Breaking

Post Top Ad

Your Ad Spot

Minggu, Agustus 12, 2018

BENTUK-BENTUK KOMUNIKASI PERSUASI

 BAB I PENDAHULUAN 
1.1  LATAR BELAKANG MASALAH
Persuasi adalah kenyataan yang tak bisa dinafikan dalam kehidupan seahri-hari, “demikian kata Joseph A. Hardo ketika mengantarkan bukunya, Speaking Persuasively, 1981. Untuk menyakinkan pembacanya, Hardo menjelaskan sebagai berikut:

“ Anda hidup dalam sebuah dunia yang sarat dengan kata. Anda digempur oleh pesan-pesan yang   dirancang untuk mempengaruhi Anda. Para komunikator menganjurkan agar Anda mengikuti apa yang dia inginkan. Para pemasang iklan menginginkan agar Anda membeli produk-produknya. Para pengkhotbah menekankan perlunya mengubah cara hidup Anda. Para instruktur berusaha membujuk Anda untuk memilih studi yang sesuai dengan keahliannya. Para pengusaha menjajakan untuk memilih jasa dan produk mereka. Sebaliknya, Anda juga berusaha sebisa mungkin membentuk kepercayaan dan mencoba memahami apa yang disampaikan oleh komunikator. Sehingga Anda akan berpikir untuk melakukan hal yang diinginkan yang disampaikan oleh komunikator.”
            Sehubungan dengan hal itu, makalah ini disusun untuk memberikan pemahaman kepada pembaca tentang seluk beluk komunikasi, baik segi proses, bentuk persuasi. Dengan maksud semacam ini, komunikasi, khususnya persuasi tidak saja tampil sebagai science  yang dibutuhkan para pelajar, mahasiswa,dosen  para pengamat komunikasi dan para opinion parkers. Dengan demikian masalah yang selama ini kita hadapi bisa dituntaskan sebaik mungkin, terutama dalam komunikasi persuasi. Memahami metode persuasi, teori mengenai persuasi dan bisa mempraktekan dalam kehidupan.
1.2  RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian dari komunikasi persuasi?
2. Apa tujuan dari komunikasi persuasi?
3. Bagaimana bentuk - bentuk, teori, dan metode persuasi?
1.3  TUJUAN PENULISAN
Komunikasi persuasi adalah bagian dari kehidupan manusia sehari-hari dan merupakan suatu kegiatan kejiwaan, yang menyangkut kepada suatu pergerakan jiwa untuk melakukan sesuatu dengan kerelaan dan kehendak sendiri. Harapan dan tujuan penulisan ini adalah untuk memberikan pemahaman kepada pembaca apakah yang dimaksud dengan komunikasi persuasi, tujuan komunikasi persuasi dan juga metode apa yang digunakan dalam komunikasi persuasi.
      Untuk mencapai tingkat keberhasilan dalam komunikasi persuasi, tentunya kita tak akan bisa berkomunikasi persuasi tanpa memahami dan mempraktekkannya dalam kehidupan. Sehingga kita dapat mengubah pendapat-pendapat yang menentang dan mengarahkan pembentukan pendapat yang menguntungkan atau mendukung sesuatu pendapat.
      Persuasi itu adalah pesan yang diterima yang  berarti, bukan hanya pesan yang dikirimkan dan persuasi suatu proses belajar  sikap, kepercayaan, dan nilai dipelajari melalui aktivitas pemrosesan-informasi yang kompleks, belajar dari suatu respon sikap yang diharapkan dipermudah ketika respon itu diberikan ganjaran.
Dengan demikian komunikasi persuasi itu adalah bagian dari kehidupan kita. Terutama jika kita ingin menjadi seorang komunikator ataupun komunikan yang tak mudah dipengaruhi begitu saja. Semua itu harus dipelajari dan dipraktekkan dalam kehidupan.

