keyakinan Weber akan tindakan aktor yang bersifat rasional, menyebabkannya memetakan tindakan aktor ke dalam empat tipe rasionalitas. Pertama, werktrational (rasionalitas nilai), yakni tindakan aktor yang didasarkan pada sesuatu yang dianggap benar, baik dan diharapkan keterwujudannya—sebagaimana pengertian nilai pada umumnya. Sebagai misal, seseorang yang berkata jujur pada orang lain dikarenakan menganggap kejujuran sebagai perihal yang patut dijunjung tinggi. Kedua, zwerk rational (rasionalitas instrumental), yakni tindakan yang didasarkan pada efisiensi dan efektifitas tingkat tinggi dalam pencapaian tujuan. Semisal, seorang wanita muda yang bersedia menerima pinangan duda tua nan kaya raya dengan harapan bergelimang harta dalam waktu singkat. Ketiga, affectual action (tindakan/rasionalitas afektif), yakni tindakan aktor yang didasarkan pada perasaan atau emosi. Sebagai misal, seorang gadis yang berjingkrak kegirangan karena memperoleh cokelat dari seorang pria yang disukainya. Keempat, traditional action (tindakan/rasionalitas tradisional), yakni tindakan yang didasarkan pada perihal yang telah dilakukan secara turun-temurun dan berulang-ulang. Semisal, seorang pemuda yang pergi merantau dari kampung halamannya dikarenakan hal tersebut telah menjadi tradisi dalam masyarakatnya.
Faktual, Weber berhasil membawa konsep pemahaman subyektif pada pola-pola penalaran yang lebih bersifat rigorous “ketat”. Namun, layaknya fenomenologi Husserl, verstehen Weber tak memiliki penjelasan akan posisi subyek sebagai obyek. Seolah, subyek selalu berpikir berikut bertindak proaktif, bahkan ketika subyek “tertelan” oleh masyarakat, semisal mengikuti nilai, norma dan tradisi yang terdapat di dalamnya, ia tetap dalam kondisi aktif menafsirkan serta menciptakan dunia. Secara tak langsung, ini menjadi aib bagi konsep rasionalitas Weber mengingat dimensi irasionalitas yang turut termuat di dalamnya (tak sepenuhnya rasional)—bertindak karena sekedar mengikuti atau meniru. Di satu sisi, hal terkait kiranya membuat kita perlu mengkaji ulang pernyataan Weber yang kurang-lebih berbunyi: “Seluruh tindakan manusia di dunia adalah rasional”, yang justru mengaburkan batas-batas antara dimensi rasionalitas dengan irasionalitas.
Hal di atas berbeda halnya dengan konsep eksistensialisme Sartre (1956: 48) yang mengenal istilah “keyakinan yang buruk”, yakni kondisi ketika individu sekedar mengikuti individu atau kolektif lainnya. Meskipun memang, Sartre menyatakan pula, “Anda memiliki keyakinan yang buruk, tapi tak mengapa, gaya yang berbeda untuk orang yang berbeda”. Bisa jadi, pernyataan tersebut justru menunjukkan kapasitas eksistensialisme Sartre dalam upaya menjembatani posisi individu dalam masyarakat tanpa harus kehilangan dimensi eksistensinya. Pasalnya, bagi Sartre pengalaman eksistensial dapat menjangkiti baik kala individu tegak berdiri melawan masyarakat (menindak) maupun kala individu tak kuasa melawan dominasi masyarakat (ditindak). Pengalaman terakhir ini, menunjukkan eksistensi diri individu sebagai etre en soi, semisal rasa malu, terobjekkan, pasrah, serta keharusan menilai diri sendiri berdasarkan kerangka penilaian orang lain. Lebih jauh, verstehen Weber tak memuat penjelasan akan kemampuan individu dalam memanipulasi obyek, dalam hal ini terutama orang lain dan ruang (tempat). 

5.    MAX SCHELER


Disamping Husserl, filsuf lain yang juga terlibat dalam filsafat fenomenologi adalah Max Scheler. Scheler juga menggunakan metode Husserl dan tidak berusaha untuk menganalisa dan menerangkan lebih jauh tentang suatu obyek dan gejala-gejalanya. Bagi Scheler, fenomenologi merupakan “jalan keluar” ketidakpuasannya atas logisisme-transendentalis Immanuel Kant dan Psikologisme Empiris. Dan pemikiran yang paling utama Scheler adalah tentang fenomenologi etika.

