Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

Kamis, Agustus 09, 2018

Makalah : Looking Glass Self Charles Horton Cooley


PENGERTIAN LOOKING –GLASS SELF dari COOLEY[1]

            Pengertian “Looking Glass Self” yang berarti “cermin diri”, tidak akan diterjemahkan, untuk mencegah kesalahpahaman. Pengertian tersebut diintruksikan oleh Charles Horton Cooley, di dalam hasil karyanya yang berjudul “Human Nature an the Social Order” (tahun 1962). Menurut Cooley, maka tingkah laku orang seolah-olah merupakan cermin bagi imajinasi pribadi tertentu. Cooley menyatakan, bahwa terdapat tiga elemen, yakni:

*      Imajinasi tentang bagaimana seorang tampil di hadapan pihak lainnya;
*      Imjinasi tentang bagaimana pihak lain menilai penampilan tersebut;
*      Reaksi-reaksi emosional terhadap penilaian pihak lain;

Dalam menggunakan “looking glass self’ sebagai perumpamaan, oleh karena hal itu mencakup dan mencerminkan aspek dari formasi konsepsi pribadi. Akan tetapi dia juga mengakui kukurangan yang ada. Cermin tersebut memberikan suatu konotasi pada citra yang actual dan tanpa penilaian. Padahal, Cooley menganalisa suatu citra yang merupakan suatu  imputasi dan bersifat evalusi.


      Sebagaimana halnya dengan Mead, maka Cooely yang menaruh perhatian pada cara-cara konsepsi diri pada anak-anak berkembang. Berdasarkan pelbagai pengamatan terhadap anak-anak dia berkesimpulan, bahwa sejak usia muda sekali anak-anak menaruh perhatian pada akibat-akibat yang ditimbulkan oleh mereka pada pihak-pihak lainnya. Cooley menganggap bahwa anak-anak tersebut berusaha mempengaruhi orang-orang yang ada di sekitarnya, terutama orang tuanya. Misalnya, anak-anak tadi menagis atau menarik-narik baju orang tuanya, agar usaha mempengaruhi tersebut berhasil.

Semakin meningkat usia dan kematangannya anak-anak itu semakin rumit pula keadaan yang dihadapinya. Cooley mengganggap bahwa anak-anak tadi semakin berusaha untuk menyembunyikan keinginan-keinginanya untuk disayangi, serta berusaha mencari cara-cara terselubung untuk menyalurkan keinginan-keinginan tersebut. Mereka juga semakin sensitive terhdap perbedaan dengan orang-orang lain. Sebagai akibatnya, maka sikapnya berubah-ubah sesuai dengan pihak-pihak yang dihubunginya pada waktu-waktu tertentu. Mereka berusaha sesuai dengan keadaan pihak lain, di dalam jiwa pikiran orang lain tadi, tampaklah siapa diri anak-anak tersebut. Dalam hal ini ada persamaan antara Mead dan Cooley, yaitu bahwa mereka menganggap kualitas pribadi lebih bersifat situasional.

Perbedaan utama antara teori Mead dengan Cooley, terletak pada orientasi-orientasi teoritisnya. Meda menganggap dirinya lebih mementingkan perilaku nyata manusia daripada motif-motifnya. Oleh karena itu, maka dia lebih menekankan pada reaksi-reaksi dari pihak lain. Dari dasar itu, ia mengganggap bahwa Cooley terlalu memperhatikan keinginan batiniah dari manusi yang bersifat introspektif. Oleh karena itu, Cooley tidak berhasil membedakan antara perilaku sebagai subjek dan objek, hal mana sangat penting bagi Mead.

Apabila pendekatan interaksi simbolis tersebut untuk pertama kali dikenal, maka timbul pertanyaan apaka aspek-aspek tentang konsepsi diri pribadi harus dihubungkan secara erat dengan kualitas yang sesungguhnya dari pribadi. Jawabannya yang pertama adalah, bahwa kedua hal itu tidak identik, seseorang yang wajahnya buruk mungkin menganggap dirinya cantik, atau sebaliknya. Manusia dapat mempercayai anggapan tertentu mengenai dirinya, apabila hal itu diperkuat oleh pihak lain. Bagaimana sebenarnya seorang pribadi itu? Pada umumnya hal itu tergantung pada pihak yang ditanya mengenai hal itu. Dengan demikian dapatlah dikatakan, bahwa diri pribadi seseorang dikontrukjsikan dari proses interaksi sosial.