BAB II PEMBAHASAN
2.1    PENGERTIAN KOMUNIKASI PERSUASI
            Untuk memahami apa itu persuasi, kita terlebih dahulu mengartikannya secara epistemologi. Persuasi berasal dari bahasa Latin yaitu persuadeo yakni per memiliki arti bersifat efektif atau efectively dan suadeo berarti menasehati, mempengaruhi, mendesak, dan menyakinkan. Tetapi  dalam bahasa Inggris persuasi adalah persuasion (kata kerja) yang berarti “the art of the power to persuade” atau seni, kekuatan untuk mempengaruhi dan meyakinkan secara efektif. Dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai meyakinkan, membujuk, atau merayu.
            Seacara terminologis ada beberapa ahli yang memberikan apa itu komunikasi persuasif. Untuk lebih memahaminya lagi biasanya orang akan melihat defenisi yang disampaikan oleh beberapa ahli. Persuasi, kata Ronald L. Applbaum dan Karl W.E Anatol (1974: 12),” complext process of communication by which one individual our group elicist by verbal or non verbal means a specific respons from another individual our group” (persuasi adalah proses komunikasi yang kompleks ketika individu atau kelompok mengungkapkan pesan melalui cara-cara verbal dan non verbal untuk memperoleh respons tertentu dari individu atau kelompok lain). Sementara itu, Bettinghous merumuskan persuasi sebagai: “komunikasi manusia yang dirancang untuk mempengaruhi orang lain dengan usaha mengubah keyakinan, nilai, atau sikap mereka.”
            Winston Brembeck dan William Howell dalam persuasion: A means of spocial change (1952), mendefenisikan persuasi sebagai usaha sadar untuk mengubah pikiran dan tindakan dengan memanipulasi motif-motif orang ke arah tujuan yang sudah ditetapkan.” Pada 1970, kedua profesor komunikasi ini mengubah pendapatnya, dengan merumuskan persuasi seabagi: “ Communication intended to influence choise.” (komunikasi yang dimaksud untuk mempengaruhi pilihan orang). Defenisi yang cukup menarik, dirumuskan Burke yang dikutip Larson dalam Persuasion, 1986, bahwa persuasi dipandang sebagai: “The cocreation of a state of identifically or alignment between a source and a reciever that results from the use a symbols.” (Penciptaan bersama dari suatu pernyataan identifikasi atau kerja sama di antara sumber pesaan dengan penerima pesan yang diakibatkan oleh penggunaan simbol-simbol).
            Dari beberapa defenisi yang dikutip di atas, tampaknya terdapat dua orientasi paradigmatis yang cukup menonjol diamati. Pertama ada rumusan-rumusan persuasi yang menitikberatkan pada orientasi sumber atau persuader. Orientasi ini memandang persuasi yang linier dan satu arah. Kecenderunangan orientasi ini melihat khalayak yang dipersuasi sebagai benda yang tak berdaya  yang siap menerima pesan. Sedangkan orientasi kedua, cenderung melihat komunikasi sebagai hasil dinamika aktif dari sumber pesan. Komunikasi ini tidak dipandang sebagai sesuatu yang satu arah tetapi bersifat circular, yang sangat memperhatikan umpan balik, konteks dan aktivitas si penerima pesan. Antara pemberi pesan dan penerima pesan terjadi proses saling memngaruhi melalui interaksi dan interrelasi antarsesama.
Agar lebih memahami lagi, selain yang di atas ada juga beberapa ahli yang memberikan pengartian tentang komunikasi, diantaranya:
Menurut K. Anderson
 Komunikasi persuasif didefinisikan sebagai perilaku komunikasi yang mempunyai tujuan mengubah keyakinan, sikap atau perilaku individu atau kelompok lain melalui transmisi beberapa pesan.
Menurut R. Bostrom
 Komunikasi persuasif adalah perilaku komunikasi yang bertujuan mengubah, memodifikasi atau membentuk respon (sikap atau perilaku) dari penerima.
Hovland
Mendefinisikan komunikasi persuasif sebagai suatu proses dimana individu (komunikator) memberikan rangsangan (secara verbal) untuk mengubah individu lainnya (audien).
Burgon Huffer
Meringkas beberapa pendapat dari beberapa ahli mengenai definisi komunikasi persuasi sebagai berikut:
    -    Proses komunikasi yang bertujuan mempengaruhi pemikiran dan pendapat orang lain     agar menyesuaikan pendapat dan keinginan komunikator.