Dalam pandangan Scheler tentang fenomenologi etis, benda dianggap sebagai “sesuatu” yang bernilai; oleh karena itu, adalah keliru menginginkan inti nilai dari benda-benda, atau memandang keduanya dengan tempat berpijak yang sama. Dunia benda-benda terdiri atas segala sesuatu, maka dapat dihancurkan oleh kekuatan alam dan sejarah. Dan jika nilai moral kehendak kita tergantung pada benda-benda, maka kehancuran tersebut akan mempengaruhinya. Sebaliknya benda itu memiliki nilai empiris, induktif, dan prinsip yang didasarkan diatasnya bersifat relatif.

Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana sebuah prinsip yang universal dan pasti dapat diturunkan dari realitas yang berubah, yang tidak stabil? Jika etika benda-benda diterima, prinsip-prinsip moral akan tertinggal di belakang evolusi sejarah, dan, kata Scheler, adalah tidak mungkin untuk mengkritik dunia benda-benda yang ada pada satu jaman tertentu, karena etika pasti didasarkan pada benda-benda tersebut. Juga salah, bahwa setiap prinsip etis yang berusaha untuk menetapkan tujuan yang berkaitan dengan nilai moral dari hasrat yang terukur. Sebab tujuan, sebagaimana adanya, tidak pernah baik ataupun buruk, sebab benda-benda itu bebas dari nilai yang harus direalisasikan. Dengan model pemikiran seperti ini, maka menurut Scheler, perilaku yang baik dan yang buruk  tidak dapat diukur dengan menghubungkannya dengan tujuan karena konsep tentang baik dan buruk tidak dapat disarikan dari isi empiris tujuan.. Jelasnya, Scheler ingin mengatakan bahwa nilai itu berasal dari benda-benda, namun tidak tergantung pada mereka. Dan dari ketidaktergantungan tersebut memungkinkan benda itu untuk “menyusun” sebuah etika aksiologis yang sekaligus material dan a priori.

Lebih jelasnya lagi, Scheler mengilustrasikannya dengan membandingkan “nilai” dengan “warna” untuk menunjukkan bahwa didalam kasus keduanya terdapat persoalan tentang kualitas yang keberadaannya tidak tergantung pada benda. Scheler mengatakan bahwa “merah” sebagai kualitas murni dalam spektrum, tanpa mengalami perlunya untuk mengkonsepsikannya sebagai yang meliputi permukaan yang berbadan. Dengan cara yang sama, “nilai” yang terkandung didalam benda serta pembentukan atas suatu “kebaikan” tidak tergantung pada benda tersebut. Menurut Scheler, kita tidak memahami, misalnya nilai kenikmatan atau estetik melalui induksi yang umum. Dalam kasus tertentu, satu obyek atau perbuatan tunggal cukup memadai bagi kita untuk menangkap nilai yang terkandung didalamnya. Sebaliknya, kehadiran nilai yang menyertai obyek yang bernilai memiliki hakekat “baik”. Dengan cara ini, kita tidak memeras keindahan dari benda yang indah; karena keindahan mendahului bendanya. Dan bila dikaitkan dengan perbuatan manusia, maka menurut Scheler, manusia bukanlah pencipta nilai tingkah laku karena nilai-nilai itu berada diluar diri manusia. Lebih lanjut Scheler mengatakan bahwa tugas manusia adalah mengakui nilai-nilai itu serta mengikutinya dalam hidup.

DAFTAR PUSTAKA
Brouwer, M.A.W, 1984, Psikologi Fenomenologis, Jakarta: Gramedia.
Lathief, Supaat I, 2010, Psikologi Fenomenologi Eksistensialisme, Jakarta: Pustaka Pujangga.
Poloma, Margaret M, 2010, Sosiologi Kontemporer, Jakarta: Rajawali Pers.
Ritzer, George, 2005, Teori Sosiologi Modern, Jakarta: Kencana.
Zeitlin, Irving M, 1995, Memahami Kembali Sosiologi, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Soekanto, Soerdjono.1993, Beberapa Teori Sosiologi Tentang Struktur Masyarakat, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Website
http://didanel.wordpress.com/2011/06/22/teori-fenomenologi-dan-etnometodologi/
http://kolomsosiologi.blogspot.com/2013/06/fenomenologi-jean-paul-sartre-edmund.html
http://arianicatrine.blogspot.com/2012/05/teori-sosiologi-modern.html?m=1










Tags :

bonarsitumorang

  • Bonar Situmorang
  • Medan
  • Jakarta Selatan
  • bonarsos@gmail.com
  • +62853-7028-9213