Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

Jumat, Maret 04, 2016

Makalah: Pola Perilaku Sehat Masyarakat di Sekitar Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Perumnas Mandala



BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
            Tempat pembuangan sementara Perumnas Mandala terletak di Kecamatan Percut Sei Tuan, tepatnya di Jalan Garuda Raya merupakan tempat pembuangan sementara sampah di daerah Perumnas Mandala. Luas wilayah TPS sekitar 10 meter. Lokasi dikelilingi pagar yang terbuat dari tepas yang hanya setinggi 2 meter. Letaknya persis di depan kantor PLN di jalan Garuda Raya yang bersebelahan dengan jalan Parkit Raya III Perumnas Mandala, dan disampingnya ada kantor Dinas Perhubungan dan juga kantor Lurah. Tempat pembuangan sementara di Perumnas Mandala lokasinya tidak jauh dari area pemukiman warga, jaraknya kira-kira kurang dari 1 meter sehingga aroma tidak sedap dari sampah sangat mengganggu masyarakat sekitar, apalagi ketika sampah mulai dikerok untuk diangkut ke truk sampah, maka aroma tidak sedap semakin tercium dan juga aktivitas jalan raya terganggu akibat sampah yang diangkut menggunakan truk, ketika musim hujan dan panas aroma sampah semakin tercium oleh masyarakat sekitar.
Tempat pembuangan sementara sampah di Perumnas Mandala ini sudah berdiri sekitar 25 tahun lamanya, sekitar 25 tahun yang lalu daerah ini belum banyak dihuni oleh rumah penduduk sehingga lokasi ini dijadikan tempat pembuangan sampah, tetapi sekarang daerah ini sudah dipenuhi oleh rumah penduduk dan juga kantor-kantor pemerintahan. Banyak pemulung datang ke TPSPerumnas Mandala pada setiap harinya. TPS yang menjadi tempat pembuangan sementara dari seluruh sampah yang diproduksi oleh masyarakat Perumnas Mandala menjadi ladang bagi para pemulung. Segala jenis sampah ada di TPS ini. Saat truk-truk pengangkut sampah datang maka para pemulung berlomba-lomba mengambil sampah yang masih dapat dimanfaatkan. Mulai dari barang-barang bekas bahkan sampai sampah makanan yang menurut mereka masih dapat dimanfaatkan.
            Hidup  sehat merupakan suatu keadaan baik dalam kehidupan manusia yang seimbang secara fisik,    mental, dan sosial.  Pengetahuan  mengenai  hidup  sehat harus  memperhatikan  latar  belakang  sosial  budaya  individu  yang  bersangkutan. Pengalaman-pengalaman  yang  dijumpai  selama  kurun  waktu  kehidupan  individu dalam  proses  internalisasinya  menjadi  pengetahuan  yang  terkumpul  dalam ingatannya  dan  dapat  digunakan  sewaktu-waktu  jika  dia  memerlukannya. Pengetahuan  tentang  hidup  sehat    dapat  melahirkan  perilaku-perilaku  tertentu dalam  menanggapi  berbagai  masalah  kesehatan.  Pengetahuan  seseorang  tentang hidup  sehat  akan  mengarahkannya  pada  perilaku  yang  ditunjukkan  apabila menghadapi keadaan sehat dan sakit. Keadaan sehat dan sakit akan berbeda bagi setiap  orang  maka  perilaku  yang  ditampilkan  pun  akan  berbeda  pula.
            Oleh karena itu daoat dibuat kesimpulan, perilaku kesehatan adalah sebuah bentuk perilaku yang menunjukkan adanya kaitan antara sehat atau sakit. Perilaku kesehatan merupakan suatu respon seseorang (organisme) terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, baik sistem pelayanan kesehatan, makanan, minuman dan lingkungan. Salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku kesehatan adalah lingkungan, lingkungan bisa mempengaruhi perilaku kesehatan begitu juga sebaliknya.
1.2 Rumusan Masalah
            Berdasarkan latarbelakang di atas dapat di putuskan rumusan masalah, yaitu:
1.     Bagaimana pandangan masyarakat terhadap Tempat Pembuangan Sampah (TPS)di Perumnas Mandala ?
2.     Bagaimana pola perilaku sehat masyarakat di sekitar Tempat Pembuangan Sampah (TPS)?
1.3 Tujuan Penelitian
            Berdasarkan rumusan masalah yang ada, adapun tujuan proposal ini adalah:
1.     Untuk meneliti dan mengetahui pandangan masyarakat terhadap TPS di Perumnas Mandala.
2.     Untuk meneliti dan mengetahui pola perilaku sehat masyarakat di sekitar TPS.
1.4 Manfaat Penelitian                 
1.4.1. Secara Teoritis
1.     Hasil Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan terhadap pengembangan ilmu Sosiologi, khususnya Sosiologi Kesehatan.
2.     Diharapkan dapat memperkaya kajian tentang seputar pola perilaku sehat masyarakat sekitar TPS daerah TPS Perumnas Mandala.

1.4.2. Secara Praktis
1.     Bagi masyarakat diharapkan untuk mengevaluasi kebijakan pemerintah yang mendirikan TPS di tempat pemukiman warga Perumnas Mandala.
2.     Bagi pemerintah diharapkan dapat mengetahui kondisi masyarakat di daerah TPS Perumnas Mandala.



BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Deskripsi Teori                      
2.1.1 Pengertian Perilaku
Pengertian perilaku sehat menurut Soekidjo Notoatmojo (1997: 121) adalah suatu respon seseorang/organisme terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan, serta lingkungan. Kesehatan menurut UU Kesehatan No. 39 tahun 2009, kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Perilaku manusia adalah sekumpulan perilaku yang dimiliki oleh manusia dan dipengaruhi oleh adat,sikap,emosi,nilai, etika, kekuasaan,persuasi, dan atau genetika. Perilaku seseorang dikelompokkan ke dalam perilaku wajar, perilaku dapat diterima, perilaku aneh, dan perilaku menyimpang. Dalam Sosiologi, perilaku dianggap sebagai sesuatu yang tidak ditujukan kepada orang lain dan oleh karenanya merupakan suatu tindakan sosial manusia yang sangat mendasar Menurut Skinner sebagaimana dikutip oleh Soekidjo Notoatmojo (2010: 21) perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap rangsangan dari luar (stimulus). Perilaku dapat dikelompokkan menjadi dua:
1)    Perilaku tertutup (covert behaviour), perilaku tertutup terjadi bila respons terhadap stimulus tersebut masih belum bisa diamati orang lain (dari luar) secara jelas. Respon seseorang masih terbatas dalam bentuk perhatian, perasaan, persepsi, dan sikap terhadap stimulus yang bersangkutan. Bentuk “unobservabel behavior ́ atau “covert behavior” apabila respons tersebut terjadi dalam diri sendiri, dan sulit diamati dari luar (orang lain) yang disebut dengan pengetahuan (knowledge) dan sikap ( attitude).
2)    Perilaku Terbuka (Overt behaviour), apabila respons tersebut dalam bentuk tindakan yang dapat diamati dari luar (orang lain) yang disebut praktek (practice) yang diamati orang lain dati luar atau “observabel behavior”.
            Perilaku terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespon, maka teori Skinner ini disebut teori ‘S-O-R” (Stimulus-Organisme-Respons). Berdasarkan batasan dari Skinner tersebut, maka dapat didefinisikanbahwaperilaku adalah kegiatanatau aktivitas yang dilakukan olehseseorang dalam rangka pemenuhan keinginan, kehendak, kebutuhan,nafsu, dan sebagainya. Kegiatan ini mencakup :
a)     Kegiatan kognitif: pengamatan, perhatian, berfikir yang disebut pengetahuan
b)    Kegiatan emosi: merasakan, menilai yang disebut sikap (afeksi)
c)     Kegiatan konasi: keinginan, kehendak yang disebut tindakan(practice)
            Sedangkan menurutSoekidjo Notoatmojo(1997: 118) perilaku adalah suatu aktivitas dari manusia itu sendiri.Dan pendapat diatasdisimpulkan bahwa perilaku (aktivitas) yang ada pada individu tidaktimbul dengan sendirinya,tetapi akibat dari adanya rangsangan yangmengenai individu tersebut.
            Menurut Soekidjo Notoatmojo (1997: 120- 121) perilaku dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
a)     Perilaku pasif adalah respon internal, yaitu yang terjadi dalam diri manusia dan yang tidak secara langsung dapat terlihat orang lain (tanpa tindakan: berfikir, berpendapat, bersikap) artinya seseorangyang memiliki pengetahuan positif untuk mendukung hidup sehattetapi ia belum melakukannya secara kongkrit.
b)    Perilaku aktif adalah perilaku yang dapat diamati secara langsung(melakukan tindakan), misalnya: seseorang yang tahu bahwa menjaga kebersihan amat penting bagi kesehatannya ia sendirimelaksanakan dengan baik serta dapat menganjurkan pada orang lain untuk berbuat serupa.

2.1.2 Perilaku Hidup Sehat
Menurut Becker konsep perilaku sehat merupakan pengembangan dari konsep perilaku yang dikembangkan Bloom. Becker menguraikan perilaku kesehatan menjadi tiga domain, yakni pengetahuan kesehatan (health knowledge), sikap terhadap kesehatan (health attitude) dan praktik kesehatan (health practice) . Hal ini berguna untuk mengukur seberapa besar tingkat perilaku kesehatan individu yang menjadi unit analisis penelitian. Becker mengklasifikasikan perilaku kesehatan menjadi tiga dimensi:
a)     Pengetahuan kesehatan, pengetahuan tentang kesehatan mencakup apa yang diketahui oleh seseorang terhadap cara-cara memelihara kesehatan, seperti pengetahuan tentang penyakit menular, pengetahuan tentang faktor- faktor yang terkait. dan atau mempengaruhi kesehatan, pengetahuan tentang fasilitas pelayanan kesehatan, dan pengetahuan untuk menghindari kecelakaan.
b)    Sikap,sikap terhadap kesehatan adalah pendapat atau penilaian seseorang terhadap hal-hal yang berkaitan dengan pemeliharaan kesehatan, seperti sikap terhadap penyakit menular dan tidak menular, sikap terhadap faktor-faktor yang terkait dan atau memengaruhi kesehatan, sikap tentang fasilitas pelayanan kesehatan, dan sikap untuk menghindari kecelakaan.
c)     Praktek kesehatan,praktek kesehatan untuk hidup sehat adalah semua kegiatan atau aktivitas orang dalam rangka memelihara kesehatan, seperti tindakan terhadap penyakit menular dan tidak menular, tindakan terhadap faktor- faktor yang terkait dan atau memengaruhi kesehatan, tindakan tentang fasilitas pelayanan kesehatan, dan tindakan untuk menghindari kecelakaan.
            Beberapa kutipan lain tentang perilaku kesehatan diungkapkan oleh: 1) Solita, perilaku kesehatan merupakan segala untuk pengalaman dan interaksi individu dengan lingkungannya, khususnya yang menyangkut pengetahuan dan sikap tentang kesehatan, serta tindakannya yang berhubungan dengan kesehatan. 2) Cals dan Cobb mengemukakan perilaku kesehatan sebagai: “perilaku untuk mencegah penyakit pada tahap belum menunjukkan gejala (asymptomatic stage) ”. 3) Skinner perilaku kesehatan (healthy behavior) diartikan sebagai respon seseorang terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sehat – sakit, penyakit, dan faktor - faktor yang mempengaruhi kesehatan seperti lingkungan, makanan, minuman, dan pelayanan kesehatan. Dengan kata lain, perilaku kesehatan adalah semua aktivitas atau kegiatan seseorang, baik yang dapat diamati (observable) maupun yang tidak dapat diamati (unobservable), yang berkaitan dengan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. Pemeliharaan kesehatan ini mencakup mencegah atau melindungi diri dari penyakit dan masalah kesehatan lain, meningkatkan kesehatan, dan mencari penyembuhanapabila sakit atau terkena masalah kesehatan.
            Perilaku kesehatan merupakan suatu repson seseorang (organisme) terhadap stimulus atau obyek yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan dan minuman serta lingkungan. Dalam konteks pelayanan kesehatan, perilaku kesehatan dibagi menjadi dua: 1) Perilaku masyarakat yang dilayani atau menerima pelayanan (consumer), 2) Perilaku pemberi pelayanan atau petugas kesehatan yang melayani (provider).
            Dimensi Perilaku kesehatan dibagi menjadi dua (Soekidjo Notoatmojo, 2010:24), yaitu:
a.     Healthy Behavior yaitu perilaku orang sehat untuk mencegah penyakit dan meningkatkan kesehatan. Disebut juga perilaku preventif (tindakan atau upaya untuk mencegah dari sakit dan masalah kesehatan yang lain: kecelakaan) dan promotif (Tindakan atau kegiatan untuk memelihara dan meningkatkannya kesehatannya). Contoh: 1) Rumah yang bersih/tidak tinggal dilingkungan yang banyak sampah, 2) Makan dengan gizi seimbang, 3) Olah raga/kegiatan fisik secara teratur, 4) Tidak mengkonsumsi makanan/minuman yang mengandung zat adiktif, 5) Rekreasi /mengendalikan stress.
b.     Health Seeking Behavior yaitu perilaku orang sakit untuk memperoleh kesembuhan dan pemulihan kesehatannya. Disebut juga perilaku kuratif dan rehabilitative yang mencakup kegiatan: 1) Mengenali gejala penyakit, 2) Upaya memperoleh kesembuhan dan pemulihan yaitu dengan mengobati sendiri atau mencari pelayanan (tradisional, profesional), 3) Patuh terhadap proses penyembuhan dan pemulihan (complientce) atau kepatuhan.

