16 Jul 2016

Samakah Pola Sosialisasi Dalam Keluarga dulu dan Sekarang?

A. Pengertian Sosialisasi

Dalam membahas mengenai sosialisasi keluarga kita harus mengtahui terlebih dahulu pengertian dari sosialisasi. Sosialisasi ialah proses belajar individu untuk mengenal dan menghayati norma-norma serta nilai-nilai social sehingga terjadi pembentukan sikap untuk berprilaku sesuai dengan tuntutan atau perilaku masyarakatnya. Menurut David A. Goslin sosialisasi adalah proses belajar yang dialami seseorang untuk memperoleh pengetahuan keterampilan, nilai-nilai dan norma agar ia dapat berpartisipasi sebagai anggota dalam kelompok masyarakat (Goslin, 1969:2, dalam bunga rampai sosiologi keluarga).

Sosialisasi dialami individu sebagai makhluk social sepanjang kehidupannya, soialisasi berlangsung dengan adanya interaksi secara langsung atau tatap muka, tapi bias juga dilakukan dalam jarak tertentu melalui sarana media, bias berlangsung secara formal ataupun informal, baik sengaja ataupun tidak sengaja. Sosialisasi dapat dilakukan demi kepentingan orang yang disosialisasikan ataupun orang yang melakukan sosialisasi, sehingga kedua kepentingan tersebut bisa sepadan atau bertentangan. Menurut tahapannya sosialisasi dibedakan menjadi dua tahap, yakni:
1.     Sosialisasi primer, sebagai sosialisasi yang pertama dijalani individu semasa kecil, melalui nama ia menjadi anggota masyarakat dalam tahapini proses sosialisasi primer membentuk kepribadian anak ke dalam dunia umum, dan keluargalah yang berperan sebagai agen sosialisasi.

2.     Sosialisasi sekunder, proses berikutnya yang memperkenalkan individu yang telah disosialisasikan ke dalam sektor baru dari dunia objektif masyarakatnya; dalam tahapan ini proses sosialisasi mengarah pada terwujudnya sikap profesionalisme di dalam hal ini yang menjadi agen sosialisasi adalah lembaga pendidikan, peer group, lembaga pekerjaan, dan lingkunagan yang lebih luas dari (Berber dan Luckman, 1967:130)
Setiap kelompok masyarakat mempunyai standar dan nilai yang berbeda, perbedaan standar dan nilai tidak terlepas dari tipe sosialisasi yang ada. Kedua tipe tersebut sebagai berikut :
1.     Formal. Sosialisasi tipe ini terjadi melalui lembaga yang berwenang menurut ketentuan yang beralaku dalam Negara.
2.     Informal. Sosialisasi tipe ini terdapat di masyarakat atau dalam pergaulan yang bersifat kekeluargaan.
B. Pengertian Keluarga

Dalam masyarakat luas terdapat berbagai lembaga-lembaga (pranata-pranata) seperti lembaga keluarga, lembaga pendidikan, lembaga ekonomi, lembaga agama, dan lembaga lainnya. Dwi dan Bagong (2004:227), keluarga adalah lembaga sosial dasar darimana semua lembaga atau pranata sosialnya berkembang. Di masyarakat manapun di dunia, keluarga merupakan kebutuhan manusia yang universal dan menjadi pusat terpenting dari kegiatan dalam kehidupan individu. Keluarga dapat digolongkan ke dalam kelompok penting, selain karena para anggotanya saling mengadakan kontak langsung juga karena adanya keintiman dari para anggotanya.

Pranata keluarga merupakan sistem norma dan tata cara yang diterima untuk menyesuaikan beberapa tugas penting. Keluarga berperan membina anggota-anggotanya untuk beradaptasi dengan lingkungan fisik maupun lingkungan budaya di mana ia berada. Bila semua anggota sudah lampu untuk beradaptasi dengan lingkungan di mana ia tinggal, maka kehidupan masyarakat akan tercipta menjadi kehidupan yang tenang, aman dan tenteram.

