Agustus 09, 2018

Makalah : Pemikiran William Isaac Thomas dalam Sosiologi


BAB I
PENDAHULUAN
\


Nama Lengkap     : William Issac Thomas
T.T.L                      : Desa Virginia, pada tahun 1863
Pendidikan           : Belajar di Universitas Tennesse     Belajar di salah satu universitas di Jerman
Pekerjaan            : Mengajar di Tennessee,  Mengajar Sosiologi dan Bahasa Inggris di Oberlin Collage, Mengajar Sosiologi di Universitas Chicago, Mengajar di New School for Social Research, Dosen sementara di Universitas Harvard, Menjabat sebagai Presiden American Sociological Association (1926)
Meninggal              : pada tahun 1947 (usia 84 tahun)



Karya                        
  • Sex and Society: Studies in the Social Psychology of Se
  • The Polish Peasant in Europe and America (bersama Florian 
  • The Unadjusted Girl
William Isaac Thomas

William I. Thomas adalah seorang tokoh lain yang penting di antara para ahli sosiologi Amerika pada saat-saat awal, yang memusatkan perhatiannya pada saling ketergantungan organis antara individu dan lingkungan sosial, dan yang gagasan-gagasannya dapat dengan mudah digolongkan dalam gaya analisa sosiologis tingkat mikro dalam interaksionisme simbolik.   Setelah mengundurkan diri dari aktifitas mengajarnya di Universitas Oberlin, Thomas melamar di Universitas Chicago, di mana dia bertemu dengan Mead dan Dewey dan pada saat itulah dia mulai mengemukakan konsep-konsep interaksi simbolik yakni definisi situasi.

BAB II
ISI

      Definition Of The Situation (Definisi Situasi)

Istilah ini berasal dari Interaksionisme Simbolik dan Sociology Chicago School dengan fokus pada: cara seseorang memahami pertemuan mereka dengan orang lain dalam kehidupan sehari-hari dan bagaimana interaksi antara aktor-aktor sosial yang berpengetahuan dapat dibangun menjadi rutinitas yang lebih stabil dan memberikan tampilan tatanan sosial. Dari perspektif tersebut, maka masyarakat merupakan proses dinamis seseorang (individu) yang terus-menerus berinteraksi dengan individu tersebut, meskipun secara temporal. 

William I. Thomas yang mengemukakan definisi situasi tersebut berpendapat seseorang tidak segera memberikan reaksi manakala ia mendapat rangsangan dari luar. Menurutnya tindakan seseorang selalu didahului suatu tahap penilaian dan pertimbangan; rangsangan (stimulus) dari luar diseleksi melalui proses yang dinamakan defenisi atau penafsiran situasi. Dalam proses ini orang yang bersangkutan memberikan makna (response) pada rangsangan yang diterimanya itu. Contohnya, mengenai seseorang yang memberi salam, maka rangsangan berupa “balasan salam” diseleksi dan diberi makna terlebih dahulu; seorang gadis mendapat ucapan salam dari seorang pria yang belum dikenalnya, kemudian dia menafsirkan bahwa salam dari pria tersebut tidak dilandasi iktikad baik, maka gadis tersebut akan cenderung memberikan reaksi berupa tindakan yang sesuai dengan penafsirannya, misalnya mengabaikan salam tersebut. 

Suatu ungkapan Thomas yang terkenal ialah, “If men define situations as real, they are real in their consequences!” Yang berarti: bila seseorang mendefinisikan situasi sebagai hal nyata, maka konsekuensinya nyata. Maksud Thomas di sini ialah bahwa definisi situasi yang dibuat orang akan membawa konsekuensi nyata. Contoh: beberapa orang pemuda memasuki suatu hotel di Jakarta dan tersesat di dalamnya. Mereka ditangkap satpam dan didefinisikan sebagai penjahat. Konsekuensi nyatanya : para pemuda tersebut dianiaya sehingga luka parah bahkan seseorang diantaranya meninggal dunia. Contoh lainnya: seorang wartawan Inggris keturunan Iran mengumpulkan data mengenai instalasi militer di Irak, ia mendefinisikan situasinya sebagai kegiatan pencarian berita untuk surat kabar, namun penguasa di Irak mendefinisikan situasinya sebagai kegiatan mata-mata untuk Israel sehingga wartawan tersebut harus menjalani hukuman mati. Dalam kedua kasus ini, konsekunsi yang nyata (maut) berdasarkan definisi situasi oleh salah satu pihak yang berinteraksi. 

Dari contoh di atas tampak bahwa situasi dapat didefenisikan secara berlainan. Thomas membedakan antara dua macam definisi situasi: definisi situasi yang dibuat secara spontan oleh individu dan definisi situasi yang dibuat oleh masyarakat. Definisi situasi yang dibuat oleh masyarakat (keluarga, teman, komunitas) terdiri dari nilai-nilai moralitas, norma dan hukum. Thomas melihat adanya persaingan antara kedua macam definisi tersebut. Menurutnya moralitas yang berwujud aturan atau hukum muncul untuk mengatur kepentingan pribadi agar tidak bertentangan dengan kepentingan masyarakat.

Selama sosialisasi, secara bertahap individu mempelajari defenisi-defenisi yang terdapat dalam kebudayaan yang bersifat standar mengenai situasi-situasi yang khas, yang kemungkinan besar mereka temui di masyarakat (baik itu dalam keluarga, teman, komunitas). Dalam hal ini perilaku individu secara bertahap dibentuk oleh lingkungan sosial-budayanya. Selalu ada kemungkinan adanya ketegangan dan konflik antara definisi situasi yang diterima dalam masyarakat dan defenisi individu yang bersifat spontan. Defenisi spontan mencerminkan keinginan yang bersifat individualistis sedangkan defenisi sosial mencerminkan nilai-nilai serta tujuan bersama. Walaupun demikian, individu dan masyarakat tidak dapat dilihat dalam isolasi karena keduanya merupakan satu kesatuan organis, di mana sikap individu dan nilai sosial berhubungan secara timbal balik. 