2.1.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi Perilaku Hidup Sehat
Perilaku kesehatan adalah semua aktivitas atau kegiatan seseorang, baik yang dapat diamati (observable) maupun yang tidak dapat diamati(unobservable), yang berkaitan dengan pemeliharaan danpeningkatan kesehatan. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perilakuhidup sehat antara lain dipengaruhi oleh (Soekidjo Notoatmojo, 2010: 25):
a)     Faktor makanan dan minuman terdiri dari kebiasaan makan pagi, pemilihan jenis makanan, jumlah makanan dan minuman, kebersihanmakanan.
b)    Faktor perilaku terhadap kebersihan diri sendiri terdiri dari mandi,membersihkan mulut dan gigi, membersihkan tangan dan kakikebersihan pakaian.
c)     Faktor perilaku terhadap kebersihan lingkungan lingkungan terdiri dari kebersihan kamar, kebersihan rumah, kebersihan lingkungan rumah, kebersihan lingkungan sekolah.
d)    Faktor perilaku terhadap sakit dan penyakit terdiri dari pemeliharaankesehatan, pencegahan terhadap penyakit, rencana pengobatan dan pemulihan kesehatan.
e)     Faktor keseimbangan antara kegiatan istirahat dan olahraga terdiri dari banyaknya waktu istirahat, aktivitas di rumah dan olahraga teratur.

Secara rinci faktor - faktor tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:
a.     Perilaku terhadap Makanan dan Minuman
            Tubuh manusia tumbuh karena adanya zat-zat yang berasal dari makanan. Oleh sebab itu untuk dapat melangsungkan hidupnya manusia mutlak memerlukan makanan. Dengan adanya pengetahuan tentang zat - zat gizi seseorangakan mampu menyediakan dan menghidangkan makanan secara seimbang, dalam arti komposisi ini penting untuk pertumbuhan dan perkambangan. Pemenuhan unsur - unsur dalam komposisi makanan menunjang tercapainya kondisi tubuh yang sehat. Variasi makanan sangat memegang peranan penting dalam per tumbuhan dan perkembangan, makin beraneka ragam bahan makanan yang dimakan, makin beragam pula sumber zat gizi yang masuk ke dalam tubuh.
            Adapun fungsi makanan bagi tubuh adalah mengurangi dan mencegah rasa lapar, mengganti sel-sel tubuh yang rusak, untuk pertumbuhan badan, sebagai sumber tenaga, dan membantu pentembuhan penyakit. Selain makanan, yang harus diperhatikan adalah minuman. Menurut pendapat Purnomo Ananto dan Abdul Kadir ( 2010 : 23) air yang sehat adalah air yang bersih, tidak berbau, tidak berwarna, tidak mengandung hama dan tidak mengandung zat - zat kimia yang berbahaya. Minum air yang sudah dimasak sampai mendidih ± 100°C sebanyak 6- 8 gelas sehari.Bila banyak mengeluarkan keringat dan bayak buang air, jumlah air yang diminum hendaknya perlu ditambah agar tubuh tidak kekurangan cairan. Adapun fungsi air bagi tubuh adalah sebagai zat pembangun, sebagai zat pengatur, dan sebagai pengaturan panas tubuh atau suhu tubuh.
                       