Dengan demikian, keluarga pun berfungsi sebagai pusat sosialisasi pertama dalam kehidupan setiap individu sebelum memasuki dunia masyarakat yang lebih luas. Tentunya proses sosialisasi dalam keluarga adalah sesuatu yang sifatnya sangat penting dalam mendukung proses-proses sosial yang akan terjadi pada individu (anggota keluarga) tersebut.


C. Media sosialisasi

Dalam proses sosialisasi dibutuhkan agen sosialisasi, adapun agen sosialisasi adalah sebagai berikut:
1. Keluarga
2. Teman bermain
3. Sekolah
4. Lingkungan kerja
5. Media Massa
6. Organisasi
Keluarga merupakan unit social terkecil yang ada dalam sebuah masyarakat. dalamkeluarga proses sosialisi pertama kali dilakukan. Apa yang dianggap baik dan benar dalam sebuah masyarakat akan diajarkan oleh orang tua kepada anaknya sehingga akan mempengaruhi kepribadiannya di masa yang akan datang, begitu seorang bayi dilahirkan ia sudah berhubungan dengan kedua orang tuanya, kakaknya, dan mungkin saudaranya yang lain. Sebagai anggota keluarga yang baru dilahirkan, ia sangat tergantung pada perlindungan dan bantuan anggota keluarganya. Proses sosialisasi awal ini dimulai dengan proses belajar menyesuaikan diri dan mengikuti setiap apa yang diajarkan oleh orang di sekitarnya, seperti cara makan, berbicara, berjalan, hingga belajar bertindak dan berperilaku. Melalui lingkungan keluarga itulah anak mengenal dunia sekitarnya dan pola pergaulan sehari-hari.

D. Proses Sosialisasi

Ada beberapa defenisi proses sosialisasi menurut para ahli, seperti:
1. Havighurst dan Neuggarten mengatakan bahwa proses sosialisasi adalah proses belajar.
2. Thomas Ford Hoult, proses sosialisasi adalah proses belajar individu untuk bertingkah laku sesuai dengan standar yang terdapat dalam kebudayaan.
3. Mead berpendapat, proses sosialisasi adalah proses individu dalam mengadopsi kebiasaan, sikap dan ide-ide dari orang lain dan menyusunnya kembali sebagaimana suatu sistem dalam diri pribadinya.
Dapat disimpulkan, proses sosialisasi adalah proses belajar yang dilakukan individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya agar dirinya dapat berperan dalam lingkungannya tersebut. Sosialisasi dapat diartikan sebagai suatu proses sosial yang dilakukan oleh seseorang dalam menghayati norma-norma kelompok tempat ia hidup sehingga menjadi bagian dari kelompoknya. Peranan keluarga bukan saja berupa peranan-peranan yang bersifat intern antara orang tua dan anak, serta antara yang anak satu dengan anak yang lain. Keluarga juga merupakan medium untuk menghubungkan kehidupan anak dengan kehidupan di masyarakat, dengan kelompok-kelompok sepermainan, lembaga-lembaga sosial seperti lembaga agama, sekolah dan masyarakat yang lebih luas.

Cara-Cara Sosialisasi

Dalam proses sosialisasi terjadi hubungan timbal balik antara kedua orang tua dengan anaknya. Hubungan timbal balik ini kita sebut interaksi sosial. Dalam interaksi ini ada beberapa metode yang memberikan pengaruh terhadap hasil interaksi sosial yaitu:
1. Imitasi (meniru). kecenderungan meniru merupakan naluri yang mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses interaksi sosial. Dampak positif dari imitasi ialah mendorong seseorang untuk mengetahui norma dan nilai yang berlaku. Misalnya, Seorang ayah yang memberikan contoh bagaimana cara makan yang baik dalam keluarga hal itu akan ditiru oleh anggota keluarga lainnya.
2. Sugesti. Faktor sugesti berlangsung bila seseorang memberi pandangan atau sikap yang berasal dari dirinya kemudian sikap itu diterima pihak lain. Misalnya, orangtua yang menceritakan keberhasilannya dalam studi dengan menggunakan metode belajar tertentu akan memberikan motivasi langsung pada anaknya.