    -    Proses komunikasi yang mengajak atau membujuk orang lain dengan tujuan mengubah sikap, keyakinan dan pendapat sesuai keinginan komunikator. Pada definisi ini ‘ajakan’ atau ‘bujukan’ adalah tanpa unsur ancaman/ paksaan.
5.      Astrid Susanto
Komunikasi persuasif adalah suatu komunikasi dikatakan berhasil apabila komunikasi itu mampu mengubah sikap dan tindakan sesorang atau berhasil memperoleh persetujuan dari komunikan terhadap apa yang dimaksudkan oleh komunikator.
Secara umum, komunikasi persuasi adalah komunikasi yang bertujuan untuk mengubah atau memperngaruhi kepercayaan, sikap, dan perilaku seseorang sehingga bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh komunikator. Pada umumnya sikap-sikap individu/kelompok yang dipengaruhi ini terdiri dari tiga komponen :
1.      Kognitif- perilaku di mana individu mencapai tingkat “tahu” pada objek yang diperkenalkan.
2.    Afektif- perilaku di mana individu mempunyai kecenderungan untuk suka atau tidak suka pada objek.
3.    Konatif- perilaku yang sudah sampai pada tahap hingga individu melakukan sesuatu (perbuatan) terhadap objek.
Kepercayaan/ pengetahuan seseorang tentang sesuatu dipercaya dapat mempengaruhi sikap mereka dan pada akhirnya mempengaruhi perilaku dan tindakan mereka terhadap sesuatu. Ada pun kaitan antara kognitif, afektif dan konatif keterkaitan itu tidak saling berlaku lurus atau langsung.
Contoh :
Rudi tahu/ percaya(kognitif) bahwa mobil BMW itu adalah mobil yang bagus. Rudi juga senang (afektif) melihat bentuk mobil itu melenggang di jalan. Tetapi Rudi tidak akan membeli mobil BMW (konatif), karena ia tidak mempunyai uang.

2.2 TUJUAN KOMUNIKASI PERSUASI

1.      Mengubah Tanggapan (Changing Responses)
            Pengubahan tanggapan sekelompok khalayak untuk mengubah perilaku mereka terhadap sesuatu produk, konsep atau gagasan. Pembicara persuasif berupaya untuk mengubah tanggapan sambil meminta kepada khalayak untuk mewakili atau menghentikan beberapa perilaku: berhenti merokok, memanfaatkan transportasi, memanfaatkan akupuntur, menjalani operasi kecantikan, menyantap makanan berkolesterol rendah, atau minum teh putih. Dalan banyak cara, pengubahan tanggapan dapat menjadi sebuah tugas yang sulit. Anda dapat membentuk kesan terhadap yang baru tanpa terlampau membingungkan kehidupan mereka. Anda dapat memanfaatkan ketakberdayaan kehidupan sehari-hari saat meneguhkan respons, tetapi perubahan sering datang dengan kuat pada diri umat manusia apabila mereka membutuhkan kebutuhan serius apa saja dari gagasan dan kebiasaan baik yang tak bisa dipungkiri.
           
2.      Penguatan Tanggapan (Reinforcing Responses)
Penguatan tanggapan bagi sekelompok khalayak untuk mengharapkan kesinambungan perilaku yang sedang berlangsung saat ini terhadap beberapa produk, gagasan atau isu. Wallace Fotheringham, dalam bukunya mengenai persuasi, mendeskripsikan tujuan kegiatan persuasi ini sebagai kontinuitas dangan harapan agar khalayak melakukan apa yang telah mereka lakukan. Misalnya, pakaian, kosmetika, temabakau dan peruasahaan lainnya.
3.      Pembentukan Tanggapan (Shaping Responses)

Salah satu tujuan persuasif adalah membentuk cara khalayak memeberikan tanggapan. Pemebentukan dapat dilakukan baik khalayak menegetahui banyak tentang suatu topik maupun tidak.