b.     Perilaku terhadap Kebersihan Diri Sendiri
            Upaya pertama dan yang paling utama agar seseorang dapat tetap dalam keadaan sehat adalah dengan menjaga kebersihan diri sendiri. Menjaga kebersihan diri sendiri sebenarnya bukanlah hal yang mudah namun bukan pula hal yang terlalu sulit untuk dilaksanakan. Memelihara kebersihan diri sendiri secara optimal tidak mungkin terwujud tanpa ada penanaman sikap hidup bersih, dan contoh teladan dari keluarga dan masyarakat sekitarnya. Tujuan kebersihan diri sendiri adalah agar sesorang mengetahui akanmanfaat kebersihan diri sendiri dan mampu membersihkan bagian-bagian tubuh, serta mampu menerapkan perawatan kebersihan diri sendiri dalam upaya peningkatan hidup sehat. Kebersihan pangkal kesehatan adalah slogan yang tidak bisa dipungkiri kebenarannya, oleh sebab itu hendaknya setiap orang harus selalu berupaya memelihara dan meningkatkan taraf kebersihan itu sendiri, antara lain dengancara:
1)    Mandi adalah membersihkan kotoran yang menempel pada badan dengan menggunakan air bersih dan sabun. Menurut Purnomo Ananto dan Abdul Kadir (2010:7) manfaat mandi adalah sebagai berikut: menghilangkan kotoran yang melekat pada permukaan kulit, menghilangkan bau keringat, merangsang peredaran darah dan syaraf, mengembalikan kesegaran tubuh.
2)    Membersihkan Rambut
3)    Membersihkan Mulut dan Gigi. Mulut termasuk lidah dan gigi merupakan sebagian dari alat pencernaan makanan. Menurut Purnomo Ananto dan Abdu Kadir (2010:12), mulut berupa suatu rongga yang dibatasi oleh jaringan lemak, di bagian belakang berhubungan dengan tenggorokan dan di depan ditutup oleh bibir. Gigi menurut Sadatoen Sordjoharjo (1986: 99) adalah alat-alat sistem pencernaan makanan yang memegang peran penting dalam kesehatan tubuh. Mulut dan gigi merupakan satu kesatuan karena gigi terdapat di rongga mulut. Dengan membersihkan gigi berarti kita selalu membersihkan rongga mulut dari sisa – sisa makanan yang biasa tertinggal di antara gigi.
4)    Memakai Pakaian yang Bersih dan Serasi. Pakaian yang dimaksud disini meliputi pakaian yang erat hubungannya dengan kesehatan seperti kemeja, kaos, baju, celana, rok, kaos kaki, CD (celana dalam), BH (bra).  Fungsi pakain menurut pendapat Purnomo Ananto dan Abdul Kadir (2010 : 14) adalah untuk melindungi kulit dari kotoranyang berasal dari luar dan juga untuk membantu mengatur suhu tubuh.

c.     Perilaku terhadap Kebersihan Lingkungan
            Perilaku terhadap kebersihan lingkungan adalah respon seseorang terhadap lingkungan sebagau determinan kesehatan manusia (Soekidjo Notoatmojo, 1997: 122).Manusia selalu hidup dan berada di suatu lingkungan, seperti lingkungan tempat tinggal,tempat belajar, tempat melakukan aktivitas jasmani dan olahraga  ataupun tempat melakukan rekreasi. Manusia dapat mengubah, memperbaiki, dan mengembangkan lingkungannya untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya dari lingkungan itu.Namun demikian, sering pula terjadi bahwa manusia, baik secara sadar atau tidak karena ketidaktahuan dan kelalaian ataupun alasan- alasan tertentu, malah mengotori lingkungan bahkan kadang-kadang juga merusak lingkungan, dapat terus mencapai derajat kesehatan yang baik manusia harus hidup sehat secara teratur.
            Untuk dapat hidup sehat diperlukan kondisi lingkungan yang bersih dan sehat. Dimanapun manusia berada iaselalu bersama-sama dengan lingkungannya, baik pada waktu belajar, bekerja, makan-minum maupun istirahat manusia tetap bersatu dengan lingkungannya. Oleh karena itu, kondisi lingkungan perlu benar-benar diperhatikan agar tidak merusak kesehatan. Dengan menyadariakan arti kesehatan lingkungan, jelas bahwa kesehatan lingkungan merupakan salah satu/daya upaya yang bersifat pencegahan yang dapat dilakukan mulai sejak dini, baik dari lingkungan keluarga maupun lingkungan sekolah. Menurut Ichsan (1979: 24) guna mempelajari kesehatan lingkungan yang diberikan di sekolah, diharapkan agar siswa dapat:
ü  Mengenal, memahami masalah kesehatan lingkungan,
ü  Memiliki sikap positif dan peran aktif dalam usaha kesehatan lingkungan,
ü  Memiliki keterampilan untuk memelihara dan melestarikan kesehatan lingkungan dalam kehidupan sehari -hari.

d.     Perilaku terhadap Sakit dan Penyakit
            Perilaku seseorang terhadap sakit dan penyakit, yaitu bagaimana manusia berespon, baik secara pasif (mengetahui, bersikap, dan mempersepsi penyakit) serta rasa sakit yang ada pada dirinya dan di luar dirinya, maupun aktif (tindakan) yang dilakukan sehubungan dengan penyakit dan sakit tersebut (SoekidjoNotoatmojo, 1997: 121).
            Perilaku manusia terhadap sakit dan penyakit menurut Soekidjo Notoatmojo (1997: 121-122), meliputi:
o   Perilaku peningkatan dan pemeliharaan kesehatan.
o   Perilaku pencegahan penyakit.
o   Perilaku pencarian pengobatan.
o   Perilaku pemulihan kesehatan.Kesehatan tidak akan datang dengan sendirinya, namun perlu adanya usaha. Usaha tersebut adalah dengan megupayakan agar setiap orang mempunyai perilaku hidup sehat. Dengan demikian semua perilaku hidup sehat di atas hendaknya dimiliki oleh siswa.

e.     Keseimbangan antara Kegiatan, Istirahat, dan Olahraga
Kegiatan sehari-hari harus diatur sedemikian rupa sehingga ada keseimbangan antara kegiatan, istirahat, dan olahraga.Istirahat tidak hanya mengurangi aktivitas otot akan tetapi dapat meringankan ketegangan pikiran dan menenangkan rohani.