3. Identifikasi. Identifikasi merupakan kecenderungan atau keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan pihak lain. Misalnya, seseorang yang ingin menjadi seperti tokoh idolanya yang dihormati dan dikaguminya karena kedudukannya yang lebih tinggi atau mungkin tipe-tipe ideal yang mempunyai kelebihan yang dapat dijadikan panutan dan teladan untuk dirinya.


4. Simpati. Simpati ialah kesenangan seseorang untuk langsung merasakan sesuatu dengan orang lain. Perasaan simpati ini banyak timbul dari hubungan antar manusia dan manusia lain. Misalnya, kerja sama atau tolong-menolong.
5. Ganjaran dan hukuman. Tingkah laku anak yang salah, tidak baik dan kurang pantas harus mendapat hukuman, sedangkan tingkah laku yang sebaliknya mendapatkan ganjaran. Dengan hukuman anak menjadi sadar bahwa tingkah lakunya salah, tidak baik bahkan tidak pantas di masyarakat. Sebaliknya, dengan ganjaran anak menjadi sadar bahwa tingkah lakunya baik, terpuji dan diterima oang lain. Melalui proses hukuman dan ganjaran ini secara perlahan-lahan dalam diri anak berkembang kesadaran akan norma-norma sosial.

E. Pola Sosialisasi di Lingkungan Keluarga

Dalam lingkungan keluarga kita mengenal dua macam pola sosialisasi, yaitu pertama, cara represif (repressive socialization) yang mengutamakan adanya ketaatan anak pada orang tua,Sosialisasi represif (repressive socialization) menekankan pada penggunaan hukuman terhadap kesalahan. Ciri lain dari sosialisasi represif adalah penekanan pada penggunaan materi dalam hukuman dan imbalan. Penekanan pada kepatuhan anak dan orang tua. Penekanan pada komunikasi yang bersifat satu arah, nonverbal dan berisi perintah, penekanan sosialisasi terletak pada orang tua dan keinginan orang tua, dan peran keluarga sebagai significant other.

Kedua, cara partisipasi (participatory socialization) yang mengutamakan adanya partisipasi dari anak. Sosialisasi partisipatoris (participatory socialization) merupakan pola di mana anak diberi imbalan ketika berprilaku baik. Selain itu, hukuman dan imbalan bersifat simbolik. Dalam proses sosialisasi ini anak diberi kebebasan. Penekanan diletakkan pada interaksi dan komunikasi bersifat lisan yang menjadi pusat sosialisasi adalah anak dan keperluan anak. Keluarga menjadi generalized other.

1. Sosialisasi represif (repressive socialization) antara lain:
a. Menghukum perilaku yang keliru,
b. Hukuman dan imbalan material
c. Kepatuhan anak.

2. Sosialisasi partisipasi (participatory socialization) antara lain:
a. Otonomi anak
b. Komunikasi sebagai interaksi
c. Komunikasi verbal.

Keseluruhan sistem belajar mengajar berbagai bentuk sosialisasi dalam keluarga bisa disebut sistem pendidikan keluarga. Sistem pendidikan keluarga dilaksanakan melalui pola asuh yaitu suatu pola untuk menjaga,merawat, dan membesarkan anak. Pola ini tentu saja tidak dimaksudkan pola mengasuh anak yang dilakukan oleh perawat atau baby sitter, seperti yang sering dilakukan oleh kalangan keluarga elit/kaya di kota-kota besar.

Pola mengasuh anak di dalam keluarga sangat dipengaruhi oleh sistem nilai, norma, dan adat istiadat yang berlaku pada masyarakat tempat keluarga itu tinggal. Jadi, kepribadian dan pola perilaku yang terdapat pada berbagai masyarakat suku bangsa sangat beragam coraknya.