The Polish Peasant in Europe and America

Karya Thomas sangat banyak, tetapi yang dianggap monumental adalah The Polish Peasant in Europe and America yang berisi penjelasan tentang masalah identitas etnik sehubungan dengan masalah perubahan sosial. Karya ini juga dianggap sebagai perbaikan atas karya pertamanya yang berjudul Sex and Society: Studies in the Social Psychology of Sex yang dianggap banyak mengandung bias biologi maupun bias psikologi. Selanjutnya, tulisannya yang berjudul The Unadjusted Girl yang membahas tentang 'definisi situasi' dianggap memberi sumbangan yang sangat penting dalam bidang teori terhadap perkembangan pendekatan interaksionisme simbolik. Berdasarkan teori 'definisi situasi', perilaku bukan hanya merupakan respon refleksif terhadap stimulus yang datang dari lingkungan. Perilaku merupakan buah dari proses definisi subjektif aktor terhadap stimulus tersebut. Di dalam proses definisi subjektif ini terkandung tahap pengujian dan pertimbangan atas stimulus yang datang dan respons yang akan dimunculkan.

Salah satu pembedaan konseptual utama yang diberikan Thomas dan Znaniecki dalam The Polish Peasant adalah antara sikap dan nilai. Keduanya mencerminkan proses sosial, tetapi sikap menunjuk terutama pada defenisi subyektif individu, sedangkan nilai terutama menunjuk pada pola budaya yang obyektif, seperti yang terwujud dalam institusi sosial yang bersifat eksternal terhadap individu. Memang, ada saling ketergantungan antara kedua konsep ini, di mana sikap individu secara bertahap senantiasa dibentuk oleh nilai-nilai sosial, dan sebaliknya. Mungkin, karena saling ketergantungan inilah sehingga sebagian pembedaan itu kadang-kadang sulit untuk dipertahankan, terutama dalam diskusi apa saja mengenai sikap yang dimiliki bersama dalam kehidupan sosial. Artinya, sekali kita mengakui pentingnya (meyakini) definisi subyektif untuk menjelaskan perilaku, maka kita akan mengikuti seperti yang diutarakan Thomas, bila seseorang mendefinisikan situasi sebagai hal nyata, maka konsekuensinya nyata”. 

The Polish Peasant in Europe and America yang merupakan proyek penelitian klasik Thomas dan Znaniecki ini menyangkut masalah penyesuaian psikologis dan sosial yang dihadapi oleh kaum imigran Polandia dalam lingkungannya yang baru di Chicago. Analisa situasi yang diberikan Thomas dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa orang yang mempunyai sikap yang berbeda atau orang yang sudah mendapat soialisasi dalam lingkungan budaya atau subkultur yang berlainan tidak memberikan respons terhadap stimulus yang sama dengan cara yang sama. Perbedaan-perbedaan dalam respons terhadap situasi tertentu merupakan hasil dari suatu perbedaan dalam defenisi subyektif. Kemungkinan-kemungkinan untuk salah paham dan terjadinya konflik menjadi lebih besar di sekitar batas masyarakat-masyarakat yang berbeda kebudayaannya. Analisa situasi yang diberikan Thomas memberikan sumbangan untuk melihat pentingnya pengaruh perbedaan budaya atau subkultur dalam defenisi-defenisi yang diakui masa kini.

BAB III
PENUTUP

     Kesimpulan

William I. Thomas memperkenalkan konsep the definition of situation dalam sosiologi interkasi. Yang dimaksudkan Thomas dengan konsep tersebut ialah bahwa manusia tidak langsung memberikan tanggapan (response) terhadap rangsangan (stimulus) sebagaimana halnya makhluk lain sebelum bertindak untuk menanggapi melakukan penilaian dan pertimbangan terlebih dahulu—mendefinisikan suatu rangsangan dari luar, individu selalu melakukan seleksi, mendefinisi situasi, memberi makna pada situasi yang dihadapinya.

W. I Thomas membantu menekankan kemampuan kreatif manusia dalam konsep Defenisi Situasi : “bila manusia telah mendefenisikan situasi sebagai sesuatu yang nyata , maka akibatnya pun adalah nyata” Thomas mengetahui bahwa sebagian besar defenisi kita tentang situasi telah disediakan oleh masyarakat untuk kita. Sebenarnya Thomas menekankan bahwa yang menjadi sumber defenii sosial kita terutama adalah keluarga dan komunitas. Pendapat Thomas ini menjadi istimewa karena penekanannya pada kemungkinan individu mendefinisikan situasi secara spontan yang memungkinkan mereka mengubah dan memodifikasi arti dan simbol.

DAFTAR PUSTAKA

Johnson, D. P. 1986. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jakarta: Gramedia
Ritzer, G. & Goodman D. J. 2008. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana
Sunarto, Kamanto. 1993. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
Sunarto, Kamanto. 2000. Pengantar Sosiologi (Edisi ke-2). Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
Scott, John. 2011. Sociology: The Key Concept. Jakarta: Rajawali Pers


Tags :

bonarsitumorang

  • Bonar Situmorang
  • Medan
  • Jakarta Selatan
  • bonarsos@gmail.com
  • +62853-7028-9213