2.2 Kerangka Pikir

Berdasarkan teori di atas dapat ditarik kerangka pikir sebagai berikut :

Perilaku terhadap kebersihan diri sendiri
Perilaku terhadap makanan dan minuman
           


Perilaku hidup sehat
 


Perilaku terhadap kebersihan lingkungan
Perilaku terhadap sakit dan penyakit
                                                                   
                                                                                            



Perilaku terhadap
keseimbangan antara
kegiatan, istirahat dan
olahraga
a

 





Sumber:Purnomo Ananto dan Abdul Kadir. (2010)

Gambar 1. Kerangka Pikir
Perilaku hidup sehat diukur melalui lima dimensi yaitu perilakuterhadap makanan dan minuman, perilaku terhadap kebersihan diri sendiriperilaku terhadap kebersihan lingkungan, perilaku terhadap sakit dan penyakitserta perilaku terhadap keseimbangan antara kegiatan, istirat dan olahraga.Kelima indikator tersebut sangat mempengaruhi perilaku hidup sehat, karenasemakin baik indikator-indikator tersebut maka perilaku hidup sehatjugaakan semakin baik.



BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Penelitian kualitatif merupakan metode yang bermaksud untuk memahami fenomena tentangapa yang dialamai oleh subjek penelitian dengan metode studi kasus sebagai kajian yang rinci atas suatu latar atau peristiwa tertentu. Studi kasus (case study) merupakan penelitian yang penelaahannya kepada suatu kasus dilakukan secara intensif, mendalam dan mendetail. Ditinjau dari jenis datanya pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif pendekatan studi kasus. Bogdan dan Taylor dalam Lexy J. Moleong (2007: 4) bahwa pendekatan kualitatif merupakan “prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati”. Sementara metode deskriptif (dalam Lexy J. Moleong, 2007: 11) adalah data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka.
Pendekatan kualitatif juga diartikan sebagai pendekatan yang dapat menghasilkan data, tulisan dan tingkah laku yang dapat diamati. Penelitian ini bersifat mengungkap fakta. Hasil penelitian lebih ditekankan pada pemberian gambaran secara objektif tentang keadaan yang sebenarnya dari objek yang diselidiki. Dengan menggunakan pendekatan metode penelitian kualitatif, peneliti akan memperoleh informasi atau data yang lebih mendalam mengenai bagaimana sebenarnya pola perilaku kesehatan masyarakat di Tempat Pembuangan Sampah yang ada di daerah Jl. Parkit Raya, Kecamatan Percut Sei Tuan.



3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
            Penelitian ini dilakukan di Tempat Pembuangan Sampah yang ada di daerah Jl. Parkit Raya, Kecamatan Percut Sei Tuan, . Yang menjadi alasan utama peneliti memilih lokasi tersebut karena perlu dilakukan sebuah penelitian tentang perilaku kesehatan masyarakat di Tempat Pembuangan Sampah (TPS), regulasi yang sudah ada bahwasanya Tempat Pembuangan Sampah (TPS) harus jauh dari pemukiman penduduk. Sedangkan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Jl. Parkit Raya, Kecamatan Percut Sei Tuan, berada di tengah-tengah pemukiman penduduk. Keberadaan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) tersebut memiliki dampak negatif dan positifnya dan banyak mempengaruhi aspek kesehatan dan sosial-ekonomi masyarakat. Sehingga Sosiologi Kesehatan bisa memberikan penjelasan keadaan tersebut dengan menggunakan teori sosial sebagai pisau intrepretasinya.Sehingga peneliti tertarik untuk melihat bagaimana sebenarnya pola perilaku kesehatan dan juga sebab-akibat daripada Tempat Pembuangan Sampah (TPS) tersebut. Ada pun waktu pelaksanaan penelitian ini berlangsung pada tanggal 5 November 2015.

3.3 Unit Analisis dan Informan
            3.3.1. Unit Analisis
            Unit analisis adalah hal-hal yang diperhitungkan menjadi subjek penelitian keseluruhan unsur yang menjadi fokus penelitian (Bungin, 2007). Unit analisis juga adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori, dan uraian besar (Maleong, 2000). Ada dua jumlah unit dalam penelitian sosial yaitu individu dan kelompok sosial.
            Dalam penelitian ini yang menjadi unit analisisnya atau objek kajiannya adalah masyarakat yang ada di sekitar Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Jl. Parkit Raya, Kecamatan Percut Sei Tuan, sebagai subjek untuk diamati dan sumber pencarian infomasi penelitian ini.
            3.3.2. Informan
Informan merupakan orang-orang menjadi sumber informasi dalam penelitian merupakan sumber nformasu aktual dalam menjelaskan tengan masalah penelitian.Informan penelitian adalah subjek yang memahami keadaan. Teknik penentuan informan dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Teknik purposive merupakan penentuan informasi dengan pertimbangan tertentu atau bertujuan. Dalam penelitian ini yang menjadi informan penelitian adalah:
1. Pemulung sampah
2. Pedagang yang ada di sekita TPS
3. Masyarakat yang telah lama bertempat tinggal di sekitar TPS
4. Masyarakat pendatang yang ada di sekitar TPS, dan
5. Pihak-pihak terkait sebagai informan biasa.         