Penerapan Interaksi Simbolis Cooley Pada Beberapa Contoh

Pendekatan interaksi simbolis tersebut, dapat diterapkan pada suatu contoh, yaitu kasus Edith Stern, Aaron dan Bella Stern, yaitu orang tua Edith beremigrasi ke Amerika Serikat pada tahun 1949. Mereka menikah di Warsawa dan Aaron adalah salah seorang korban kaum konsentrasi Jerman dalam Perang Dunia Kedua. Mula-mula Aaron dan Bella tinggal di Brooklyn, dan pada tahun 1952 lahirnya Edith. Pada waktu Edith lahir, ayahnya mengadakan konsperensi pers, di mana dia menyatakan, bahwa Edith akan dijadikannya manusia yang sempurna. Sejak Edith pulang dari rumah sakit, ayahnya mulai mengerjakan proyeknya. Dia begitu yakin bahwa anaknya akan menjadi jenius. Pada usia lima tahun, Edith telah menyelesaikan membaca Encyclopedia Britannica. Pada usia dua belas tahun dia memasuki sekolah tinggi, dan pada usia dia mempersiapkan disertasi untuk menjadi doctor, serta mengaar matematika. Pada kasus Edith diungkapkan dia telah berusaha 30 tahun dan bekerja sebagai tenaga ahli pada IBM. IQ-nya sedemikiaj tingginya sehingga dia tidak dapat dipastikan menurut anggapannya sendiri, dia agak lamban dan badannya terlalu berat. Dia sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu, dan ibunya mengganggap mahkluk yang merupakan gangguan.

Sebagaimana disinggung di atas, maka di dalam menerapkan proyeknya, maka Aaron terlalu memusatkan pada intelektualitas dari Edith. Oleh karena itu tidaklah mengherankan, sebagai akibat sosialisasi yang kurang serasi, Edith mengalami kekurangan-kekurangan lain, kecuali intelelektualitasinya. Hal itu juga berpengaruh pada unsure-unsur pribadi tersebut, lebih tepat bila interaksi simbolis di atas diterpakn dengan contoh lain.

CONTOH PERTAMA

Suatu contoh yang disajikan di bawah ini merupakan hasil penelitian yang pernah dilakukan terhadap 78 anak, dari dua lembaga anak-anak yang terbelakang di Kanada. Para ahli diminta untuk memberikan suatu penilaian terhadap anak-anak tersebut, yang dihubungkan dengan kemungkinan-kemungkinannya untuk sembuh. Anak-anak tadi kemudian digolongkan ke dalam tiga kategori, yang paling baik, baik dan buruk. Antara ketiga golongan tersebut tidak ada perbedaan usia waktu dan jangja waktu perawatan yang dialami. Rata-rata anak-anak tadi berusia 12,5 tahun dan mengalami terapi selama 20 bulan. Mereka diminta unutuk menilai dirinya masing-masing menurut dimensi-dimensi tertentu, seperti baik, buruk, kasar, lembut, pengganggu, menyenangkan dan seterusnya. Kepada mereka juga diajukan pertanyaan, tentang bagaimanakah tanggapan orang-orang lain terhadap mereka, seperti misalnya, ibunya, ayahnya, teman-teman dekat dan para perawat.

      Sebelum menelaah hasilnya, maka ada baiknya untuk menjajagi kemungkinannya adanya penemuan-penemuan serta implikasinya. Anak-anak yang tergolong kategori paling baik, mungkin paling tidak yakin terhadap dirinya sendiri. Mungkin mereka menerima beberapa indikasi, khususnya dari terapisnya, yang menyatakan keadaan terbelakang merupakan peranan sementara bagi mereka. Oleh karena itu, maka mereka masih berada dalam proses menemukan, member dasar, dan membentuk diri. Anak-anak yang tergolong kepribadian buruk, mungkin terikat pada suatu identitas yang terganggu. Pihak-pihak lain mungkin memberikan suatu refleksi, bahwa peranannya tidaklah bersifat sementara.