F. Tujuan Sosialisasi Dalam Keluarga

Secara mendasar terdapat tiga tujuan sosialisasi di dalam keluarga, yakni sebagai berikut:
a. Penguasaan diri
Masyarakat menuntut penguasaan diri pada anggota-anggotanya. Proses mengajar anak untuk menguasai diri ini dimulai pada waktu orang tua melatih anak untuk memelihara kebersihan dirinya. Ini merupakan tuntutan sosial pertama yang dialami oleh anak untuk latihan penguasaan diri. Tuntutan penguasaan diri ini berkembang, dari yang bersifat fisik kepada penguasaan diri secara emosional. Anak harus belajar menahan kemarahannya terhadap orang tua atau saudarasaudaranya. Tuntutan sosial yang menuntut agar anak menguasai diri merupakan pelajaran yang berat bagi anak.

b. Nilai-nilai
Bersama-sama dengan proses berlatih penguasaan diri ini kepada anak diajarkan nilai-nilai. Penelitian-penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai dasar dalam diri seseorang terbentuk pada usia enam tahun. Di dalam perkembangan usia tersebut keluarga memegang peranan terpenting dalam menanamkan nilai-nilai. Sebagai contoh melatih anak menguasai diri agar permainannya dapat dpinjamkan kepada temannya, maka di situ dapat muncul suatu makna tentang arti dari kerja sama. Mengajarkan anak menguasai diri agar tidak bermain-main dahulu sebelum menyelesaikan pekerjaan rumahnya, maka disitu mengandung ajaran tentang nilai sukses dalam pekerjaan.

c. Peran-peran sosial
Mempelajari peran-peran sosial ini terjadi melalui interaksi sosial dalam keluarga. Setelah dalam diri anak berkembang kesadaran diri sendiri yang membedakan dirinya dengan orang lain, dia mulai mempelajari peranan-peranan sosial yang sesuai dengan gambaran tentang dirinya. Dia mempelajari peranannya sebagai anak, sebagai saudara (kakak/adik), sebagai laki-laki/perempuan, dan sebagainya. Proses mempelajari peran-peran sosial ini kemudian dilanjutkan di lingkungan kelompok sebaya, sekolah, perkumpulan-perkumpulan dan lain sebagainya.

G.  Dampak Sosialisasi
Keluarga inti yang terdiri atas ayah, ibu, dan anak yang diikat oleh ikatan darah, perkawinan, dan adopsi merupakan bagian terkecil dari sebuah kesatuan masyarakat. Berkualitas tidaknya masyarakat yang akhirnya menentukan kualitas bangsa, berawal dari kualitas keluarga.
Semua orang tua menginginkan anaknya menjadi baik, penyejuk mata, mengangkat harkat dan martabat orang tua serta bangsanya. Semua manusia akan berusaha menjadikan anaknya baik bahkan kalau bisa lebih baik dari dirinya.
Proses sosialisasi dari keluarga sangat dibutuhkan, agar seorang anak dapat menjalani hidupnya sesuai dengan yang diajarkan orang tua, tapi pada zaman modern seperti saat ini banyak dari orang tua di Indonesia yang kurang memperdulikan anaknya, mereka tidak melakukan proses sosialisasi yang baik hingga akhirnya pola hidup seorang anak menjadi salah. Berikut ini adalah contoh dampak dari kurangnya sosialisasi dalam keluarga.

 Anak yang menggunakan internet

Di era globalisasi saat ini internet menjadi sarana yang sangat digemari mulai dari anak-anak, remaja, dewasa hingga orang tua. Internet menawarkan banyak fasilitas sebagai sarana komunikasi, refrensi dan hiburan. Dalam pemakaiannya terhadap anak-anak sebaiknya dalam pengawasan dan batasan orang tua agar lebih aman. Orang tua juga harus memberitahukan anaknya situs-situs apa saja yang boleh dilihat dan dimainkan diinternet. Berikan informasi menarik di dunia internet kepada anak. Namun, tetap bersifat positif. Berikan juga informasi seputar sisi negatif dari internet agar anak-anak memahami batasan-batasan dalam memakai internet,  sehingga terhindar dari situs-situs yang dapat merusak pemikiran dan tingkahlaku anak.