3.4 Teknik Pengumpulan Data
            Dalam proses pengumpulan data, penelitiakan menggunakan beberapa teknik pengumpulan data agar dalam mendapat informasi sesuai dengan tujuan penelitian yang sudah ditetapkan sebelumnya. Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
3.4.1. Data Primer
Data primer adalah data yang didapatkan secara langsung dari objek penelitian pada saat penelitian dilakukan melalui wawancara, obeservasi dan dokumentasi hal ini dilakukan untuk memperoleh data dan informasi yang dibutuhkan sesuai dengan rumusan masalahnya.



a. Wawancara
Wawancara meupakan salah satu metode penting untuk memperoleh data di lapangan. Teknik wawancara adalah teknik yang dilakukan dengan percakapan untuk meperoleh informasi yang dibutuhkan dalam penelitian. Wawancara yang dilakukan dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam dengan teknik wawancara terstruktur di mana draft pertanyaan telah disiapkan oleh peneliti sebagai pedoman untuk proses mewawancarai informan. Dalam proses wawancara tersbebut peneliti akanmenggunakan alat bantu berupa perekam suara untuk membantu peneliti dalam mendapatkan hasil.
                                       
b. Observasi
Selain wawancara, peneliti juga menggunakan teknik observasi partisipatif pasif di mana peneliti ikut terjun dan melakukan kegiatan sesuai tema yang menjadi objek penelitian.Metode observasi langsung dilakukan melalui pengamatan gejala-gejala yang tampak pada objek-objek penelitian pada saat peristiwa sedang berlangsung (Nawawi, 2006). Metode obeservasi ini dilakukan jika informan tidak dapat menjelaskan mengenai tindakan yangia lakukan atau karena ia tidak menjelaskan mengenai tindakannya. Oleh karena itu, data dari metode observasi langsung diharapkan dapat menunjang data dari metode wawancara.

c. Dokumentasi         
Dokumentasi merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisis dokomen-dokumen baik dokumen tertulis, gambar maupun elektronik. Dokumen-dokumen yang dihimpun dipilih sesuai dengan tujuan dan fokus masalah. Metode dokumentasi digunakan untuk mendukung hasil wawancara dan observasi yang dilakukan.

3.4.2. Data Sekunder
            Data sekunder adalah data yang berkaitan dengan objek penelitian namun bukan dari penelitian lapangan. Data sekunder dari penelitian lapangan dapat diperoleh dari kepustakaan yakni mencari data dari artikel, jurnal, buku, internet ataupun sumber lainnya yang berkaitan dengan permasalahan penelitian. Pengumpulan data sekunder dalam penelitian inii dilakukan dengan cara penelitian kepustakaan dan pencacatan dokumen, yaitu dengan mengumpulkan hal-hal yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan dan mengumpulkan data, serta mengambil informasi dari buku-buku referensi, dokumen, majalah dan jurnal.
            Data sekunder yang berasal dari penelusuran data online yang merupakan tata cara melakukan penelurusuran dat melalu media online ssperti internet atau media jaringan yang lain menyediakan fasilitas online berupa data atau informasi yang berupa teori, secepat atau semudah mungkin dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademis (Bungin, 2007).

3.5. Interpretasi Data
            Interpretasi data merupakan suatu tahap pegelolaan data, baik itu data primer maupun data sekunder yang telah didapatkan yang merupakan sebagai data yang akan diproses. Dalam penelitian ini peneliti mengumpulkan  data melalui wawancara, observasi dan juga  dokumentasi. Semua data akan dianlisis dengan pengolahan dan penafsiran data yang diperoleh dari setiap informasi.
Teknis intrepretasi data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data kualitatif dengan beberapa tahapan seperti tergambar pada skema berikut :
Pengumpulan Data
Penyajian Data
Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi
Reduksi Data
 









Langkah-langkah analisis data yang gambar diatas dapat dijelaskan sebagai berikut:
a.     Pengumpulan data
Data-data yang diperoleh di lapangan dicatat atau direkam dalam bentuk naratif, yaitu uraian data yang diperoleh dari lapangan apa adanya tanpa adanya komentar peneliti yang berbentuk catatan kecil. Dari catatan deskriptif ini, kemudian dibuat catatan refleksi yaitu catatan yang berisi komentar, pendapat atau penafsiran peneliti atas fenomena yang ditemui di lapangan.

b.     Reduksi data
Reduksi data merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian, pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan lapangan. Reduksi data dilakukan terus menerus selama penelitian dilaksanakan. Reduksi data merupakan wujud analisis yang menajamkan, mengklarifikasikan, mengarahkan, membuang data yang tidak berkaitan dengan pokok persoalan. Selanjutnya dibuat ringkasan, pengkodean, penelusuran tema-tema, membuat catatan kecil yang dirasakan penting pada kejadian seketika yang dipandang penting berkaitan dengan pokok persoalan.

c.     Penyajian data
Kemudian disusun dan dikategorisasikan berdasarkan maslah yang berhubungan dengan konteks penelitian serta diintrepretasikan secara kualitatif sesuai dengan metode penelitian yang dudah ditentukan. Pada tahapan ini disajikan data hasil temuan di lapangan dalam bentuk teks deskriptif naratif.