Untuk meneliti masalah tersebut di atas, maka para peneliti menghitung korelasi antara sepuluh hal yang menjadi patokan untuk menilai bagi anak-anak tadi. Hasilnya adalah sesuai dengan asumsi yang menyatakan, bahwa anak-anak yang tergolong baik, ternyata tidak konsisten dengan dirinya. Derajat konsisten yang paling tinggi justru ada pada anak-anak yang mengganggap dirinya tidak penting. Mereka merasa dirinya adalah orang buruk, kotor dan seterusnya. Hal yang sama juga pada anak-anak yang merasa dirinya penting, ,mereka juga merasa dirinya baik, bersih, lembut, dan seterusnya. Perbedaan-perbedaan yang bersifat substansiil, dengan anak-anak yang tergolong buruk yang menggambarkan dirinya dalam identitas yang sangat konsisten.

CONTOH DUA

Di dalam eksperimen, sejumlah mahasiswa diajak untuk mengikuti suatu studi terhadap kepribadian. Kepada mereka dibagikan daftar isian, mengenai penilaian pribadi terhadap inteligensinya, kecakapanya, dan seterusnya. Kemudian masing-masing mahasiswa menyusun jenjang-jenjang tersebut, sesuai dengan pendapat masing-masing mengenai cirri-ciri yang paling penting bagi dirinya. Dengan demikian, maka jenjang cirri-ciri tersebut, merupakan suatu indicator mengenai derajat relevansi cirri-ciri tersebut. Sesudah menyusun jenjang tersebut, maka mahasiswa memeriksa kembali daftar tersebut. Dengan demikian, maka tersusunlah suatu daftar yang  boleh dikatakan merupakan hasil dari suatu consensus.

Setelah mengisi daftar tersebut, mereka menemui seseorang psikologi yang akan menerapkan suatu test kepribadian terhadap mereka. Tanpa diketahui oleh mahasiswa, hasil test tersebut merupakan sesuatu yang dengan sengaja diberi penyimpangan-penyimpangan, sehingga bukan merupakan hasil tes yang sesungguhnya. Penentuan hasil tes dengan sengaja dikonstruksikan sedemikian rupa sehingga hamper bersamaan dengan jenjang yang dirumuskan oleh para mahasiswa, tanpa mempertimbangkan hasil tes kepribadian yang telah diterapkan oleh psikolog tersebut di sana-sini memang diadakan perubahan-perubahan pada sistematikanya,misalnya,ada cirri-ciri yang dianggap penting dimasukkan ke dalam kategori kurang penting, dan sebaliknya, demikian pula halnya dengan cirri-ciri yang didasarkan pada konsensus yang tinggi dan yang rendah.

Tujuan utama dari eksperimen tersebut adalah, sampai sejauh manakah penentuan dari psikolog terhadap cirri-ciri tersebut, akan mempengaruhi konsepsi diri para mahasiswa. Untuk menjawab masalah tersebut, maka kepada para mahasiswa dimintakan lagi kesediaan mereka untuk menyusun jenjang ciri-ciri tersebut yang bersifat final. Hasilnya cenderung merupakan suatu kompromi. Ternyata bahwa para mahasiswa menyusun jenjang ciri-ciri sesuai dengan arah yang diasumsikan oleh psikolog yang mengadakan test kepribadian tersebut. Namun demikian ternyata, bahwa mengubah ciri-ciri dengan konsensus yang rendah, ternyata lebih tinggi, apabila dibandingkan pada perubahan ciri-ciri atas dasar konsensus yang tinggi derajatnya. Dengan demikian ada kecenderungan yang sangat kuat, bahwa ciri-ciri konsensusnya tinggi yang didukung oleh lain pihak, sulit untuk dirubah.

Self image yang dibentuk dalam proses ini sebenarnya sangat berpengaruh pada interaksi kita dengan orang lain, baik itu dengan orang terdekat, teman, kelompok maupun masyarakat. Yang menjadi masalah adalah suatu situasi dimana ada perbedaaan pandangan tentang self image antara orang yang bersangkutan dengan orang-orang disekitarnya. Misalnya saja, A memiliki self image bahwa dia adalah siswa yang aktif dan pintar di kelas hingga memunculkan tindakan dimana dia sering bertanya kepada guru. Baginya tingkah laku itu mengukuhkan bahwa dia adalah siswa yang aktif dan pintar, namun menurut teman-temannya ternyata justru tingkah yang menyebalkan.
Lalu bagaimana seharusnya? Membentuk self image yang baik memerlukan kecermatan, intuisi bahkan kecerdasan emosi yang baik, dan strategi yang rumit. Tidak asal terjang. Ada yang memilih aman dengan sifat-sifat down to earth. Tentunya yang dimaksud dengan kesuksesan menjalankan teori ini adalah saat interaksi sosial kita berlangsung mulus. Semua dipadukan hingga akhirnya self image yang terbentuk selaras yang artinya mendapatkan tanggapan positif baik itu dari diri kita sendiri maupun dari orang lain. Self image bisa kita rubah dan stel sesuai dengan kebutuhan kita dengan menyesuikan dengan tempat, norma dan budaya yang ada.