2.3   PRINSIP-PRINSIP KOMUNIKASI
Ada lima prinsip komunikasi persuasif, antara lain:
1.Membujuk Demi Konsistensi (Consistency Persuades)
Pada prinsip ini khalayak lebih memungkinkan untuk mengubah perilaku mereka apabila perubahan yang dianjurkan  sejalan dengan kepercayaan, sikap, dan nilai mereka saat ini.
2.Prinsip Pemaparan yang Selektif ( The Selective Exposure Principle )
                      Prinsip ini menyatakan bahwa pada dasarnya audiens akan mengikuti hukum pemaparan selektif ( the law of selective exposure ), yang menegaskan bahwa audiens (pendengar) akan secara aktif mencari informasi yang sesuai dan mendukung opini, keyakinan, nilai, keputusan dan perilaku mereka, dan sebaliknya audiens akan menolak atau menghindari informasi-informasi yang berlawanan dengan opini, kepercayaan, sikap, nilai, dan perilaku mereka.
3.Prinsip Partisipasi Audiens ( The Audience Participation Principle )
        Prinsip ini menyatakan bahwa daya persuasif suatu komunikasi akan semakin besar manakala audiens berpartisipasi secara aktif dalam proses komunikasi tersebut. Bentuk partisipasi bisa dalam berbagai bentuk dan aktivitas, seperti dalam menentukan tema, dalam presentasi, membuat slogan, dan lain-lain.
4.Prinsip Suntikan  (The Inoculation Principle )
            Audiens telah memiliki pendapat dan keyakinan tertentu,      maka           pembicaraan komunikasipersuasif biasanya dimulai dengan memberi pembenaran dan dukungan        atas keyakinan dan pengetahuan yang dimiliki audiens.
5.Prinsip Perubahan yang Besar ( The Magnitude of Change Principle)
Prinsip ini menyatakan bahwa semakin besar, semakin cepat dan semakin penting perubahan yang ingin dicapai, maka seorang da’i mempunyai tugas dan kerja yang lebih besar, serta komunikasi yang dilakukan membutuhkan perjuangan yang lebih besar.
2.4    TEKNIK KOMUNIKASI
            Untuk menguasai teknik persuasi, faktor-faktor yang diperlukan antara lain sebagai berikut. (1) Mampu berpikir dalam kerangka acuan yang lebih besar untuk penggunaan teknik yang tepat dalam suatu keadaan tertentu. (2) Mampu menegakkan kredibilitas. (3) Mampu berempati. (4) Mampu menunjukkan perbedaan dengan sasaran. (5) Mampu mengetahui saat-saat yang tepat untuk menggiring audiens pada pesan yang diberikan. (6) Mampu mengetahui kapan alat bantu komunikasi digunakan, dan lain-lain. Adapun teknik-teknik komunikasai adalah sebagai berikut :
           1.  Tehnik Asosiasi
Tehnik ini merupakan tehnik yang menyajikan pesan dengan cara menumpangkannya pada suatu objek atau peristiwa yang sedang menarik perhatian khalayak. Tehnik ini secara umum sering dilakukan oleh kalangan pebisnis atau para politikus. Popularitas figur-figur tertentu dimanfaatkan dalam kerangka pencapaian tujuan-tujuan tertentu.