Penggunaan televisi

Dalam memberikan tontonan kepada anak haruslah memberikan tontonan yang sesuai dengan usianya, yang mendidik sehingga dapat menambah pengetahuan dan merangsang kecerdasan sang anak. Jangan mengizinkan anak melihat tontonan yang menampilkan kekerasan seperti smack down karna dikhawatirkan iya akan meniru adegan-adegan yang ada diacara tersebut dan melakukannya kepada teman sebayanya. Berikan juga batasan waktu dalam menonton tv agar anak tidak selalu bermalas-malasan dan tetap mengerjakan tugas belajarnya.

      Memberikan makanan yang sehat
Dizaman modern banyak anak-anak yang tidak menyukai makanan tradisional dan lebih menyukai makanan junk food atau makanan yang rendah gizi. Hal ini disebabkan karna orangtua kurang memperdulikan anaknya krna kesibukan kerja sehingga mereka hanya memberikan anaknya uang dan sang anak mnggunakan uang tersebut untuk membeli makanan yang berbahya untuk tubuh mereka (junk food). Bahkan ketika memakan makanan seperti itu menjadi gaya hidup orang-orang yang dipandang mampu (berada) seperti contohnya; KFC, Mc.Donnal, HokBent, dll. Banyak orang tua yang membiasakan anaknya atau menyuruh anakanya agar makan ditempat seperti itu agar keluarganya dipandang mampu dan berada.

     Motivasi menabung
Anak-anak sangat mudah dimotivasi. Dengan memotivasi dan mebiasakan anak untuk menyisihkan uang jajannya untuk ditabung maka akan tercipta kebiasaan berhemat sejak kecil. Hasil tabungannya nanti bisa dibelikan buku-buku pelajaran, buku cerita yang ia sukai.

       Melibatkan anak dalam segala kegiatan dirumah maupun di luar rumah
Denga melibatkan anak dalam kegiatan dirumah ataupun diluar rumah maka akan tercipta interaksi yang baik antara anak dengan keluarga maupun dengan orang-orang dilingkungan sekitar. Contohnya ; mengajak anak memasak bersama walau pun dia hanya sekedar mencuci sayuran, atau mengajak anak ketika ada acara dilingkungan sekitar rumah, agar terjadi interaksi dengan lingkungan diluar rumah.
Orang tua hendaknya melakukan proses sosialisasi dengan baik, memberikan banyak waktu untuk anaknya, mengawasi perkembangan anaknya, mengawasi tontonannya, elektronik-elektronik yang ada disekitarnya, mengurangi konsumsi junk food dan fast food agar hidupnya lebih sehat dan jangan mengorbankan kesehatan anak hanya demi penilaian orang lain terhadap ekonomi keluarga, mengajarkannya menabung dan melibatkannya disetiap kegiatan orang tua.

Dampak Sosialisasi dalam Keluarga:
1.   '
          Dampak positif
Menjadi agen sosialisasi paling berpengaruh dalam menentukan kepribadian seorang individu.

2.     Dampak negative

Sosialisasi keluarga akan membawa pengaruh terburuk ketika dalam keluarga tersebut terjadi konflik . Sehingga menimbulkan trauma dan depresi pada anak, yang berkelanjutan dengan perilaku menyimpang dari anak broken home.

Tags :

bm

bonarsitumorang

Pengajar Muda

I like to make cool and creative designs. My design stash is always full of refreshing ideas. Feel free to take a look around my Vcard.

  • Bonar Situmorang
  • ????????????
  • Kec.Cilandak,Kota Jakarta Selatan
  • bonarsos@gmail.com
  • +62853-7028-9213