CONTOH TIGA


TEORI LOOKING GLASS ATAU SELF IMAGE[2]

Teori ini dilontarkan oleh sosiolog bernama ‘Charles Harton Cooley’. Looking Glass Sels adalah teori yang menerangkan bahwa masyarakat memiliki apa yang disebut dengan ‘cermin’ yang merefleksikan siapa diri kita ini. Kita ini ternyata membentuk image diri (self image) dari bagaimana kita memikirkan cara pandang orang lain terhadap kita. Ada tiga hal utama yang menjadi kata kunci pembahasan teori ini pertama adalah bayangan tentang penampilan kita dihadapan orang lain, bayangan tentang penilaian orang lain terhadap penampilan kita dan perasaan-perasaan yang mengikutinya seperti malu, bangga, gengsi, dll.

Self image yang dibentuk dalam proses ini sebenarnya sangat berpengaruh pada interaksi kita dengan orang lain, baik itu dengan orang terdekat, teman, kelompok maupun masyarakat. Yang menjadi masalah adalah suatu situasi dimana ada perbedaaan pandangan tentang self image antara orang yang bersangkutan dengan orang-orang disekitarnya. Misalnya saja, A memiliki self image bahwa dia adalah siswa yang aktif dan pintar di kelas hingga memunculkan tindakan dimana dia sering bertanya kepada guru. Baginya tingkah laku itu mengukuhkan bahwa dia adalah siswa yang aktif dan pintar, namun menurut teman-temannya ternyata justru tingkah yang menyebalkan.

Lalu bagaimana seharusnya? Membentuk self image yang baik memerlukan kecermatan, intuisi bahkan kecerdasan emosi yang baik, dan strategi yang rumit. Tidak asal terjang. Ada yang memilih aman dengan sifat-sifat down to earth. Tentunya yang dimaksud dengan kesuksesan menjalankan teori ini adalah saat interaksi sosial kita berlangsung mulus. Semua dipadukan hingga akhirnya self image yang terbentuk selaras yang artinya mendapatkan tanggapan positif baik itu dari diri kita sendiri maupun dari orang lain. Self image bisa kita rubah dan stel sesuai dengan kebutuhan kita dengan menyesuikan dengan tempat, norma dan budaya yang ada.

Seperti yang saya bilang tadi, membentuk self image dan bermain dengan mirror sama dengan bermain seni. Kita tak jarang harus mempertimbangkan nilai, norma dan budaya tempat kita berinteraksi sosial. Kalau dikontraskan dengan Agnez ya mungkin Anggung C Sasmi. Dia tidak heboh (hiperaktif) namun tahu-tahu terdengar kabar dia menjadi artis di Eropa. Orang Indonesia khususnya Jawa lebih cocok dengan manuver Anggun yang rendah hati, menjadi diri sendiri dan yang pasti tetap memiliki identitas yang konsisten dengan budayanya.

 Didunia maya mungkin bisa kita terapkan pada bagaimana kita mencoba merepresentasikan self-image kita di sosial media melalui postingan yang kita buat. Misalnya saja, seseorang membentuk self image sebagai orang yang sukses dengan memposting setiap kegiatan yang dia ikuti hampir setiap 5 menit sekali. Maka tidak selalu demikian pandangan followernya karena aka nada yang beranggapan bahwa dia sombong, lebay, kurang kerjaan dan lain sebagainya.
Sepertinya teori ini juga terkait dengan Dramaturgi (Ervin Goffman) yang menyatakan bahwa tindakan manusia memuliki dua sisi yaitu front stage dan back stage. Self image bisa jadi adalah front stage yang ingin diperlihatkan kepada orang lain. Mungkin juga terkait dengan teori psikoanalisis Sigmund Freud tentang id, ego dan superego. Menarik kalau meneliti penggabungan teori ini, ataupun penerapannya pada dimensi sosial yang selama ini belum banyak diteliti seperti dalam interaksi di sosial media, bbm dll.