2.  Tehnik Integrasi
Tehnik ini adalah menyatukan diri  komunikator dengan diri komunikan. Penggunaan kata kata verbal yang menyatakan satu dengan komunikan. Contoh pada penggunaan kata kita bukan kata saya atau kami. Kata kita berarti saya dan anda. Hal ini mengandung makna bahwa yang diperjuangkan komunikator bukan kepentingan diri sendiri melainkan juga kepentingan komunikan.
3.  Tehnik Ganjaran
Tehnik ganjaran (pay- of technique) adalah kegiatan untuk mempengaruhi orang lain dengan cara mengiming-imingi hal yang menguntungkan atau yang menjanjikan harapan tertentu. Tehnik ini sering dipertentangkan dengan tehnik pembangkitan rasa takut (fear arousing technique) yakni cara-cara yang bersifat menakut-nakuti atau menggambarkan konsekuensi yang buruk.
Jadi, kalau pay-of technique menjanjikan ganjaran (rewarding), fear arousing technique menunjukan hukuman (punishment).
      4.Tehnik Red – Herring

Istilah red herring sukar diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebab red herring adalah nama ikan yang tersebar di Samudera Atlantik Utara. Jenis ikan ini terkenal dengan kebiasaanya dalam membuat gerak tipu daya ketika diburu oleh binatang lain atau manusia. Dalam hubungannya dengan komunikasi persuasif adalah seni komunikator untuk meraih kemenangan dalam perdebatan dengan mengelakan argumentasi yang lemah untuk kemudian mengalihkannya sedikit demi sedikit ke aspek yanng dikuasinya guna dijadikan senjata ampuh untuk menyerang lawan. Jadi tehnik ini digunakan komunikator ketika berada dalam posisi yang terdesak.
Untuk itu, syarat yang tidak boleh dilupakan adalah pada penguasaan materi yang didiskusikan atau diperdebatkan.
5.  Tehnik Tataan
Yang dimaksudkan dengan tataan disini adalah upaya menyusun pesan komunikasi sedemikian rupa sehingga enak didengar, atau enak dilihat atau enak dibaca dan orang memiliki kecenderungan untuk mengikuti apa yang disarankan oleh pesan tersebut.
Tehnik tataan (icing technique) dalam kegiatan komunikasi persuasif adalah seni menata pesan dengan imbauan-imbauan sedemikian rupa sehingga menarik.

2.5  HAMBATAN KOMUNIKASI PERSUASI
Pada umumnya, hambatan komunikasi dapat diselesaikan oleh dua faktor, yakni faktor mekanistis komunikasi manusia dan faktor psikologis. Selain itu, hambatan tersebut dapat diselesaikan oleh dogmatisme, stereotipe, dan pengaruh lingkungan. Kondisi itu pun dapat pula disebabkan oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal dapat berupa persepsi sosial, posisi sosial, dan proses sosial, sedangkan faktor eksternal dapat disebabkan oleh faktor penguatan (reinforcement). 

BAB III PENUTUP

3.1     KESIMPULAN

Komunikasi persuasi adalah komunikasi yang bertujuan untuk mengubah atau memperngaruhi kepercayaan, sikap, dan perilaku seseorang sehingga bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh komunikator. Komunikasi memiliki beberapa tujuan yaitu mengubah atau menetralisir pendapat-pendapat yang bersifat menentang atau bermusuhan. Mengkristalisasikan pendapat yang masih terpecah-pecah dan belum berbentuk, dan mengrahkan pendapat yang menguntungkan. Adapun teori yang dapat digunakan dalam komunikasi persuasi adalah metode partisipasi, metode asosiasi, dan metode pay-of idea. Selain itu, komunikasi persuasif juga memiliki prinsip serta teknik-teknik yang dapat dilakukan dalam komunikasi persuasif.

3.2     SARAN
Saran dari kelompok kami adalah setelah membaca dan memahami isi dari makalah ini harapan kami adalah bagi pembaca bisa mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, perubahan yang konsistensi, perubahan kecil menjadi perubahan yang besar. Sehingga dalam komunikasi, kita bisa belajar bagaimana komunikasi yang baik. Dengan demikian kita bisa membuktikan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam lingkungan kampus. Dengan memahaminya, pada saat diskusi di mana pun bisa diterelesasikan.


                                                              DAFTAR ISI 
Dedi, Yosal, 1994. Komunikasi Persuasif, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Hafied Cangara, 2012. Pengantar Ilmu Komunikasi,Jakarta: RajaGrafindo Persada. 








Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Your Ad Spot