BAB IV
PEMBAHASAN

Dari hasil wawancara yang telah kami lakukan, terlihat warga sekitar tempat pembuangan sampah memiliki pandangan negatif dengan keberadaan tempat pembuangan sementara yang ada di sekitar rumah mereka. Aroma tidak sedap dari sampah yang menumpuk membuat warga tidak terlalu nyaman dalam beraktifitas sehari-hari.  Namun dari penuturan warga, mereka telah beradaptasi dengan keadaan yang ada. Mayoritas penduduk yang tinggal di sekitar pembuangan sampah sudah lama menetap di sana. Dapat kita simpulkan bahwa masyarakat sekitar telah beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Seperti yang dituturkan oleh Ibu Imelda Sihombing yang awalnya merasa sangat resah saat baru pertama kali membuka usaha salon di dekat pembuangan sampah. Ia sering merasa pusing karena bau sampah yang begitu menyengat. Apalagi saat musim hujan, air tumpukan sampah mengalir ke pemukiman warga.
Dari beberapa warga yang kami wawancarai sebagai informan penelitian kami terlihat bahwa warga merasa terganggu dan meninginkan agar pembuangan sampah dipindahkan ke tempat yang lebih sedikit penduduknya. Alasan lainnya adalah keberadaan tempat-tempat penting di sekitar tempat pembuangan sampah seperti kantor PDAM, kantor cabang PLN, kantor Kelurahan dan terminal angkot. Keberadaan TPS dirasa sudah sangat tidak layak. Hal ini tentu mempengaruhi aspek kehidupan warga seperti dari sisi kesehatan dan ekonomi. Seperti yang kita ketahui bahwa derajat kesehatan seseorang yang paling besar pengaruhnya adalah dari sisi lingkungan. Yang menarik, dari penuturan warga, belum ada warga di sekitar TPS yang mengalami penyakit akibat sampah. Penyakit-penyakit yang dialami hanya berkisar pada penyakit-penyakit biasa seperti batuk, pilek ataupun demam. Hal yang disayangkan adalah tidak adanya sosialisasi dari instansi pemerintah khususnya dinas kesehatan. Padahal lokasi puskesmas tidak jauh dari pemukiman warga. Sosialisasi perlu dilakukan agar warga dapat menjaga pola kehidupan mereka agar terhindar dari sakit penyakit yang diakibatkan oleh lingkungan mereka yang tidak mendukung kesehatan.
Dari sisi ekonomi dapat kita lihat dari dua sisi. Warga yang tinggal dekat dengan TPS tentu merasa dirugikan. Dari wawancara kami dengan Ibu Imelda, banyak pelanggan salonnya yang enggan datang karena merasa tidak nyaman dengan aroma tidak sedap dari TPS. Oleh karena itu untuk menarik perhatian pelanggan ia menerpkan tarif yang lebih murah dibandingkan dengan salon lainnya. Contoh lainnya adalah mengenai rumah kontrakan. Banyak warga pendatang yang enggan menyewa rumah di sekitar TPS karena merasa tidak nyaman dengan aroma tidak sedap dari sampah. Hal ini tentu merugikan bagi warga yang memiliki usaha rumah kontrakan. Namun keberadaan TPS juga bisa berdampak positif bagi orang lain. Keberadaan TPS mengundang puluhan pemulung untuk mencari barang-barang bekas yang memiliki nilai jual tinggi. Setiap kali ada sampah yang masuk, pemulung dengan cepat mengais sampah yang ada. Selain mencari barang bekas,ada juga pemulung yang mengambil sisa-sisa makanan yang menurut informan kami (Ibu Ika) akan dijadikan sebagai pakan ternak babi.
Hal lain yang perlu dibahas adalah mengenai sebuah rumah yang ada di dalam TPS. Ada sebuah keluarga yang tinggal di rumah tersebut. Kami berhasil mewawancarai salah satu anggota keluarga yang tinggal di rumah itu. Informan kami ini bernama Ibu Ika. Saat kami ingin memulai pembicaraan ibu ini sedikit pesimis dengan kami. Ia menanyakan apakah kami dari sebuah instansi atau tidak. Setelah kami menjelaskan bahwa kami adalah mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas dan disertai dengan berbagai pendekatan, kami akhirnya dapat menggali informasi dari si ibu tersebut. Namun ibu tersebut mengharapkan iming-iming semacam hadiah dari kami sebab dalam benak mereka kami memiliki dana dari proyek penelitian. Ibu Ika sudah 28 tahun tinggal di rumah tersebut. Dari penuturan ibu tersebut, lahan TPS yang saat ini ada awalnya adalah sebuah tanah kosong. Namun karena banyak warga yang membuang sampah di situ lama kelamaan lahan tersebut dijadikan tempat pembuangan sampah. Suami ibu itu adalah seorang PNS yang bekerja di bidang kebersihan. Oleh karena itu ia dan suaminya beserta anak tinggal di rumah yang ada di lapangan tersebut. 
Yang akan dibahas adalah pola perilaku kesehatan yang diadaptasi oleh keluarga Ibu Melani. Pengakuan Ibu Ika cukup mengejutkan. Selama 28 tahun ia tinggal di dekat pembuangan sampah, keluarganya tetap sehat. Ia mengenalkan seorang anaknya yang telah dewasa. Ia belum pernah mengalami sakit yang cukup parah sebagai akibat dari sampah. Semua anaknya tumbuh besar dan sebagian sudah menikah. Ia merasa tidak terganggu dengan keberadaan pembuangan sampah yang sudah menggunung. Hal ini tentu berlawanan dengan pendapat warga sekitar yang sangat resah dengan keberadaan TPS tersebut. Selain sangat meresahkan warga juga menginginkan agar TPS tersebut dipindahkan karena menurut mereka sudah sangat tidak layak sebuah TPS berada di tengah pemukiman warga. Namun Ibu Melani membantah pertanyaan tersebut. Ia merasa bahwa warga setuju-setuju saja dengan keberadaan TPS tersebut. Kemudian Ibu Melani juga merasa keberadaan TPS tidak perlu dipindahkan karena menurutnya keberadaan TPS tidak menggangu.
Ia menunjukkan bukti pada diri dan keluarganya sendiri. Selama 25 tahun tinggal ia tidak merasa terganggu sehingga keberadaan TPS dirasa tidak perlu diganggu gugat. Hal ini dapat kita pahami sebagai bentuk pembelaan diri Bu Melani karena suaminya adalah seorang pegawai yang bekerja di TPS tersebut. Hal ini tidak dapat kita salahkan karena ia merasa nyaman dengan apa yang ia peroleh saat ini. Anaknya juga bekerja sebagai operator alat berat di tempat pembuangan tersebut. Sehingga wajar jika Bu Melani merasa nyaman dengan TPS tersebut dan tidak merasa terganggu dengan keberadaan TPS. Karena secara logika jika TPS tersebut ditutup maka kemungkinan besar anaknya tidak bisa lagi menjadi petugas kebersihan. tentu hal ini akan mempengaruhi kondisi perekonomian mereka.
            Dari hasil wawancara yang telah kami lakukan, terlihat bahwa peran pemerintah melalui dinas kesehatan tidak berjalan dengan baik. Pelayanan kesehatan yang seharusnya dijalankan tidak terlaksana dengan baik. Petugas Puskesmas tidak menjalankan fungsinya. Faktor lingkungan mengambil porsi terbesar dalam derajat kesehatan seseorang (45%). Namun dari hasil penelitian kami terlihat lingkungan tidak menjadi masalah yang berarti bagi masyarakat di sekitar TPS Perumnas Mandala. Pola adaptasi warga yang sangat baik menyebabkan lingkungan di sekitar tempat tinggal mereka tidak bisa memengaruhi derajat kesehatan warga, meskipun terdapat sebuah tempat pembuangan sampah sementara. Yang harus kita kaji lebih dalam adalah pola perilaku kesehatan yang diterapkan warga sehingga mampu beradaptasi dengan lingkungan yang tidak mendukung kesehatan mereka.





























BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
            Kesehatan adalah hal yang sangat penting bagi masyarakat. Bersama sandang dan pangan, ketiga hal ini mutlak diperoleh semua lapisan masyarakat. Dengan hasil penelitian yang telah kami lakukan terlihat perilaku kesehatan warga tempat pembuangan sampah yang berusaha untuk mengadaptasikan dirinya terhadap lingkungan di sekitarnya. Aspek lingkungan yang sangat besar pengaruhnya berusaha mereka tutupi dengan pola kehidupan dan perilaku kesehatan mereka yang baik terhadap keluarganya.  
            Manusia dalam aktivitasnya tidak terlepas dari kebutuhan terhadap ruang. Ruang tersebut diperlukan dalam usaha meningkatkan status kualitas hidupnya, yaitu dengan mengolah sumber daya, baik itu sumber daya alam ataupun sumber daya manusia itu sendiri. Disadari atau tidak, dalam proses pemanfaatan sumber daya itu, manusia menghasilkan sampah, dan sampah akan menyebabkan pencemaran lingkungan.
Keberadaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) memang diperlukan oleh suatu daerah karena sampah senantiasa diproduksi oleh masyarakat. Selama masyarakat terus berkembang maka produksi sampah pun semakin besar. TPA sebagai terminal akhir sampah memerlukan ruang dalam menampungnya. Penempatan ruang itu tentunya memerlukan perencanaan dan pemikiran yang sangat matang dari pengelola serta sudah barang tentu pemerintah daerah sebagai pemilik dan penyedia fasilitas itu.
Respons masyarakat setempat terhadap keberadaan TPA di Dearah Perumnas Mandala Kabupaten Deli Serdang menarik untuk diteliti secara kajian budaya juga kesehatan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui teknik analisi deskriptif-kualitatif dan interpretatif yang dibantu oleh teknik pengumpulan data yang mencakup wawancara, observasi, dan dokumentasi. Jadi, perilaku kesehatan masyarakat yang ada di sekitar TPA di daerah Perumnas Mandala Kabupaten Deli Serdang menujukkan pola dan juga kebisaan yang dituntut oleh tujuan budaya, sosial dan ekonomi.


5.2. Saran
Adapun saran dari kelompok kami adalah perlu adanya sosialisasi dari pihak kesehatan di sekitar daerah tersebut untuk mengantisipasi dampak penyakit yang diimbulkan dari aroma sampah tersebut, yang menurut informan kami dampak sampah tersebut dapat mengganggu pernafasan juga paru-paru juga dapat berpengaruh terhadap ekonomi mereka (informan). Kemudian juga saran bagi pihak pemerintah sekitar termasuk Lurah daerah tersebut agar kiranya TPS tersebut dapat dipindahkan segera mungkin, dikarenakan memang tempat tersebut sudah tidak layak untuk dijadikan sebagai TPS karena, tempat tersebut sudah ramai masyarakat yang bertempat tinggal disana.
Selain daripada itu, keberadaan tempat pembuangan sampah sebaiknya regulasi yang ada sekarang dikaji ulang. banyak hal yang harus dianalisis tentang keberadaan suatu tempat pembuangan sampah sementara. dalam hal ini, saran kami kepada pembuat regulasi dan yang berfungsi sebagai pembentuk kebijakan dalam masyarakat. Tempat sampah harus bisa menyesuaikan dengan faktor-faktor kesehatan yang sudah ada indikatornya. Di sisi lain perilaku kesehatan harus bisa menunjukkan derajat kesehatan yang bisa berhubungan dengan infrastruktur yang dibangun oleh pemerintah.







DAFTAR PUSTAKA

White, Kevin. Pengantar Sosiologi Kesehatan dan Penyakit. Rajawali. Jakarta. 2011.
Bungin, Burhan. Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya. Kencana. 2011.
Sumber lain:
http://www.yhschurch.com/gaya-hidup-sehat-dan-pola-hidup-sehat/disunting pada tanggal 20 november 2015 pukul  08.25
http://www.psychologymania.com/2012/06/pengertian-perilaku-kesehatan.html/disunting pada tanggal 20 november 2015 pukul 08.31





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Your Ad Spot