Oktober 16, 2019

Pulang, Untuk Nama Tak Kunjung Lupa



Merasa paling luka. Sampai kita lupa saling sapa. Hingga setiap harinya melahirkan benci. Entah sampai kapan, pastinya ini muncul setiap hari saat muncul kesadaran. Tak berujung dan tak bertuan. Langkah demi langkah akan selalu teringat setiap kesalahan dalam luapan emosi. Yang bisa saja terbunuh oleh rasa dan waktu, bahayanya ini akan menjadi luka yang membekas dalam diri.

Jika ditanya ini akan menjadi jawaban yang paling sulit untuk dijelaskan. Apalagi harus menjelma sebagai seorang yang sempurna. Ingin sekali rasanya duduk berdua dan menjelaskan akan situasi yang pernah terjadi. Akan kesalahan – kesalahan yang pernah terjadi, entah itu sengaja atau pun tidak. Pastinya itu akan memberikan ruang lebih untuk bahan pikiran sekarang ini. Jangan sampai waktu itu tidak akan terjadi.

Perihal nama, tak pernah lupa. Bahkan dalam alam mimpi pun nama itu terlalu sering hadir. Walaupun doa yang dilangitkan agar itu semua cukuplah masa lalu. Mengapa? Aku selalu berharap bahwa seakan yang sudah diputuskan itu kembali lagi. Dibenarkan, dijalani kembali. Seandainya saja waktu bisa diulangi kembali, aku hanya ingin merubah satu hal saja tentang masa lalu. Yaitu merubah caraku menghargai sebuah waktu. Karena waktu itu bagiku sangat terjawab ketika saat ini.

Waktu untuk tidak lagi memikirkan hal yang tidak penting, tidak terjerumus dalam satu kondisi yang tidak bisa dijawab dengan waktu. Karena dulu  sebagai sebuah waktu, seakan memikirkan bahwa hari depan dan hari selanjutnya seakan tidak ada lagi kondisi seburuk itu. Pun hanya sebatas kenangan, bahwa masa itu memang terlalu indah untuk dilupakan.

Terlalu kuat badai yang menghantam akal sehatku. Hingga tak bisa dibendung lagi dengan sebuah nasihat dan cara pandang yang realisitis, pada saat itu. Hingga melahirkan kesetiaan terhadap sebuah pilihan yang sangat sulit. Menyatukan dan melepas adalah dua diantara ribuan kemungkinan pada saat itu.



Malam itu, menjadi malam terakhir. Aku coba menenangkan diri dalam langkah, sambil berpikir sebentar akan berpisah.  Singkat waktu dan lama perasaan gundah gulana. Hingga akhirnya solusi di atas kesadaran mampu terwujud dalam sebuah situasi yang sekarang ini masih kulakukan dalam kehidupan sehariku.

Sepanjang jalan ini, sudah jauh terlupakan. Namun, sangat berharap bahwa satu langkah lagi untuk tujuan hidup adalah bertemu. Ke depan akan kugapai, satu malam yang penuh dengan keheningan dan keterbukaan. Bahwa semuanya yang pernah terjadi itu adalah sebuah kondisi yang kuanggap situasi yang tidak dapat dihindarkan bahkan dipisahkan dari diriku sendiri.

Satu malam nanti, entah kapan pun itu, dan entah di manapun itu. Ini satu langkah lagi tujuan hidup yang harus aku capai. Bertemu dan menjelaskan kejadian kejadian  yang dulu pernah ada. Mimpi tahun 2020. Sederhana dan tanpa syarat. Hari itu akan segera muncul dan memberikan sebuah penjelasan bahwa semuanya akan baik – baik saja. Karena ini akan melahirkan benci, jika tidak dijelaskan.



Tags :

bonarsitumorang

  • Bonar Situmorang
  • Medan
  • Jakarta Selatan
  • bonarsos@gmail.com
  • +62853-7028-9213