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Pengertian “Looking Glass Self” yang berarti “cermin diri”, tidak akan diterjemahkan, untuk mencegah kesalahpahaman. Pengertian tersebut diintruksikan oleh Charles Horton Cooley, di dalam hasil karyanya yang berjudul “Human Nature an the Social Order” (tahun 1962). Menurut Cooley, maka tingkah laku orang seolah-olah merupakan cermin bagi imajinasi pribadi tertentu. Cooley menyatakan, bahwa terdapat tiga elemen, yakni:
*      Imajinasi tentang bagaimana seorang tampil di hadapan pihak lainnya;
*      Imjinasi tentang bagaimana pihak lain menilai penampilan tersebut;
*      Reaksi-reaksi emosional terhadap penilaian pihak lain;

Dalam menggunakan “looking glass self’ sebagai perumpamaan, oleh karena hal itu mencakup dan mencerminkan aspek dari formasi konsepsi pribadi. Akan tetapi dia juga mengakui kekurangan yang ada. Cermin tersebut memberikan suatu konotasi pada citra yang aktual dan tanpa penilaian. Padahal, Cooley menganalisa suatu citra yang merupakan suatu  imputasi dan bersifat evalusi.

      Sebagaimana halnya dengan Mead, maka Cooely yang menaruh perhatian pada cara-cara konsepsi diri pada anak-anak berkembang. Berdasarkan pelbagai pengamatan terhadap anak-anak dia berkesimpulan, bahwa sejak usia muda sekali anak-anak menaruh perhatian pada akibat-akibat yang ditimbulkan oleh mereka pada pihak-pihak lainnya. Cooley menganggap bahwa anak-anak tersebut berusaha mempengaruhi orang-orang yang ada di sekitarnya, terutama orang tuanya. Misalnya, anak-anak tadi menagis atau menarik-narik baju orang tuanya, agar usaha mempengaruhi tersebut berhasil.

Atau dengan kata lain interaksi simbolis yang disampaikan oleh Cooley adalah Self image yang dibentuk dalam proses ini sebenarnya sangat berpengaruh pada interaksi kita dengan orang lain, baik itu dengan orang terdekat, teman, kelompok maupun masyarakat. Yang menjadi masalah adalah suatu situasi dimana ada perbedaaan pandangan tentang self image antara orang yang bersangkutan dengan orang-orang disekitarnya.

B.     Saran
Saran dari kami adalah setelah membaca dan memami mekalah ini. Senantiasa melakukan tugas dan partisipasi dalam dunia masyarakat sesuai dengan norma yang berlaku. Dengan meniru perilaku social yang tidak menyimpang bagi masyarakat sekitarnya. Terutama dalam aktifitas kerja dan sehari-hari dapat melakukan tujuan tanpa membuat kekacauan bagi masyarakat. Berpikir selalu yang terbaik dan melakukan, sehingga orang lain dapat menerima terutama meniru tingkah laku kita.


DAFTAR PUSTAKA
Soerjono, Soekanto. 1982. Teori Sosiologi: Tentang Pribadi Dalam Masyarakat. Ghalia Indonesia. Jakarta Timur. Cetakan Pertama.

RItzer, George. 2014. Teori Sosiologi Modern. Edisi Ketujuh. Kecana. Jakarta.

Zeitlin, Irving. 1995. Memahami Kembali Sosiologi: Kritik Terhadap Sosiologi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Sumber lain:
                  
https://asrikoe.wordpress.com/2011/12/04/teori-interaksionisme-simbolik/  (diakses tanggal 21 Desember 2014)
http://id.wikipedia.org/wiki/Sosialisasi (diakses tanggal 21 Desember 2014)

[1] Soerjono, Soekanto. Teori Sosiologi: Tentang Pribadi Dalam Masyarakat. Ghalia Indonesia. Jakarta Timur. Cetakan Pertama. Hal.127-133.
[4] https://asrikoe.wordpress.com/2011/12/04/teori-interaksionisme-simbolik/


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Your Ad Spot